Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

STAINU Jakarta Gelar Bazar dan Bedah Buku Fiqih Indonesia

Bogor, Mujahidin Cyber. Program studi ahwal syakhsiyah STAINU Jakarta menggelar bazar dan bedah buku fikih Indonesia. Kegiatan diadakan di Gedung Kampus B Stainu Jakarta, Parung Bogor, Kamis (29/5).

STAINU Jakarta Gelar Bazar dan Bedah Buku Fiqih Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Gelar Bazar dan Bedah Buku Fiqih Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Gelar Bazar dan Bedah Buku Fiqih Indonesia

Kegiatan yang diawali dengan bazar buku ini sudah dimulai sejak tanggal 20 dan diakhiri dengan bedah buku yang berjudul “Fiqih Indonesia” yang di karang oleh Marzuki Wahid dengan pemateri Ulil Absar Abdala dan KH Husein Muhammad.

Ketua Panitia Bazar dan Bedah buku, Muhammad Nabil mengatakan, kegiatan dilatarbelakangi masih sering terjadinya dualisme hukum yang di alami oleh umat muslim di Indonesia, yaitu antara hukum Islam dan hukum negara.

Mujahidin Cyber

Buku yang ditulis Maruki Wahid menjelaskan perihal CLD-KHI (Counter Leegal Draf Kompilasi Hukum Islam) yang dinilai sesuai dengan dinamika sosial masyarakat Indonesia. CLD merupaan counter dari KHI (Kompilasi Hukum Islam) yang sudah terbentuk pada zaman Orde Baru,” kata Nabil menambahkan.

Mujahidin Cyber

Acara bazar dan bedah buku dihadiri oleh Ketua STAINU Jakarta, Drs Mujib Qolyubi MH dan segenap civitas akademika STAINU serta mahasiswa dari kampus lainnya seperti UIN Jakarta dan PTIQ. (Nizar Presto/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian, Daerah Mujahidin Cyber

Rabu, 31 Januari 2018

Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu

Karanganyar, Mujahidin Cyber. Menjelang datangnya bulan Ramadhan, kalangan abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta yang diutus langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X mengadakan Upacara Labuhan di Gunung Lawu, Jumat (30/5) sore. Dipilihnya Gunung Lawu sebagai lokasi upacara karena dulu sempat dijadikan tempat pertapaan para Raja Mataram.

Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu

Dalam Upacara Labuhan ini, juru kunci Gunung Lawu dipasrahi ubo rampe atau sesaji oleh para abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta. Ubo rampe tersebut dimaksudkan sebagai lambang terima kasih kepada Allah swt. yang memberi keberkahan bagi masyarakat setempat.

Tradisi ini rutin dilakukan setiap tanggal 30 Rajab atau sebulan sebelum memasuki bulan Ramadan. “Ini juga sebagai ungkapan syukur kepada leluhur yang telah membantu berjuang untuk Kerajaan Mataram di masa lalu,” kata Abdi Dalem Widyo Budoyo, Kanjeng Mas Tumenggung Hardoyudo.

Mujahidin Cyber

Abdi dalem telah menyiapkan ubo rampe yang dimasukkan dalam dua kotak kayu berwarna merah yang bertuliskan Redi Lawu Kanemah dan Redi Lawu Kasepuhan. Selain ubo rampe, juru kunci gunung setinggi 3.265 meter ini juga diberikan kain adat jawa oleh abdi dalem.

Mujahidin Cyber

Setelah diterima, aneka ubo rampe dibawa ke Pepunden di Dusun Nano, Desa Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu untuk diarak bersama warga setempat. Untuk kemudian tepat pada pertengahan malam, dibawa naik ke puncak Lawu.

Kepala Lingkungan Dusun Nano, Surono mengaku senang bisa menyambut para utusan Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Ini memang sebuah tradisi yang harus dipertahankan,” tuturnya. (Rodif/Ajie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Daerah, Pemurnian Aqidah, Aswaja Mujahidin Cyber

Kamis, 11 Januari 2018

Mbah Moen: Kiai Harus Pandai Baca Tanda-tanda Zaman

Salatiga, Mujahidin Cyber - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang KH Maimoen Zubair hadir dalam acara Multaqo Kebangsaan, di Pondok Pesantren Wakaf Literasi Islam Indonesia (WALI) Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu (2/12).

Dalam kesempatan itu, Mbah Moen berpesan kepada para peserta yang terdiri atas kiai muda pengasuh pondok pesantren se-Jawa Tengah. Menurutnya, sebagai calon pengganti kiai yang sudah sepuh, mereka yang masih muda mesti mengantisipasi perubahan zaman.

Mbah Moen: Kiai Harus Pandai Baca Tanda-tanda Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen: Kiai Harus Pandai Baca Tanda-tanda Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen: Kiai Harus Pandai Baca Tanda-tanda Zaman

“Para kiai muda adalah calon pengganti kiai-kiai yang sudah senior. Karenanya para kiai muda harus pandai membaca tanda-tanda zaman dan mempersiapkan antisipasi perubahan zaman,” tutur Mustasyar PBNU itu.

Mujahidin Cyber

Selain itu, para kiai muda harus juga harus selalu siap dalam menghadapi ujian-ujian di masa mendatang yang saat ini mungkin belum kelihatan.

Mbah Moen memberikan semangat kepada para kiai muda agar tetap optimis dalam menyebarkan ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Mujahidin Cyber

“Saya mendukung setiap langkah para kiai muda dalam menempa diri dan menjalin komunikasi untuk menghadapi masa depan dengan optimis dan penuh semangat,” katanya.

Forum Multaqo Kebangsaan ini juga diselenggarakan beberapa rangkaian kegiatan, antara lain Ngaji Jurnalistik dan Seminar Regional yang mengangkat tema Nilai-Nilai Ukhuwah dalam Tradisi Pendidikan Pesantren. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kiai, Daerah, Tokoh Mujahidin Cyber

Selasa, 02 Januari 2018

Tiga Hari, PAC Ansor Sampung-Sukorejo Sibuk

Ponorogo, Mujahidin Cyber. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Sampung berkolaborasi dengan PAC GP Ansor Sukorejo menyelenggarakan rangkaian acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selama tiga hari berturut-turut, mulai Jum’at (1/2) sampai dengan Ahad (3/2). Tiga acara besar dilaksanakan dengan sukses.

Tiga Hari, PAC Ansor Sampung-Sukorejo Sibuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Hari, PAC Ansor Sampung-Sukorejo Sibuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Hari, PAC Ansor Sampung-Sukorejo Sibuk

Pada hari Jum’at, pengajian maulid menghadirkan pembicara KH Marzuki Mustamar (Ketua PCNU Kota Malang). Bersama masyarakat Desa Poh Ijo didukung oleh Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor PC GP Ansor Ponoro pada hari Sabtu (2/2) malam digelar Istighostah dalam rangka haul Gus Dur.

Pada Ahad (3/2) giliran Satkorcab Banser Ponorogo menggelar pembaretan alumni Diklatsar Banser. Acara terakhir ini tidak lepas dari campur tangan dua PAC di wilayah barat laut Ponorogo ini.

Mujahidin Cyber

Pengajian bersama KH Marzuki Mustamar menyisakan kesan tersendiri bagi masyarakat. Betapa tidak, lazimnya pengajian baru dimulai pukul 20.00 WIB, tapi kali ini pada pukul 18.30 dimulai dan pukul 20.00 WIB pengajian sudah selesai. Pasalnya, KH. Marzuki Mustamar masih harus tampil di dua tempat, di Pendopo Kabupaten Ponorogo dan Desa Josari dalam tema yang sama.

Mujahidin Cyber

“Seumur-umur baru kali ini saya mengikuti pengajian yang selesai pada pukul 20.00 WIB. Alhamdulillah, pengunjung membludak dan kerja panitia memuaskan,” ungkap Soegijanto, Kepala Desa Poh Ijo. Pria bertubuh tinggi besar yang terkenal dermawan ini sangat berperan penting atas kesuksesan acara ini.

Gairah pengajian sehari sebelumnya rupanya berimbas pada acara hari kedua. Jama’ah Istighosah sudah mulai menyemut selepas maghrib meskipun acara baru direncanakan setelah Isya’. Syaiful Islam selaku koordinator Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor PC GP Ansor Ponorogo memimpin istighostah disambung dengan lantunan shalawat al-banjari yang dipersembahkan oleh PAC IPNU Sukorejo. Jama’ah istigostah begitu larut menghayati setiap bait lantunan shalawat. Acara ini juga dihadiri Syamsul Ma’arif Sekretaris PC GP Ansor Ponorogo. 

Hari terakhir menjadi puncak kesuksesan acara. Supriyanto selaku Ketua PAC GP Ansor Sukorejo terlihat bersemangat memimpin barisan parade budaya mengiringi barisan alumni Diklatsar yang melakukan long march dari Desa Poh Ijo menuju Desa Tulung. Rute ini menempuh jarak 16 km.

“Capek rasanya tidak terasa begitu kaki menginjakkan kaki di Tulung. Semula diperkirakan 5-6 jam baru sampai, ini 4 jam lebih sedikit sudah finish, padahal peserta berjalan pelan karena harus mengiringi parade budaya,” kata Supriyanto yang sehari-hari bekerja sebagai guru MA ini.

Parade budaya yang pelaksanaannya dibawah kendali Muhaimin dari PAC Sukorejo menampilkan kesenian Gajah-gajahan dan drumband dari 4 sekolah, yaitu SDN Pohijo, MTsN Bogem Sampung, MTs Al-Azhar Carangrejo dan RA Muslimat Tulung. Menurut Moh. Mas’ud Ketua PAC Sukorejo, para peserta parade budaya menawarkan diri ikut tampil tanpa dihubungi panitia.

“Awalnya kami merasa bingung, bagaimana mengemasnya, tapi akhirnya lancar juga,” kata pria yang baru saja menikah ini.

Sebanyak 100 orang alumni Diklatsar mengikuti pembaretan dipimpin Ahmad Subkhi al Kalibek Kasatkorcab Banser Ponorogo. Sebelumnya Idam Mustofa Pjs Ketua PC GP Ansor Ponorogo didaulat menyampaikan sambutan. Semua Kasatkoryon dan jajaran Satkorcab berkenan menyematkan baret kepada 10 anggota yang pada malam sebelumnya berhasil menemukan pin Diklatsar.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : M. Wahid

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Ubudiyah, Ahlussunnah, Daerah Mujahidin Cyber

Sabtu, 30 Desember 2017

14 Tahun Mengabarkan, NU Online Butuh Teman

Jakarta, Mujahidin Cyber?



Direktur Mujahidin Cyber Savic Ali mengatakan, di usia 14 tahun, Mujahidin Cyber terus konsisten untuk menyampaikan konten Islam Ahlussunah wal-Jama’ah yang bervisi damai dan kebangsaan. Saat ini, Mujahidin Cyber berada pada posisi lima besar media Islam dan mengatasnamakan Islam di Indonesia.?

Hal itu, di satu sisi menggembirakan, tapi di sisi lain sangat disayangkan. Menurut Savic, disebut menggembirakan karena itu berarti Mujahidin Cyber masih diterima pembaca dan terus meningkat.?

14 Tahun Mengabarkan, NU Online Butuh Teman (Sumber Gambar : Nu Online)
14 Tahun Mengabarkan, NU Online Butuh Teman (Sumber Gambar : Nu Online)

14 Tahun Mengabarkan, NU Online Butuh Teman

Disebut disayangkan karena pada lima besar situs populer Islam itu, hanya Mujahidin Cyber yang memiliki komitmen Islam Ahlussunah wal-Jama’ah yang bervisi damai dan kebangsaan. Bahkan, hingga posisi 20, tak ada yang sevisi dengan Mujahidin Cyber. ? ?

Mujahidin Cyber butuh teman,” katanya pada saat ia menjadi moderator Halal Bihalal dan Sarasehan Netizen NU di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Rabu (12/7) sore.

Mujahidin Cyber

Hal ini, menjadi tantangan besar para netizen NU untuk tetap menjaga konsistensi NU dan mengupayakan menemaninya dengan situs-situs lain yang bervisi serupa. Karena, kalau dibiarkan, masyarakat Muslim Indonesia akan mengkonsumsi konten-konten dari kelompok yang tidak bervisi Islam damai dan kebangsaan.

Menurut dia, jika situs-situs semacam itu menjadi konsumen masyarakat kota, terutama anak muda, terbukti melahirkan generasi muda yang merasa paling islami, merasa paling benar dan perilaku kasar jika bertemu dengan pendapat yang berbeda dengannya.

“Kita berharap Mujahidin Cyber jadi nomor satu dan punya teman, jaringannya,” kata peria kelahiran Pati, Jawa Tengah itu. ?

Soal jaringan, menurut dia, NU besar bukan karena strukturnya, tapi jaringan pesantrennya yang ada di mana-mana.?

Mujahidin Cyber

“NU besar karena jaringan pesantren. Keberhasilan Mujahidin Cyber juga karena jaringan,” pungkasnya.?

Pemimpin Redaksi Mujahidin Cyber A. Mukafi Niam juga berharap hal yang sama, sebagai sumber informasi warga NU dan Muslim moderat, Mujahidin Cyber akan bersinergi dengan para netizen NU untuk membangun kekuatan dengan untuk Islam rahmatan lilalamin dan Indonesia damai.

“Empat belas tahun, Mujahidin Cyber memasuki usia remaja, harus banyak belajar,” katanya. ? (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Daerah, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Selasa, 26 Desember 2017

GP Ansor Songgom Isi HUT RI dengan Pelantikan Pengurus Baru

Brebes, Mujahidin Cyber    . Pemuda Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Songgom  mengadakan pengajian umum sekaligus pelantikan pengurus baru masa khidmah 2015–2018.

GP Ansor Songgom Isi HUT RI dengan Pelantikan Pengurus Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Songgom Isi HUT RI dengan Pelantikan Pengurus Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Songgom Isi HUT RI dengan Pelantikan Pengurus Baru

Pelantikan yang mewarnai peringatan HUT ke-70 kemerdekaan RI di halaman masjid Uswatun Khasanah Desa Dukuhmaja, Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes (16/8), ini mengambil tema  “Menjaga Aswaja Nahdlatul Ulama untuk Kejayaan NKRI”.

Ketua Panitia Ahmad Zacky Al Aman berharap, pelantikan yang sengaja digelar dalam momentum HUT RI ke-70 bisa mengingatkan generasi muda tentang beratnya peran pahlawan dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Mujahidin Cyber

“Mulai hari ini momentum 70 tahun Indonesia merdeka sesuai dengan tema nasional Gerakan Ayo Kerja  kita bantu pemerintah menyukseskan pembangunan daerah juga pembangunan nasional,” teriak Zacky sambil mengepalkan tangan.

KH Syarifudin yang juga pengurus wilayah GP Ansor Jawa Tengah dalam mauidzoh khasanahnya mengatakan bahwa GP ANSOR adalah tulang punggung Jam’iyah Nahdlatul Ulama sekaligus tulang punggung Bangsa. Kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia merupakan jerih payah rakyat Indonesia bukan pemberian dari penjajah. Peran Ulama dan santri dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan NKRI tidak bisa dipandang remeh. Begitu vitalnya peran Ulama dan Santri khususnya pada peristiwa resolusi jihad Nahdlatul Ulama yang dicetuskan Hadrotus Syeikh KH Hasyim Asyari.

Mujahidin Cyber

“Oleh karena itu, salah satu rekomendasi dari Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, yang lalu salah satunya agar tanggal 22 Oktober diperingati sebagai hari Santri Nasional untuk menghargai jasa santri di seluruh Indonesia dan juga 1 Juni sebagai hari lahirnya pancasila,” kata Gus Syarif, panggilan akrabnya.

“Sekali lagi momentum HUT RI ke 70 dan pelantikan GP Ansor  Kecamatan Songgom kita bangun generasi muda yang siap mempertahankan Aqidah Ahlussunah Wal Jama’ah Annahdliyah. GP Ansor dan Banser siap jadi garda terdepan untuk mempertahankan NKRI dari faham radikalisme yang akan menggangu kedaulatan Negara kita. PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD’45)  adalah harga mati,” tandasnya.

Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor Songgom masa khidmat 2015–2018 yang dilantik antara lain Ketua Kholidin, Sekretaris Ahmad Zacky Al Aman dan Bendahara Andi Purnomo.

Turut hadir dalam acara tersebut Camat Songgom Gunarto, Ketua MWCNU Songgom H Harun, Ketua PC GP Ansor Kabupaten Brebes Ahmad Munsip,  keluarga besar Nahdlatul Ulama Songgom, Muslimat, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, dan ratusan warga Dukuhmaja Songgom. (Wasdiun/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Daerah Mujahidin Cyber

Sabtu, 23 Desember 2017

Setelah Yasinan, PMII Diskusi Pemikiran Ibnu Khaldun

Yogyakarta, Mujahidin Cyber? . Diskusi, aksi dan refleksi merupakan trias organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tradisi diskusi merupakan agenda rutin malam Jumatan PMII Humaniora Park Rayon Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Universitas Islam Negeri Yogyakarta yang dilaksanakan setelah Yasinan.?

Kamis (12/3) jam 19.30 WIB PMII Humaniora Park kembali mengadakan diskusi yang dipandu langsung oleh pengurus Rayon. Ahmad Riyanto membahas tentang konsep ashabiyah Ibnu Khaldun yang berkaitan dengan solidaritas kelompok.?

Setelah Yasinan, PMII Diskusi Pemikiran Ibnu Khaldun (Sumber Gambar : Nu Online)
Setelah Yasinan, PMII Diskusi Pemikiran Ibnu Khaldun (Sumber Gambar : Nu Online)

Setelah Yasinan, PMII Diskusi Pemikiran Ibnu Khaldun

Referensi buku yang digunakan dalam diskusi tersebut berjudul “Muqaddimah: karya Ibnu Khaldun”. Dalam buku tersebut memiliki banyak bahasan, diantaranya adalah sejarah, ekonomi, politik dan lingkungan sosial. ?

Mujahidin Cyber

Ahmad Riyanto menegaskan konsep ashabiyah hanya berlaku bagi masyarakat nomaden. Dalam masyarakat Arab lebih dikenal dengan istilah kafilah. Namun masyarakat yang nomaden pada akhirnya akan menetap jika menemukan tempat yang membuatnya bertahan hidup. Apabila masyarakat mulai menetap maka dengan sendirinya Ashabiyah sedikit demi sedikit akan hilang.?

Mujahidin Cyber

Ia menambahkan, pemikiran Ibnu Khaldun memiliki kemiripan dengan pemikirannya Emile Durkheim. ”Pemikirannya Ibnu khaldun sama dengan pemikirannya Durkheim tentang solidaritas mekanik dan organik”. Hanya saja, lanjut dia, pada waktu itu Ibnu Khaldun belum membagi secara spesifik masyarakat desa dan kota.?

Sementara Asep Mahfud selaku peserta diskusi mebenarkan hal yang demikian. Karena Ibnu Khaldun lahir duluan dibandingkan dengan Durkheim. ”Saya ingat perkataaannya dosen saya Pak Andi, bahwasanya Durkheim dicurigai menjiplak pemikiran Ibnu khaldun”.

Dalam teorinya Ibnu Khaldun disebutkan ketika masyarakat berada dalam tatanan masyarakat yang berkelompok. Maka kehidupan masyarakat penuh dengan berbagai aturan dan kesepakatan bersama dalam masyarakat. ? Untuk mengkontektualisasikan teori ? Durkheim secara geografis ? antara kota dan desa saat ini mengalami kesulitan. “Apalagi saat ini juga ada istilah masyarakat pinggiran kota”, ungkap Ahmad Riyanto.

Thoriq, peserta diskusi juga berpendapat, untuk membedakan masyarakat kota dan desa secara sistem sosial adalah dengan cara melihat perilaku masyarakat yang ada. “Kalau di desa sangat kental dengan istilah gotong-royong, sedangkan di kota sudah terkotak-kotak sesuai dengan pekerjaan. Hal itulah yang menjadi ciri khas kota dan desa”,ujarnya. (Hendris/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Daerah, Cerita Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock