Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka

Banyuwangi, Mujahidin Cyber. Halal bihalal PCNU Banyuwangi yang diselenggarakan berdekatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Republik Indonesia digunakan oleh warga NU Banyuwangi sebagai ajang siliturahmi sekaligus menegaskan Komitmen NU dalam mengawal NKRI.

Kegiatan tersebut bertempat di Pondok Pesantren Darul Falah, Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam kesempatan ini KH Masykur Ali, Ketua PCNU Banyuwangi kembali mengingatkan warga Nahdliyin Banyuwangi akan perjuangan Ulama NU dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka

“Sebelum NU lahir, sebelum Indonesia merdeka, ulama pesantren sudah melakukan lompatan yang sangat cerdas. Mulai zaman penjajahan hingga kemerdekaan. Kiai NU yang dianggap kolot, melakukan trobosan brilian dengan mendirikan Tashwirul Afkar sebagai solusi akan kebuntuan pendidikan, ? untuk memperkuat ekonomi masyarakat, Ulama NU juga mendirikan Nahdlatut Tujjar sebagai benteng ekonmi masyarakat melawan monopoli VOC,” tegas Kiai Masykur.

Dalam sambutanya, dia juga menjelaskan mengenai peranan NU secara organisatoris dalam upaya perumusan Dasar Negara. Pada Tahun 1936 sebelum Indonesia merdeka NU telah berdiri. Dalam Mukatmar Banjarmasin telah merumuskan bentuk Negara Darussalam (Negara Damai) bukan Negara Islam.

Bukan hanya itu, Kiai Masykur juga menjelaskan soal peranan strategis NU dalam perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan. Merespon kedatangan sekutu yang hendak kembali merebut kemerdekaan, Ulama NU mengeluarkan resolusi jihad Nahdlatul Ulama 22 oktober 1945 yang menjadi embrio pertemupuran dahsyat 10 November 1945 di surabaya.

Mujahidin Cyber

Di akhir sambutanya Kiai Masykur juga menyinggung isu Nasional terkait pembubaran HTI. Di era saat ini, ketika Indonesia didera isu Radikalisme yang berujung pada perongrongan ideologi Pancasila, NU berada di garda depan dalam mempertahankan pancasila sebagai kesepakatan pendiri bangsa.

Mujahidin Cyber

“Jika NU mendukung pembuaran HTI bukan karena NU dekat pemerintah. Tapi ini merupakan Komitmen Kebangsaan yang telah disepakati oleh para Ulama pendiri Bangsa. Kebacuut jika pengurus NU malah ikut HTI,” tegas Kyai Masykur dengan suara lantang. (Anang Lukman Afandi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Pahlawan Mujahidin Cyber

Kamis, 15 Februari 2018

Khadafy Minta Negara Arab Tak Campuri Konflik Palestina

Rabat, Mujahidin Cyber. Pemimpin Libya Muammar Khadhafy, meminta negara lain Arab untuk tidak turut campur dalam perebutan kekuasaan antara HAMAS dan Fatah. Campur tangan negara-negara Arab dikhawatirkan akan diboncengi kepentingan Israel.

"Masalah Palestina harus diserahkan kepada rakyat Palestina untuk menyelesaikannya. Negara Arab harus menjauhkan diri dari masalah tersebut. Apa yang telah dilakukan negara Arab untuk rakyat Palestina? Mereka hanya mengeksploitasi masalah itu demi kepentingan mereka sendiri," kata Khadhafy seperti dikutip Al-Jazeera, Jumat (16/6).

Ketika ditanya mengenai tindakan HAMAS menggusur faksi Fatah, pimpinan Presiden Mahmoud Abbas, di Jalur Gaza, Khadhafy mengatakan, "Pertempuran antar-faksi yang bertikai biasa terjadi dalam kondisi semacam itu. Pergolakan ini dilatarbelakangi oleh ideologi."

Khadafy Minta Negara Arab Tak Campuri Konflik Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Khadafy Minta Negara Arab Tak Campuri Konflik Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Khadafy Minta Negara Arab Tak Campuri Konflik Palestina

Khadhafy tidak merasa khawatir pertempuran tersebut bakal mengakibatkan ada dua wilayah yang terpisah; Jalur Gaza dikuasai HAMAS dan Tepi Barat Sungai Jordan di bawah kekuasaan Fatah; dan terhapusnya harapan bagi negara Palestina pada masa depan.

"Pemimpin HAMAS Khaled Meshaal menelefon saya hari ini untuk memberitahu saya bahwa HAMAS tak memiliki rencana semacam itu di Jalur Gaza. Ia mengatakan satu negara di Jalur Gaza akan merupakan pengkhianatan dan tindakan gila," katanya.

Mujahidin Cyber

Khadhafy menyeru rakyat Palestina untuk memperbarui Organisasi Pembebasan Palestina guna menghidupkan kembali persatuan mereka.

Khadhafy juga menolak berbagai upaya oleh pemerintah Arab, termasuk satu gagasan tanah-bagi-perdamaian yang diluncurkan kembali pada konferensi tingkat tinggi Liga Arab tahun ini, guna mengakhiri konflik Palestina-Israel.

"Negara Arab tak memiliki hak untuk mencampuri urusan Palestina. Siapa yang telah mengatakan bahwa dunia Arab akan menerima Israel? Setiap negara Arab harus berbicara bagi dirinya sendiri," katanya.

Khadhafy menyampaikan kembali rencana perdamaiannya sendiri bagi konflik tersebut. "Satu-satunya penyelesaian ialah berdirinya satu negara demokratis, tempat rakyat Israel dan Palestina akan hidup bersama."

Mujahidin Cyber

Di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, Sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam (OKI), blok Muslim terbesar di dunia, Ekmeleddin Ihsanoglu, Jumat, menyampaikan keprihatinan sehubungan dengan kerusuhan politik di Jalur Gaza, tempat Fatah dan HAMAS terlibat pertikaian sengit untuk memperebutkan kekuasaan, dan mendesak kedua pihak tersebut agar menahan diri.

Ia mengatakan ia telah mengadakan kontak dengan para pemimpin HAMAS, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ismail Haniya, dan Fatah yang mendukung Presiden Mahmoud Abbas.(ant/era/nur)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, IMNU, Hadits Mujahidin Cyber

Kamis, 08 Februari 2018

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat

Waykanan, Mujahidin Cyber. Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Waykanan menyatakan syukur atas pelaksanaan pilkada di daerah setempat yang berlangsung damai dan tertib. Suasana damai pemilihan ini menandai peningkatan pemahaman masyarakat setempat dalam perbedaan pilihan politik.

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat

"Pesta demokrasi 9 Desember 2015 telah usai. Patut disyukuri perhelatan di Waykanan berlangsung dan berakhir damai. Suatu penanda proses dan pemahaman demokrasi berlangsung baik di masyarakat," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (10/12).

Pilkada Waykanan diikuti pasangan nomor urut 1 Bustami Zainudin dan Adinata (Adin Bustami) diusung PDI Perjuangan, Gerindra, PKB, dan Nasdem. Serta pasangan nomor urut 2 Raden Adipati Surya dan Edward Anthony (Berani) diusung Demokrat, PAN, Hanura dan PKS.

Mujahidin Cyber

Berdasarkan data KPU setempat sebanyak 337.827 pemilih terdiri atas pemilih lelaki berjumlah 172.810. sedangkan pemilih perempuan berjumlah sebanyak 165.017 orang sebagai pemilik suara yang bisa menggunakan suaranya di 780 TPS yang ada.

Berdasarkan hitung cepat Rakata Institute dari data masuk 95,10 persen dengan tingkat partisipasi 67,72 persen, Bustami-Adinata mendulang suara 39,73 persen. Lalu Berani meraup 60,27 persen.

Mujahidin Cyber

"Jabatan adalah amanah. Siapapun yang terpilih, tugas kami sebagai pemuda adalah berpartisipasi dalam pembangunan, bukan sebaliknya. Ini kami buktikan pada 2015, GP Ansor Waykanan dibantu sejumlah pihak seperti Tim Penggerak PKK, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu menggelar Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau Sanlat BPUN," kata Gatot lagi.

Gatot mengucapkan selamat kepada anggota Dewan Pembina Gerakan Pemuda Ansor Waykanan H Raden Adipati Surya dan Ketua PD Muhammadiyah Waykanan Dr H Edward Anthoni atas perolehan suara terbanyak pada Pilkada 9 Desember 2015. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh, Tegal Mujahidin Cyber

Jumat, 26 Januari 2018

Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban

Jakarta, Mujahidin Cyber. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang akrab disapa Kang Said menyatakan, agama Islam tidak hanya menyangkut pada ? persoalan aqidah. Aqidah hanya bagian kecil dari ajaran Islam. Karena, masih banyak persoalan lain yang harus dikaji lagi guna membangun peradaban Islam di dunia ini.

Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban

"Islam itu bukan hanya kafir-kafiran begitu, mukmin-kafir. Bukan hanya itu. Islam bukan hanya bicara aqidah saja, bukan hanya memvonis mukmin-kafir," terang Kang Said dalam sambutan penutupan kursus singkat Tasawuf sebagai Etika Sosial di Pesantren Ats-tsaqafah, Jakarta, Jumat (20/12).

Islam itu, lanjut Kang Said, adalah agama ilmu dan peradaban. Islam agama kebudayaan dan kemajuan. "Islam itu agama ilmu, agama intelektual, agama kemajuan, agama peradaban," tegasnya.

Mujahidin Cyber

Lebih lanjut Kang Said menceritakan, orang pertama kali yang menegaskan Islam bukan hanya aqidah adalah Imam Hasan Bashri. Saat itu Imam Hasan Bashri dihadapkan pada fenomena saling mengafirkan di antara sesama muslim. Ia kemudian menyadari, Islam tidak akan maju jika hanya saling mengafirkan.

Mujahidin Cyber

Imam Hasan Al-Bashri yang lahir tahun 21 dan wafat 110 H, tokoh sentral tabiin, itu menyelamatkan umat Islam. Ia sudah melupakan aktivitas saling mengafirkan. Ia lalu mengajak umat Islam untuk membangun ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemajuan Islam, ujar Kang Said meniru seruan Imam Hasan Bashri kepada umat Islam di zamannya.

Setelah kampanye Imam Hasan Bashri bahwa Islam itu bukan hanya aqidah, mulai bermunculan ulama-ulama yang menggagas dan berkreasi membangun ilmu pengetahuan.

"Dari situ muncul ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu nahwu, shorof, balaghah setelah Imam Hasan Basri berteriak keras; apa-apaan ini? Kok umat islam bisanya hanya mengafirkan," tegas Kang Said.

Untuk itu, perbedaan yang ada tidak perlu dibesar-besarkan. Alangkah baiknya yang dikedepankan umat Islam adalah persamaannya. Karena, kejayaan Islam tidak akan hadir kembali jika umatnya sibuk membesarkan perbedaan, saling membidahkan atau mengafirkan sesama muslim. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Nahdlatul Ulama Mujahidin Cyber

Selasa, 23 Januari 2018

70 Santri Siap Ikuti Sanlat BPUN

Jepara, Mujahidin Cyber. Tujuh puluhan santri dari Jepara dan Kudus siap mengikuti Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Pasca UN (BPUN) tahun 2013 Komunitas Mata Air Cabang Jepara di Pesantren Walisongo Pecangaan Jepara, selama sebulan (17/5-18/6) mendatang. Tujuh puluh santri itu dibagi 2 kelas IPA dan IPS. 

Mereka diantaranya dari MA/ SMA/ SMK Walisongo Pecangaan, MA Darul Hikmah, MA Mathaliul Huda Bugel, MA Mathalibul Ulum Lebak, MA Mafatihul Akhlak Demangan, SMAN 1 Jepara, SMAN 1 Mayong, SMAN 1 Mlonggo dan SMKN 3 Jepara. Dari Kudus semisal SMAN 1 Gebog dan MA NU TBS Kudus. 

70 Santri Siap Ikuti Sanlat BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
70 Santri Siap Ikuti Sanlat BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

70 Santri Siap Ikuti Sanlat BPUN

Selama sebulan santri diberi materi Matematika dasar, Bahasa Indonesia dan Inggris sebagai materi dasar. Untuk kelas IPA meliputi Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi sedangkan kelas IPS mencakup Ekonomi, Sosiologi, Geografi dan Sejarah. 

Mujahidin Cyber

“Materi lain yang tidak kalah pentingnya Psikologi, Kewirausahaan, Kepemimpinan, Ke-Aswaja-an, Ke-NU-an dan Try out sepekan sekali,” kata M Jazilun Niam, pendamping Mata Air Jepara, saat technical meeting Ahad (12/5) pagi. 

Mujahidin Cyber

Sementara itu, koordinator Mata Air Jepara, Adib Khoiruzzaman menyatakan dirinya mendorong santri agar bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang diidamkan. Triknya menurut Gus Adib, sapaan akrabnya harus bersungguh-sungguh mengikuti BPUN.  Apalagi santri alumni Mata Air Jepara, terangnya ada yang diterima di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta maupun PTN yang lain. 

Masih menurutnya selain belajar sungguh-sungguh juga akidah Aswajanya tetap dipertahankan jangan sampai direnggut oleh ideologi lain. “Karena itu, selama nyantri maupun kuliah kami akan tetap mengawal ideologi NU mereka,” tandasnya. 

Guru SMK Walisongo Pecangaan itu menandaskan di PT banyak aliran-aliran yang perlu diwaspadai. Jika tidak diwaspadai mahasiswa NU mudah katut, (ikut, red) aliran tersebut. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Anti Hoax, Santri Mujahidin Cyber

Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat

Tangerang Selatan, Mujahidin Cyber

Para mahasiswa di kampus Politeknik Keuangan Negara STAN yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (Iman) memilih ketua baru dalam Muktamar Ke-24 yang di Masjid Al-Barkah, Tangerang Selatan, Banten.

Metode pemilihan kali ini lebih mengedepankan musyawarah dibandingkan pemungutan suara atau voting. Sidang pemilihan ketua dipimpin ketua demisioner, M Roid Nashiruddin. Ia menjelaskan, beberapa hari sebelum acara Muktamar, pihaknya sudah meminta kepada masing-masing angkatan untuk mengusulkan nama-nama bakal calon ketua.

Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat

Dari ketiga angkatan ternyata mengerucut pada dua nama untuk calon ketua Iman dan Imanisa (sebutan untuk ikatan mahasiswa Nahdliyin putri). Namun, pada waktu penyampaian visi-misi, calon ketua Iman yang satu mengundurkan diri dan muktamirin menyepakati untuk mengangkat calon tunggal, yaitu Achmad Fahmi Abdullah, ketua Iman periode 2016-2017.

Mujahidin Cyber

Sementara dari sisi Imanisa, setelah mendengar penyampaian visi-misi kedua calon dan dilakukan musyawarah internal anggota Imanisa, akhirnya terpilihlah Mei Nur Hakiki sebagai ketua baru Imanisa.

Sebelumnya, suksesi kepemimpinan didahului dengan penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Kinerja oleh kepengurusan Iman tahun 2015-2016. Dimulai dengan penyampaian dari Badan Pengurus Harian yang dikomandoi M Roid Nashiruddin, sidang LPJ berlangsung cukup hangat hingga pukul 23.00 WIB.

Mujahidin Cyber

Sidang LPJ semakin memuncak saat tiba giliran pengurus bidang Dana Usaha (Danus) Iman menyampaikan pertanggungjawabannya. Wildan Basri selaku kepala bidang (kabid) menyampaikan bahwa Danus menjadi salah satu bidang yang cukup penting dalam menopang kebutuhan finansial Iman. Pada tahun ini, bidang Danus sudah mencetak buku USM yang menjadi produk unggulannya sebanyak 5000 eksemplar.

Di sela-sela penyampaian LPJ, mahasiswa asal Pemalang ini masih sempat mempromosikan buku dan produk danus lainnya. Sontak kejadian itu mampu memecahkan tawa di antara para muktamirin. Sidang ditutup dengan penyampaian LPJ dari Ketua Imanisa.

Acara yang berlangsung Sabtu (30/1) malam itu dihadiri pengurus jamaah aktif, beberapa alumni Iman. Muktamar diawali dengan penampilan tim hadrah Badruttamam yang melantunkan lagu Yaa Hanaana dan Abatiy.

“Mereka yang mau mengurusi Iman, insyaa Allah akan menuai berkahnya,” ujar Ustad Faris dalam sambutannya mewakili dewan alumni Iman. Setelah resmi dilakukan prosesi serah terima jabatan, Muktamar Ke-24 Iman ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh salah satu alumni.

Selamat kepada ketua Iman dan Imanisa yang baru terpilih. Semoga amanah dan mendapat barokah! (Fauziyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Kajian Sunnah, Humor Islam Mujahidin Cyber

Rabu, 03 Januari 2018

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu

Oleh Gatot Arifianto

?

Para pendiri bangsa telah mewariskan benih empat pilar kebangsaan terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan telah disemai puluhan tahun lalu. Persoalan hari ini, adalah bagaimana generasi bangsa Indonesia merawatnya sejalan dengan kehendak pendiri bangsa.

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu (Sumber Gambar : Nu Online)
Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu (Sumber Gambar : Nu Online)

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu

?

Generasi bangsa yang diharapkan memegang sila (aturan) dalam Pancasila hingga 2016 ini terbukti masih gagal, belum gemilang. Harapan untuk saling mencintai sesama manusia, tidak semena-mena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan hingga gemar melakukan kegiatan kemanusiaan yang terkandung dalam "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab" masih jauh panggang dari api dengan kemudahan menghujat di media sosial hingga susahnya Palang Merah Indonesia (PMI) memenuhi kebutuhan darah di negeri sendiri.

?

Mujahidin Cyber

Persoalan lain di Indonesia hari ini adalah adanya kelompok yang ngotot, memaksakan kehendak, agar sesuatu yang beragam menjadi seragam. Padahal, Allah yang menurunkan 114 kalam, satu diantaranya Surat al-Baqarah yang dalam ayat 256 menyatakan: "Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan".

?

Allah juga telah menciptakan bangsa hingga manusia yang beragam. Termasuk Indonesia, yang memiliki keragaman budaya, suku hingga keyakinan.

?

Mujahidin Cyber

"Pancasila ialah perekat kebangsaan. Bagaimana, tenggang rasa hingga saling menghormati terkandung di dalamnya. Saya pikir kita beruntung mempunyai Pancasila," ujar Dewan Penasehat GP Ansor Way Kanan, Iskardo P Panggar.

?

Iskardo ialah dosen kewarganegaraan di salah satu perguruan tinggi di Way Kanan. Awal kali pertama memasuki satu ruang mengajar di kampus itu, ia memberi tugas mahasiwa untuk menulis Pancasila yang menurut KH A Wachid Hasyim merupakan kristalisasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

?

"Tapi tidak seratus persen mahasiswa bisa menyelesaikan tugas itu. Fakta tersebut tentu merupakan pekerjaan rumah bersama di zaman sekarang ketika informasi yang sebagian besar negatif, mudah sampai dan dikonsumsi generasi dan masyarakat bangsa," ujar Iskardo yang juga Ketua KPU Way Kanan itu.

?

Lantas bagaimana upaya merawat kebhinekaan? Mahalkah biayanya? Perlukah rapat dengar pendapat di ruang paripurna terlebih dahulu agar harakah (gerakan) merawat kebhinekaan berjalan kontinu?

?

Krisis berpikir jernih adalah hambatan tercapainya revolusi mental diharapkan Pemerintah Republik Indonesia. Akibatnya, hal yang semestinya gampang dibuat jadi rempong. Gitu Aja Kok Repot, dalam bahasa Gus Dur Allahu yarham.

?

Mungkinkah Tax amnesty (pengampunan pajak) hingga upaya lain akan membuat negara ini terbebas dari belenggu defisit? Jawaban tegas dan masuk akalnya "tidak", selama orientasi harakah adalah anggaran, bukan tujuan.

?

Merawat Kebhinekaan

?

"Indonesia merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatmu. Indonesia debar jantungku, denyut nadiku, berpadu dalam cita-citaku". Senandung itu meluncur dari mulut dua puluh pelajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma, Baradatu, Way Kanan, Lampung sembari melambaikan bendera merah putih dari tangan mereka.

?

Lagu berjudul Kebyar-Kebyar karya Gombloh itu membuka Jagongan Ramik Ragom (ramai beragam) untuk memperingati Hari Toleransi Sedunia 16 November. Jagongan (duduk bersama) tersebut mendiskusi Media Sosial Media Perdamaian, Rabu (16/11). Kenapa hari tersebut perlu diperingati dan toleransi harus dirawat? Pepatah bijak mengajarkan, mencegah lebih baik daripada mengobati, sayangnya hal tersebut belum dilakukan dengan baik.

?

Perbincangan mengenai kebhinekaan hanya disemai lagi ketika ada atau terjadi gesekan. Dan itu terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Maka tak heran ketika penyair dan budayawan Iman Budhi Santosa menyatakan: "Kita ini seperti rokok dalam etalase. Dekat, sejajar tapi tidak pernah bertegur sapa". Padahal, merawat kebhinekaan adalah tanggung jawab bersama generasi dan masyarakat bangsa. Terlebih institusi yang berwenang.

?

"Penting memang untuk melakukan diskusi lintas iman tanpa menunggu ada sesuatu yang tidak diinginkan," ujar pengajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma, Rosalia Gia Purwani menjelang berlangsungnya acara.

?

Jagongan Ramik Ragom merupakan kegiatan Sakai Sambayan (gotong royong/kerjasama) Gusdurian Lampung, Pesantren Assidiqqiyah 11, DPD KNPI, KAHMI, Pemuda Muhammadiyah, Peradah, Pemuda Katolik, Pokjawan, SMAN 1 Baradatu, SMK Kesehatan Cahaya Darma, Yayasan Bakti, Karang Taruna, dan PAC GP Ansor Baradatu.

?

Selain Iskardo, sejumlah pemantik diskusi dalam kegiatan tersebut ialah Ketua DPD KNPI Andi Oktoviandi, Ketua Karang Taruna Sairul Sidik, Ketua Bidang Hukum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Agus Zulkarnain.

?

Lalu aktivis Pemuda Muhammadiyah Nasrullah, Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) I Gede Klipz Darmaja, aktivis Pemuda Katholik dan anggota Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Andreas Natalis Sapta Aji.

?

Kegiatan juga diramaikan Nasyid Acapela dari SMAN 1 Baradatu dan pembacaan puisi Sajak Atas Nama karya Gus Mus oleh M Subhan santri Assidiqqiyah 11 tersebut diramaikan dengan foto mempromosikan perdamaian, kemanusiaan dan kebangsaan yang berisi kutipan-kutipan inspiratif yang bukan akidah agama dari sejumlah tokoh, yang bebas dipilih ketika hendak berpose.

?

Sejumlah pelajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma yang mengenakan jilbab terlihat berpose dengan properti bertuliskan #BedaSetara #DamaiRamaiRamai #RamaiRamaiDamai yang memuat kutipan Bunda Teresa: "Buah dari perenungan adalah doa. Buah dari doa adalah iman. Buah dari iman adalah cinta. Buah dari cinta adalah pelayanan. Buah dari pelayanan adalah kedamaian."

Aktivis Pemuda Muhammadiyah Way Kanan Nasrullah terlihat berpose dengan properti memuat kutipan inspiratif Gus Dur: "Kemajemukan harus bisa diterima tanpa ada perbedaan."

Adapun aktivis Pemuda Khatolik Way Kanan Andreas Natalis Sapta Aji justru memilih berpose dengan properti yang memuat kutipan Sayyidina Ali: "Mereka yang bukan saudaramu seiman, saudaramu dalam kemanusiaan."

Aji yang juga anggota Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Way Kanan itu juga berpose dengan properti yang memuat kalimat inspiratif dari KH Hasyim Asyari: "Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan".

?

Lantas anggota Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan Dwi Handoko, memilih berpose dengan properti yang memuat kalimat inspiratif dari KH Ahmad Dahlan: "Kasih sayang dan toleransi ialah identitas umat Islam." Termasuk dengan properti memuat kalimat inspiratif dari Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): "Dalam mengekspresikan kebebasan, sandingkanlah dengan kepatuhan pada aturan hukum dan toleransi."

?

"Bener ini," ujar Rosalia ketika membaca kutipan inspiratif Dalai Lama XIX: "Dalam praktik toleransi, musuh seseorang merupakan guru terbaik". Rosalia selanjutnya memperbincangkan mengenai toleransi dengan sejumlah guru di beberapa sekolah itu.

?

Properti murah dari kertas dan kardus bekas yang dirangkai Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Way Kanan 2015 Disisi Saidi Fatah tersebut memantik diskusi kecil mengenai toleransi para pembaca sebelum acara berlangsung.

?

"Komunikasi yang baik ialah tatap muka, tapi seiring kemajuan zaman, hal itu berkurang, tinggal bagaimana kita menyikapi penggunaan media sosial. Jadikan sarana itu untuk menyebarkan hal positif, membuat kebaikan dan jangan dijadikan sebagai media perpecahan," ujar Andi Oktoviandi dalam diksusi tersebut.

?

Indonesia ada karena perbedaan, ujar Sairul Sidik menambahkan. Perbedaanlah yang memperkuat toleransi. Namun demikian, keyakinan tidak boleh dirambah.

?

"Tidak boleh saya menafsirkan keyakinan Bung Klipz atau Bung Aji. Dalam konteks keyakinan, agamamu agamamu, agamaku agamaku, lu lu gue gue," katanya.

?

Media sosial harus digunakan dengan bijak. "Sebagai intelektual, kita harus membaca dulu sampai habis informasi yang didapat. Jangan langsung dibagikan dan disebarkan. Mudah-mudahan kita semua memiliki semangat membaca yang luar biasa sehingga kita tahu bahwa itu harus disebarkan atau harus disembunyikan atau malah harus segera di hapus," ujar Klipz memotivasi pelajar.

?

Pada kegiatan yang dihadiri Camat Baradatu Ari Anthony Thamrin, kader PMII, IPNU, Muslimat, Fatayat, Karang Taruna, GP Ansor, sejumlah pelajar dan pengajar dari beberapa sekolah setempat dengan moderator Ketua PC Fatayat NU Rosmalia Resma itu, Iskardo selanjutnya mengajak pelajar yang hadir untuk menjadi generasi yang dahsyat.

?

"Bukan generasi alay yang pintar update status OTW, lagi bête. Indonesia membutuhkan generasi dahsyat. Jadikan media sosial sebagai ruang berekspresi positif, untuk merawat kebhinekaan dan Indonesia," ujar Iskardo.

?

Gusdurian Lampung sebagai kolaborator dalam kegiatan dimulai pukul 13.15 WIB tersebut mengeluarkan dana Rp100 ribu untuk membeli dua dus air mineral dan roti. 16.15 WIB, dan acara diakhiri dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Murah, meriah dan memantik sejumlah pelajar untuk melakukan kegiatan serupa beberapa bulan mendatang. Jadi, mahalkah untuk merawat kebhinekaan?

?



Penulis founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal Mujahidin Cyber

Rabu, 13 Desember 2017

Tim Rebana NU Pakistan Diluncurkan, Siap Syiar lewat Seni

Islamabad, Mujahidin Cyber - Gemuruh sorak sorai dan tepuk tangan memenuhi Aula Nusantara KBRI Islamabad, Pakistan. Hari itu bertepatan dengan acara peluncuran tim rebana NU Pakistan.

Grup nasyid dan shalawat ini tampil memukau di hadapan Duta Besar Indonesia untuk Pakistan Iwan Suyudhie Amri dan warga Indonesia yang ada di Pakistan. Perhelatan yang berlangsung Sabtu (29/4) itu bersamaan dengan penyelenggaraan Seminar Kemahasiswaan PPMI Pakistan.

Tim Rebana NU Pakistan Diluncurkan, Siap Syiar lewat Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Rebana NU Pakistan Diluncurkan, Siap Syiar lewat Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Rebana NU Pakistan Diluncurkan, Siap Syiar lewat Seni

Tim rebana yang beranggotakan 15 orang ini terdiri dari 8 orang vokalis yang semuanya adalah perempuan dan 7 orang pemegang alat rebana seperti banzari, sela-sela, dan bass. Sebelum unjuk kebolehan, mereka telah latihan sebulan sebelum acara.

Mujahidin Cyber

Grup rebanan NU membawakan dua buah lagu yang berjudul Yaa Aasyiqol Musthafa dan Shalatun Bisalamil Mubin. Para hadirin tampak ikut melantunkan lagu shalawat ini.

“Tim rebana kali ini layak untuk diapresiasi dan diacungi jempol karena penampilannya yang bisa menyihir para audiens untuk sama-sama menikmati tembang shalawat yang dibawakan oleh semua anggota tim rebana NU Pakistan,” kata Wakil Rais Syuriyah PCINU Pakistan H. Zulfikri Hasibuan.

Mujahidin Cyber

Ketua PCINU Pakistan Azizuddin berharap di kemudian hari tim rebana ini dapat menjadi jantung pada berbagai perhelatan baik antar warga Indonesia sendiri atau pada kegiatan di luar yang biasa diadakan oleh beberapa instansi pemerintah maupun swasta di Pakistan.

Menurut Azizuddin yang juga penanggung jawab grup ini, langkah tersebut bisa menjadi syi’ar tentang budaya Nusantara kepada masyarakat Pakistan. “Sehingga dapat mengharumkan nama Indonesia dan Nahdlatul Ulama sebagai perekat umat dan pemersatu seluruh elemen masyarakat,” ujarnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal Mujahidin Cyber

Rabu, 06 Desember 2017

Ansor: Ajaran dan Tradisi Syekh Burhanuddin harus Dipertahankan

Padang Pariaman, Mujahidin Cyber. Wakil Sekjen Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda (PP GP) Ansor, Drs Maskut Candranegara salut dan? bangga dengan Padang Pariaman yang sangat kuat dan teguh dengan ajaran? dan tradisi yang telah ditinggalkan Syekh Burhanuddin.



Ansor: Ajaran dan Tradisi Syekh Burhanuddin harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor: Ajaran dan Tradisi Syekh Burhanuddin harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor: Ajaran dan Tradisi Syekh Burhanuddin harus Dipertahankan

Kepada Mujahidin Cyber, Jumat (5/4) kemarin Maskut yang didampingi sejumlah pengurus PWNUSumbar itu merasa senang terhadap situasi dan kondisi makam ulama besar? Minangkabau itu.

"Perhatian pemerintah cukup lumayan, sehingga telah termasuk salah satu cagar budaya, yang perlu dikembangkan terus. Saya baru pertama kali ke Ulakan ini, namun langsung akrab, lantaran setiap kunjungan saya ke daerah selalu mencari makam orang yang pernah ikut membangun daerah tersebut dan makam ulama," katanya.

Mujahidin Cyber

"Selama ini yang saya ketahui dari Jakarta, bahwa Sumatra Barat itu kental dengan? Muhammadiyah. Boleh dikatakan, presentasi masyarakat yang melestarikan tradisi ulama dan pesantren itu hanya sedikit sekali. Ternyata, setelah pulang dari Ulakan, baru saya yakin, bahwa di Padang Pariaman tumbuh dengan suburnya tradisi yang telah ditinggalkan Syekh Burhanuddin, yakni ahlussunnah wal jamaah (Aswaja). Luar biasa sekali," tambah Maskut.

Ia melihat perbedaan ulama dengan orang biasa cukup luar biasa juga. Buktinya, ulama besar seperti Syekh Burhanuddin ini setelah dia meninggal, ternyata masih mampu menghidupkan ratusan orang di sekeliling makamnya.

Mujahidin Cyber

"Nah, ini merupakan karunia Allah Swt, terhadap orang-orang pilihan, yakni ulama. Untuk itu, sangat wajar dan harus mendapat tempat, bagaimana perbaikan terhadap komplek makam ini selalu menjadi perhatian bersama. Apalagi terhadap ajaran dan adat kebiasaan yang telah ditinggalkan Syekh Burhanuddin, merupakan suatu keharusan yang terus kita kembangkan, sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman itu sendiri," kata Maskut. (man)? ? ? ? ?Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal Mujahidin Cyber

Senin, 04 Desember 2017

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon

Rembang, Mujahidin Cyber



Di kalangan Nahdlatul Ulama berlaku pameo, jika tidak ada guyonan atau ledekan, maka itu bukan pertemuannya NU. Demikiian lekat pameo itu melekat NU, sehingga bisa dipastikan setiap ada pertemuan ulama atau para kiai NU, pasti ada humor segar yang terlontar. Spontan dan tentu saja menggelikan.?

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Kiai Khos NU Bahas Hal Serius, Tapi Penuh Guyon

Seperti terjadi di acara Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara yang diadakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang, Kamis (16/3. Meski masalah yang dibahas para kiai khos (kiai sepuh) NU adalah masalah genting negara dan bangsa, tetap saja terjadi ger-geran karena adanya guyonan yang dilontarkan.?

Bahkan guyonan itu juga terjadi ketika pembacaan naskah deklarasi hasil pertemuan yang dinamai Risalah Sarang. Di penghujung acara, ketika para kiai mendapuk Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri untuk membacakan naskah risalah, mantan Rais Am PBNU yang biasa dipanggil Gus Mus ini pun membacakan naskah dengan gaya pidatonya yang puitis.?

Dengan nada sastra yang tartil, ia membacakan mukaddimah yang berisi ayat ayat suci Al-Qur’an. Rangkaian ayat yang dikutip dari naskah Muqoddimah Qonun Asasi NU yang disusun Hadratusyekh KH Hasyim Asyari, dibacakan Gus Mus dengan penuh khidmat. Hadirin dan para wartawan pun seksama mendengarkan, seraya merekam suara atau merekam video dengan kamera profesional atau smarthphone masing masing.?

Tiba tiba, pengasuh Ponpes Roudlotut Tholibin ini nyeletuk: "WAH, di sini gak ada Al Maidah ini...."

Mujahidin Cyber

Spontan hadirin pun tertawa; "Gerrr... Hahahaa...."

Beberapa orang di barisan belakang menyeletuk: Wah, ini menohok ini... Hehehe....

Mujahidin Cyber

Dan Gus Mus pun melanjutkan membaca poin-poin naskah risalah itu sambil sesekali melontarkan canda. Seperti ketika membacakan tentang komitmen terhadap NKRI, kiai yang pandai bersyair ini mencandai tuan rumah, Kiai Maimun Zubair.?

Mbah Maimun itu suka menyebut saya orang NU nomor satu. Karena saya dinilai selalu menomorsatukan NU. Sedangkan bagi beliau, nomor satu itu Garuda Pancasila, nomor dua baru NU. Tapi saya kan selalu bilang bahwa NU itu selalu ada dan selalu berada di depan untuk NKRI. Jadi tetap saja Republik Indonesia adalah nomor satu.?

"Gerrrr..." lagi lagi hadirin tertawa. Mbah Maimun yang persis berada di sampingnya ikut terkekeh meski tak sampai bersuara.?

Wah...mbulet tenan iki, sahut seorang peserta Silatnas. (Ichwan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Santri, Ulama Mujahidin Cyber

Seorang Kiai dengan Beonya

Tersebutlah seorang Kiai yang memiliki seekor burung beo berbulu indah nan istimewa. Apa saja keistimewaannya? Selain berbulu hitam selembut beludru serta kuning yang keemasan, ternyata burung beo tersebut mampu melafalkan dzikir yang sering diwiridkan oleh Sang Kiai. Mulai dari "Allahu Akbar", "Alhamdulillah", "Subhanallah", "Laa ilaha illa Allah", "Masya Allah", dan seterusnya.

Tidaklah mengherankan jika kemudian tampak jelas di pandangan para santri betapa besar rasa sayang Sang Kiai terhadap beonya itu. Secara Sang Kiai kerap menghabiskan waktu luang untuk bermain bersamanya. Mulai dari memberi makan, memandikan, membersihkan sangkar, hingga berdzikir bersama. Para santri yang melihat keakraban Sang Kiai dengan beo itu pun tergoda untuk membayangkan jangan-jangan sedemikian inilah hubungan Shahabat Abu Hurairah RA dengan kucing-kucingnya.

Namun demikian, pada suatu tengah malam, malang tak dapat ditolak. Saat sedang bersiap mengambil air wudlu untuk tahajjud, seperti biasa Sang Kiai bersiap melintasi sangkar burung kesayangan yang memang terletak di dekat tempat berwudlu. Namun, kurang beberapa langkah mendekati sangkar si beo, terdengar suara gaduh. Sangkar si beo tergelimpang, dan betapa terkejutnya Sang Kiai saat bergegas ke arah suara gaduh tersebut. Si beo dilabrak seekor kucing.

Spontan burung beo tersebut meronta-ronta untuk melepaskan diri dari cengkeraman si kucing seraya berteriak parau, "Kaak... kaak... kak...." 

Seorang Kiai dengan Beonya (Sumber Gambar : Nu Online)
Seorang Kiai dengan Beonya (Sumber Gambar : Nu Online)

Seorang Kiai dengan Beonya

Sang Kiai bergegas mengusir kucing kurang ajar yang sudah siap melahap mangsanya. Seketika kucing itu pun menghambur pergi meninggalkan si beo yang terus mengeluarkan suara  "Kaak... kaak... kak...." Sebelum Sang Kiai mampu berbuat lebih banyak, si beo telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. 

Meneteslah airmata Sang Kiai saat itu juga. Dan ini ternyata diam-diam disaksikan oleh para santri yang juga terkejut mendengar keributan kecil di bagian belakang ndalem Sang Kiai itu. 

***

Mujahidin Cyber

Hari berganti hari. Pekan menjelma bulan.

Sejak peristiwa mengenaskan itu, rona bahagia seakan telah menghilang dari wajah lembut Sang Kiai. Hampir setiap hari para santri hanya mendapati kesedihan mendalam menghiasi wajah guru mereka. "Apakah kemasaman seperti ini yang dialami Zulaykha saat Nabi Yusuf AS menolak ajakannya?" batin mereka.

Keseharian di pondok dirasakan para santri demikian hambar. Tak ada lagi canda tawa di sela-sela penjelasan Sang Kiai saat menjelaskan baris-baris tulisan Arab tak bersyakal ketika bandongan. Tak ada lagi senyum tersimpul di ujung bibir Sang Guru saat mendengar kesalahan santri dalam menyetorkan sorogan. Bahkan, tak ditemukan lagi keakraban Sang Kiai di waktu menyapa mereka, "Cung... rene cung...."

Tak ingin muram durja di wajah mulia Sang Kiai menggelayut berlarut-larut, seorang santri senior berinisiatif mengajak teman-temannya untuk merembug masalah ini. Si santri senior pun membuka rembugan mereka, "Agaknya murabbi ruuhinaa sangat terpukul dengan kematian burung beo kesayangan beliau. Tapi, hal ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus cari bagaimana cara mengembalikan keceriaan beliau sebagaimana sedia kala."

Mujahidin Cyber

Semua membisu. Cukup lama. Entah apa yang berseliweran di pikiran masing-masing. 

"Kang, sebelum membahas masalah solusi, sepertinya kita juga perlu mencari tahu kenapa peristiwa ini bisa terjadi," tanya seorang santri berpostur pendekar, pendek dan kekar.

"Ya, Kang," timpal yang lain hampir berbarengan.

"Entahlah... aku kira ada yang lupa mengembalikan kurungan si beo ke gantungan sampai akhirnya si kucing bisa mendorongnya dari atas meja," analisa di santri senior.

"I.. iya.... Iya, Kang," sahut seorang santri tiba-tiba seraya mengacungkan tangannya. Santri berambut kriwil itu manambahkan, "Tadi sore, aku disuruh Kiai memberi makan beo karena beliau sedang ada tamu."

"Wah... bagaimana kau ini? Coba kalau kau hati-hati, parti tidak akan terjadi peristiwa ini," serobot seorang santri dengan dialek Medan yang kental.

"Maafkan aku Kang... Aku betul-betul lupa, Kang," jawab santri kriwil penuh rasa bersalah.

"Sudah... sudah.... Nasi sudah jadi bubur. Sekarang sebaiknya kita cari solusi saja ketimbang meratapi yang tak mungkin kembali," simpul si santri senior. "Apa sebaiknya yang kita lakukan sekarang?"

Hening. Sekitar duapuluh santri yang berkumpul semua diam seribu bahasa. 

Selang beberapa saat kemudian, seorang dari mereka pun melontarkan saran, "Bagaimana kalau kita urunan membeli seekor beo baru yang tak kalah istimewa?"

"Maksudmu?" tanya si santri senior.

"Ya, kita kumpulkan uang semampu masing-masing kita, lalu kita cari beo baru yang punya kemampuan lebih ketimbang beo beliau."

"Aku mengerti itu. Tapi, apa yang menjadi tolok ukur kita dalam menilai beo yang lebih istimewa?" tanya si santri senior lagi.

"Iya, betul itu. Harus jelas tolok ukur keistimewaannya. Sebab, aku cenderung tidak yakin akan ada beo lain yang lebih istimewa dari beo Kiai..." timpal seorang santri lain.

Kembali hening. Kembali pikiran mereka menerawang entah kemana.

"Beo yang lebih istimewa?" gumam si santri senior. "Yang sama istimewanya mungkin banyak... tapi kalau lebih istimewa... entahlah...."

"Aku tahu!" jerit santri pemberi saran tadi. "Bagaimana kalau kita cari saja dulu beo yang sama istimewanya, baru kemudian kita latih beo itu memekikkan kata Merdeka!?"  

"Maksudmu gimana sih, Kang?"

"Sampean semua tentu sudah tahu betapa besar jiwa nasionalisme Pak Kiai, kan?"  

Seketika raut bingah menghiasi wajah santri-santri tersebut. Semua mampu membaca arah pikiran si santri pemberi saran dan mereka pun menerima sarannya. Mufakat pun tercapai dan bersepakatlah mereka untuk mengumpulkan iuran seikhlasnya.

***

Tak butuh waktu lama, terkumpullah uang dalam jumlah yang cukup besar, jumlah yang dirasa sudah cukup untuk membeli seekor beo istimewa di pasar hewan di kota untuk kemudian dilatih memekikkan "Merdeka!"

Berangkatlah santri senior ditemani oleh si pemberi saran tadi ke pasar hewan yang ada di kota. Baru saja memasuki pasar, nasib baik menghinggapi mereka. Entah karena sepinya pengunjung, atau karena memang jumlah uang urunan mereka yang besar, seekor burung beo yang sesuai dengan harapan mereka berhasil didapatkan. Bahkan, beo baru tersebut itu bisa menirukan kata "Merdeka!" hanya dalam sekali percobaan. Dan yang lebih istimewa lagi, beo itu hanya perlu melihat kepalan tangan yang teracung ke atas untuk melafalkan kata pemompa semangat nasionalisme itu.

Singkat kata, pulanglah keduanya seraya membayangkan senyum yang akan kembali terukir di bibir sang guru. Begitu sampai di pondok, keduanya lantas mempersembahkan burung beo baru tersebut ke hadapan Sang Kiai.

"Apa ini?" tanya Sang Kiai.

"Ini adalah beo istimewa untuk panjenengan," jawab santri senior.

"Maksudmu?

"Ini adalah beo istimewa yang tidak hanya bisa berdzikir seperti beo panjenengan yang mati itu," jawab santri senior. "Tapi beo ini juga bisa berteriak Merdeka!..." imbuh si santri senior.

"Lantas, untuk apa?"

"Untuk... untuk..."

"Untuk mengobati rasa kehilangan panjenengan atas beo panjengan yang mati tempo hari," serobot si santri pemberi saran.

Bukan senyum yang mereka dapatkan sebagaimana harapan mereka, melainkan isak sesungukan Sang Kiai diiringi dengan buliran beling yang mengalir dari sudut mata beliau.

"Kalau hanya untuk membeli beo yang sama atau bahkan lebih istimewa dari beo yang mati beberapa hari lalu itu, aku bisa beli sendiri," dawuh Sang Kiai akhirnya.

Kedua santri yang bertugas mencari dan mempersembahkan beo baru yang lebih istimewa itu pun saling berpandangan. Weladalah! Kenapa mereka bisa lupa dengan kemungkinan itu? Tentu saja Sang Kiai bisa membeli seekor beo baru untuk menggantikan si beo yang mati, bahkan lima atau sepuluh beo sekaligus. Lantas, jika demikian, apa yang membuat Sang Kiai bersedih?

"Terima kasih kalian telah berusaha untuk menghilangkan kesedihanku, meskipun kalian masih belum tahu dengan perkara apa yang membuatku sedih," dawuh Sang Kiai lagi.

Kali ini si santri senior dan si santri pemberi saran hanya mampu menekuri lantai.

"Tahukah kalian apa yang telah membuatku sedih?" tanya Sang Kiai sejurus kemudian.

Si santri senior dan si santri pemberi saran semakin menancapkan pandangan mata mereka menembus lantai.

"Ketahuilah bahwa yang membuatku sedih itu bukanlah kematian si beo... yang membuat ku sedih adalah kata-kata yang keluar dari paruhnya saat diterkam oleh si kucing," lanjut Sang Kiai.  "Beo yang sudah sekian lama bersama kita selalu melafalkan dzikir yang beragam itu hanya mampu berteriak Kaak... kak... kaak... saat meregang nyawa. Lantas, bagaimana dengan kita? Kata seperti apa gerangan yang kelak akan keluar dari lisan kita saat bersua Malaikat Izrail nanti?"

 

Gunungpati Semarang, 5 November 2013

Terinspirasi dari wejangan Habib Umar Muthohar saat saya menemani beberapa orang teman untuk sowan ke ndalem beliau.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Rabu, 29 November 2017

PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih

Kutai Kartanegara, Mujahidin Cyber. Puluhan mahasiswa PMII Kutai Kartanegara Kalimantan Timur  berencana menggelar aksi damai menjelang pemilu di bundaran Jembatan Bongkok, Kamis (3/4).  Aksi damai yang dimulai pukul 14.00 akan mengusung isu tentang pemilu bersih, jujur dan adil untuk Kutai Kartanegara.

PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kutai Kartanegara Gelar Aksi Damai Pemilu Bersih

Dalam aksi ini PMII Kutai Kartanegara berencana membagikan brosur yang berisi tentang masalah yang dihadapi dalam pemilu kali ini.

Koorlap aksi M Ali Akbar menjelaskan, apabila proses kampanye dan pencoblosan terdapat kecurangan atau tindakan buruk, maka pemilu akan menghasilkan anggota DPR yang hanya memikirkan kepentingan pribadi atau golongan saja.

Mujahidin Cyber

“Apabila ada caleg yang menjanjikan uang, tolak uangnya, jangan pilih orangnya, dan laporkan!” tutur M Ali Akbar.

Mujahidin Cyber

Sedangkan Ketua PC PMII Kutai Kartanegara Muhammad Sulaiman dalam orasi nanti akan memaparkan masalah-masalah pemilu yang dihadapi.

“Pemilu kali ini tidak akan jauh berbeda permasalahanya dari pemilu-pemilu sebelumnya, yakni masalah golput yang tinggi, kampanye hitam yang makin marak, jumlah DPT bermasalah dan politik uang yang seakan sudah melekat pada proses pemilu di Indonesia,” kata Sulaiman dalam pers rilisnya.

PMII Kutai Kartanegara juga mengimbau warga untuk tidak golput, menolak politik uang, dan meminta KPU dan aparatur Negara (PNS) untuk tetap menjaga netralitas dalam pemilu kali ini.

“Kita juga mengingatkan masyarakat, ketika sudah mencoblos dan mendapati wakil mereka duduk di kursi DPR untuk jangan melupakan janjijanji caleg saat kampanye. Kita tagih janji mereka ketika mereka terpilih!” tegas Sulaiman.

PMII Kutai Kartenegara juga menegaskan akan mengawasi dan memantau pileg kali ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Ahlussunnah Mujahidin Cyber

Sabtu, 18 November 2017

KH Hasyim Muzadi "Banjir" Pujian dan Ucapan Selamat

Gagal menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) pada pemilihan presiden 2004 lalu, justru sukses menjadi presiden. Namun yang ini beda, bukan Presiden RI, melainkan Presiden Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian (World Conference on Religion and Peace/WCRP).

KH Hasyim Muzadi, ya, dialah sang presiden itu. Presiden WCRP, sebuah organisasi lintas agama yang menghimpun tokoh-tokoh berbagai agama dari seluruh dunia dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Terpilihnya menduduki jabatan cukup bergengsi itu justru karena ia tak bersedia dicalonkan. Namun, komitmen dan kiprahnya dalam upaya menciptakan kehidupan beragama yang rukun dan damai, ‘memaksa’ ia untuk menerima amanah itu.

Hasyim, demikian panggilan akrab tokoh yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu terpilih sebagai salah satu presiden mewakili muslim (Sunni) Indonesia dalam sebuah konferensi yang dihadiri 600-an tokoh dari 20 agama dari 100 negara di dunia di Kyoto, Jepang, 25-29 Agustus lalu.

KH Hasyim Muzadi Banjir Pujian dan Ucapan Selamat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi Banjir Pujian dan Ucapan Selamat (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi "Banjir" Pujian dan Ucapan Selamat

Tak ayal, pemimpin tertinggi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur ini “kebanjiran” ucapan selamat. Ucapan selamat itu benar-benar istmewa. Pasalnya, bukan berbentuk karangan bunga atau sekotak iklan di sebuah surat kabar—sebagaimana layaknya ucapan selamat untuk seorang pejabat atau petinggi negara—melainkan langsung dari para tokoh, pemimpin dan pemuka agama di tanah air.

Dalam sebuah acara Temu Pemuka Agama di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (18/9) kemarin, berkumpullah tokoh, pemimpin dan pemuka agama di Indonesia. Sejumlah tokoh, sedikitnya mewakili 9 agama di Indonesia memberikan ucapan selamat kepada Hasyim pada acara yang digelar PBNU bekerja sama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) itu. Ke-9 agama itu antara lain, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, Bahai, Sikh dan Penghayat.

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Kardinal Julius Darmaatmadja yang mewakili umat Katolik mengatakan, terpilihnya Hasyim menjadi Presiden WCRP merupakan sebuah kehormatan tersendiri bagi bangsa Indonesia, khususnya umat beragama di Indonesia. Keberagaman agama yang dimiliki bangsa Indonesia, katanya, memang memerlukan figur seperti Hasyim yang dinilai mampu mewujudkan misi kerukunan antarumat beragama serta perdamaian dunia.

“Semoga kita bangsa Indonesia mendapat siraman damai dari beliau (Hasyim, red). Damai Indonesia, damai dunia,” ucap Romo Kardinal , demikian panggilan akrab pemimpin tertinggi umat katolik di Indonesia ini.

Mujahidin Cyber

Tak jauh berbeda, mewakili umat Protestan di Indonesia, Pdt Andreas Yewangoe yang juga Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) turut mengucapkan selamat kepada mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu. Ia juga menyatakan dukungan terhadap terhadap Hasyim dalam posisinya sebagai presiden di organisasi yang didirikan pada tahun 1970 dan saat ini berpusat di Markas PBB, di New York, Amerika Serikat itu.

Dari sekian tokoh yang menyampaikan pandangan dalam pidatonya, pernyataan yang cukup menarik dikemukakan Bikhu Dharmasubu Thea, wakil dari pemeluk agama Budha. Bikhu yang juga Ketua Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) ini, mengandaikan Hasyim mampu menjadi seperti Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri (1135-1159). Jayabaya adalah tokoh asal Jawa Timur yang memiliki reputasi internasional di zamannya.

Mujahidin Cyber

“Sama-sama putra Jawa Timur-nya. Jayabaya dari Jawa Timur, Pak Hasyim Muzadi juga begitu. Semoga beliau juga bisa menjadi penerus Jayabaya,” kata Bikhu Dharmasubu disambut tepuk tangan para hadirin yang memenuhi ruang pertemuan itu.

Bikhu Dharmasubu juga mengatakan, didaulatnya Hasyim menjadi presiden WCRP bukanlah untuk mengharapkan sesuatu, melainkan sebaliknya. “Saya yakin beliau menjadi Presiden WCRP tidak untuk berharap mendapatkan sesuatu, tetapi untuk memberikan sesuatu. Sesuatu itu adalah melestarikan kerukunan antarumat beragama serta perdamaian dunia,” terangnya yang sekali lagi disambut tepuk tangan gemuruh.

Tak ketinggalan, masing-masing tokoh yang mewakili umat Hindu, Konghucu, Konghucu, Bahai, Sikh dan Penghayat juga menyampaikan hal serupa. Mereka juga satu kata mendukung serta siap membantu apa yang akan dilakukan Hasyim di WCRP, terutama dalam rangka mewujudkan perdamaian dan kerukunan antarumat beragama.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) I Nyoman Suwandha mengatakan, hal yang lebih penting dilakukan sebagai tindak lanjut dari konferensi di Kyoto itu adalah tidak saja mengadakan dialog antarumat beragama, melainkan juga bekerja samaDari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber PonPes, Pondok Pesantren, Tegal Mujahidin Cyber

Minggu, 12 November 2017

Seribu Santri Ikuti Buka Bersama Bin Nawawi Group

Purworejo, Mujahidin Cyber . Berupaya untuk mempererat jalinan silaturahim, unit lembaga pendidikan dan badan usaha yang berada di bawah naungan Bin Nawawi Group menggelar ngabuburit dan buka bersama, Kamis (17/7). Kegiatan tersebut dimeriahkan dengan atraksi reptil, bazar, pentas musik band religi, serta mauidotul khasanah.

Seribu Santri Ikuti Buka Bersama Bin Nawawi Group (Sumber Gambar : Nu Online)
Seribu Santri Ikuti Buka Bersama Bin Nawawi Group (Sumber Gambar : Nu Online)

Seribu Santri Ikuti Buka Bersama Bin Nawawi Group

Kegiatan yang digelar di halaman Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) serta stasiun radio Shoutuna Fm ini berlangsung cukup meriah. Sekitar seribuan santri putra dan putri PP An-Nawawi Berjan Purworejo, Jawa Tengah, turut diundang dalam acara yang baru pertama kali digelar tersebut.

Ketua Panitia KH R Maulana Alwi mengatakan jika Bin Nawawi Group yang berada dibawah asuhan KH Acmad Cahlwani Nawawi ini membawahi beberapa unit pendidikan formal maupun non formal. "Untuk pendidikan nonformalnya ya Madrasah Diniyah (Madin) yang dikelola oleh Pondok Pesantren An-Nawawi," terangnya.

Mujahidin Cyber

Sementara untuk pendidikan formalnya terdiri dari tingkat tsanawiyah, aliyah hingga perguruan tinggi. Unit-unit pendidikan tersebut tidak hanya di Kabupaten Purworejo saja, namun juga di Kebumen dan Magelang.

Mujahidin Cyber

"Hadir dalam buber kali ini seluruh guru dan karyawan MA dan MTs An-Nawawi 01 Berjan Purworejo, MTs An-Nawawi 04 Kaligesing, MA dan MTs An-Nawawi 02 Salaman Magelang, MA dan MTs An-Nawawi 03 Kebumen serta Dosen dan karyawan STAIAN Purworejo," terangnya.

Ia menambahkan, mengingat letak geografis yang cukup jauh antara unit pendidikan satu dengan yang lainnya sehingga antara pengelola unit satu dengan lainnya kadang tidak saling mengenal. "Sehingga momentum buka bersama ini merupakan agenda yang sangat penting guna agar satu sama lain sesama keluarga besar Bin Nawawi Group saling mengenal dan terjalin tali silaturahim," imbuhnya.

Sementara itu, Ustad Nailiya Helmi Tunjung, finalis dai muda Indonesia MNC group yang juga santri An-Nawawi mengemukakan pentingnya syukur dalam kehidupan ini. "Jamak diketahui siapapun yang mau bersyukur nikmatnya akan ditambah. Namun jika kufur, sesungguhnya adzab Allah sangatlah pedih," terangnya. (Lukman Hakim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Nasional Mujahidin Cyber

Rabu, 08 November 2017

PC IPNU Balikpapan Gelar Istighotsah Jelang UN

Balikpapan, Mujahidin Cyber. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Balikpapan menggelar Istighotsah, zikir dan doa bersama dalam rangka kesiapan ujian nasional Ahad 8/4/2012.

Kegiatan zikir dan doa yang berlangsung di masjid Daruussalam Km 1,5 Kota Balikpapan dipimpin oleh Kiai Ahmad Muhlasin selaku Wakil Rais Syuriyah PC NU Kota Balikapan. Kegiatan ini dihadiri ratusan pelajar dari MAN 1, MTsN 1, MTs Darussalam Kota Balikpapan, dan perwakilan PCNU Kota Balikpapan.

PC IPNU Balikpapan Gelar Istighotsah Jelang UN (Sumber Gambar : Nu Online)
PC IPNU Balikpapan Gelar Istighotsah Jelang UN (Sumber Gambar : Nu Online)

PC IPNU Balikpapan Gelar Istighotsah Jelang UN

Jumiko, Ketua PC IPNU Kota Balikapan dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan istighotsah dan doa bersama adalah usaha mendoakan pelajar SD/MI, SMP/MTS, SMA/SMK se- Kota Balikpapan yang akan menghadapi ujian nasional. UN untuk tingkat SMA/SMK berlangsung tanggal 16 April 2012. Diharapkan kegiatan ini meningkatkan motivasi para pelajar menjelang UN. 

H.Muslih Umar, wakil ketua tanfidziyah PCNU Kota Balikapapan dalam tausiyahnya memberikan motivasi serta amalan untuk para pelajar yang akan menghadapi UN. Sehingga Para pelajar nanti dalam menghadapi UN bisa tenang dan bisa mengerjakan soal UN dengan baik dan benar serta mendapat kelulusan 100%.

Mujahidin Cyber

PC IPNU Kota Balikpapan mengadakan kegiatan tahun ini karena mendapat sokongan moril dari para wali murid, mereka menginginkan anaknya tidak hanya berkutat pada nilai-nilai akademik di sekolah tapi juga mendapatkan nilai-nilai spiritual melalui kegiatan ini. 

 

Mujahidin Cyber

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Pahlawan, Tegal Mujahidin Cyber

Jumat, 03 November 2017

Banser Sukoharjo Bangun Kekompakan lewat Arisan

Sukoharjo, Mujahidin Cyber. Untuk mempererat rasa solidaritas dan menjalin silahturahmi antar sesama, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menyelenggarakan arisan dan kuliah bagi anggota lama dan baru.

Banser Sukoharjo Bangun Kekompakan lewat Arisan (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Sukoharjo Bangun Kekompakan lewat Arisan (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Sukoharjo Bangun Kekompakan lewat Arisan

“Kegiatan arisan seperti ini bukan hanya untuk menerima uang tetapi lebih sebagai ajang silahturahmi dan menerima masukan sesama anggota Banser,” kata Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sukoharjo Nuril Huda, Rabu (4/9).

Menurut dia, kegiatan arisan sudah menjadi rutinitas anggota Banser Sukoharjo. Bukan sebagai program khusus organisasi tetapi pemicu berkumpulnya sesama anggota Banser. Tanpa acara semacam ini mereka jarang saling bertemu, bahkan hingga tiga bulan. ?

Mujahidin Cyber

“Setelah diadakan kegiatan seperti ini paling tidak Banser dalam satu bulan bisa ketemu. Tempatnya selalu berkeliling di seluruh Sukoharjo,” tuturnya.

Meski sederhana, namun tak mengurangi keakraban antar sesama anggota Banser Sukoharjo, karena momen tersebut dapat digunakan untuk saling menjaga kekompakan, berdiskusi dan bertukar pikiran antar sesama anggota Banser.? (Mashri/Mahbib)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Meme Islam Mujahidin Cyber

Tasyakuran Harlah, PCNU Jaksel Gelar Santunan dan Istighotsah

Jakarta, Mujahidin Cyber - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Selatan menggelar tasyakuran Harlah Ke-94 NU di aula Yayasan Darul Marfu, Jalan H Zainudin, Radio Dalam, Jakarta Selatan, Ahad (9/4) malam. Sebelumnya pengurus harian PCNU Jaksel meminta MWCNU se-Jaksel untuk mengkhatamkan Al-Quran di masing-masing kecamatan.

“Kita minta pengurus-pengurus MWCNU untuk mengkhatamkan Al-Quran agar pengurus NU di kecamatan memiliki peran dalam harlah NU ini,” kata Ketua PCNU Jaksel KH Abdurrazak Alwi dalam sambutannya di hadapan ratusan hadirin.

Tasyakuran Harlah, PCNU Jaksel Gelar Santunan dan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasyakuran Harlah, PCNU Jaksel Gelar Santunan dan Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasyakuran Harlah, PCNU Jaksel Gelar Santunan dan Istighotsah

Para hadirin menutup khataman ini dengan istighotsah dengan harapan Allah memberikan keberkahan bagi seluruh warga NU. Pada kesempatan ini pengurus harian PCNU Jaksel menyerahkan santunan untuk puluhan anak-anak tidak mampu.

“Tidak perlu khawatir, forum ini tidak terkait sama sekali dengan hiruk-pikuk pilkada DKI Jakarta. Forum ini murni untuk memperingati Harlah Ke-94 NU sebagai bentuk tasyakur kita kepada para pendahulu dan ulama-ulama,” kata Kiai Abdurrazak.

Mujahidin Cyber

Kiai Abdurrazak menambahkan, NU secara kelembagaan berdiri pada 1926. Tetapi sejatinya praktik keagamaan yang diamalkan oleh warga NU sudah berusia ratusan tahun bahkan sejak Rasulullah dan salafus saleh. "Dan tentu saja kontribusi NU terhadap pendirian Republik Indonesia ini tidak perlu disangsikan."

Mujahidin Cyber

Tampak hadir Direktorat Kamtibmas Polda Metro Jaya Gunadi, Kapolres Jaksel Kombes Iwan, Dandim Jakarta Selatan, Walikota Jakarta Selatan. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Syariah, Ahlussunnah Mujahidin Cyber

Jumat, 13 Oktober 2017

Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur

Jakarta, Mujahidin Cyber. Usep S Ahyar dari Populi Center, lembaga survey dan kebijakan Publik menyampaikan, hasil survey yang dilakukan pada September lalu menghasilkan temuan bahwa faktor yang paling dominan dalam memilih pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dalam pilkada DKI Jakarta adalah kesukaan calon pemilih terhadap visi dan misi, serta program yang diusung pasangan calon.?

Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur (Sumber Gambar : Nu Online)
Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur (Sumber Gambar : Nu Online)

Visi dan Misi, Pertimbangan Utama dalam Memilih Gubernur

“Sedangkan faktor kesamaan agama hanya memberi kontribusi sebesar 5 persen,” kata Usep dalam diskusi Perspektif Jakarta yang digelar di Gedung PBNU, Rabu (12/10).

Dalam survey yang melibatkan 400 orang ini, juga ditemukan bahwa 48 persen pemilih berpendapat bahwa gubernur dan wakil gubernur boleh beragama apa saja. Yang menginginkan gubernur dan wakil gubernur harus satu agama mencapai 40 persen.

Temuan lain adalah, 49.8 persen pemilih di Jakarta tidak keberatan jika dipimpin oleh gubernur non-Muslim sedangkan yang keberatan mencapai 46 persen.?

Mujahidin Cyber

Mengingat dalam Pilgub Jakarta ini ada bakal calon yang berasal dari etnis Tionghoa, yaitu Basuki Cahaya Purnama, Populi Center juga menanyakan kepada responden, apakah mereka keberatan jika dipimpin oleh gubernur beretnis Tionghoa, 53.2 persen tidak keberatan sedangkan yang keberatan mencapai 40.7 persen.?

30.2 persen publik Jakarta menginginkan pasangan calon gubernur-wakil gubernur bebas dari korupsi. Karena itu, jika selama masa pilkada ini ada pasangan calon yang terbukti korupsi, maka 55.5 persen pemilih akan merubah pilihannya.?

Hal yang menjadi perhatian kami ini termasuk kampanye hitam. Usep menjelaskan kampanye hitam adalah kampanye untuk menjatuhkan lawan politik pada isu-isu yang tidak berdasar. Hal ini berbeda dengan kampanye negatif yang menyampaikan kelemahan-kelemahan lawan politik melalui isu-isu negatif, tetapi dengan fakta yang benar, baik itu track record atau kasus-kasus yang dilaluinya.

Mujahidin Cyber

“Berbeda dengan kampanye hitam, kampanye negatif justru menghidupkan demokrasi dan pendidikan politik yang dikandungnya. Mengapa demikian? Dalam kampanye negatif, informasi yang dikemukakan adalah suatu kenyataan dan mampu dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Dari temuannya dalam survey yang menunjukkan bahwa masyarakat lebih mengutamakan visi dan misi pasangan calon, ia mengambil kesimpulan bahwa masyarakat pemilih di Jakarta sudah menuju pada pemilih yang lebih rasional.?

Namun demikian, kampanye hitam juga akan memunculkan ketegangan politik dan kebencian yang tak berujung. “Stigma negatif terus disematkan pada kelompok tertentu dan pihak-pihak yang mendukung. Pada akhirnya aapriori masyarakat pada pemilu dan demokrasi,” imbuhnya. ?

Ia berharap agar ada penyikapan secara serius dari penyelenggara pemilu. “Celah-celah yang memungkinkan kampanye hitam ini muncul harus segera dicarikan solusinya, disertai dengan pengawasan yang lebih ketat,” tegasnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Sejarah, Kiai, Tegal Mujahidin Cyber

Kamis, 14 September 2017

Kaum Muda NU Didorong Pahami Politik Keumatan

Jombang, Mujahidin Cyber. Kaum muda Nahdlatul Ulama (NU) harus peka dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat bawah. Keilmuan, pengetahuan dan pengalaman mereka hendaknya juga disinggungkan langsung kepada keadaan warga masyarakat. Hal ini akan semakin membantu mepertajam analisa kaum muda dalam merespon dinamika yang terjadi di masyarakat.

Demikian yang disampaikan Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang, Jawa Timur KH Abdul Nashir Fattah. Ia mengungkapkan bahwa kepekaan pemuda NU terhadap kondisi masyarakat adalah salah satu bentuk dari politik keumatan yang diistilahkan kiai Sahal.?

Kaum Muda NU Didorong Pahami Politik Keumatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaum Muda NU Didorong Pahami Politik Keumatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaum Muda NU Didorong Pahami Politik Keumatan

“Semacam ini yang biasa diistilahkan oleh Kiai Sahal dengan politik kerakyatan atau politik keumatan,” katanya kepada Mujahidin Cyber saat ditemui di kediamannya, Rabu (13/1).

Mujahidin Cyber

Untuk itu, lanjut Kiai Nashir, semua program yang dirumuskan harus terstruktur baik di tingkat daerah, wilayah hingga pusat harus memiliki nilai kemanfaatan bagi masyarakat dan upaya menanamkan nilai-nilai tersebut. “Agenda-agenda yang diselenggarakan mereka bersinggungan pula dengan masyarakat. Lagi-lagi hal ini menjadi kepakaan tersendiri bagi mereka,” lanjutnya.

Mujahidin Cyber

Ia mengaku semenjak waktu mudanya selalu melakukan pendampingan-pendampingan secara langsung dengan masyarakat, bahkan sebelum masuk di kepengurusan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), kiai Nashir sudah melakukan hal yang serupa. “Harus bisa mendengarkan aspirasi-aspirasi masyarakat kemudian dibawa ke atas melalui lobi-lobi, peran NU harusnya begitu. Dan hal ini yang saya terima dan saya rasakan dari petinggi-petinggi NU dulu,” ungkapnya.

Keterlibatan warga nahdliyin untuk mendmpingi masyarkat dalam masa ke masa semakin berkurang, hingga pemuda-pemua NU khususnya enggan melakukan pengabdian yang lebih pada mereka. “Rata-rata sekarang kan tidak, sehingga kepekaannya juga tidak ada, jeritan rakyat masih banyak yang belum didngarkan, yang banyak kan begitu rata-arata sekarang,” ujarnya.

Dengan demikian untuk memulihkan kondisi tersebut kepada peran NU yang seharusnya, Kiai Nashir menuturkan, setidaknya membentuk pelatihan-pelatihan khusus dimulai dari tingkat pelajar tentang pola pengabdian kepada masyarakat dan upaya-upaya untuk menanamkan nilai-nilai ke-NUan.?

“Menurut saya harus membentuk pelatihan-pelatihan khusus untuk generasi muda, minimal mulai dari tingkat IPNU-IPPNU dengan melakukan pengabdian-pengabdian kepada masyarakat sehingga tertanam rasa kepekaan, dan ketika mereka sudah menjadi pimpinan mereka betul-betul memahami kondisi dan kebutuhan masyarakat,” tuturnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Nahdlatul, Tegal Mujahidin Cyber

Rabu, 30 Agustus 2017

Nasionalisme Pemuda Tangkal Radikalisme

Jepara, Mujahidin Cyber. Nasionalisme pemuda saat ini bisa dibilang mengalami penurunan. Karena mereka menganggap sekarang sudah tidak ada perjuangan mengangkat senjata lagi. Sebab mereka hanya tinggal menikmati hasil perjuangan.?

Keprihatinan itu diuraikan Dwi Suryoatmojo, Peneliti Madya Kementerian Pertahanan RI dalam seminar bertajuk “Islam Nusantara di Tengah Ancaman Radikalisme” yang berlangsung di aula SMK Az Zahra Mlonggo Jepara, kompleks Pesantren Az Zahra, Jalan Jepara - Bangsri Km.12 Sekuro Mlonggo Jepara, Sabtu (17/10).?

Nasionalisme Pemuda Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasionalisme Pemuda Tangkal Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasionalisme Pemuda Tangkal Radikalisme

Dengan keprihatinan itu alhasil pemuda hanya bisa seenaknya sendiri. Misalnya meminta uang untuk sekolah maupun kuliah. Meskipun pemuda tidak hidup di era penjajahan seyogianya pemuda dituntut memberikan kontribusi yang kreatif dan progresif.?

Mujahidin Cyber

Melalui cara itu menurut lelaki kelahiran Jepara, 14 Agustus 1967 radikalisme yang makin berkembang di Indonesia bisa dicegah. Ia menjelaskan sebenarnya pelaku tindak radikal ialah pemuda sehingga yang patut menanggal hal negatif itu juga di tangan pemuda. Sebab pemuda lebih tahu tentang lingkungannya.?

Untuk itu pemuda harus disiapkan menjadi generasi potensial untuk menangkal pengaruh-pengaruh yang kurang bagus tersebut sebagai generasi perubahan.?

Mujahidin Cyber

“Pemuda sekarang harus disiapkan dengan dibekali dengan ilmu yang ? baik dan cukup,” kata Kepala Bagian Operasi Intelegen AD.?

Hal itu menurutnya sejalan dengan apa yang pernah Soekarno yang meminta pemuda untuk mengubah dunia. Selain peran dari pemuda agar nasionalisme tetap berkobar perlu ditopang dengan peran pemerintah. Juga peran serta dari ulama yang senantiasa untuk dimintai pendapat tentang permasalahan yang dihadapi bangsa.?

Dalam kegiatan hasil kerjasama PAC IPNU-IPPNU Mlonggo Jepara dan SMK Az Zahra Mlonggo Jepara hadir juga sebagai pembicara Hamzal Sahal, aktifis NU di Jakarta dan KH Nuruddin Amin pengasuh pesantren Hasyim Asyari Bangsri Jepara.

Selain Seminar kegiatan yang berlangsung 2 hari ini juga diisi dengan Latihan Kader Muda (Lakmud) dan Pentas Padang Bulan. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Hikmah Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock