Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Bahas Kalender Hijriah Tunggal, Kemenag Datangkan Para Ahli Falak

Jakarta, Mujahidin Cyber 

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar Seminar Internasional Fiqih Falak di Hotel Arya Duta, Jakarta, Rabu (29/11). 

Acara yang mengangkat tema "Peluang dan Tantangan Implementasi Kalender Hijriah Tunggal" secara global ini diadakan selama tiga hari (28-30/11). 

Bahas Kalender Hijriah Tunggal, Kemenag Datangkan Para Ahli Falak (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahas Kalender Hijriah Tunggal, Kemenag Datangkan Para Ahli Falak (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahas Kalender Hijriah Tunggal, Kemenag Datangkan Para Ahli Falak

Hadir pada acara ini Menteri Agama Republik Indonesia H Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Jamaluddin, Delegasi dari 14 negara yang terdiri atas Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Turki, Mesir, Iran, Yordania, Maroko, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Inggris, India, dan Irlandia. Perwakilan Majelis Ulama Indonesia (MUI), beberapa Ormas Islam, beberapa pesantren di Indonesia, dan para akademis perguruan tinggi Indonesia. 

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam H Muhammadiyah Amin mengaku kalau pelaksanaan seminar ini sudah sangat tepat. Sebagai negara yang mayoritas berpenduduk muslim, katanya, Indonesia sudah selaiaknya mengambil bagian dalam menciptakan konsep tunggal penyatuan kalender global. 

Menurutnya, Pemerintah Republik Indonesia yang dikomandoi oleh Kementerian Agama Republik Indonesia bersama negara-negara maju serta negara-negara Asia Tenggara berkomitmen untuk melaksanakan pertemuan antar negara-negara dunia guna merumuskan konsep tunggal penyatuan Kalender Hijriah. 

Mujahidin Cyber

Amin menjelaskan bahwa seminar ini diadakan untuk mengumpulkan para ahli falak internasional dari beberapa negara guna menghasilkan pandangan penyatuan global tentang Kalender Hijriah. 

Mujahidin Cyber

Sementara tujuan dari seminar ini untuk meningkatkan kualitas keilmuan ahli falak, menjadi wadah ahli falak yang konkrit, dan menemukan titik temu pemikiran para ahli falak terkait penyatuan global. 

Acara Seminar sendiri dibuka Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin dengan menabuh gong. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pondok Pesantren, Doa Mujahidin Cyber

Kamis, 08 Februari 2018

Maklumat Lembaga Falakiyah PBNU tentang Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Jakarta, Mujahidin Cyber - Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa peristiwa gerhana matahari total jatuh pada Rabu pagi, 9 Maret 2016. Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab Lembaga Falakiyah PBNU dengan menggunakan markaz Jakarta.

“Gerhana matahari total (GMT) insya Allah terjadi pada 9 Maret yang bertepatan dengan 29 Jumadil Ulam 1437 H,” kata Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH A Ghazali Masroeri.

Maklumat Lembaga Falakiyah PBNU tentang Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Maklumat Lembaga Falakiyah PBNU tentang Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Maklumat Lembaga Falakiyah PBNU tentang Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016

Berdasarkan hisab lembaga ini, gerhana matahari total yang akan terlihat dari Indonesia terjadi dalam beberapa fase dengan Waktu Indonesia Barat.

Mujahidin Cyber

Fase pertama adalah awal gerhana matahari sebagian yang jatuh pada pukul 6:30. Sementara fase awal gerhana matahari total bertepatan pada pukul 7:22. Fase pertengahan gerhana matahari total berlangsung pada pukul 7:23. Sementara akhir gerhana matahari total jatuh pada jam 7:24. Sedangkan akhir gerhana matahari sebagian berlangsung pada jam 8:34.

Di luar daerah WIB gerhana matahari terjadi sesuai dengan waktu setempat. Menurut Lembaga Falakiyah PBNU, GMT akan melewati wilayah di Indonesia antara lain Palembang, Bangka Belitung, Sampit, Palangkaraya, Balikpapan, Palu, Poso, Luwuk, Ternate, dan Halmahera. Sedangkan wilayah Indonesia lainnya akan mengalami gerhana matahari sebagian.

LF PBNU mengajak umat Islam secara umum memanfaatkan momen ini untuk melakukan pengamatan, shalat gerhana, dzikir, kegiatan sosial, atau aktivitas kefalakiyahan lainnya.

Mujahidin Cyber

Gerhana matahari merupakan fenomena yang sangat langka terjadi. Dalam setahun fenomena gerhana matahari terjadi 2-5 kali. Fenomena ini bisa hanya disaksikan oleh warga di beberapa tempat di belahan bumi,” kata staf harian LF PBNU Khairurraji di Jakarta, Kamis (18/2) siang.

Gerhana matahari merupakan fenomena alam yang jika diamati dari bumi terlihat bulan menutupi matahari sehingga terjadi kontak yang disebut dengan gerhana matahari. Gerhana matahari akan terjadi pada saat ijtima (konjungsi) di mana bulan dan matahari berada pada salah satu titik simpul atau di dekatnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Sunnah, Meme Islam, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Selasa, 30 Januari 2018

Renungan Idul Fitri, Bersimpuhlah kepada Orang Tua

Pringsewu, Mujahidin Cyber. Sebuah kebahagiaan bagi orang tuanya yang masih dalam keadaan sehat dan masih bersama kita. Terlebih sosok ibu yang telah susah payah melahirkan ke dunia ini. Ibu adalah sosok yang paling berjasa dan dapat menghantarkan ke surga.

"Apa kabar ia hari ini? Sudahkah kita menjenguknya? Semakin hari semakin bertambah tua umurnya. Hari-harinya sudah mulai ditinggal pergi anak-anaknya. Di rumah sendiri tak berdaya dengan kondisi kesehatan yang semakin membuatnya tak berdaya. Keinginan bekerja masih ada, namun tenaga sudah tidak mendukung keinginannya. Akhirnya hanya bisa mengubur semua isi hatinya sambil berharap ada anak yang memperhatikan dan peduli dengannya. Apakah kita peduli dengan hal ini? Apakah kita merasakan apa yang mereka inginkan dan rasakan selama ini?" demikian ajakan renungan yang disampaikan Basridho saat menjadi khotib pada Shalat Idul Fitri 1438 H yang dilaksanakan di Halaman Pendopo Pringsewu, Ahad (25/6).

Renungan Idul Fitri, Bersimpuhlah kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Renungan Idul Fitri, Bersimpuhlah kepada Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Renungan Idul Fitri, Bersimpuhlah kepada Orang Tua

Menurut Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Sukoharjo ini, Idul Fitri merupakan waktu tepat bagi kita untuk memberikan perhatian lebih dengan mengunjungi dan bersimpuh di depan mereka, meminta maaf atas segala kesalahan yang telah kita buat selama ini kepada mereka.

"Inilah saat penting bagi kita untuk berbuat baik kepada orang tua kita. Inilah ladang amal bagi kita selaku anak yang berbakti kepada orang tua. Jika kita dengan ikhlas peduli, memberi kasih sayang dan membantu meringankan beban hidupnya, yakinlah, surga balasannya. Jasa dan perjuangan mereka tidak akan bisa kita balas dan bayar lunas. Demi Allah, sebanyak apa pun yang pernah kita berikan, apa pun yang pernah kita serahkan kepada orang tua kita, tidak akan setimpal dengan perjuangan dan pengorbanan mereka membesarkan kita," kata Ketua Ranting NU Kelurahan Pringsewu Barat ini.

Mujahidin Cyber

Ia juga mengajak untuk mengingat perjuangan orang tua ketika kita masih kecil tak bisa berbuat apa-apa. Dengan penuh cinta orang tua kita menggendong kita, mencium kita dan merawat kita sampai kita bisa seperti sekarang ini.

"Bagaimana sebaliknya ketika saat ini mereka tergeletak sakit sendirian di rumahnya? Sempatkah kita menengoknya? Berapa kali kita mengusap keningnya, menyuapinya dan menggantikan pakaiannya ketika ia terbaring sakit diatas tempat tidurnya? Seringkah kita memeluknya dengan penuh cinta sembari tersenyum sebagaimana ia lakukan saat kita kecil di pangkuannya?" tanyanya.

Di hari nan fitri inilah lanjutnya waktu yang tepat bagi seorang anak untuk meraih kedua tangannya yang sudah nampak keriput dimakan usia. "Rengkuhlah tubuhnya, ciumlah tangan yang dulu kekar mengasuh kita, namun sekarang sudah lemah seraya bersimpuh meminta maaf kepadanya. Mintalah keridhoan dan keikhlasannya untuk bekal hidup kita. Dan marilah berdoa agar ia selalu mendapatkan perlindungan dan kesehatan serta kemudahan dari Allah SWT. Semoga mereka tetap terjaga iman islamnya dan ketika ia dipanggil oleh Allah SWT mereka menjadi hamba yang husnul khatimah dan kita diberikan ketabahan dalam menghadapinya," katanya dengan nada suara yang bergetar.

Namun jika orang tua kita saat ini sudah tidak bersama kita lagi di dunia, ia mengajak untuk meluangkan waktu untuk berziarah ke makam mereka. "Lihat dan bersihkanlah pusara mereka yang menunggu doa dari kita dan keluarga. Ia pastinya akan tersenyum melihat kehadiran dan doa yang kita kirimkan. Sebaliknya mereka pasti akan sangat bersedih ketika kita tidak datang mendoakan karena hanya itulah yang mereka harapkan dialam sana," ajaknya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Pondok Pesantren, Santri, Internasional Mujahidin Cyber

Senin, 29 Januari 2018

Bulan Puasa Anak-Anak Sekolah

Oleh H. Mahbub Djunaidi

Anak-anak, kasih unjuk rapor kepada orang tuamu. Bagi yang naik kelas, boleh bersenang hati. Bagi yang tidak, boleh murung, asal tidak banyak. Ini merupakan pentung ke kepalamu supaya lain kali belajar lebih baik. sekarang kamu boleh pulang, sampai ketemu habis lebaran,” kata menir van Daalen seraya mengusap batang hidupnya, suatu kebiasaan sebagian besar bangsa Belanda yang hidup di bawah permukaan laut.

Bulan Puasa Anak-Anak Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bulan Puasa Anak-Anak Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bulan Puasa Anak-Anak Sekolah

Beresoknya, beduk puasa berdentam-dentam. Lepas sahur, anak-anak senewen itu masuk keluar kampung menabuh kaleng rombeng, kemudian duduk berjuntai di batang belimbing hingga lohor, sesudah itu tidur telungkup menekan perut keras-keras ke ubin langgar hingga hampir maghrib. Jika saat berbuka puasa tiba, mereka nyaris menelan seluruh isi bumi. Tapi ini tidak berlangsung lama, sembahyang tarawih, yang mereka lakukan sambil sekali dua menyikut rusuk temannya.

Mujahidin Cyber

Dalam hubungan ini C. Snouk Hurgronje benar: pokoknya jangan sentuh agama Islam, bisa berabe. Toh kultur Jawa masih kuat, mampu memproduksi penduduk paling taat kepada atasannya seluruh dunia. Jangan main paksa - seperti disaksikan Van der Plas di Madura tahun 1919 - murid sekolah bolos disuruh bersila di pendapa asisten Wedana seraya dicoreti punggungnya dengan tulisan “Je Maintiendrai”. Kapan pun juga main paksa tidak bisa menyelesaikan soal.

Dan dalam hubungan sentuh agama Islam ini, kolonialisme Belanda pada umumnya cukup bijak. Buat apa bikin perkara dengan mereka kalau maksud sedalam-dalamnya adalah soal rezeki, urusan perdagangan, een mercantile betrekking? Seyogianya menghormati pesantren-pesantren di Jawa pada umumnya terletak di tengah lautan kebun tebu agar supaya santri Buntet di Cirebon atau Tebuireng di Jombang tidak mengobrak-abrik pabrik sambil menggulung kain sarung hingga lutut. Gula, yang merupakan gabus tempat kerajaan Belanda mengapung, tidak boleh terancam.

Mujahidin Cyber

Zaman berganti, dan kini giliran Kawasaki-san berdiri di depan kelas. “Anak-anak, kasih unjuk rapor kepada orang tuamu. Bagi yang naik kelas, boleh bersenang hati. Bagi yang tidak, boleh murung, asal jangan banyak-banyak. Ini merupakan pentung ke kepalamu supaya lain kali belajar lebih baik. Sekarang kamu boleh pulang, sampai ketemu habis lebaran.” Sesudah menyanyikan lagu kebangsaan Kimigayo dan Seikerei itu berhamburan ke luar kelas bagai kelereng tumpah dari dosnya. Seperti biasa, esok hari beduk puasa berdentam-dentam, dan seperti biasa mereka bergolek-golek di lantai langgar. Satu dua juga yang diam-diam menggigit mangga muda di belakang kakus.

Dalam hubungan ini, H.J. Benda dalam ‘The Cresent and The Rising Sun’ benar: biarpun Bupati Bandung Wiranatakusumah menyimpan motif tersendiri menggalakkan Baitul Mal di beberapa keresidenan Jawa Barat, pemerintah Dai Nippon mendiamkan saja demi mencegah kortsluiting dengan Islam. Dan biarpun pemuka Islam menyimpan keinginan sendiri menghadapi latihan Hizbullah di Lemahabang, Jepara pura-pura bersungguh hati demi “Asia Timur Raya”.

Di alam merdeka tentu keadaan berbeda. Anak-anak sekolah tambah jangkung, lebar dada dan tebal pantatnya. Ini berkat gizi cukup dan kemakmuran yang makin merata, terutama berkat kegesitan orang tua masing-masing. Jangan dibilang lagi tingkat kecerdasan mereka yang semakin meninggi, sebagian disebabkan karena orang sekarang mempunyai cara mengukurnya, dengan bantuan mesin yang tidak bisa dibantah. Akibat mereka yang ingin sekolah jauh lebih banyak jumlahnya dari bangku yang tersedia, maka yang berhasil duduk dengan sendirinya merupakan makhluk pilihan, bagai ayam Bangkok di antara ayam kampung.

Betapa istimewanya, mereka punya guru, baik lelaki maupun perempuan. Menjelang hari puasa, pendidik itu tegak berdiri di depan kelas. ”Anak-anak, sesuai panggilan zaman, kamu dpersiapkan untuk berjalan-jalan dari planet ke planet, atau menyuruk jauh ke dalam perut bumi. Karena itu, kamu musti belajar keras, tak terkecuali di bulan puasa. Satu hari terlewat berarti rugi dua puluh lima tahun.”

Tempo, 26 Mei 1979

 

H. MAHBUB DJUNAIDI, dijuluki pendekar pena. Menulis naskah drama, cerpen, novel, dan terutama kolom; penulis tetap rubrik Asal-Usul di Kompas selama 7 tahun. Juga penerjemah. Selain itu, ia  politikus, tapi lebih suka dibilang sastrawan. Ditunjuk KH Saifuddin Zuhri memimpin harian Duta Masyarakat. Dalam urusan jurnalistik, ia pernah bilang, "Fakta harus dijunjung tinggi sebagaimana mertua".

Anak Betawi kelahiran Tanah Abang, Jakarta, 1933, ini pernah aktif di IPNU, PMII, GP Ansor, Pertanu, Lesbumi, hingga salah seorang ketua PBNU. Mahbub wafat tahun 1995. Pramudya Ananta Toer, orang yang dikaguminya di samping Soekarno, berkenan menyampaikan sambutan perpisahan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Hikmah, IMNU, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Minggu, 14 Januari 2018

Wali Kota Semarang Siap Support Kegiatan Terkait Kiai Sholeh Darat

Semarang, Mujahidin Cyber - Wali Kota Semarang, Jawa Tengah Hendrar Prihadi berkomitmen memberi dukungan (support) kegiatan yang terkait Kiai Sholeh Darat. Pria yang biasa disapa Mas Hendi ini mengatakan, Kiai Sholeh Darat adalah tokoh besar, ulama yang menjadi aset Kota Semarang sehingga sudah sepantasnya warga dan pemerintah Kota Semarang nguri-nguri peninggalan beliau termasuk melalui kegiatan pengajian Haul setiap tanggal 10 Syawal.

"Kiai Sholeh Darat adalah tokoh besar. Ulama besar yang jadi rujukan ilmu para ulama tokoh nasional. Pemkot Semarang siap memberi support selalu atas kegiatan terkait beliau karena Kiai Sholeh Darat adalah aset Kota Semarang," kata Hendi di hadapan ribuan hadirin saat dalam pengajian Haul ke-116 Kiai Sholeh Darat Darat di halaman Masjid Darat, Jumat malam (15/7).

Wali Kota Semarang Siap Support Kegiatan Terkait Kiai Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
Wali Kota Semarang Siap Support Kegiatan Terkait Kiai Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

Wali Kota Semarang Siap Support Kegiatan Terkait Kiai Sholeh Darat

Ia mengajak masyarakat meneladani Kiai Sholeh Darat yang mengajarkan agama Islam dan membangun kedamaiaan. Hal itu menurutnya yang membuat Semarang sejak dulu hingga kini terjaga kondusivitasnya.

Peran Mbah Sholeh Darat, kata Hendi, sangat besar membawa nama baik Semarang sehingga banyak orang berdatangan di pesantren Darat. Banyak di antara santri Mbah Sholeh yang menjadi tokoh besar panutan umat. Di antaranya KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhamadiyah, dan RA Kartini pahlawan pendidikan wanita.

Mujahidin Cyber

"Karena peran besar Kiai Sholeh Darat, Semarang menjadi jujugan mencari ilmu. Ini menbawa nama baik kota Semarang.? Kita jaga dan warisi amal baik Kiai Sholeh Darat itu," ajaknya.

Mujahidin Cyber

Wali Kota yang hadir bersama camat Semarang Utara, Lurah Dadapsari dan beberapa pejabat Pemkot Semarang juga menyampaikan permohonan maaf lahir batin atas nama pribadi maupun pemerintah.

Dia meminta maaf atas kebijakan Pemkot yang kurang atau belum memberikan kebahagiaan untuk masyarakat atau yang tidak membuat warga berkenan.

"Dalam kesempatan haul yang ada suasana Syawal ini, saya atas nama pribadi dan pemerintah Kota Semarang memohon maaf lahir batin atas segala keputusan saya maupun kebijakan saya yang kurang atau tidak membat Bapak Ibu berkenan," ujarnya. (Ichwan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Aswaja, Pondok Pesantren, Cerita Mujahidin Cyber

Sabtu, 30 Desember 2017

PBNU Prihatin Tenaga Kerja Asing Masuk Indonesia

Jakarta, Mujahidin Cyber?



Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengaku prihatin dengan banyaknya tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. Meskipun belum ada data pasti yang dirilis pemerintah, seharusnya hal tersebut tidak terjadi karena masyarakat Indonesia juga masih banyak yang menganggur. Hal ini meresahkan masyarakat. ?

Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faisal Zaini mengatakan, menurut data yang dimiliki PBNU, tenaga kerja asing telah tersebar di Indonesia. Padahal di tengah masyarakat masih banyak terdapat pengangguran terbuka.?

PBNU Prihatin Tenaga Kerja Asing Masuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Prihatin Tenaga Kerja Asing Masuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Prihatin Tenaga Kerja Asing Masuk Indonesia

“Ini meresahkan,” katanya pada jumpa pers di gedung PBNU Jakarta Selasa (20/12).

Ia mengemukakan, tahun ini terjadi kasus, polisi menangkap 70 tenaga kerja asal Tiongkok di sebuah pabrik semen. Pabrik tersebut mempekerjakan 30 persen tenaga kerja lokal dan 70 persen tenaga kerja asing. Bayaran yang mereka terima pun sangat besar dibanding buruh lokal. Buruh asing mendapat 15 juta per bulan sementara buruh lokal 2 juta.?

Mujahidin Cyber

“Rata-rata tenaga kerja lokal menadapat bayaran 200 ribu. Sementara tenaga kerja asing sekitar 500 ribu. Sementara penggangguran cukup tinggi. Perekonomian Indonesia juga merosot jauh. Kegiatan ekspor berkurang, pendapatan dan daya beli masyarakat menurun, sementara harga-hara masih tinggi,” jelasnya.?

Atas dasar itu, Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj menyampaikan, PBNU mendesak kepada pemerintah agar mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana yang tercantum pada sila kelima.

Kedua, kata dia, mengingatkan kepada pemerintah dan pengusaha untuk memperhatikan kembali hal-hal yang mendasar sebelum mempekerjakan tenga asing di Inonesia.

Mujahidin Cyber

“Pemerintah harus sensitif menjaga perasaan rakyat dan mengkaji ulang kebijakan pembangunannya bila dalam prakteknya tidak menjadikan rakyat sebagai partnernya. Serta ? mendorong pemerintah aktif membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia dan memperkuat negosiasi kesepakatan dalam kerja sama investasi," ujar pengasuh pesantren Al Tsaqafah ini.?





Pada jumpa pers tersebut, PBNU juga mengemukakan pandangan-pandangannya terakait Suriah dan etnis Rohingya di di Myanmar. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam, Pondok Pesantren, Bahtsul Masail Mujahidin Cyber

14 Tahun Mengabarkan, NU Online Butuh Teman

Jakarta, Mujahidin Cyber?



Direktur Mujahidin Cyber Savic Ali mengatakan, di usia 14 tahun, Mujahidin Cyber terus konsisten untuk menyampaikan konten Islam Ahlussunah wal-Jama’ah yang bervisi damai dan kebangsaan. Saat ini, Mujahidin Cyber berada pada posisi lima besar media Islam dan mengatasnamakan Islam di Indonesia.?

Hal itu, di satu sisi menggembirakan, tapi di sisi lain sangat disayangkan. Menurut Savic, disebut menggembirakan karena itu berarti Mujahidin Cyber masih diterima pembaca dan terus meningkat.?

14 Tahun Mengabarkan, NU Online Butuh Teman (Sumber Gambar : Nu Online)
14 Tahun Mengabarkan, NU Online Butuh Teman (Sumber Gambar : Nu Online)

14 Tahun Mengabarkan, NU Online Butuh Teman

Disebut disayangkan karena pada lima besar situs populer Islam itu, hanya Mujahidin Cyber yang memiliki komitmen Islam Ahlussunah wal-Jama’ah yang bervisi damai dan kebangsaan. Bahkan, hingga posisi 20, tak ada yang sevisi dengan Mujahidin Cyber. ? ?

Mujahidin Cyber butuh teman,” katanya pada saat ia menjadi moderator Halal Bihalal dan Sarasehan Netizen NU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (12/7) sore.

Mujahidin Cyber

Hal ini, menjadi tantangan besar para netizen NU untuk tetap menjaga konsistensi NU dan mengupayakan menemaninya dengan situs-situs lain yang bervisi serupa. Karena, kalau dibiarkan, masyarakat Muslim Indonesia akan mengkonsumsi konten-konten dari kelompok yang tidak bervisi Islam damai dan kebangsaan.

Menurut dia, jika situs-situs semacam itu menjadi konsumen masyarakat kota, terutama anak muda, terbukti melahirkan generasi muda yang merasa paling islami, merasa paling benar dan perilaku kasar jika bertemu dengan pendapat yang berbeda dengannya.

“Kita berharap Mujahidin Cyber jadi nomor satu dan punya teman, jaringannya,” kata peria kelahiran Pati, Jawa Tengah itu. ?

Soal jaringan, menurut dia, NU besar bukan karena strukturnya, tapi jaringan pesantrennya yang ada di mana-mana.?

Mujahidin Cyber

“NU besar karena jaringan pesantren. Keberhasilan Mujahidin Cyber juga karena jaringan,” pungkasnya.?

Pemimpin Redaksi Mujahidin Cyber A. Mukafi Niam juga berharap hal yang sama, sebagai sumber informasi warga NU dan Muslim moderat, Mujahidin Cyber akan bersinergi dengan para netizen NU untuk membangun kekuatan dengan untuk Islam rahmatan lilalamin dan Indonesia damai.

“Empat belas tahun, Mujahidin Cyber memasuki usia remaja, harus banyak belajar,” katanya. ? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Daerah, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Rabu, 20 Desember 2017

Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran

Probolinggo,Mujahidin Cyber. Sedikitnya 660 orang jamaah haji Kloter 47 dan Kloter 48 Kabupaten Probolinggo tahun 2015 dan ratusan Calon Jamaah Haji (CJH) tahun 2016 mengikuti tasyakuran kedatangan jamaah haji yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo dan PCNU Kota Kraksaan, Ahad (15/11).

Kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren Rahmatal Lil ‘Alamin di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan ini dihadiri oleh Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari, Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H Busthami, Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Abdul Hadi dan sejumlah pengurus lembaga, lajnah dan badan otonom NU se- Kabupaten Probolinggo.

Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamaah Haji Probolinggo Gelar Tasyakuran

Tasyakuran kedatangan jamaah haji ini diawali dengan tahlil bersama yang ditujukan kepada seluruh jamaah haji Kabupaten Probolinggo yang wafat karena menjadi korban tragedi Mina. Disamping juga jamaah haji yang wafat karena sakit. Dimana tahlil sendiri dipimpin oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili.

Mujahidin Cyber

Mustayar PCNU Kabupaten Probolinggo yang juga A’wan PWNU Provinsi Jawa Timur H Hasan Aminuddin mengungkapkan bahwa pelaksanaan ibadah haji tahun ini memang banyak cobaan yang dihadapi oleh jamaah haji Indonesia, mulai dari jatuhnya crane dan insiden Mina.

Mujahidin Cyber

“Mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan haji atas meninggalnya salah satu keluarga yang melaksanakan ibadah haji. Sebab ini merupakan ujian dari Allah SWT dan diluar batas kemampuan manusia,” ujarnya.

Menurut Hasan, pelaksanaan ibadah haji khususnya di Kabupaten Probolinggo mulai dari berangkat hingga kembali ke tanah air selalu dipantau baik oleh pemerintah daerah maupun PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan. “Hal ini merupakan sebuah pelayanan yang diberikan kepada tamu Allah supaya menjadi terhormat,” jelasnya.

Anggota Komisi VIII DPR RI ini menjelaskan, predikat haji mabrur diperoleh sesudah datang dari tanah suci. Indikasinya, amal ibadah yang dilakukan selalu ada peningkatan serta mempertahankan amalan ibadah  yang telah dilaksanakan selama di tanah suci.

“Perilaku atau perbuatan harus ada perbedaan dari sebelum melaksanakan ibadah haji hingga setelah melaksanakan ibadah haji. Amalan ibadah juga semakin ditingkatkan. Selain itu, perilaku atau perbuatan terhadap masyarakat juga semakin meningkat untuk mewujudkan hablum minallah dan hablum minannas,” pungkasnya.

Sementara Bupati Probolinggo Hj Puput Tantriana Sari menyampaikan bahwa musibah kejadian Mina yang mewafatkan belasan jamaah asal Kabupaten Probolinggo adalah cobaan. Sehingga diharapkan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan. “Karena semua ini sudah takdir, beliau-beliau yang wafat dalam keadaan syahid. Dan keluarga pun semoga menerima dengan lapang dada,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Sejarah, Pondok Pesantren, News Mujahidin Cyber

Sabtu, 16 Desember 2017

Nasib Tokoh-tokoh NU

Oleh Hamzah Sahal



Saya telat baca-baca tulisan Mahbub Djunaidi. 10 tahun lamanya di Jogja, 1996-2006, nyaris tidak pernah telingaku mendengar dengan baik nama Mahbub Djunaidi. Saya yakin, teman-teman seangkatan saya pun demikian. Hanya kalau hari Ahad, saat Kompas muat esai-esai dari penulis-penulis beken, nama Mahbub sesekali diingat.

Nasib Tokoh-tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Nasib Tokoh-tokoh NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Nasib Tokoh-tokoh NU

Dalam pelatihan-pelatihan menulis esai, nama yang tidak pernah absent disebut hanya GM! Nama Mahbub yang tulisannya dipuja GM, justru gaib. Seingatku, perpustakaan di LKiS pun, di mana lima tahun lebih saya berada, tidak menyimpan buku-buku Mahbub.

Mujahidin Cyber

Baru tahun 2006, setelah di Jakarta, saya sering mendengar nama Mahbub Djunaidi. Dari situlah saya mulai mencari-cari bukunya. Orang yang mengenalkanku secara mendalam tentang Mahbub adalah M. Said Budairy, kolega di Duta Masyarakat, bersama-sama mendirikan PMII, dan sama-sama berani mengkritisi Gus Dur. Gus Dur sendiri sangat takdim pada keduanya.

Di sela-sela memburu dan mengobrolkan tulisan-tulisan Mahbub Djunaidi, saya sesekali berpikir nakal, "Apa saya salah pergaulan di Jogja?"

Jawabnya tentu saja tidak! Saya di Jogja 10 tahun berada di lingkungan nomor 1. Saya kenal baik dengan aktivis NU yang meskipun perannya di Jogja, namun dekat sekali dengan orang-orang Jakarta yang perannya nasional. Tentu saja saya mengenal kiai-kiai yang tersebar di pesantren yang menjadi tempat ampiran, sowan, dan kegiatan orang NU Jakarta.

Mujahidin Cyber

Lalu apa problemnya sehingga nama Mahbub yang begitu sentral di NU tidak dikenal publiknya sendiri?

Saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan itu. Saya hanya ngenes tokoh sesentral Mahbub mudah dilupakan. Sudah beruntung nama beliau terpatri di gedung PB PMII, Salemba Jakarta Pusat. Ratusan, bahkan ribuan tokoh nasional NU, hendak kita abadikan dengan cara apa?

Menulis buku adalah salah satunya. Sudah banyak ikhtiar menulis buku tokoh-tokoh NU. Dulu kita mengenal Yayasan Saifuddin Zuhri, Pustaka Indonesia Satu, dan penerbit-penerbit di lingkungan NU, atau media-media seperti majalah, tabloid, koran, dari tingkat pesantren hingga nasional, berjasa dalam memposisikan tokoh-tokoh kita.

Belakangan PBNU menyajikan Ensiklopedia NU. Ini penting sekali untuk "mengkonservasi" orang-orang yang hidupnya dihabiskan untuk NU. Hari ini, Mujahidin Cyber adalah media yang paling berjasa memperkenalkan tokoh-tokoh NU secara istiqomah.

Pustaka Tebuireng dari Pesantren Tebuireng Jombang juga harus disebut untuk konteks sekarang. Mereka, para santri, mendapat transferan energi dari pengasuhnya, Gus Shalah, untuk menerbitkan biografi-biografi tokoh NU yang dilupakan. Gus Shalah adalah salah satu pendiri Pustaka Indonesia Satu, yang banyak menerbitkan biografi tokoh-tokoh (tapi yang belum ditulis dan diterbitkan jauh lebih banyak).

Namun menerbitkan buku hari ini susahnya setengah mati. Buatnya susah, cetaknya mahal, sedikit yang beli. Belum lagi, kita hari ini defisit penulis. Tidak banyak hari ini anak muda yang berteriak ingin jadi penulis. Mengapa? Nasib tidak jelas. Mereka banyak yang terlunta-lunta, bingung, seperti anak ayam ditinggal ibunya kawin.

Anda harus tahu, jumlah penulis NU yang dikader tahun 1980 dan 1990 lebih banyak jumlahnya daripada penulis yang dikader tahun 2000an. Tidak percaya? Buktikan sendiri!

Penulis adalah Koordinator Divisi Media dan Data RMI PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Rabu, 13 Desember 2017

Peringati Hari Santri 2017, Sako Maarif Pringsewu Gelar Perkemahan

Pringsewu, Mujahidin Cyber - Satu Hati, Satu Janji Pramuka Maarif Terwujud Dalam Satya Dharma Bhakti. Inilah tema besar yang diangkat Satuan Komunitas (Sako) Pramuka Maarif Kabupaten Pringsewu dalam Kegiatan Perkemahan Maarif Cabang (Permacab) dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2017.

Ketua Sako Maarif Pringsewu Mustangin menjelaskan Permacab yang akan digelar ketiga kalinya ini akan digelar di Kompleks Gedung NU Pringsewu selama 3 hari mulai 20 sampai dengan 22 Oktober 2017.

Peringati Hari Santri 2017, Sako Maarif Pringsewu Gelar Perkemahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Santri 2017, Sako Maarif Pringsewu Gelar Perkemahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Santri 2017, Sako Maarif Pringsewu Gelar Perkemahan

"Permacab III akan diikuti oleh Pramuka Penggalang dan Penegak dari Madrasah dan Sekolah di Kabupaten Pringsewu dengan masing-masing mengirimkan 1 regu putera dan 1 regu puteri dengan setiap regu terdiri dari 8 orang," jelasnya setelah Rapat Panitia Kegiatan di Gedung NU, Ahad (8/10).

Mujahidin Cyber

Selain memperingati HSN 2017, perkemahan ini diharapkan mampu meningkatkan apresiasi kaum muda terhadap gerakan pramuka. "Kita menginginkan Pramuka Sako Maarif mengembangkan nilai-nilai Sesosif yaitu spiritual, emosional, sosial, intelektual dan fisikal," harapnya.

Dalam kegiatan tersebut tuturnya, akan digelar berbagai kegiatan dan lomba di antaranya lomba pionering, MTQ, tahlil, pidato, baris berbaris dan hadrah.

Mujahidin Cyber

"Puncak acara ini akan ditutup dalam upacara peringatan HSN yang akan dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Pringsewu sekaligus pengumuman pemenang perlombaan," jelasnya.

Permacab kali ini menurutnya juga merupakan ajang persiapan dan seleksi bagi pramuka Pringsewu untuk menghadapi Perkemahan Wirakarya Maarif Nasional (Perwimanas) 2018 yang akan dilaksanakan di Provinsi Lampung.

"Lampung akan menjadi tuan rumah Perwimanas 2018. Untuk dikabupaten mananya masih dalam proses penentuan. Kalaupun nantinya ditempatkan di Kabupaten Pringsewu, Insyaallah kami siap," tegasnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kiai, Makam, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Senin, 11 Desember 2017

Sujiwo Tejo: NU Jangan Andalkan Donatur untuk Kebudayaan

Budayawan Sujiwo Tejo turut mengahadiri Silaturahim Budaya yang digelar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia pada akhir bulan lalu, di gedung PBNU, Jakarta. Ia sempat bernyanyi beberapa lagu dan mengikuti sarasehan budaya. Selepas kegiatan itu, ia sempat diwawancarai Abdullah Alawi dari Mujahidin Cyber tentang beberapa hal terkait kebudayaan di NU. Berikut petikannya: 



Apa pendapat Anda tentang Lesbumi?

Sujiwo Tejo: NU Jangan Andalkan Donatur untuk Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sujiwo Tejo: NU Jangan Andalkan Donatur untuk Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sujiwo Tejo: NU Jangan Andalkan Donatur untuk Kebudayaan

Oh, saya pas kecil, kalau tidak ada Lesbumi, tidak ada hiburan di situbondo. Mereka bikin ludruk, bikin banyak hal. Di situbondo itu, kegiatannya, saya waktu SD, kalau enggak ada Lesbumi, ya sepi.  Lesbumi bikin ini, bikin itu, saya nonton; ketoprak. Itu yang saya selalu saya kenang. Makanya saya kan sekarang ditaro di Lesbumi juga. 

Itu peran yang paling konkret yang saya rasakan. Kalau tidak ada Lesbumi, Situbondo daerah yang sunyi dari kesenian-kesenian juga. Mereka nanggap wayang juga. Peran yang paling membekas bagi saya itu. 

Bagaimana peran Lesbumi saat ini? 

Kalau Pak Said (Ketua Umum PBNU) ngandikane (mengatakan, red.) pencapaian kebenaran yang mendekati lebih kebenaran bukan dari premis-premis, tapi dari kesenian. Jadi, kalau keseniannya makin tinggi bangsa ini, maka konflik antaragama, antarsekte di dalam agama juga bisa dikurangi karena mereka mencari kebenarannya tidak dari premis-premis, tidak dari anggapan-anggapan kebenaran itu, tetapi dari sesuatu yang lebih dari hati itu. Kalau dari hati kan pasti ketemu.

Mujahidin Cyber





Bagaimana saran untuk memaksimalkan peran dalam penataan kebudayaan di NU? 

Wah, itu yang agak angel (sulit, red.). Kalau aku secara garis besarnya, NU jangan ngurus komunitas tok. 

Mujahidin Cyber

Bagaimana itu?

Ya bisnis, bikin rumah sakit. Bukan bisnis, ya, bikin perguruan-perguruan tinggi, duitnya untuk menghidupkan kesenian, jangan dari donatur-donatur begitu. Ya. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Halaqoh, Pondok Pesantren, AlaSantri Mujahidin Cyber

Senin, 04 Desember 2017

Seorang Kiai dengan Beonya

Tersebutlah seorang Kiai yang memiliki seekor burung beo berbulu indah nan istimewa. Apa saja keistimewaannya? Selain berbulu hitam selembut beludru serta kuning yang keemasan, ternyata burung beo tersebut mampu melafalkan dzikir yang sering diwiridkan oleh Sang Kiai. Mulai dari "Allahu Akbar", "Alhamdulillah", "Subhanallah", "Laa ilaha illa Allah", "Masya Allah", dan seterusnya.

Tidaklah mengherankan jika kemudian tampak jelas di pandangan para santri betapa besar rasa sayang Sang Kiai terhadap beonya itu. Secara Sang Kiai kerap menghabiskan waktu luang untuk bermain bersamanya. Mulai dari memberi makan, memandikan, membersihkan sangkar, hingga berdzikir bersama. Para santri yang melihat keakraban Sang Kiai dengan beo itu pun tergoda untuk membayangkan jangan-jangan sedemikian inilah hubungan Shahabat Abu Hurairah RA dengan kucing-kucingnya.

Namun demikian, pada suatu tengah malam, malang tak dapat ditolak. Saat sedang bersiap mengambil air wudlu untuk tahajjud, seperti biasa Sang Kiai bersiap melintasi sangkar burung kesayangan yang memang terletak di dekat tempat berwudlu. Namun, kurang beberapa langkah mendekati sangkar si beo, terdengar suara gaduh. Sangkar si beo tergelimpang, dan betapa terkejutnya Sang Kiai saat bergegas ke arah suara gaduh tersebut. Si beo dilabrak seekor kucing.

Spontan burung beo tersebut meronta-ronta untuk melepaskan diri dari cengkeraman si kucing seraya berteriak parau, "Kaak... kaak... kak...." 

Seorang Kiai dengan Beonya (Sumber Gambar : Nu Online)
Seorang Kiai dengan Beonya (Sumber Gambar : Nu Online)

Seorang Kiai dengan Beonya

Sang Kiai bergegas mengusir kucing kurang ajar yang sudah siap melahap mangsanya. Seketika kucing itu pun menghambur pergi meninggalkan si beo yang terus mengeluarkan suara  "Kaak... kaak... kak...." Sebelum Sang Kiai mampu berbuat lebih banyak, si beo telah menghembuskan nafasnya yang terakhir. 

Meneteslah airmata Sang Kiai saat itu juga. Dan ini ternyata diam-diam disaksikan oleh para santri yang juga terkejut mendengar keributan kecil di bagian belakang ndalem Sang Kiai itu. 

***

Mujahidin Cyber

Hari berganti hari. Pekan menjelma bulan.

Sejak peristiwa mengenaskan itu, rona bahagia seakan telah menghilang dari wajah lembut Sang Kiai. Hampir setiap hari para santri hanya mendapati kesedihan mendalam menghiasi wajah guru mereka. "Apakah kemasaman seperti ini yang dialami Zulaykha saat Nabi Yusuf AS menolak ajakannya?" batin mereka.

Keseharian di pondok dirasakan para santri demikian hambar. Tak ada lagi canda tawa di sela-sela penjelasan Sang Kiai saat menjelaskan baris-baris tulisan Arab tak bersyakal ketika bandongan. Tak ada lagi senyum tersimpul di ujung bibir Sang Guru saat mendengar kesalahan santri dalam menyetorkan sorogan. Bahkan, tak ditemukan lagi keakraban Sang Kiai di waktu menyapa mereka, "Cung... rene cung...."

Tak ingin muram durja di wajah mulia Sang Kiai menggelayut berlarut-larut, seorang santri senior berinisiatif mengajak teman-temannya untuk merembug masalah ini. Si santri senior pun membuka rembugan mereka, "Agaknya murabbi ruuhinaa sangat terpukul dengan kematian burung beo kesayangan beliau. Tapi, hal ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus cari bagaimana cara mengembalikan keceriaan beliau sebagaimana sedia kala."

Mujahidin Cyber

Semua membisu. Cukup lama. Entah apa yang berseliweran di pikiran masing-masing. 

"Kang, sebelum membahas masalah solusi, sepertinya kita juga perlu mencari tahu kenapa peristiwa ini bisa terjadi," tanya seorang santri berpostur pendekar, pendek dan kekar.

"Ya, Kang," timpal yang lain hampir berbarengan.

"Entahlah... aku kira ada yang lupa mengembalikan kurungan si beo ke gantungan sampai akhirnya si kucing bisa mendorongnya dari atas meja," analisa di santri senior.

"I.. iya.... Iya, Kang," sahut seorang santri tiba-tiba seraya mengacungkan tangannya. Santri berambut kriwil itu manambahkan, "Tadi sore, aku disuruh Kiai memberi makan beo karena beliau sedang ada tamu."

"Wah... bagaimana kau ini? Coba kalau kau hati-hati, parti tidak akan terjadi peristiwa ini," serobot seorang santri dengan dialek Medan yang kental.

"Maafkan aku Kang... Aku betul-betul lupa, Kang," jawab santri kriwil penuh rasa bersalah.

"Sudah... sudah.... Nasi sudah jadi bubur. Sekarang sebaiknya kita cari solusi saja ketimbang meratapi yang tak mungkin kembali," simpul si santri senior. "Apa sebaiknya yang kita lakukan sekarang?"

Hening. Sekitar duapuluh santri yang berkumpul semua diam seribu bahasa. 

Selang beberapa saat kemudian, seorang dari mereka pun melontarkan saran, "Bagaimana kalau kita urunan membeli seekor beo baru yang tak kalah istimewa?"

"Maksudmu?" tanya si santri senior.

"Ya, kita kumpulkan uang semampu masing-masing kita, lalu kita cari beo baru yang punya kemampuan lebih ketimbang beo beliau."

"Aku mengerti itu. Tapi, apa yang menjadi tolok ukur kita dalam menilai beo yang lebih istimewa?" tanya si santri senior lagi.

"Iya, betul itu. Harus jelas tolok ukur keistimewaannya. Sebab, aku cenderung tidak yakin akan ada beo lain yang lebih istimewa dari beo Kiai..." timpal seorang santri lain.

Kembali hening. Kembali pikiran mereka menerawang entah kemana.

"Beo yang lebih istimewa?" gumam si santri senior. "Yang sama istimewanya mungkin banyak... tapi kalau lebih istimewa... entahlah...."

"Aku tahu!" jerit santri pemberi saran tadi. "Bagaimana kalau kita cari saja dulu beo yang sama istimewanya, baru kemudian kita latih beo itu memekikkan kata Merdeka!?"  

"Maksudmu gimana sih, Kang?"

"Sampean semua tentu sudah tahu betapa besar jiwa nasionalisme Pak Kiai, kan?"  

Seketika raut bingah menghiasi wajah santri-santri tersebut. Semua mampu membaca arah pikiran si santri pemberi saran dan mereka pun menerima sarannya. Mufakat pun tercapai dan bersepakatlah mereka untuk mengumpulkan iuran seikhlasnya.

***

Tak butuh waktu lama, terkumpullah uang dalam jumlah yang cukup besar, jumlah yang dirasa sudah cukup untuk membeli seekor beo istimewa di pasar hewan di kota untuk kemudian dilatih memekikkan "Merdeka!"

Berangkatlah santri senior ditemani oleh si pemberi saran tadi ke pasar hewan yang ada di kota. Baru saja memasuki pasar, nasib baik menghinggapi mereka. Entah karena sepinya pengunjung, atau karena memang jumlah uang urunan mereka yang besar, seekor burung beo yang sesuai dengan harapan mereka berhasil didapatkan. Bahkan, beo baru tersebut itu bisa menirukan kata "Merdeka!" hanya dalam sekali percobaan. Dan yang lebih istimewa lagi, beo itu hanya perlu melihat kepalan tangan yang teracung ke atas untuk melafalkan kata pemompa semangat nasionalisme itu.

Singkat kata, pulanglah keduanya seraya membayangkan senyum yang akan kembali terukir di bibir sang guru. Begitu sampai di pondok, keduanya lantas mempersembahkan burung beo baru tersebut ke hadapan Sang Kiai.

"Apa ini?" tanya Sang Kiai.

"Ini adalah beo istimewa untuk panjenengan," jawab santri senior.

"Maksudmu?

"Ini adalah beo istimewa yang tidak hanya bisa berdzikir seperti beo panjenengan yang mati itu," jawab santri senior. "Tapi beo ini juga bisa berteriak Merdeka!..." imbuh si santri senior.

"Lantas, untuk apa?"

"Untuk... untuk..."

"Untuk mengobati rasa kehilangan panjenengan atas beo panjengan yang mati tempo hari," serobot si santri pemberi saran.

Bukan senyum yang mereka dapatkan sebagaimana harapan mereka, melainkan isak sesungukan Sang Kiai diiringi dengan buliran beling yang mengalir dari sudut mata beliau.

"Kalau hanya untuk membeli beo yang sama atau bahkan lebih istimewa dari beo yang mati beberapa hari lalu itu, aku bisa beli sendiri," dawuh Sang Kiai akhirnya.

Kedua santri yang bertugas mencari dan mempersembahkan beo baru yang lebih istimewa itu pun saling berpandangan. Weladalah! Kenapa mereka bisa lupa dengan kemungkinan itu? Tentu saja Sang Kiai bisa membeli seekor beo baru untuk menggantikan si beo yang mati, bahkan lima atau sepuluh beo sekaligus. Lantas, jika demikian, apa yang membuat Sang Kiai bersedih?

"Terima kasih kalian telah berusaha untuk menghilangkan kesedihanku, meskipun kalian masih belum tahu dengan perkara apa yang membuatku sedih," dawuh Sang Kiai lagi.

Kali ini si santri senior dan si santri pemberi saran hanya mampu menekuri lantai.

"Tahukah kalian apa yang telah membuatku sedih?" tanya Sang Kiai sejurus kemudian.

Si santri senior dan si santri pemberi saran semakin menancapkan pandangan mata mereka menembus lantai.

"Ketahuilah bahwa yang membuatku sedih itu bukanlah kematian si beo... yang membuat ku sedih adalah kata-kata yang keluar dari paruhnya saat diterkam oleh si kucing," lanjut Sang Kiai.  "Beo yang sudah sekian lama bersama kita selalu melafalkan dzikir yang beragam itu hanya mampu berteriak Kaak... kak... kaak... saat meregang nyawa. Lantas, bagaimana dengan kita? Kata seperti apa gerangan yang kelak akan keluar dari lisan kita saat bersua Malaikat Izrail nanti?"

 

Gunungpati Semarang, 5 November 2013

Terinspirasi dari wejangan Habib Umar Muthohar saat saya menemani beberapa orang teman untuk sowan ke ndalem beliau.

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Sabtu, 02 Desember 2017

Lembaga Pertanian NU Mesti Sering Sapa Petani

Jombang, Mujahidin Cyber. Banyak orang yang tidak mengetahui keberadaan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama atau LPPNU. Termasuk warga dan pengurus NU sendiri. Upaya memperkenalkan kiprah lembaga ini harus terus dilakukan.

Lembaga Pertanian NU Mesti Sering Sapa Petani (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Pertanian NU Mesti Sering Sapa Petani (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Pertanian NU Mesti Sering Sapa Petani

Keluhan akan  hal ini disampaikan Ketua Pengurus Wilayah LPPNU Jawa Timur Wazir Wicaksono saat bertemu sejumlah kelompok tani dan perikanan, serta pegiat UMKM di Jombang, Jawa Timur, Rabu (25/3). Kenyataan ini harus menjadi acuan bagi pengurus untuk kerap menyapa masyarakat, khususnya petani.

“Padahal kalau kita membuka sejarah, peran NU dalam membina dan mendampingi petani telah teruji,” katanya. Saat peristiwa Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) tahun 1965, NU telah mendampingi petani dengan Pertanu atau Persatuan Tani Nahdlatul Ulama, lanjutnya.

Mujahidin Cyber

Dengan kiprah dan rentang sejarah yang demikian panjang ini semestinya warga NU sudah bisa memahami kiprah NU dalam mendamping petani. “Namun kalau kemudian sekarang banyak yang mempertanyakan, mungkin hal tersebut terkait intensitas para pengurus LP2NU dalam mendampingi petani,” tandas pria yang kerap disapa Pak Wazir ini.

Mujahidin Cyber

Seiring dengan perkembangan zaman, ada banyak tugas berat yang diemban oleh LPPNU. “Yang kita urusi di samping pertanian, juga perkebunan dan peternakan,” ungkap Pak Wazir. Demikian juga kelautan dan perikanan, hutan dan tata ruang, energi hayati, pembangunan desa hingga lingkungan hidup, lanjutnya.

“Praktis, dengan tugas yang kian besar itu mengharuskan kami untuk bisa menjadi tempat berdiskusi dan dimintai pertimbangan terkait peraturan yang akan digulirkan,” terangnya.

Kendati demikian, tugas utama dari kepengurusan LPPNU di sejumlah tingkatan adalah melakukan pendidikan kepada petani. “Karena zaman telah berubah maka para petani harus selalu diberikan informasi terkait perkembangan pertanian terbaru,” ungkapnya.

Yang terbaru adalah akan diberlakukannya peringatan dini terkait perubahan cuaca di beberapa daerah. “Ini sangat penting agar petani bisa melakukan persiapan bagi komoditas yang akan ditanam,” terangnya. Karena musin yang ada selama ini kurang bersahabat dan kadang di luar prediksi, lanjutnya.

Dengan pantauan satelit yang bisa diakses di sejumlah desa tersebut, maka para petani dapat dengan tepat menanam tanaman yang sesuai dengan musimnya.  “Karena ilmu yang selama ini digunakan untuk memprediksi musim ternyata tidak sesuai dalam kenyataan,” katanya. Hal ini terbukti, ada yang menanam komoditas tertentu lantaran diperkirakan memasuki musim kemarau, namun ternyata masih terjadi hujan. Akibatnya, tanaman gagal panen dan sejenisnya.

“Tugas berat inilah yang diemban pengurus LPPNU di daerah agar keberadaannya semakin dirasakan masyarakat, khususnya petani,” pungkas Pak Wazir. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Pahlawan, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Sabtu, 18 November 2017

KH Hasyim Muzadi "Banjir" Pujian dan Ucapan Selamat

Gagal menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) pada pemilihan presiden 2004 lalu, justru sukses menjadi presiden. Namun yang ini beda, bukan Presiden RI, melainkan Presiden Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian (World Conference on Religion and Peace/WCRP).

KH Hasyim Muzadi, ya, dialah sang presiden itu. Presiden WCRP, sebuah organisasi lintas agama yang menghimpun tokoh-tokoh berbagai agama dari seluruh dunia dalam upaya mewujudkan perdamaian dunia. Terpilihnya menduduki jabatan cukup bergengsi itu justru karena ia tak bersedia dicalonkan. Namun, komitmen dan kiprahnya dalam upaya menciptakan kehidupan beragama yang rukun dan damai, ‘memaksa’ ia untuk menerima amanah itu.

Hasyim, demikian panggilan akrab tokoh yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) itu terpilih sebagai salah satu presiden mewakili muslim (Sunni) Indonesia dalam sebuah konferensi yang dihadiri 600-an tokoh dari 20 agama dari 100 negara di dunia di Kyoto, Jepang, 25-29 Agustus lalu.

KH Hasyim Muzadi Banjir Pujian dan Ucapan Selamat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi Banjir Pujian dan Ucapan Selamat (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi "Banjir" Pujian dan Ucapan Selamat

Tak ayal, pemimpin tertinggi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam, Malang, Jawa Timur ini “kebanjiran” ucapan selamat. Ucapan selamat itu benar-benar istmewa. Pasalnya, bukan berbentuk karangan bunga atau sekotak iklan di sebuah surat kabar—sebagaimana layaknya ucapan selamat untuk seorang pejabat atau petinggi negara—melainkan langsung dari para tokoh, pemimpin dan pemuka agama di tanah air.

Dalam sebuah acara Temu Pemuka Agama di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (18/9) kemarin, berkumpullah tokoh, pemimpin dan pemuka agama di Indonesia. Sejumlah tokoh, sedikitnya mewakili 9 agama di Indonesia memberikan ucapan selamat kepada Hasyim pada acara yang digelar PBNU bekerja sama dengan Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) itu. Ke-9 agama itu antara lain, Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, Konghucu, Bahai, Sikh dan Penghayat.

Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Kardinal Julius Darmaatmadja yang mewakili umat Katolik mengatakan, terpilihnya Hasyim menjadi Presiden WCRP merupakan sebuah kehormatan tersendiri bagi bangsa Indonesia, khususnya umat beragama di Indonesia. Keberagaman agama yang dimiliki bangsa Indonesia, katanya, memang memerlukan figur seperti Hasyim yang dinilai mampu mewujudkan misi kerukunan antarumat beragama serta perdamaian dunia.

“Semoga kita bangsa Indonesia mendapat siraman damai dari beliau (Hasyim, red). Damai Indonesia, damai dunia,” ucap Romo Kardinal , demikian panggilan akrab pemimpin tertinggi umat katolik di Indonesia ini.

Mujahidin Cyber

Tak jauh berbeda, mewakili umat Protestan di Indonesia, Pdt Andreas Yewangoe yang juga Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) turut mengucapkan selamat kepada mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jawa Timur itu. Ia juga menyatakan dukungan terhadap terhadap Hasyim dalam posisinya sebagai presiden di organisasi yang didirikan pada tahun 1970 dan saat ini berpusat di Markas PBB, di New York, Amerika Serikat itu.

Dari sekian tokoh yang menyampaikan pandangan dalam pidatonya, pernyataan yang cukup menarik dikemukakan Bikhu Dharmasubu Thea, wakil dari pemeluk agama Budha. Bikhu yang juga Ketua Konferensi Agung Sangha Indonesia (KASI) ini, mengandaikan Hasyim mampu menjadi seperti Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri (1135-1159). Jayabaya adalah tokoh asal Jawa Timur yang memiliki reputasi internasional di zamannya.

Mujahidin Cyber

“Sama-sama putra Jawa Timur-nya. Jayabaya dari Jawa Timur, Pak Hasyim Muzadi juga begitu. Semoga beliau juga bisa menjadi penerus Jayabaya,” kata Bikhu Dharmasubu disambut tepuk tangan para hadirin yang memenuhi ruang pertemuan itu.

Bikhu Dharmasubu juga mengatakan, didaulatnya Hasyim menjadi presiden WCRP bukanlah untuk mengharapkan sesuatu, melainkan sebaliknya. “Saya yakin beliau menjadi Presiden WCRP tidak untuk berharap mendapatkan sesuatu, tetapi untuk memberikan sesuatu. Sesuatu itu adalah melestarikan kerukunan antarumat beragama serta perdamaian dunia,” terangnya yang sekali lagi disambut tepuk tangan gemuruh.

Tak ketinggalan, masing-masing tokoh yang mewakili umat Hindu, Konghucu, Konghucu, Bahai, Sikh dan Penghayat juga menyampaikan hal serupa. Mereka juga satu kata mendukung serta siap membantu apa yang akan dilakukan Hasyim di WCRP, terutama dalam rangka mewujudkan perdamaian dan kerukunan antarumat beragama.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) I Nyoman Suwandha mengatakan, hal yang lebih penting dilakukan sebagai tindak lanjut dari konferensi di Kyoto itu adalah tidak saja mengadakan dialog antarumat beragama, melainkan juga bekerja samaDari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber PonPes, Pondok Pesantren, Tegal Mujahidin Cyber

Selasa, 07 November 2017

Ramadhan, Ansor Tasikmalaya Adakan Tadarus Kitab KH Hasyim Asy’ari

Tasikmalaya, Mujahidin Cyber. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tasikmalaya melalui Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor menyelenggarakan Tadarus Ramadhan.

Pada kegiatan ini mereka mengkaji kitab “Risalah Ahlussunah wal Jamaah” karya Hadlratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Tadarus Ramadhan diselenggarakan sejak Selasa 30 Mei 2017 di gedung PCNU Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Ramadhan, Ansor Tasikmalaya Adakan Tadarus Kitab KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Ansor Tasikmalaya Adakan Tadarus Kitab KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Ansor Tasikmalaya Adakan Tadarus Kitab KH Hasyim Asy’ari

Pada kesempatan tersebut hadir lebih 80 santri dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tasikmalaya. Mereka sangat tergerak untuk mengikuti kajian kitab karangan pendiri Nahdlatul Ulama tersebut.

?

Mujahidin Cyber

Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh kiyai muda yang sekaligus Ketua Rijalul Ansor Kabupaten Tasikmalaya Aa Fuad Muchlis dan Direktur Aswaja Centre Kabupaten Tasikmalaya Yayan Bunyamin.?

“Kegiatan ini berlanjut selama bulan Ramadhan dilaksanakan tiap hari bakda shalat tarawih sampai selesai,” kata Aa Fuad.

Saat ditanya mengapa kitab Risalah Ahlussunah wal Jamaah yang dikaji, ia menjawab bahwa kitab tersebut wajib dipahami oleh para santri NU.

“Terlebih dalam segala amalan-amalan NU Supaya tidak menjadi NU yang keblinger,” jelas Aa Fuad.

Ketua PC Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Tasikmalaya Asep Muslim menyambut baik Tadarus Ramadhan ini. Asep menyampaikan kajian kitab kuning seperti ini perlu dipertahankan sebagai khasanah santri NU.

Mujahidin Cyber

“Jadikan ngalogat (mengkaji) kitab sebagai budaya santri NU apalagi kitab karya Mbah Hasyim,” tegas Asep.?

Asep menyampaikan pesan kepada seluruh peserta pengajian dalam bahasa Sunda, ”Ngaku wae santri Mbah Hasyim ari kitabna teu pernah di baca (Hanya mengaku-aku saja sebagai santri Mbah Hasyim padahal kitabnya tidak pernah dibaca).” (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pondok Pesantren, PonPes Mujahidin Cyber

Selasa, 19 September 2017

Mensos Khofifah Ajak Sineas Muda Angkat Film Bertema Sosial

Jakarta, Mujahidin Cyber. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa ingatkan sineas muda Indonesia konsisten dalam berkarya dan menghadirkan film-film berkualitas dan mengangkat tema yang menarik.?

"Jadi tidak hanya mengedepankan horor dan menyerempet eksploitasi seks semata," ungkap Khofifah disela-sela acara nonton bersama film Kartini di Studio XXI Plaza Senayan, Jumat (7/4).

Mensos Khofifah Ajak Sineas Muda Angkat Film Bertema Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Ajak Sineas Muda Angkat Film Bertema Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Ajak Sineas Muda Angkat Film Bertema Sosial

Beragamnya tema, kata Khofifah, dapat membuat gairah perfilman Indonesia semakin baik, produktif dan berkualitas. Menurutnya, tema-tema sosial sangat jarang diangkat. Berbeda dengan tema cinta yang begitu mudah dijumpai.?

Padahal tema sosial, lanjutnya, cukup menarik karena mampu membangun kepedulian sosial, setia kawan, kepahlawanan, dan lain sebagainya. Khofifah mengatakan, film bisa menjadi alat kampanye sosial efektif jika disajikan secara kreatif dan kekinian.?

"Film seperti Laskar Pelangi atau Habibie Ainun tidak hanya menarik untuk ditonton, tapi banyak pesan moral yang bisa diambil dari tiap scene. Termasuk film Kartini yang hari ini saya tonton karena sarat pesan pendidikan dan nilai-nilai perjuangan kesetaraan serta emansipasi," ujarnya.?

Mujahidin Cyber

Khofifah mengungkapkan, jika dikontekskan dengan era kekinian, "Kartini-Kartini Indonesia" harus menjadi perempuan yang sehat, cerdas, dan peduli kepada yang lemah tanpa meninggalkan kodratnya.?

Menjadi penting, tambahnya, karena perempuan adalah pondasi dan ibu bangsa. Hal ini bukan isapan jempol, mengingat setiap perempuan adalah guru dan pengajar, minimal bagi anaknya sendiri.

"Ibu adalah madrasah pertama dan utama bagi anak. Peran ini sangat fundamental karena akan berimplikasi kepada ketahanan keluarga yang tentunya bermuara pada ketahanan nasional," imbuhnya. ?

Mujahidin Cyber

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga memuji alur cerita film Kartini garapan sutradara Hanung Bramantyo yang menurutnya sangat runtut, dan mampu memainkan emosi penonton.?

"Filmnya bagus, banyak pesan dan nilai perjuangan perempuan dalam meraih kesempatan pendidikan dan kesantunan yang bisa diambil oleh generasi muda. Banyak-banyak baca buku dan menulis," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Jadwal Kajian, Aswaja, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Jumat, 27 Januari 2017

Dilantik, Fatayat NU Banten Luncurkan Buletin dan Pengajian Aswaja

Tangerang, Mujahidin Cyber. Para pengurus Pimpinan Wilayah Fatayat NU Banten periode 2013-2018 akhirnya dilantik, Sabtu (8/2), setelah Konferensi Wilayah menetapkan kepemimpinan baru pada September 2013 lalu. Prosesi pengukuhan dipimpin Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Dra Hj Ida Fauziyah di Tangerang, Banten.

Selain rapat kerja wilayah (Rakerwil), pelantikan dilanjutkan dengan peluncuran buletin dan pengajian Aswaja. Ketua PW Fatayat NU baru, Miftahul Janah mengatakan, buletin tersebut merupakan salah satu upaya meningkatkan kualitas perempuan Indonesia melalui jaringan media.

Dilantik, Fatayat NU Banten Luncurkan Buletin dan Pengajian Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Fatayat NU Banten Luncurkan Buletin dan Pengajian Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Fatayat NU Banten Luncurkan Buletin dan Pengajian Aswaja

“Informasi menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh semua orang, semua kalangan baik itu instansi pemerintah maupun swasta, perorangan ataupun organisasi bahkan negara,” ujarnya.

Mujahidin Cyber

Menurut Miftahul Janah, buletin tersebut dapat pula menjadi sarana kian tersosialisasinya Fatayat NU Banten ke masyarakat lebih luas berikut segenap program dan aktivitasnya. Media ini diharapkan menjadi saluran informasi bagi warga hingga ke pelosok daerah, termasuk anggota Fatayat NU sendiri.

Sementara untuk pengajian Aswaja, Fatayat NU Banten berencana akan mencanangkannya sebagai program di setiap cabang Fatayat NU se-Banten. Miftahul Janah menilai? pengajian ini sebagai media untuk terus melestarikan budaya silaturahmi antarpengurus, sekaligus melakukan kajian keagamaan yang berlandaskan Ahlussunah wal Jamaah di lingkungan perempuan Banten.

Mujahidin Cyber

Hadir juga di forum pelantikan bertema “Sukses konsolidasi, sukses kaderisasi sukses organisasi” tersebut Ketua PWNU Banten KH Zainal Mutaqin, Sekum PWNU H. Endad Musaddad, serta jajaran PWNU lainnya dan pemerintah daerah setempat. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pertandingan, Pahlawan, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Senin, 04 Desember 2006

Intrik Politik di Kerajaan Arab Saudi

Oleh Nadirsyah Hosen

Buat kawan-kawan yang tekun membaca serial tulisan sejarah politik Islam yang saya posting (di halaman Facebook Nadirsyah Hosen, red) secara rutin, tentu sudah bisa melihat bagaimana pattern pertarungan antar-keluarga dalam merebut kekuasaan baik di masa Dinasti Umayyah dan juga Abbasiyah.

Kelihatannya sejarah akan berulang di saat perpindahan kekuasaan diperebutkan antar keluarga sendiri di kerajaan Arab Saudi saat ini. Kita akan melihat dengan berdebar-debar bagaimana Putra Mahkota sedang menyiapkan jalan yang mulus untuk menjadi Raja, sementara para pangeran lainnya tengah menunggu manuver berikutnya.

Intrik Politik di Kerajaan Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)
Intrik Politik di Kerajaan Arab Saudi (Sumber Gambar : Nu Online)

Intrik Politik di Kerajaan Arab Saudi

(Baca: Saudi: Kami Akan Kembali ke Islam Moderat, Menjauh dari Wahabi)

Arab Saudi dibangun bukan atas dasar sistem khulafa al-rasyidin. Arab Saudi mencontoh model kerajaan yang dilakukan oleh khalifah Mu’awiyah dan keturunannya. Maka pemimpin dipilih berdasarkan garis keturunan, bukan atas dasar pilihan rakyat.?

Perbedaannya, Arab Saudi selalu dipimpin oleh keturunan Ibn al-Saud. Makanya dari namanya saja, Arab Saudi, itu merupakan kerajaannya Saud dan keluarganya.?

Mujahidin Cyber

Pengganti Saud diambil dari anaknya secara bergantian. Model semacam ini lumayan sukses mencegah pertumpahan darah antar pangeran sampai tiba kelak anak-anak Abdul Azis as-Saud yang jumlahnya banyak banget itu sudah habis atau sudah tua dan tidak mampu memimpin lagi.?

Raja Salman adalah anak ke-25 dan berkuasa saat berusia 79 tahun sejak 2015. Seharusnya sepeninggalnya kelak yang naik adalah saudaranya, yaitu Pangeran Muqrin (saat ini 72 tahun). Tapi dia hanya menjadi putra mahkota 4 bulan dan digantikan oleh Pangeran Muhammad bin Nayef (58 tahun).?

Diangkatnya Pangeran Muhammad bin Nayef semula dianggap merupakan penanda era baru dalam suksesi di Arab Saudi. Ini karena beliau bukan anak Ibn Saud, tapi cucu. Ayahnya Pangeran Nayef as-Saud sebelumnya merupakan putra mahkota di masa kepemimpinan Raja Abdullah. Tapi Pangeran Nayef wafat lebih dulu ketimbang Raja Abdullah. Maka Pangeran Salman yang menjadi putra mahkota dan kemudian menggantikan Raja Abdullah.

Mujahidin Cyber

Diangkatnya Pangeran Muhammad bin Nayef seolah merupakan “kompensasi” terhadap wafatnya ayahandanya yang kemudian gagal menjadi Raja.?

Perlu disampaikan pula di kalangan Bani Saud ini juga ada fraksi atau group khusus. Dikenal dengan sebutan 7 Sudairi. Ini adalah tujuh anak Ibn Saud dari istrinya yang bernama Hussa Sudairi. Raja Fahd (1921-2005) adalah pemuka kelompok ini. Raja Salman dan Pangeran Nayef juga dari kelompok ini. Namun bukan berarti fraksi ini tidak pecah. Pangeran Ahmad, putra ibn Saud yang ke-31, yang paling junior dari kelompok ini (74 tahun) dkeluarkan dari jalur suksesi. Peranannya diganti oleh Pangeran Muqrin, yang sudah saya singgung di atas.

Muqrin pun ternyata dicopot. Lantas Muhammad bin Nayef naik. Tapi hanya dua tahun menjadi Putra Mahkota, Nayef juga dicopot. Lantas siapa yang menggantikan? Nah ini yang membuat percaturan politik semakin seru: yang naik sebagai putra mahkota adalah Pangeran Muhammad bin Salman (MBS) alias putra Raja Salman sendiri.

Belum pernah sebelumnya Raja Arab Saudi selain Ibn Saud menunjuk anaknya sendiri sebagai calon penggantinya. Salman mengubah ini. Sehingga kalau rencana ini berjalan mulus maka dinasti Saud akan diteruskan oleh Dinasti Salman.?

Naiknya MBS ini telah menyingkirkan Pangeran Muqrin dan Pangeran Nayef. MBS maish sangat muda, baru berusia 32 tahun. MBS adalah wajah Arab Saudi masa depan.

Tantangan buat MBS juga besar. Maka dia segera mengonsolidasikan kekuasaannya. Baru-baru ini 49 tokoh berpengaruh, termasuk 11 pangeran, ditangkap atas tuduhan korupsi. Helikopter yang membawa Pangeran Mansour, putra dari Muqrin, yang berusia sekitar 42 tahun dan disebut-sebut saingat berat MBS, kecelakaan dan menewaskan Mansour bin Muqrin. Banyak yang menghubungkan kecelakaan ini dengan perebutan kekuasaan. Entahlah....

Raja Salman dan Pangeran MBS sendiri didukung Amerika dan Israel. Bagaimana suara para ulama di sana? Ternyata MBS juga menangkapi para ulama yang konservatif. MBS berperang dengan Yaman, dan juga bersitegang dengan Qatar.?

Aset pangeran yang ditangkap termasuk Pangeran al-Waleed bin Talal, salah satu orang terkaya di dunia, disita oleh Kerajaan. Arab Saudi memang tengah dilanda kesulitan ekonomi belakangan ini akibat harga minyak yang turun dan perang dengan Yaman.?

Segala cara kini dilakukan MBS untuk melapangkan jalannya menuju kursi kekuasaan. Bahkan dia menjanjikan mengembalikan Arab Saudi ke jalur Islam moderat.

Kelihatannya bukan Islam moderat yang akan MBS tuju. Ini bukan pertarungan antara konservatif dan moderat. Karena kalau serius mau mengembangkan Islam moderat maka Arab Saudi harus membuang ideologi Wahabi mereka, dan juga menetapkan demokrasi bukan lagi sistem kerajaan. Arab Saudi harus mau belajar dari Indonesia. Mungkinkah itu?

Yang saya lihat saat ini adalah pertarungan antara kubu konservatif dan kubu pragmatis di Arab Saudi. Mana yang akan menang?

Akankah sejarah politik Islam masa silam berulang di abad modern ini? Perebutan kekuasaan antar keluarga, politisasi ayat dan hadits, plus peperangan dan pertumpahan darah? Kita menunggu episode berikutnya dari kerajaan Arab Saudi.

Siapkan kopi anda —kali ini bergelas-gelas kopi, karena lakon ini masih panjang. Dan jangan lupa selipkan doa agar perdamaian selalu tercipta, dimanapun itu, termasuk di Arab Saudi.?

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pondok Pesantren, RMI NU, Sholawat Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock