Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Mujahidin Cyber

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.

Mujahidin Cyber

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah Mujahidin Cyber

IPPNU Jateng Perjuangkan Peremajaan Usia Anggota

Kudus, Mujahidin Cyber. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Tengah menyatakan akan memperjuangkan gagasan peremajaan usia anggota  menjadi 27 tahun. Selain itu, penegasan target group IPPNU menjadi gagasan utama yang diusung dalam  kongres XV IPPNU di Palembang.

IPPNU Jateng  Perjuangkan Peremajaan Usia Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Jateng Perjuangkan Peremajaan Usia Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Jateng Perjuangkan Peremajaan Usia Anggota

Demikian yang disampaikan ketua PW IPPNU Jateng Nimatul Azizah saat dihubungi Mujahidin Cyber melalui Handpond  terkait kesiapannya mengikuti kongres XV IPPNU di Palembang kemarin.

Ia mengatakan gagasan Jawa tengah ini sebagai upaya untuk mewujudkan amanah kongres IPPNU sebelumnya di Surabaya yang salah satu keputusannya kembali ke khittoh pada peremajaan usia anggota tersebut.

Mujahidin Cyber

"Dalam  Rapimwil bersama Pimpinan Cabang se Jateng beberapa waktu lalu, kita sepakat peremajaan usia  akan diperjuangkan melalui usulan perubahan PD/PRT,"ujar Een sapaan akrabnya.

Een menambahkan IPPNU di lembaga pendidikan seperti sekolah maupun pesantren masih minim sehingga keberadaannya belum mampu menampakkan dirinya sebagai organisasi pelajar. 

Mujahidin Cyber

"Oleh karenanya ke depan, IPPNU harus menunjukkan eksistensinya itu sekaligus mengawal kaderisasi putri NU di kalangan pelajar sekolah negeri maupun swasta dan santri pesantren," tandas Een yang juga salah satu kandidat ketua umum PP IPPNU ini.

Sementara itu  Ketua PC IPPNU Kudus Risda Umami berharap gagasan peremajaan usia ini  bisa tercapai karena sudah menjadi tuntutan yang harus diwujudkan dalam rangka proses kaderisasi. 

"Kongres juga harus melahirkan sosok ketua  yang bisa membawa perubahan positif bagi IPPNU.Termasuk mampu mengemban amanah dan melaksanakan program sesuai kebutuhan kader bukan kebutuhan pengurus,"tandas Risda kepada Mujahidin Cyber.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah Mujahidin Cyber

Senin, 12 Februari 2018

Mahasiswa STAINU Jakarta Gelar Sidang Itsbat Nikah Massal

Bogor, Mujahidin Cyber. Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta bekerja sama dengan Pengadilan Agama Kabupaten Bogor, Jawa Barat menggelar sidang itsbat nikah massal di Kampung Pulo Desa Cibeuteung Udik, Kecamatan Ciseeng Bogor, Jumat (2/9). Sidang itsbat nikah ini diperuntukkan bagi pasangan suami-istri yang telah menikah secara Islam namun belum mempunyai buku nikah.

Peserta sidang itsbat nikah berjumlah 15 pasangan yang rata-rata berusia di atas 40 tahun. Mereka sudah menikah dan tinggal bersama sejak lama serta sudah dikaruniai anak namun belum memperoleh legalitas dari negara.

Mahasiswa STAINU Jakarta Gelar Sidang Itsbat Nikah Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Jakarta Gelar Sidang Itsbat Nikah Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Jakarta Gelar Sidang Itsbat Nikah Massal

Ketua Program Studi Ahwal Syakhsiyah Irfan Hasanuddin mengatakan, kegiatan sidang itsbat nikah itu merupakan bagian dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAINU Jakarta, menjadi bagian dari tugas akademik pengabdian masyarakat.

"Sebenarnya para pasangan yang mengikuti sidang itsbat sudah sah menurut syariat hanya saja menurut hukum negara belum sah. Kami sudah melakukan sosialisasi itsbat nikah sejak 2013. Kalau masyarakat sudah mempunyai akte nikah atau mendapatkan pengakuan nikah dari negara maka negara akan mudah melakukan pelayanan," katanya.

Mujahidin Cyber

Taufik Hidayat, pejabat Desa Cibeteung Udik mengungkapkan, dari sekitar 3000 kepala keluarga (KK) di desa setempat, sekitar 1500 KK belum mempunyai buku nikah. Akibatnya banyak sekali pasangan yang kesulitan mendapatkan pelayanan administratif dari desa mulai dari kartu keluarga, kartu tanda penduduk sampai akses kesehatan. Mereka juga terkendala dalam melakukan aktifitas ekonomi dan perbankan.

Nawawi (40) salah seorang peserta isbat nikah mengatakan, ia tidak menguruskan pernikahannya ke Kantor Urusan Agama (KUA) karena alasan ekonomi. Nawawi yang mengikuti sidang bersama istrinya dan dua orang saksi mengeluhkan biaya nikah yang besar waktu itu, yakni pada saat ia melangsungkan akad nikah.

Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Bogor yang memimpin sidang itsbat nikah di Desa Cibeuteung Udik memastikan, proses sidang itsbat nikah sangat mudah dan bisa dilakukan dalam sekali sidang. Proses sidang juga bisa dilakukan secara kolektif yang difasilitasi oleh pihak tertentu seperti STAINU.

Mujahidin Cyber

Ditambahkan, untuk masyarakat miskin, proses sidang bisa bebas biaya sama sekali. Selanjutnya pasangan yang telah diitsbatkan akan memperoleh surat itsbat yang akan digunakan oleh pihak KUA dalam memproses buku nikah. (Deni Hariman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, AlaNu Mujahidin Cyber

Minggu, 11 Februari 2018

Hasyim: Kiai Memang Tak Harus Dipanggil Pak Kiai

Jakarta, Mujahidin Cyber. Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengikuti shalat jenazah KH Muhammad Najid Muchtar, Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama tadi siang, Sabtu (14/4), di Masjid Syahid UIN Jakarta. Jajaran Bengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beserta dosen dan para petinggi UIN turut menyalatkan jenasah mantan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN itu.

Salah seorang pembantu rektor UIN Sudarmanto saat memberikan sambutan atas nama UIN Jakarta mengatakan, Najid Muchtar adalah seorang guru sekaligus dai yang bersahaja. "Kesahajaan beliau telah mewariskan amal untuk Islam dan bangsa ini," katanya sembari merinci kiprah almarhum di bidang pendidikan Islam khususnya di lingkup UIN Jakarta.

Hasyim: Kiai Memang Tak Harus Dipanggil Pak Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Kiai Memang Tak Harus Dipanggil Pak Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Kiai Memang Tak Harus Dipanggil Pak Kiai

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menambahkan, Najid Muchtar adalah seorang yang ihlas dalam mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Almarhum tidak pernah mengejar kemasyhuran dan lebih suka menghindari perdebatan masalah-masalah keagamaan yang tidak penting. Dikatakan, almarhum adalah sosok yang tidak pernah mengeluh, sederhana dan apa adanya, serta tidak pernah memperturutkan keinginan.

"Satu persatu ulama telah dipanggil, dunia terasa berat. Beliau ini memang tidak pernah dipanggil "pak kiai" tapi itu tidak penting. Kiai kan tidak harus dipanggil kiai, hanya gelar saja. Panggilan kiai bukan merupakan standar keilmuan," kata Hasyim.

Jenazah dimakamkan di komplek pemakaman UIN Jakarta yang terletak tidak jauh dari kampus UIN.? Sejumlah mahasiswa, dosen dan petinggi UIN, keluarga almarhum, serta para pengurus NU mengikuti prosesi pemakaman, tabur bunga, dan pembacaan talqin atau upacara menuntun mayyit agar lancar ketika ditanya oleh Malaikat penanya, Mungkar-Nakir. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Sejarah, Budaya, Khutbah Mujahidin Cyber

Selasa, 06 Februari 2018

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel

Banjarmasin, Mujahidin Cyber 

Pimpinan Pusat Muslimat NU mengadakan orientasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) untuk pondok pesantren dan majelis taklim Muslimat NU di Hotel Amaris, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (17/11).



PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel



Pembukaan dihadiri Gubernur Kalimantan Selatan yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kalimantan Selatan H. Gusti Burhanuddin. 

Mujahidin Cyber





Mujahidin Cyber

Hadir pula dari Pendamping Promkes Kementrian Kesehatan RI Ismoyowati. Ia menyampaikan 5 Nawacita program Indonesia Sehat Germas.





“Standar SPM sehat diharapkan dari pemerintah kabupaten kota untuk preventif dan sistematis dalam pelaksanaan Germas,” katanya. 





Ia menambahkan, kesehatan tidak bisa dilakukan aendiri- sendiri, tetapi harus bersama-sama seluruh komponen bangsa, harus sadar dan mampu hidup sehat sehingga sejajar dengan bangsa-bangsa lain.





“Maka lini pondok pesantren dan majelis taklim akan mengadakan RTL (Rencana Tindak Lanjut, red.) program yang tidak membumbung tinggi, tapi yang realistis bisa dilaksanakan di pondok pesantren dan majelis taklim,” jelasnya. 





Ketua Tim Germas PP Muslimat NU Hj. Erna Soefihara menyatakan, bidikan peserta orientasi adalah pimpinan pondok pesantren dan pimpinan majelis taklim sangat tepat sekali.





Karena, kata dia, anggota Muslimat NU bisa dipastikan memiliki dan akrab dengan majelis taklim. Selain itu, anggota Muslimat di masyarakat kebanyakan adalah ibu-ibu Muslimat. 





Acara itu diwarnai simulasi senam sehat Germas hingga doorprize. (A-Moez/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Tokoh, AlaSantri Mujahidin Cyber

Sabtu, 03 Februari 2018

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Brebes, Mujahidin Cyber. Kendati bukan pilihan utama, namun madrasah masih menjadi pilihan orang tua untuk pendidikan anak-anak Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Madrasah Tsanawiyah Asy Syafi’iyyah Jatibarang, misalnya, masih jadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Demikian disampaikan Kepala MTs Asy Syafi’iyyah Jatibarang H Akhmad Rosyidi saat berbincang dengan Mujahidin Cyber di ruang kerjanya, Kamis (26/1).

Terbukti, lanjut Rosyidi, di madrasah tersebut mampu menggaet 764 siswa dan siswi pada tahun pelajaran 2016/2017 ini. Bahkan sempat mencapai rekor jumlah 1004 murid tahun 2004. “Kami juga mewajibkan seluruh keluarga besar madrasah maupun yayasan wajib memasukan anak-anaknya ke madrasah ini,” tuturnya.?

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Madrasah yang terletak di Jalan Raya Timur no 10 Jatibarang, Brebes memiliki 44 guru dan 16 TU. Sebanyak 33 guru sudah bersertifikasi dan 16 guru juga sudah impassing. Dari perjuangan keras para pejuang pendidikan, telah membuktikan prestasi akademik dengan meraih NEM tertinggi tingkat MTs se-Kabupaten Brebes atas nama Syaiful Alami pada ujian nasional 2015/2016 lalu.

Madrasah yang berdiri sejak Juni 1974 tersebut, pada awalnya menempati MI Asy Asyafi’iyyah di Jatibarang Kidul selama tiga tahun. Kemudian pindah lagi ke MI Asy Syafiiyah 2 di Jatibarang Lor. Lima tahun kemudian, baru mampu membeli tanah berikut bangunan kelasnya. “Alhamdulillah, sekarang memiliki tanah seluas 20.000 meter persegi,” ungkapnya.

Sekolah dibawah naungan Yayasan Asy Syafi’iyyah Jatibarang memiliki 23 rombongan belajar (rombel) dengan rincian Kelas 7 sebanyak 6 rombel, kelas 8 sebanyak 9 rombel dan kelas 9 sebanyak 8 rombel.?

Mujahidin Cyber

Madrasah ini juga memiliki keunggulan berupa muatan lokal Baca Tulis Quran (BTQ), life skill tambal ban, membuat telur asin, memasak dan wira usaha lainnya. “Sebelum memulai pelajaran, para siswa membaca Asmaul Husna, dan setiap Jumat ngaji baca Al-Quran bareng,” terangnya.

Menyinggung persiapan Ujian Nasional, Rosyidi menjelaskan, kalau madrasahnya belum bisa mengikuti UNBK karena siswa belum bisa menyesuaikan akibat dihapusnya mata pelajaran TIK. “Anak-anak banyak yang mahir pegang ponsel, tapi untuk mengoperasikan laptop maupun komputer,” ucapnya beralasan.

Mujahidin Cyber

Sekabupaten Brebes, kata Rosyidi baru empat MTs yang ditunjuk untuk UNBK. “Tapi kami menyanggupi baru tahun 2019,” pungkasnya. (Wasdiun)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Aswaja Mujahidin Cyber

Jumat, 12 Januari 2018

Belajar Baca Kitab Kuning Via Facebook

Yogya, Mujahidin Cyber

KH Habib Syakur, pria tambun berpeci hitam kombinasi kuning itu, terlihat sibuk. Tangannya gesit menggerakkan mouse, matanya terus memelototi layar monitor laptopnya. Ia sedang membuka account Facebook ”Belajar Baca Kitab Kuning” yang dirintis sejak empat bulan lalu.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad Kauman Desa Wijirejo Kecamatan Pandak Bantul ini yakin, apa yang dilakukan akan memudahkan masyarakat umum mempelajari Kitab Kuning atau bacaan Arab tanpa harakat.

Meski belum genap setengah tahun membuka account tentang belajar Kitab Kuning, soal anggota tak perlu diragukan. ”Saat ini anggota yang terdaftar mencapai 1.033 orang,” ujar lelaki berputra empat ini, seperti dikutip Kedaulatan Rakyat beberapa hari lalu.

Belajar Baca Kitab Kuning Via Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Baca Kitab Kuning Via Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Baca Kitab Kuning Via Facebook

Anggotanya secara langsung bisa melihat apa yang ada di account ”Belajar Baca Kitab Kuning”. Dalam account itu, terdapat proses pembelajaran kitab kuning, dari pemula hingga tahap akhir. Dijelaskan juga proses belajar Kitab Kuning via Facebook yang cukup sederhana.

Mujahidin Cyber

Dengan masuk menjadi anggota account ”Belajar Baca Kitab Kuning”, akan dipandu dari awal hingga akhir.

”Tahap awal tentu, saya tampilkan kosa kata bahasa Arab, bila pelajaran pertama dikuasai, naik ke pelajaran kedua dan begitu hingga pelajaran ke-33,” ujar Kiai Habib yang juga Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) ini.

Tidak hanya itu, di statusnya juga ditampilkan tulisan Arab tanpa harakat. Bila ada yang membaca langsung dikirim dalam bentuk ejaan Indonesia. Itu akan mendapat tanggapan salah benarnya dari H Syakur.

Mujahidin Cyber

Bila ditekuni, belajar Kitab Kuning via Facebook, dalam waktu setengah bulan, seseorang mulai bisa membaca teks Arab tanpa harakat atau kitab gundul. ”Tetapi saya katakan, itu baru mulai bisa, untuk mahir tentu harus terus belajar,” kata suami Ny Kuni Khumairok ini.

Tujuan membuka kursus membaca Kitab Kuning via Facebook sederhana, yaitu ingin mengkampanyekan, bahwa Kitab Kuning bisa dipelajari, bila dilakukan serius. ”Kitab Kuning ini tidak medeni, asal ada niat, pasti bisa,” jelasnya.

Selain itu, dorongan ikut lainnya ialah, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, tetapi sangat sedikit yang bisa berbahasa Arab. Bagi lelaki yang memiliki gaya bicara blak-blakan ini niat mulianya bukan tanpa tantangan.

”Banyak juga yang bicara nylekit mengomentari account saya, tetapi saya biarkan saja, niat saya kan baik, apalagi ini Ramadan, tidak baik bila ditanggapi,” jelasnya.

Kini, selain mengasuh santri di pondoknya yang mencapai ratusan juga disibukkan dengan mengajar? Kuning via Facebook.

?

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber? ? : Kedaulatan Rakyat

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, PonPes Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock