Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Bahtsul Masail, PCNU Garut Angkat Masalah Potongan Harga (Cashback)

Garut, Mujahidin Cyber - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut mengangkat fenomena pengembalian sebagian uang sebagai bentuk potongan harga dari barang yang dibeli warga (cashback) pada musyawarah kerja cabang II di Pesantren Al-Huda, Selasa (17/1). Mereka mencoba mengupas masalah sistem potongan harga yang masih belum jelas hukumnya dari segi pandangan syari’at Islam.

Cashback ini model transaksi seperti apa, boleh atau tidak. Sebenarnya itu milik siapa. Hal itu akan coba dirumuskan supaya jelas halal atau haramnya. Agar orang tidak ragu menerima itu,” kata Sekretaris Panitia Muskercab II Aceng Hilman Umar Bashori saat dijumpai di Pesantren Al-Huda.

Bahtsul Masail, PCNU Garut Angkat Masalah Potongan Harga (Cashback) (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail, PCNU Garut Angkat Masalah Potongan Harga (Cashback) (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail, PCNU Garut Angkat Masalah Potongan Harga (Cashback)

Ia mengatakan, hasil bahtsul masail yang digelar pada Selasa malam ini akan dipublikasikan usai Muskercab II. Pihak panitia akan menggelar jumpa pers agar semua masyarakat mengetahui hukum masalah-masalah yang dibahas tersebut.

Mujahidin Cyber

“Kita akan mengundang media untuk mengetahui pandangan PCNU melihat itu seperti apa. Mudah-mudahan bisa sangat membantu masyarakat sehingga ketika ada fenomena seperti yang terjadi di Jakarta orang sudah tidak mempertanyakan lagi terkait hukumnya dari pandangan agama,” ujarnya.

Pertemuan ini dihadiri sekira 200 peserta. Mereka datang dari 42 lebih kecamatan di Kabupaten Garut. Musyawarah ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Harlah Ke-91 NU.

Aceng berharap masyarakat memahami komitmen kebangsaan NU yang semakin dewasa ini meskipun di tengah rongrongan isu-isu negatif terhadapnya. (Rohmah Nashruddin/Alhafiz K)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pertandingan, Syariah Mujahidin Cyber

Rabu, 21 Februari 2018

Alhamdulillah, Kiai Sahal Kembali Sehat

Jakarta, Mujahidin Cyber. Syukur Alhamdulillah, Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudh kembali sehat setelah selama beberapa hari berada di RS Karyadi Semarang. Ia kembali ke kediamannya di pesantren Maslahul Huda, Pati, Rabu (18/9).

Alhamdulillah, Kiai Sahal Kembali Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Alhamdulillah, Kiai Sahal Kembali Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Alhamdulillah, Kiai Sahal Kembali Sehat

Muhammad Najid, sekretaris syuriyah PBNU mengatakan, Kamis (19/9), Kiai Sahal kesehatannya menurun setelah mengikuti Rapat Pleno PBNU di Wonosobo, 6-9 September lalu.

“Mungkin karena perjalanan darat yang panjang antara Wonosobo-Pati sekitar 6-7 jam yang melelahkan, sehingga kondisi fisiknya menurun,” paparnya.

Mujahidin Cyber

Alumni pesantren Ciganjur ini menuturkan, selama sidang pleno, kondisi kesehatan Kiai Sahal sangat baik dan mampu memberikan tausiyah serta menerima laporan keorganisasian dengan kondisi sangat prima.

Mujahidin Cyber

“Beliau sangat menjaga kondisi kesehatannya, mengikuti saran dari dokter, apa yang boleh dimakan dan tidak, serta bagaimana berperilaku hidup sehat,” tuturnya.?

Ia menambahkan, meskipun tinggal di Pati, Kiai Sahal tetap mengontrol perkembangan organisasi, dan meminta laporan perkembangannya secara rutin. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Syariah, Pemurnian Aqidah, Ahlussunnah Mujahidin Cyber

Jumat, 09 Februari 2018

PCNU Cirebon Gelar Pasar Murah Ramadhan NU

Cirebon, Mujahidin Cyber - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon bekerja sama dengan Polres Cirebon menggelar Operasi Pasar Ramadhan (OPR) 2017 untuk ketiga kalinya, Kamis (8/6). Kali ini penjualan sejumlah bahan pokok dengan harga murah ini diadakan di depan balai Desa Batembat, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon.

Hadir dalam kegiatan ini Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Cirebon KH Wawan Arwani Amin, Wakil Syuriah PCNU Cirebon KH Niamillah Aqil Siraj, Wakil Ketua PCNU H Fuad dan pengurus harian lainnya. Tampak pula Wakapolres Kompol Wadi Sabani dan jajaran.

PCNU Cirebon Gelar Pasar Murah Ramadhan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Cirebon Gelar Pasar Murah Ramadhan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Cirebon Gelar Pasar Murah Ramadhan NU

Di tengah pelaksanaan, sejumlah pejabat dari kementerian dan Bulog juga dating, yaitu Dirjen Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan (PSPK) Kemensos Hartono Laras serta Kepala Bulog Sub Divre Cirebon Taufik Budi Santoso.

Mujahidin Cyber

Pantauan koresponden Mujahidin Cyber, lapak penjualan sejumlah kebutuhan pokok diserbu warga. Masyarakat yang didominasi ibu rumah tangga rela antre untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras premium, gula pasir, minyak goreng, telor, bawang, dan lainnya.

Rais Syuriyah PCNU Cirebon KH Wawan Arwani Amin mengatakan, NU harus hadir di tengah-tengah masyarakat untuk membantu mencarikan solusi. Bukan hanya persoalan keagamaan dan moralitas, tetapi juga bidang lainnya seperti ekonomi dan ketahanan pangan.

Mujahidin Cyber

Menurutnya, Operasi Pasar Ramadhan yang dikerjasamakan dengan Polres dan Bulog sudah berjalan di tiga kecamatan. Rencananya akan terus dilakukan di kecamatan lainnya.

"Program ini sangat tepat di tengah mahalnya harga kebutuhan pokok selama Ramadhan atau menjelang Idul Fitri. Kami mengerahkan jajaran pengurus PCNU dan MWC tiap kecamatan untuk terselenggaranya acara ini," tuturnya.

Ia berharap kerja sama NU dengan elemen lainnya terus terbangun dengan baik di berbagai bidang. Tujuannya sama, memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi masyarakat.

Sementara itu Kapolres Cirebon, AKBP Risto Samodra melalui Wakapolres Kompol Wadi Sabani mengatakan, operasi pasar bukan dalam rangka menyaingi para pedagang, tetapi membantu masyarakat. Tujuannya, untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok selama bulan Ramadhan yang terus naik.

Dikatakan, selama bulan Ramadhan, terutama menjelang lebaran harga-harga kebutuhan pokok naik. Kondisi ini menjadi peluang bagi para pengusaha nakal untuk menimbun barang dan mempermainkan harga di pasaran.

"Langkah hukum telah dan sedang dilakukan. Spekulan yang menimbun sudah ditindak dan kami berantas. Operasi pasar adalah upaya lain untuk menekan harga pasar," ujar Wakapolres Wadi.

Operasi pasar, lanjut dia, akan terus dilanjutkan di kecamatan-kecamatan yang menjadi wilayah hukum Polres Cirebon.

Diakui, selisih harganya tidak jauh dari harga pasar, tetapi lumayan lebih murah beberapa ribu dari harga di tempat lain dan kualitas barangnya setara premium. Jika ingin lebih murah lagi, maka harus ada peran pemerintah untuk menyubsidi. (Red Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Syariah Mujahidin Cyber

Rabu, 07 Februari 2018

PBNU: Pegang Teguh Keislaman dan Keindonesiaan!

Jakarta, Mujahidin Cyber. Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf mengatakan, organisasi-organisasi di bawah NU herus berpegang teguh pada keislaman dan keindonesian. Sangat tepat, dalam Harlah ke-63, Fatayat NU mengambil tema “Meneguhkan karakter keislaman dan keindonesiaan”.

PBNU: Pegang Teguh Keislaman dan Keindonesiaan! (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Pegang Teguh Keislaman dan Keindonesiaan! (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Pegang Teguh Keislaman dan Keindonesiaan!

Hal itu diungkapkan Slamet pada peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-63 Fatayat NU di gedung Langen Palikrama, Pegadaian, Jakarta Pusat, Rabu, (24/4).

Kata Slamet, keislaman dan keindonesiaan harus menjelma dalam pemikiran, pandangan, dan perrbuatan sehari-hari Fatayat NU, “Organisasi di bawah NU tak boleh mengabaikan kondisi bangsa, kondisi umat Islam,” katanya.

Mujahidin Cyber

Slamet juga mengatakan, bangsa ini tengah terjadi “pertarungan” antara pemikiran leberal dan fundamental. Kekuatan keduanya mempengaruhi persoalan-persoalan kebijakan negara dan perundang-undangan. Juga masuk ke dalam tradisi-tradisi dalam masyarakat, “NU, selalu berada di jalan tengah. Tidak liberal dan fundamental,” tegasnya.

Slamet berpesan, dalam konteks keindonesiaan, kader Fatayat NU harus waspada kepada pemikiran yang mengabaikan peran-peran umat Islam yang turut mendirikan bangsa ini. Juga organisasi yang ingin mengubah Pancasila sebagai dasar negara.

Mujahidin Cyber

Sekarang ada organisasi yang menganggap Indonesia hanya alamat, karena negara bangsa itu tidak. Demokrasi dianggap barang haram. Mereka berpandangan bahwa negara-negara Islam harus tergabung dalam kekhalifahan.

Tapi, sambung Slamet, bagi NU, Indonesia bukan sekadar alamat, “Indonesia adalah negara yang digayuh para ulama. Indonesia adalah prinsip-prinsip, termasuk di dalamnya Pancasila,” jelasnya.    

 

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Halaqoh, Syariah Mujahidin Cyber

Selasa, 06 Februari 2018

Cara Mbah Kiai Umar Solo Ajarkan Kritisisme

Pada tahun 1972, seorang pengusaha asal Surabaya bermaksud mengambil dua putra Mbah Ngismatun Sakdullah Solo–biasa dipanggil Mbah Ngis–untuk diambil menjadi anak asuh. Mbah Ngis dan Mbah Dullah sebagai orang tua setuju atas hal itu meski tempat pengasuhannya bukan di Surabaya, tetapi di Madiun. Beberapa saat sebelum kedua putra Mbah Ngis itu dibawa ke Madiun, Mbah Ngis dan Mbah Dullah memamitkan kepada Mbah Kiai Umar sekaligus memohon nasihat-nasihatnya. 

Hal pertama yang ditanyakan Mbah Kiai Umar (wafat 1980) kepada Mbah Ngis terkait pendidikan kedua putranya di Madiun adalah bagaimana dengan kegiatan mengaji Al-Qur’an.

Cara Mbah Kiai Umar Solo Ajarkan Kritisisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Mbah Kiai Umar Solo Ajarkan Kritisisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Mbah Kiai Umar Solo Ajarkan Kritisisme

“Lha mengko piye ngajine anak-anakmu neng kana (nanti bagaimana kegiatan anak-anakmu mengaji di sana)?” tanya Mbah Kiai Umar.

Ngendikanipun bade dipun padosaken guru ngaji, Pakde (katanya akan dicarikan guru ngaji, Pakde), jawab Mbah Ngis).”

Kowe ya percaya anak-anakmu bakale digolekke guru ngaji (kamu ya percaya anak-anakmu akan dicarikan guru ngaji)?” tanya Mbah Kiai Umar lebih lanjut.

Mujahidin Cyber

Mendengar pertanyaan Mbah Kiai Umar yang seperti meragukan kesungguhan pengusaha itu dalam memenuhi janjinya, Mbah Ngis tidak berani menjawab sepatah kata pun. Mbah Ngis tidak mungkin menjawab, “Kula husnudhan mawon, Pakde (saya husnudhan [berbaik sangka] saja, Pakde).” 

Tentu bisa dipahami mengapa Mbah Ngis (wafat 1994) memilih diam. Bukankah seandainya Mbah Ngis menjawab seperti di atas akan sama saja mengatakan atau menganggap Mbah Kiai Umar melakukan su’udhan (berburuk sangka) terhadap pengusaha tersebut?

Maka pertanyaannya adalah apakah Mbah Kiai Umar telah melakukan su’udhan? Ataukah sebenarnya ini bukan persoalan husnudhan atau su’udhan, tetapi sekadar masalah metode bagaimana mendapatkan sebuah kebenaran atau kepastian bahwa suatu kesanggupan akan dipenuhi dengan cara mengawalnya secara kritis sehingga pengusaha itu benar-benar mendatangkan guru ngaji.

Bagi Mbah Kiai Umar, mengaji Al-Qu’ran bukanlah persoalan sepele. Mbah Kiai Umar tentu menginginkan meskipun kedua putra Mbah Ngis itu diasuh orang lain dan tinggal jauh dari rumah sendiri, mereka harus tetap mengaji Al-Qur’an sebagaimana santri-santri di Mangkuyudan.

(Baca juga: Sekilas Riwayat Kiai Umar Al-Muayyad Solo)Setelah kedua putra itu tiggal di Madiun, guru ngaji Al-Qur’an sebagaimana dijanjikan pengusaha tersebut tidak pernah ada. Memang kedua putra itu sempat dibawa ke sebuah masjid untuk dicarikan guru ngaji, tetapi hasilnya nihil.

Mujahidin Cyber

Mbah Kiai Umar benar. Bisa jadi beliau memiliki mukasyafah karena kejernihan mata batinnya sehingga tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Mbah Kiai Umar tidak mengintervensi apa yang telah diputuskan Mbah Ngis, Mbah Dullah dan pengusaha itu. Beliau justru membiarkan Mbah Ngis dan Mbah Dullah berproses menapaki jalannya sendiri sebagai bagian dari pembelajaran mencari kebenaran. 

Empat bulan lamanya kedua putra Mbah Ngis itu tinggal di Madiun menyelesaikan satu kuartal pendidikan SD. Setelah itu ketika liburan panjang mereka diantar pulang ke Solo dan tidak pernah kembali lagi ke sana karena beberapa alasan. 

Sekembali mereka di Mangkuyudan, Mbah Kiai Umar memberikan perhatian yang besar kepada kedua putra Mbah Ngis itu daripada sebelumnya. Mereka diajari mengaji Al-Qur’an secara langsung oleh Mbah Kiai Umar sebagaimana santri-santri di pondok.

Sarung, Peci dan Masjid

Suatu hari Mbah Kiai Umar nimbali (memanggil) Mbah Ngis karena selama beberapa hari kedua putra Mbah Ngis tidak mengaji Al-Qur’an pada Mbah Kiai Umar sehabis Maghrib. Waktu jamaah shalat Maghrib pun, mereka juga tidak kelihatan di masjid. Kepada Mbah Ngis, Mbah Kiai Umar mengatakan:

Yen anak-anakmu pas wayah Maghrib metu soko ngomah kalungan sarung, nganggo kupluk, mlaku menyang mesjid, kuwi ojo kok anggep anak-anakmu bakale mesti munggah mesjid terus jamaah shalat. Coba tutna anak-anakmu kuwi pada menyang endi? (jika anak-anakmu di saat Maghrib keluar rumah berkalung sarung, memakai peci, berjalan menuju masjid, itu jangan kamu anggap anak-anakmu pasti naik ke masjid lalu shalat berjamaah. Coba dikuntit anak-anakmu kemana perginya).” 

Mbah Ngis paham dengan apa yang dimaksudkan Mbah Kiai Umar. Mbah Ngis tidak perlu menjawab dengan mengatakan, misalnya, “Kula husnudhan dateng lare-lare, Pakde  (saya husnudhan terhadap anak-anak, Pakde).”

Jawaban seperti itu pasti tidak diharapkan Mbah Kiai Umar karena yang dikehendaki beliau adalah Mbah Ngis bisa bersikap kritis dengan tidak percaya begitu saja terhadap apa yang ditangkap oleh indera mata karena penglihatan bisa terkecoh oleh anggapan-anggapan atau dugaan-dugaan yang ada dalam pikiran sebelum pembuktian. 

Dari ndalem Mbah Kiai Umar, Mbah Ngis pulang ke rumah dan melapor kepada Mbah Dullah sebagai suami. Disepakati Mbah Dullah (wafat 2005) akan menguntit kedua putranya itu dari belakang ketika mereka keluar rumah dengan berkalung sarung, mengenakan peci, dan berjalan menuju masjid menjelang adzan Maghrib. 

Benar, Mbah Dullah mendapati kedua putranya itu sampai di masjid, tetapi mereka tidak naik ke tempat itu untuk shalat Maghrib. Mbah Dullah melihat, dari samping selatan masjid kedua putranya itu mlipir-mlipir (berjalan secara hati-hati) ke arah barat hingga pintu keluar. Dari sana mereka belok ke selatan dan bergegas ke sebuah rumah di seberang jalan untuk menonton televisi yang sedang menyiarkan film “Rin Tin Tin”, sebuah film serial TV yang sangat disenangi anak-anak di zaman itu.

Melihat hal itu, Mbah Dullah menyadari bahwa selama ini telah keliru oleh anggapan-anggapan dalam pikiran ketika melihat sarung dan peci dikenakan kedua putranya itu di petang hari menjelang Maghrib dan berjalan menuju masjid. Sejak peristiwa ini, Mbah Ngis dan Mbah Dullah bersikap kritis dalam menghadapi hal-hal yang memang perlu pembuktian sebagaimana yang diharapkan Mbah Kiai Umar. 

Itulah metode keraguan (syak minhaji) yang diperkenalkan Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Munqidz minadl Dlalal (Pembebas dari Kesesatan) yang ditulisnya pada sekitar tahun 1097. Dengan metode itu Mbah Kiai Umar bermaksud memberikan pembelajaran kepada pasutri Mbah Dullah dan Mbah Ngis agar mereka memiliki sikap kritis dengan pendekatan keraguan metodis dalam mendidik putra-putranya demi keberhasilan mereka di kemudian hari. 

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Budaya, Lomba, Syariah Mujahidin Cyber

Minggu, 04 Februari 2018

Jihad Sekarang Perangi Kemiskinan

Jombang, Mujahidin Cyber. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahudin Wahid (Gus Solah) meminta para ulama untuk bergiat melawan kemiskinan. Hal itu sebagai implementasi dari peringatan 65 tahun resolusi jihad yang pernah digagas oleh ulama NU yang dipimpin (Alm) KH Hasyim Asyari.



Jihad Sekarang Perangi Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Sekarang Perangi Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Sekarang Perangi Kemiskinan

Gus Solah menceritakan, munculnya resolusi jihad yang digagas kakeknya tidak lepas dari kondisi bangsa yang kritis. Saat itu tentara sekutu kembali masuk ke Indonesia dengan membonceng tentara NICA. Ironisnya, pada saat bersamaan, kekuatan BKR (Badan Keamanan Rakyat, sekarang TNI) masih minim.

KH Hasyim Asyari bersama para ulama NU tergerak untuk mempertahankan NKRI. Selanjutnya mereka bermusyawarah dan lahirlah resolusi jihad yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Isi dari resolusi tersebut seluruh umat Islam yang sudah baligh wajib turun ke medan laga mengusir penjajah. Jika mereka meninggal dalam perang maka akan mati syahid.

Mujahidin Cyber

Resolusi jihad itu berimbas cukup besar. Hal itu bisa dilihat dari semangat arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November. Bahkan, lanjut Gus Solah, Bung Tomo salah satu tokoh dalam pertempuran 10 November juga terilhami fatwa resolusi dari para ulama itu.

Bagaimana dengan korelasi resolusi jihad dengan kondisi bangsa Indonesia kekinian? Adik kandung mantan presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini mengatakan, saat ini bangsa Indonesia juga dalam kondisi kritis. Hanya saja, kondisi itu bukan disebabkan oleh penjajahan secara fisik. Namun penjajahan itu lebih halus lagi, yakni penjajahan secara ekonomi.

Mujahidin Cyber

"Ekonomi liberal telah menghisap ekonomi lemah. Sehingga kemiskinan semakin merajalela," kata Gus Solah dalam sambutannya seperti dilansir beritajatim.com.

Nah, kondisi kritis tersebut sudah seharusnya memacu para ulama untuk mengobarkan jihad melawan kemiskinan. "Jadi ada korelasi 65 tahun resolusi jihad dengan kondisi saat ini. Kalau dulu kita jihad melawan penjajahan, kini kita jihad melawan kemiskinan," kata mantan wakil ketua Komnas HAM ini.

Hal senada juga dikatakan Lily Wahid, adik kandung Gus Dur lainnya. Moment yang paling tepat untuk mengilhami reolusi jihad saat ini adalah berjuang membangun kekuatan ekonomi rakyat yang selama ini terpinggirkan.

Acara yang digelar di halaman belakang pondok Tebuireng tersebut dihadiri oleh sejumlah ulama, semisal KH Masduqi Abdurrahman, KH Saiful Halim yang juga ketua PCNU kota Surabaya. Sedangkan budayawan KH Mustofa Bisri dari Rembang, Jawa Tengah, yang sebelumna dijadwalkan hadir, berhalangan. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Syariah, Nasional Mujahidin Cyber

Rabu, 17 Januari 2018

Ini Tahap Pendaftaran Mudik Gratis Bareng NU 2017

Jakarta, Mujahidin Cyber. Sejak tahun 2010, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lembaga Takmir Masjid (LTM) konsisten melayani warganya saat pulang kampung tiba melalui program mudik gratis. Tahun 2017 ini, panitia menyediakan total 2400 kursi atau sekitar 40 bus menuju ke sejumlah kota di Indonesia.

Wakil Ketua LTM PBNU Ali Shobirin menjelaskan, tahun ini pihaknya mengambil tema mudik berkah bareng NU. Menurutnya, konsistensi program ini menunjukkan bahwa NU hadir untuk warganya di tengah biaya mudik yang makin mahal dan kurang terjangkau.

Ini Tahap Pendaftaran Mudik Gratis Bareng NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tahap Pendaftaran Mudik Gratis Bareng NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tahap Pendaftaran Mudik Gratis Bareng NU 2017

“Kami akan senantiasa hadir mendukung warga NU yang ingin pulang kampung bersilaturrahim dengan keluarga dan saudara,” ujar Ali Shobirin, Selasa (30/5) saat dimintai keterangan di Kantor LTM.

Ia menerangkan, ada tiga tahap terkait mekanisme mudik gratis ini. Pertama, pengambilan formulir pendaftaran dilakukan pada Sabtu, 3 Juni 2017 pukul 09.00 WIB di Gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut:

Mujahidin Cyber

1. Peserta terlebih dahulu mengambil nomor antrian.

2. Menyerahkan fotokopi KTP dan kartu keluarga (KK).

3. Satu formulir berlaku untuk satu kursi/seat.

Mujahidin Cyber

4. Formulir diisi dengan mencantumkan: nama, nomor kontak, NIK KTP/KK, dan kota tujuan.

5. Calon peserta akan mendapatkan potongan resi formulir kepesrtaan untuk pengambilan tiket asli.

Kedua, penukaran/pengambilan tiket dilakukan pada Sabtu, 10 Juni 2017 mulai pukul 09.00-20.00 WIB bertempat di masjid An-Nahdlah Gedung PBNU Jakarta dengan ketentuan sebagai berikut:

1. Menyerahkan resi formulir calon peserta+kupon infaq dari LAZISNU sebesar 30.000 per kursi/seat untuk ditukar dengan tiket asli.

2. Dalam tiket tertera nama, nomor kontak, tujuan, dan nomor kursi/seat.

3. Apabila penukran tiket tidak dilakukan sampai pukul 20.00 WIB, maka haknya sebagai peserta mudik gugur, kecuali ada pemberitahuan kepada panitia.

4. Tiket mudik tidak bisa dipindahtangankan. Jika peserta mudik membatalkan keberangkatannya, maka tiket tersebut wajib dikembalikan kepada panitian.

Ketiga, keberangkatkan seluruh pemudik/bus dipusatkan di halaman gedung PBNU Jalan Kramat Raya Nomor 164 Jakarta Pusat dibarengi dengan acara seremonial pelepasan oleh Pengurus PBNU.

Selain ketiga tahapan di atas, Ali Shobirin juga menerangkan tahap cadangan. Dalam tahapan ini, peserta yang tidak mendapat formulir pada Sabtu, 3 Juni 2017, maka boleh mendaftarkan diri sebagai calon Peserta Cadangan.

“Kepastian ketersediaan kursi untuk calon peserta cadangan akan diberitahukan pada Selasa, 13 Juni 2017 melalui WA atau SMS,” tandas Ali Shobirin. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Syariah, Aswaja, Jadwal Kajian Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock