Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka

Banyuwangi, Mujahidin Cyber. Halal bihalal PCNU Banyuwangi yang diselenggarakan berdekatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Republik Indonesia digunakan oleh warga NU Banyuwangi sebagai ajang siliturahmi sekaligus menegaskan Komitmen NU dalam mengawal NKRI.

Kegiatan tersebut bertempat di Pondok Pesantren Darul Falah, Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam kesempatan ini KH Masykur Ali, Ketua PCNU Banyuwangi kembali mengingatkan warga Nahdliyin Banyuwangi akan perjuangan Ulama NU dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Banyuwangi Tegaskan Komitmen Organisasi dalam 72 Tahun Indonesia Merdeka

“Sebelum NU lahir, sebelum Indonesia merdeka, ulama pesantren sudah melakukan lompatan yang sangat cerdas. Mulai zaman penjajahan hingga kemerdekaan. Kiai NU yang dianggap kolot, melakukan trobosan brilian dengan mendirikan Tashwirul Afkar sebagai solusi akan kebuntuan pendidikan, ? untuk memperkuat ekonomi masyarakat, Ulama NU juga mendirikan Nahdlatut Tujjar sebagai benteng ekonmi masyarakat melawan monopoli VOC,” tegas Kiai Masykur.

Dalam sambutanya, dia juga menjelaskan mengenai peranan NU secara organisatoris dalam upaya perumusan Dasar Negara. Pada Tahun 1936 sebelum Indonesia merdeka NU telah berdiri. Dalam Mukatmar Banjarmasin telah merumuskan bentuk Negara Darussalam (Negara Damai) bukan Negara Islam.

Bukan hanya itu, Kiai Masykur juga menjelaskan soal peranan strategis NU dalam perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan. Merespon kedatangan sekutu yang hendak kembali merebut kemerdekaan, Ulama NU mengeluarkan resolusi jihad Nahdlatul Ulama 22 oktober 1945 yang menjadi embrio pertemupuran dahsyat 10 November 1945 di surabaya.

Mujahidin Cyber

Di akhir sambutanya Kiai Masykur juga menyinggung isu Nasional terkait pembubaran HTI. Di era saat ini, ketika Indonesia didera isu Radikalisme yang berujung pada perongrongan ideologi Pancasila, NU berada di garda depan dalam mempertahankan pancasila sebagai kesepakatan pendiri bangsa.

Mujahidin Cyber

“Jika NU mendukung pembuaran HTI bukan karena NU dekat pemerintah. Tapi ini merupakan Komitmen Kebangsaan yang telah disepakati oleh para Ulama pendiri Bangsa. Kebacuut jika pengurus NU malah ikut HTI,” tegas Kyai Masykur dengan suara lantang. (Anang Lukman Afandi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Pahlawan Mujahidin Cyber

Kamis, 15 Februari 2018

Khadafy Minta Negara Arab Tak Campuri Konflik Palestina

Rabat, Mujahidin Cyber. Pemimpin Libya Muammar Khadhafy, meminta negara lain Arab untuk tidak turut campur dalam perebutan kekuasaan antara HAMAS dan Fatah. Campur tangan negara-negara Arab dikhawatirkan akan diboncengi kepentingan Israel.

"Masalah Palestina harus diserahkan kepada rakyat Palestina untuk menyelesaikannya. Negara Arab harus menjauhkan diri dari masalah tersebut. Apa yang telah dilakukan negara Arab untuk rakyat Palestina? Mereka hanya mengeksploitasi masalah itu demi kepentingan mereka sendiri," kata Khadhafy seperti dikutip Al-Jazeera, Jumat (16/6).

Ketika ditanya mengenai tindakan HAMAS menggusur faksi Fatah, pimpinan Presiden Mahmoud Abbas, di Jalur Gaza, Khadhafy mengatakan, "Pertempuran antar-faksi yang bertikai biasa terjadi dalam kondisi semacam itu. Pergolakan ini dilatarbelakangi oleh ideologi."

Khadafy Minta Negara Arab Tak Campuri Konflik Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Khadafy Minta Negara Arab Tak Campuri Konflik Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Khadafy Minta Negara Arab Tak Campuri Konflik Palestina

Khadhafy tidak merasa khawatir pertempuran tersebut bakal mengakibatkan ada dua wilayah yang terpisah; Jalur Gaza dikuasai HAMAS dan Tepi Barat Sungai Jordan di bawah kekuasaan Fatah; dan terhapusnya harapan bagi negara Palestina pada masa depan.

"Pemimpin HAMAS Khaled Meshaal menelefon saya hari ini untuk memberitahu saya bahwa HAMAS tak memiliki rencana semacam itu di Jalur Gaza. Ia mengatakan satu negara di Jalur Gaza akan merupakan pengkhianatan dan tindakan gila," katanya.

Mujahidin Cyber

Khadhafy menyeru rakyat Palestina untuk memperbarui Organisasi Pembebasan Palestina guna menghidupkan kembali persatuan mereka.

Khadhafy juga menolak berbagai upaya oleh pemerintah Arab, termasuk satu gagasan tanah-bagi-perdamaian yang diluncurkan kembali pada konferensi tingkat tinggi Liga Arab tahun ini, guna mengakhiri konflik Palestina-Israel.

"Negara Arab tak memiliki hak untuk mencampuri urusan Palestina. Siapa yang telah mengatakan bahwa dunia Arab akan menerima Israel? Setiap negara Arab harus berbicara bagi dirinya sendiri," katanya.

Khadhafy menyampaikan kembali rencana perdamaiannya sendiri bagi konflik tersebut. "Satu-satunya penyelesaian ialah berdirinya satu negara demokratis, tempat rakyat Israel dan Palestina akan hidup bersama."

Mujahidin Cyber

Di ibukota Malaysia, Kuala Lumpur, Sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam (OKI), blok Muslim terbesar di dunia, Ekmeleddin Ihsanoglu, Jumat, menyampaikan keprihatinan sehubungan dengan kerusuhan politik di Jalur Gaza, tempat Fatah dan HAMAS terlibat pertikaian sengit untuk memperebutkan kekuasaan, dan mendesak kedua pihak tersebut agar menahan diri.

Ia mengatakan ia telah mengadakan kontak dengan para pemimpin HAMAS, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Ismail Haniya, dan Fatah yang mendukung Presiden Mahmoud Abbas.(ant/era/nur)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, IMNU, Hadits Mujahidin Cyber

Kamis, 08 Februari 2018

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat

Waykanan, Mujahidin Cyber. Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Waykanan menyatakan syukur atas pelaksanaan pilkada di daerah setempat yang berlangsung damai dan tertib. Suasana damai pemilihan ini menandai peningkatan pemahaman masyarakat setempat dalam perbedaan pilihan politik.

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat

"Pesta demokrasi 9 Desember 2015 telah usai. Patut disyukuri perhelatan di Waykanan berlangsung dan berakhir damai. Suatu penanda proses dan pemahaman demokrasi berlangsung baik di masyarakat," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (10/12).

Pilkada Waykanan diikuti pasangan nomor urut 1 Bustami Zainudin dan Adinata (Adin Bustami) diusung PDI Perjuangan, Gerindra, PKB, dan Nasdem. Serta pasangan nomor urut 2 Raden Adipati Surya dan Edward Anthony (Berani) diusung Demokrat, PAN, Hanura dan PKS.

Mujahidin Cyber

Berdasarkan data KPU setempat sebanyak 337.827 pemilih terdiri atas pemilih lelaki berjumlah 172.810. sedangkan pemilih perempuan berjumlah sebanyak 165.017 orang sebagai pemilik suara yang bisa menggunakan suaranya di 780 TPS yang ada.

Berdasarkan hitung cepat Rakata Institute dari data masuk 95,10 persen dengan tingkat partisipasi 67,72 persen, Bustami-Adinata mendulang suara 39,73 persen. Lalu Berani meraup 60,27 persen.

Mujahidin Cyber

"Jabatan adalah amanah. Siapapun yang terpilih, tugas kami sebagai pemuda adalah berpartisipasi dalam pembangunan, bukan sebaliknya. Ini kami buktikan pada 2015, GP Ansor Waykanan dibantu sejumlah pihak seperti Tim Penggerak PKK, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu menggelar Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau Sanlat BPUN," kata Gatot lagi.

Gatot mengucapkan selamat kepada anggota Dewan Pembina Gerakan Pemuda Ansor Waykanan H Raden Adipati Surya dan Ketua PD Muhammadiyah Waykanan Dr H Edward Anthoni atas perolehan suara terbanyak pada Pilkada 9 Desember 2015. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh, Tegal Mujahidin Cyber

Jumat, 26 Januari 2018

Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban

Jakarta, Mujahidin Cyber. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj yang akrab disapa Kang Said menyatakan, agama Islam tidak hanya menyangkut pada ? persoalan aqidah. Aqidah hanya bagian kecil dari ajaran Islam. Karena, masih banyak persoalan lain yang harus dikaji lagi guna membangun peradaban Islam di dunia ini.

Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)
Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban (Sumber Gambar : Nu Online)

Lebih dari Sekadar Aqidah, Islam itu Agama Peradaban

"Islam itu bukan hanya kafir-kafiran begitu, mukmin-kafir. Bukan hanya itu. Islam bukan hanya bicara aqidah saja, bukan hanya memvonis mukmin-kafir," terang Kang Said dalam sambutan penutupan kursus singkat Tasawuf sebagai Etika Sosial di Pesantren Ats-tsaqafah, Jakarta, Jumat (20/12).

Islam itu, lanjut Kang Said, adalah agama ilmu dan peradaban. Islam agama kebudayaan dan kemajuan. "Islam itu agama ilmu, agama intelektual, agama kemajuan, agama peradaban," tegasnya.

Mujahidin Cyber

Lebih lanjut Kang Said menceritakan, orang pertama kali yang menegaskan Islam bukan hanya aqidah adalah Imam Hasan Bashri. Saat itu Imam Hasan Bashri dihadapkan pada fenomena saling mengafirkan di antara sesama muslim. Ia kemudian menyadari, Islam tidak akan maju jika hanya saling mengafirkan.

Mujahidin Cyber

Imam Hasan Al-Bashri yang lahir tahun 21 dan wafat 110 H, tokoh sentral tabiin, itu menyelamatkan umat Islam. Ia sudah melupakan aktivitas saling mengafirkan. Ia lalu mengajak umat Islam untuk membangun ilmu pengetahuan, peradaban, dan kemajuan Islam, ujar Kang Said meniru seruan Imam Hasan Bashri kepada umat Islam di zamannya.

Setelah kampanye Imam Hasan Bashri bahwa Islam itu bukan hanya aqidah, mulai bermunculan ulama-ulama yang menggagas dan berkreasi membangun ilmu pengetahuan.

"Dari situ muncul ilmu hadits, ilmu tafsir, ilmu nahwu, shorof, balaghah setelah Imam Hasan Basri berteriak keras; apa-apaan ini? Kok umat islam bisanya hanya mengafirkan," tegas Kang Said.

Untuk itu, perbedaan yang ada tidak perlu dibesar-besarkan. Alangkah baiknya yang dikedepankan umat Islam adalah persamaannya. Karena, kejayaan Islam tidak akan hadir kembali jika umatnya sibuk membesarkan perbedaan, saling membidahkan atau mengafirkan sesama muslim. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Nahdlatul Ulama Mujahidin Cyber

Selasa, 23 Januari 2018

70 Santri Siap Ikuti Sanlat BPUN

Jepara, Mujahidin Cyber. Tujuh puluhan santri dari Jepara dan Kudus siap mengikuti Pesantren Kilat (Sanlat) Bimbingan Pasca UN (BPUN) tahun 2013 Komunitas Mata Air Cabang Jepara di Pesantren Walisongo Pecangaan Jepara, selama sebulan (17/5-18/6) mendatang. Tujuh puluh santri itu dibagi 2 kelas IPA dan IPS. 

Mereka diantaranya dari MA/ SMA/ SMK Walisongo Pecangaan, MA Darul Hikmah, MA Mathaliul Huda Bugel, MA Mathalibul Ulum Lebak, MA Mafatihul Akhlak Demangan, SMAN 1 Jepara, SMAN 1 Mayong, SMAN 1 Mlonggo dan SMKN 3 Jepara. Dari Kudus semisal SMAN 1 Gebog dan MA NU TBS Kudus. 

70 Santri Siap Ikuti Sanlat BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)
70 Santri Siap Ikuti Sanlat BPUN (Sumber Gambar : Nu Online)

70 Santri Siap Ikuti Sanlat BPUN

Selama sebulan santri diberi materi Matematika dasar, Bahasa Indonesia dan Inggris sebagai materi dasar. Untuk kelas IPA meliputi Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi sedangkan kelas IPS mencakup Ekonomi, Sosiologi, Geografi dan Sejarah. 

Mujahidin Cyber

“Materi lain yang tidak kalah pentingnya Psikologi, Kewirausahaan, Kepemimpinan, Ke-Aswaja-an, Ke-NU-an dan Try out sepekan sekali,” kata M Jazilun Niam, pendamping Mata Air Jepara, saat technical meeting Ahad (12/5) pagi. 

Mujahidin Cyber

Sementara itu, koordinator Mata Air Jepara, Adib Khoiruzzaman menyatakan dirinya mendorong santri agar bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang diidamkan. Triknya menurut Gus Adib, sapaan akrabnya harus bersungguh-sungguh mengikuti BPUN.  Apalagi santri alumni Mata Air Jepara, terangnya ada yang diterima di Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta maupun PTN yang lain. 

Masih menurutnya selain belajar sungguh-sungguh juga akidah Aswajanya tetap dipertahankan jangan sampai direnggut oleh ideologi lain. “Karena itu, selama nyantri maupun kuliah kami akan tetap mengawal ideologi NU mereka,” tandasnya. 

Guru SMK Walisongo Pecangaan itu menandaskan di PT banyak aliran-aliran yang perlu diwaspadai. Jika tidak diwaspadai mahasiswa NU mudah katut, (ikut, red) aliran tersebut. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Anti Hoax, Santri Mujahidin Cyber

Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat

Tangerang Selatan, Mujahidin Cyber

Para mahasiswa di kampus Politeknik Keuangan Negara STAN yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Nahdliyin (Iman) memilih ketua baru dalam Muktamar Ke-24 yang di Masjid Al-Barkah, Tangerang Selatan, Banten.

Metode pemilihan kali ini lebih mengedepankan musyawarah dibandingkan pemungutan suara atau voting. Sidang pemilihan ketua dipimpin ketua demisioner, M Roid Nashiruddin. Ia menjelaskan, beberapa hari sebelum acara Muktamar, pihaknya sudah meminta kepada masing-masing angkatan untuk mengusulkan nama-nama bakal calon ketua.

Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Baru Mahasiswa Nahdliyin STAN Terpilih lewat Mufakat

Dari ketiga angkatan ternyata mengerucut pada dua nama untuk calon ketua Iman dan Imanisa (sebutan untuk ikatan mahasiswa Nahdliyin putri). Namun, pada waktu penyampaian visi-misi, calon ketua Iman yang satu mengundurkan diri dan muktamirin menyepakati untuk mengangkat calon tunggal, yaitu Achmad Fahmi Abdullah, ketua Iman periode 2016-2017.

Mujahidin Cyber

Sementara dari sisi Imanisa, setelah mendengar penyampaian visi-misi kedua calon dan dilakukan musyawarah internal anggota Imanisa, akhirnya terpilihlah Mei Nur Hakiki sebagai ketua baru Imanisa.

Sebelumnya, suksesi kepemimpinan didahului dengan penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Kinerja oleh kepengurusan Iman tahun 2015-2016. Dimulai dengan penyampaian dari Badan Pengurus Harian yang dikomandoi M Roid Nashiruddin, sidang LPJ berlangsung cukup hangat hingga pukul 23.00 WIB.

Mujahidin Cyber

Sidang LPJ semakin memuncak saat tiba giliran pengurus bidang Dana Usaha (Danus) Iman menyampaikan pertanggungjawabannya. Wildan Basri selaku kepala bidang (kabid) menyampaikan bahwa Danus menjadi salah satu bidang yang cukup penting dalam menopang kebutuhan finansial Iman. Pada tahun ini, bidang Danus sudah mencetak buku USM yang menjadi produk unggulannya sebanyak 5000 eksemplar.

Di sela-sela penyampaian LPJ, mahasiswa asal Pemalang ini masih sempat mempromosikan buku dan produk danus lainnya. Sontak kejadian itu mampu memecahkan tawa di antara para muktamirin. Sidang ditutup dengan penyampaian LPJ dari Ketua Imanisa.

Acara yang berlangsung Sabtu (30/1) malam itu dihadiri pengurus jamaah aktif, beberapa alumni Iman. Muktamar diawali dengan penampilan tim hadrah Badruttamam yang melantunkan lagu Yaa Hanaana dan Abatiy.

“Mereka yang mau mengurusi Iman, insyaa Allah akan menuai berkahnya,” ujar Ustad Faris dalam sambutannya mewakili dewan alumni Iman. Setelah resmi dilakukan prosesi serah terima jabatan, Muktamar Ke-24 Iman ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh salah satu alumni.

Selamat kepada ketua Iman dan Imanisa yang baru terpilih. Semoga amanah dan mendapat barokah! (Fauziyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Kajian Sunnah, Humor Islam Mujahidin Cyber

Rabu, 03 Januari 2018

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu

Oleh Gatot Arifianto

?

Para pendiri bangsa telah mewariskan benih empat pilar kebangsaan terdiri dari Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan telah disemai puluhan tahun lalu. Persoalan hari ini, adalah bagaimana generasi bangsa Indonesia merawatnya sejalan dengan kehendak pendiri bangsa.

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu (Sumber Gambar : Nu Online)
Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu (Sumber Gambar : Nu Online)

Merawat Kebhinekaan dengan Rp100 Ribu

?

Generasi bangsa yang diharapkan memegang sila (aturan) dalam Pancasila hingga 2016 ini terbukti masih gagal, belum gemilang. Harapan untuk saling mencintai sesama manusia, tidak semena-mena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan hingga gemar melakukan kegiatan kemanusiaan yang terkandung dalam "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab" masih jauh panggang dari api dengan kemudahan menghujat di media sosial hingga susahnya Palang Merah Indonesia (PMI) memenuhi kebutuhan darah di negeri sendiri.

?

Mujahidin Cyber

Persoalan lain di Indonesia hari ini adalah adanya kelompok yang ngotot, memaksakan kehendak, agar sesuatu yang beragam menjadi seragam. Padahal, Allah yang menurunkan 114 kalam, satu diantaranya Surat al-Baqarah yang dalam ayat 256 menyatakan: "Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan".

?

Allah juga telah menciptakan bangsa hingga manusia yang beragam. Termasuk Indonesia, yang memiliki keragaman budaya, suku hingga keyakinan.

?

Mujahidin Cyber

"Pancasila ialah perekat kebangsaan. Bagaimana, tenggang rasa hingga saling menghormati terkandung di dalamnya. Saya pikir kita beruntung mempunyai Pancasila," ujar Dewan Penasehat GP Ansor Way Kanan, Iskardo P Panggar.

?

Iskardo ialah dosen kewarganegaraan di salah satu perguruan tinggi di Way Kanan. Awal kali pertama memasuki satu ruang mengajar di kampus itu, ia memberi tugas mahasiwa untuk menulis Pancasila yang menurut KH A Wachid Hasyim merupakan kristalisasi ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

?

"Tapi tidak seratus persen mahasiswa bisa menyelesaikan tugas itu. Fakta tersebut tentu merupakan pekerjaan rumah bersama di zaman sekarang ketika informasi yang sebagian besar negatif, mudah sampai dan dikonsumsi generasi dan masyarakat bangsa," ujar Iskardo yang juga Ketua KPU Way Kanan itu.

?

Lantas bagaimana upaya merawat kebhinekaan? Mahalkah biayanya? Perlukah rapat dengar pendapat di ruang paripurna terlebih dahulu agar harakah (gerakan) merawat kebhinekaan berjalan kontinu?

?

Krisis berpikir jernih adalah hambatan tercapainya revolusi mental diharapkan Pemerintah Republik Indonesia. Akibatnya, hal yang semestinya gampang dibuat jadi rempong. Gitu Aja Kok Repot, dalam bahasa Gus Dur Allahu yarham.

?

Mungkinkah Tax amnesty (pengampunan pajak) hingga upaya lain akan membuat negara ini terbebas dari belenggu defisit? Jawaban tegas dan masuk akalnya "tidak", selama orientasi harakah adalah anggaran, bukan tujuan.

?

Merawat Kebhinekaan

?

"Indonesia merah darahku, putih tulangku, bersatu dalam semangatmu. Indonesia debar jantungku, denyut nadiku, berpadu dalam cita-citaku". Senandung itu meluncur dari mulut dua puluh pelajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma, Baradatu, Way Kanan, Lampung sembari melambaikan bendera merah putih dari tangan mereka.

?

Lagu berjudul Kebyar-Kebyar karya Gombloh itu membuka Jagongan Ramik Ragom (ramai beragam) untuk memperingati Hari Toleransi Sedunia 16 November. Jagongan (duduk bersama) tersebut mendiskusi Media Sosial Media Perdamaian, Rabu (16/11). Kenapa hari tersebut perlu diperingati dan toleransi harus dirawat? Pepatah bijak mengajarkan, mencegah lebih baik daripada mengobati, sayangnya hal tersebut belum dilakukan dengan baik.

?

Perbincangan mengenai kebhinekaan hanya disemai lagi ketika ada atau terjadi gesekan. Dan itu terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. Maka tak heran ketika penyair dan budayawan Iman Budhi Santosa menyatakan: "Kita ini seperti rokok dalam etalase. Dekat, sejajar tapi tidak pernah bertegur sapa". Padahal, merawat kebhinekaan adalah tanggung jawab bersama generasi dan masyarakat bangsa. Terlebih institusi yang berwenang.

?

"Penting memang untuk melakukan diskusi lintas iman tanpa menunggu ada sesuatu yang tidak diinginkan," ujar pengajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma, Rosalia Gia Purwani menjelang berlangsungnya acara.

?

Jagongan Ramik Ragom merupakan kegiatan Sakai Sambayan (gotong royong/kerjasama) Gusdurian Lampung, Pesantren Assidiqqiyah 11, DPD KNPI, KAHMI, Pemuda Muhammadiyah, Peradah, Pemuda Katolik, Pokjawan, SMAN 1 Baradatu, SMK Kesehatan Cahaya Darma, Yayasan Bakti, Karang Taruna, dan PAC GP Ansor Baradatu.

?

Selain Iskardo, sejumlah pemantik diskusi dalam kegiatan tersebut ialah Ketua DPD KNPI Andi Oktoviandi, Ketua Karang Taruna Sairul Sidik, Ketua Bidang Hukum Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Agus Zulkarnain.

?

Lalu aktivis Pemuda Muhammadiyah Nasrullah, Ketua Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) I Gede Klipz Darmaja, aktivis Pemuda Katholik dan anggota Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Andreas Natalis Sapta Aji.

?

Kegiatan juga diramaikan Nasyid Acapela dari SMAN 1 Baradatu dan pembacaan puisi Sajak Atas Nama karya Gus Mus oleh M Subhan santri Assidiqqiyah 11 tersebut diramaikan dengan foto mempromosikan perdamaian, kemanusiaan dan kebangsaan yang berisi kutipan-kutipan inspiratif yang bukan akidah agama dari sejumlah tokoh, yang bebas dipilih ketika hendak berpose.

?

Sejumlah pelajar SMK Kesehatan Cahaya Dharma yang mengenakan jilbab terlihat berpose dengan properti bertuliskan #BedaSetara #DamaiRamaiRamai #RamaiRamaiDamai yang memuat kutipan Bunda Teresa: "Buah dari perenungan adalah doa. Buah dari doa adalah iman. Buah dari iman adalah cinta. Buah dari cinta adalah pelayanan. Buah dari pelayanan adalah kedamaian."

Aktivis Pemuda Muhammadiyah Way Kanan Nasrullah terlihat berpose dengan properti memuat kutipan inspiratif Gus Dur: "Kemajemukan harus bisa diterima tanpa ada perbedaan."

Adapun aktivis Pemuda Khatolik Way Kanan Andreas Natalis Sapta Aji justru memilih berpose dengan properti yang memuat kutipan Sayyidina Ali: "Mereka yang bukan saudaramu seiman, saudaramu dalam kemanusiaan."

Aji yang juga anggota Kelompok Kerja Wartawan (Pokjawan) Way Kanan itu juga berpose dengan properti yang memuat kalimat inspiratif dari KH Hasyim Asyari: "Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak bersebrangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama, dan keduanya saling menguatkan".

?

Lantas anggota Ikatan Pemuda Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan Dwi Handoko, memilih berpose dengan properti yang memuat kalimat inspiratif dari KH Ahmad Dahlan: "Kasih sayang dan toleransi ialah identitas umat Islam." Termasuk dengan properti memuat kalimat inspiratif dari Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY): "Dalam mengekspresikan kebebasan, sandingkanlah dengan kepatuhan pada aturan hukum dan toleransi."

?

"Bener ini," ujar Rosalia ketika membaca kutipan inspiratif Dalai Lama XIX: "Dalam praktik toleransi, musuh seseorang merupakan guru terbaik". Rosalia selanjutnya memperbincangkan mengenai toleransi dengan sejumlah guru di beberapa sekolah itu.

?

Properti murah dari kertas dan kardus bekas yang dirangkai Ketua Alumni Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Way Kanan 2015 Disisi Saidi Fatah tersebut memantik diskusi kecil mengenai toleransi para pembaca sebelum acara berlangsung.

?

"Komunikasi yang baik ialah tatap muka, tapi seiring kemajuan zaman, hal itu berkurang, tinggal bagaimana kita menyikapi penggunaan media sosial. Jadikan sarana itu untuk menyebarkan hal positif, membuat kebaikan dan jangan dijadikan sebagai media perpecahan," ujar Andi Oktoviandi dalam diksusi tersebut.

?

Indonesia ada karena perbedaan, ujar Sairul Sidik menambahkan. Perbedaanlah yang memperkuat toleransi. Namun demikian, keyakinan tidak boleh dirambah.

?

"Tidak boleh saya menafsirkan keyakinan Bung Klipz atau Bung Aji. Dalam konteks keyakinan, agamamu agamamu, agamaku agamaku, lu lu gue gue," katanya.

?

Media sosial harus digunakan dengan bijak. "Sebagai intelektual, kita harus membaca dulu sampai habis informasi yang didapat. Jangan langsung dibagikan dan disebarkan. Mudah-mudahan kita semua memiliki semangat membaca yang luar biasa sehingga kita tahu bahwa itu harus disebarkan atau harus disembunyikan atau malah harus segera di hapus," ujar Klipz memotivasi pelajar.

?

Pada kegiatan yang dihadiri Camat Baradatu Ari Anthony Thamrin, kader PMII, IPNU, Muslimat, Fatayat, Karang Taruna, GP Ansor, sejumlah pelajar dan pengajar dari beberapa sekolah setempat dengan moderator Ketua PC Fatayat NU Rosmalia Resma itu, Iskardo selanjutnya mengajak pelajar yang hadir untuk menjadi generasi yang dahsyat.

?

"Bukan generasi alay yang pintar update status OTW, lagi bête. Indonesia membutuhkan generasi dahsyat. Jadikan media sosial sebagai ruang berekspresi positif, untuk merawat kebhinekaan dan Indonesia," ujar Iskardo.

?

Gusdurian Lampung sebagai kolaborator dalam kegiatan dimulai pukul 13.15 WIB tersebut mengeluarkan dana Rp100 ribu untuk membeli dua dus air mineral dan roti. 16.15 WIB, dan acara diakhiri dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Murah, meriah dan memantik sejumlah pelajar untuk melakukan kegiatan serupa beberapa bulan mendatang. Jadi, mahalkah untuk merawat kebhinekaan?

?



Penulis founder Halal (Hijamah Sambil Beramal). Bergiat di Gerakan Pemuda Ansor, Gusdurian, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Jaringan Islam Anti Diskriminasi dan program filantropi edukasi Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN).

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock