Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Organisasi Sipil Suriah Puji Peran Indonesia dalam Upaya Rekonsiliasi

Damaskus, Mujahidin Cyber. Organisasi Inisiatif Sipil untuk Rekonsiliasi Nasional Suriah, mengapresiasi sikap politik Indonesia yang ikut membantu dalam upaya rekonsiliasi terhadap konflik yang terjadi di Suriah.

?

Organisasi Sipil Suriah Puji Peran Indonesia dalam Upaya Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi Sipil Suriah Puji Peran Indonesia dalam Upaya Rekonsiliasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi Sipil Suriah Puji Peran Indonesia dalam Upaya Rekonsiliasi

"Saya kagum atas sikap Indonesia dalam menyikapi krisis di Suriah, dimana selalu menekankan mendorong solusi politik dan rekonsiliasi dengan tetap menghormati kedaulatan Suriah. Indonesia adalah contoh negara Muslim moderat yang dapat diterima oleh semua pihak,” ungkap Ketua Organisasi Inisiatif Sipil untuk Rekonsiliasi Nasional Suriah, Syeikh Jabir Mahmud Isa saat buka bersama di hotel Damarose, Damaskus, Jumat (25/6) waktu setempat.?

Menurut Syeikh Jabir, sikap politik Indonesia terhadap konflik Suriah sangat berbeda dengan negara lain yang justru malah mengintervensi sehingga hanya memperlambat proses rekonsiliasi dan perdamaian, memperpanjang krisis serta penderitaan di Suriah.?

Dijelaskan pula oleh Syeikh Jabir bahwa Organisasi Inisiatif Sipil untuk Rekonsiliasi Nasional Suriah merupakan inisiatif sipil independen kemanusiaan, bukan dibawah Pemerintah Suriah, yang bertujuan untuk membantu para warga Suriah yang bergabung dengan pemberontak agar dapat reintegrasi dan hidup normal kembali sebagai rakyat sipil setelah menyerahkan diri kepada pemerintah. Organisasi ini juga membantu membebaskan tentara atau warga Suriah yang diculik atau ditahan oleh para pihak yang bertikai.?

Mujahidin Cyber

Menanggapi sambutan hangat dari Syeikh Jabir Mahmud Isa, Dubes RI Suriah, Djoko Harjanto mengharapkan semoga inisiatif dan upaya mulia yang dilakukan oleh Organisasi Inisiatif Sipil untuk Rekonsiliasi Nasional ini terus dapat menghasilkan capaian-capaian yang signifikan dalam membantu penyelesaian secara politik dalam krisis yang telah berlangsung lebih dari lima tahun ini.

“Sejak meletusnya krisis di Suriah, Indonesia terus mendukung segala solusi politik diplomasi damai, dan menolak segala intervensi asing,” ujar Dubes Djoko. “Indonesia juga terus mendukung Suriah dalam perang melawan terorisme.”

Buka puasa bersama berlangsung penuh kekeluargaan itu berlangsung dengan diiringi musik religi dan tari sufi maulawiyah yang menambah semarak dan syahdunya sore hari di bulan Ramadhan itu.(Red-Zunus) ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Hikmah, Pesantren, AlaNu Mujahidin Cyber

Kamis, 08 Februari 2018

Mahasiswa Unisnu Jepara Gelar PPL di Aswaja TV

Jepara, Mujahidin Cyber. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara akan mengadakan PPL (Praktik Pengalaman Lapangan) pada 18 Agustus - 12 september 2015. Sebanyak 36 Mahasiswa FDK yang dibagi dalam 4 kelompok siap diterjunkan untuk mengikuti PPL di Suara Merdeka, Jawa Pos, Radio R-Lisa, Kartini, Swara Jepara, Pop FM, Rais Printing dan Aswaja TV Jakarta.

Abdul Wahab mengatakan, PPL FDK Unisnu Jepara berkonsentrasi pada bidang jurnalistik, penerbitan karya jurnalistik dan kepenyiaran radio dan televisi. "Untuk praktik kejurnalistikan di Koran Suara Merdeka biro Suara Muria wilayah Jepara dan Jawa Pos Biro Radar Kudus akan dilaksanakan pada 18-25 Agustus 2015

Mahasiswa Unisnu Jepara Gelar PPL di Aswaja TV (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unisnu Jepara Gelar PPL di Aswaja TV (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unisnu Jepara Gelar PPL di Aswaja TV

“Praktik penerbitan karya jurnalistik di Percetakan Rais Printing Jepara pada 26 Agustus-2 September 2015 dan praktik penyiaran Radio di R-Lisa FM Jepara, Kartini FM Jepara, Pop FM Jepara, Swara Jepara pada 3-12 September 2015 dan Aswaja TV di Jakarta pada 1-12 September 2015," tambah Wahab yang juga Kaprodi Komunikasi penyiaran Islam FDK Unisnu Jepara.

Mujahidin Cyber

Dalam sambutan pelepasan PPL, KH. Noor Rohman Fauzan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, menyampaikan pentingnya disiplin  ilmu pengetahuan dan  waktu saat mengikuti PPL dan Siapkan mental yang kuat serta kedepankan akhlakul Karimah sebagai visi Unisnu Jepara.

“Lakukan pekerjaan dengan cepat, tepat dan selamat. Namun tetap enjoy dan penuh dengan Fun dalam belajar (senang melakukannya),” tutur pengurus Syuriah PCNU Jepara ini.

Mujahidin Cyber

Dalam materi pembekalan Wakil Dekan FDK A. Selamet berpesan kepada peserta, "Gunakan 4 N sebagai bekal PPL, yaitu Ngasor (rendah diri), Ngalah (Mengalah), Ngagung (Menyanjung Orang lain) dan Ngapes".

Dalam PPL juga didampingi 4 Dosen pembimbing Lapangan (DPL) dari Fakultas Dakwah dan Komunikasi yaitu Mahfudloh Fajri, M. Nasrul Haqqi, Khoirul Muslimin, dan Murniati. Juga pembimbing praktisi yaitu para praktisi media yang terkait ke-media-an yang memiliki keahlian dan profesi dibidangnya ditempat PPL. (Miqdad Syaroni/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pesantren Mujahidin Cyber

Selasa, 06 Februari 2018

Seluruh Pengurus NU Blitar dan Banom Wajib Ikuti Pendidikan Penggerak

Blitar, Mujahidin Cyber - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Blitar mengeluarkan instruksi agar seluruh pengurus harian NU, lembaga dan badan otonom (banom) NU untuk mengikuti Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) yang akan diselenggarakan pada akhir Agustus 2016 mendatang di Blitar.

“Kita intruksikan semua pengurus dan banom untuk mengikutinya. Masing-masing banom harus mengirim minimal tiga orang,” ujar Ketua PCNU Blitar KH Masdain Rifai Ahyat (Gus Dain) kepada Mujahidin Cyber, Kamis (11/8) pagi.

Seluruh Pengurus NU Blitar dan Banom Wajib Ikuti Pendidikan Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)
Seluruh Pengurus NU Blitar dan Banom Wajib Ikuti Pendidikan Penggerak (Sumber Gambar : Nu Online)

Seluruh Pengurus NU Blitar dan Banom Wajib Ikuti Pendidikan Penggerak

Menurut Gus Dain, PKPNU ini merupakan langkah konkret bagi NU untuk mencetak kader-kader NU yang berkualitas dan mampu untuk memahami tatakelola organisasi dengan baik dan benar sebagai modal untuk mengembangkan NU agar menjadi organisasi yang berdaya guna.

Mujahidin Cyber

“Selain itu juga sebagai upaya mengader para calon pimpinan NU melalui kegiatan yang terarah dan terukur supaya bisa memberikan manfaat dan dampak positif bagi perkembangan NU ke depan. Karena kemajuan NU ke depan juga berada di tangan para pengurus dan kader-kader muda NU,” terangnya.

Pendidikan ini diadakan dalam rangka memberikan bekal dan wawasan khazanah keilmuan yang luas. “Dari pelatihan ini. Harapannya kader NU mampu melestarikan tradisi dan nilai-nilai perjuangan yang dilanggengkan oleh para masyayikh pendiri NU. Terlebih belakangan ini banyak bermunculan ajaran atau kelompok radikal yang mencoba menyerang ajaran-ajaran NU yang dianggap menghalang-halangi langkah dan gerakan ajarannya.”

Tujuan lainnya untuk memberikan wawasan pengetahuan yang mendalam tentang pemahaman Ahlus sunah wal Jamaah (Aswaja), keorganisasian, wawasan global, spiritual, serta penguatan tentang maraknya bahaya radikalisme, fundamentalisme, tambahnya.

Mujahidin Cyber

Kaderisasi adalah salah satu hal terpenting dalam proses pengembangan organisasi. Tanpa kaderisasi, organisasi bertumbuh dengan sendirinya tanpa adanya kepahaman yang sama tentang visi dan misi organisasi di antara para kader.

"Fungsi dari jamiyyah (organisasi) NU yang terpenting adalah melindungi jamaahnya. Bila jamiyyah tak mampu melindungi kesatuan dan cita-cita jamaahnya, maka organisasi telah kehilangan arti pentingnya," terangnya.

Untuk itu semua pengurus dan badan otonom cabang kita wajibkan untuk ikut dalam pendidikan ini supaya ada pemahaman yang tentang  visi dan misi organisasi, tegasnya. (Imam Kusnin Ahmad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kyai, Ubudiyah, Pesantren Mujahidin Cyber

Rabu, 24 Januari 2018

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi

Bojonegoro, Mujahidin Cyber. Mengawali kegiatan masuk pelajaran semester genap Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Walisongo Sumberrejo Bojonegoro mengadakan kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama PAUD dan TK Muslimat NU 28 Sumberrejo.

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak-anak Ini Sudah Diajarkan Cinta Nabi

Anak-anak diajak membaca riwayat Nabi dari kitab Barjanzi dan Dzibai Selasa (6/1) kemarin di Masjid Jami’ Walisongo Sumuragung Sumberrejo.

Sebagai bentuk ta’dzim kepada Nabi Muhammad SAW dan juga untuk memupuk karakter ahlussunnah wal jamaah, MINU Walisongo genap tujuh tahun ini melaksanakan peringatan hari besar umat Islam ini dengan membaca beragam riwayat Nabi Muhammad saw. Hal ini untuk menanamkan cinta kepada baginda Nabi Muhammad saw.

Mujahidin Cyber

Degredasi moral anak-anak sekarang lebih banyak terjadi karena kekurangan rasa hormat dan prilaku ketauladanan yang diberikan oleh stake holder lembaga pendidikan baik yang formal maupun yang non formal. Maka lembaga yang berada dibawah naungan LP Ma’arif NU kecamatan Sumberrejo ini menggelorakan dan memberikan tauladan cara mencintai nabi Muhammad saw.

Mujahidin Cyber

“Dengan membaca riwayat Nabi Muhammad dari masa balita sampai akhir riwayatnya beliau harapan kami anak-anak memiliki idola yang tiada tergantikan sepanjang hidupnya,” tutur Ahmad Taufik yang memandu acara pagi Mauludan yang dimulai sejak pukul 08.00 WIB tersebut.

Keiatan ini diikuti lebih dari 300 anak didik dan ditutup dengan pembagian sedekah bersama berupa nasi kuning dan ketan putih yang dibawa oleh anak didik dari rumah masing-masing. (Satria Amelina/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Ahlussunnah, Pesantren Mujahidin Cyber

Selasa, 09 Januari 2018

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi

Oleh Muhammad Ishom 



“Aku punya gagasan untuk mempertemukan mereka berdua



Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi

agar saling isi dengan cerita derita duka lara

Barangkali nanti tumbuh naluri sejati

dan kembali seperti sediakala

Mujahidin Cyber

Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti

Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” (Bait ke-6)

Itulah enam baris dari bait terakhir lirik lagu berjudul “Zaman” yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya– Ebiet G. Ade–dan dirilis pada tahun 1986. Apa yang dimaksudkan Ebiet dengan frasa “mereka berdua” pada baris pertama di atas tak lain adalah bencong dan tomboi sebagaimana terdapat dalam judul tulisan ini meski Ebiet tidak menyebut sama sekali dua istilah itu di dalam lirik lagunya. 

Mujahidin Cyber

Kedua istilah itu telah umum digunakan oleh masyarakat untuk menyebut kelompok orang yang perilaku atau penampilannya tidak cocok menurut kewajaran dengan jenis kelamin yang disandangnya. Mereka yang disebut bencong mungkin sama dengan yang dimaksud gay atau transgender dalam LGBT meski tidak setiap bencong adalah gay atau transgender. Demikian pula mereka yang disebut tomboi mungkin sama dengan yang dimaksud lesbian dalam LGBT meski tidak setiap tomboi adalah lesbian. 

Saat ini orang tengah ramai kembali membicarakan tentang LGBT sehubungan dengan penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap perkara 46/PUU-XIV/2016 yang diajukan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Euis Sunarti bersama sejumlah pihak. Tahun lalu Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta para lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dihukum penjara maksimal 5 tahun. 

Penolakan itu telah dipahami sebagian kalangan di sejumlah postingan di media sosial bahwa MK telah melegalkan perbuatan zina dan homoseksual. Pemahaman sekaligus tuduhan ini ditolak oleh Juru Bicara MK Fajar Laksono yang menegaskan Mahkamah tidak melegalkan perbuatan seksual sejenis (Kompas.com, 18/12/2017, 20:15 WIB).

Namun, tulisan ini tak dimaksudkan untuk membicarakan polemik tentang LGBT dari berbagai perspektif karena penulis hanya sekedar ingin mengingat kembali bahwa tiga puluh satu (31) tahun lalu seorang penyanyi sekali pencipta lagu–Ebiet G. Ade–telah menyodorkan sebuah gagasan untuk mencarikan solusi terhadap fenomena bencong dan tomboi yang masing-masing bisa masuk dalam kategori gay atau transgender dan lesbian.

Sejauh yang bisa saya tangkap dari lirik lagu “Zaman” secara keseluruhan, Ebiet G. Ade berpikir bahwa bencong dan tomboi dapat dipertemukan dalam ikatan perkawinan sebab mereka yang secara fisik laki-laki tetapi secara seksual tertarik kepada sesama jenis sebenarnya juga menyadari ketidak wajarannya. Mereka bahkan tak menghendaki hal itu terjadi sehingga selalu menangisi nasibnya. Akhirnya mereka sampai pada pertanyaan mendasar apakah hal itu berdosa. 

Pikiran Ebiet G. Ade tersebut sebagaimna dapat kita simak pada bait ketiga sebagai berikut: 

Ia bersembunyi menyimpan tangis yang tak kuasa dibendung

Ia jatuh cinta namun keburu sadar itu tak wajar

Tanda tanya bergolak di dalam fikirannya, “Berdosakah?”

Sedang ia pun tak menghendaki

Siapa gerangan yang dapat membantu menjawabnya? (Bait ke-3)





Pada baris terkahir dari bait ini Ebiet G. Ade mengajukan pertanyaan siapa gerangan yang dapat membantu menjawab pertanyaan dari laki-laki bencong tentang berdosa tidaknya jika ia jatuh cinta secara tidak wajar karena mencintai sesama jenis. Beberapa pihak dari kalangan agamawan baik Islam maupun Nasrani telah memberikan jawaban tegas bahwa mencintai sesama jenis yang kemudian diungkapkan dengan hubungan seksual adalah berdosa. 

Pada bait keempat dan kelima Ebit G. Ade mengungkap fenomena yang berkebalikan dengan bencong, yakni tomboi sebagaimana tertuang dalam dua bait berikut ini:

Perempuan dongak di atas angin

Kepalanya bengkak penuh mimpi kekerasan

Tubuh sintal dan tegap menampilkan kejantanan

Tak tercermin sikap lembut sebagaimana kodratnya (Bait ke-4)

 

Rambutnya yang kasar kotor berdebu

Diisapnya cerutu bibir retak terbakar

Langkah dihentak-hentak, galak seperti singa

Ia ingin tampil lengkap sebagaimana layaknya lelaki (Bait ke-5)





Kedua bait itu (Bait ke-4 dan ke-5) mengungkapkan secara jelas tentang tomboi dengan disebutnya perempuan yang bertingkah laku tidak sebagaimana kodratnya tetapi malahan  ingin menampilkan kejantanan sebgaimana layaknya lelaki. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Queen Mary University, London, 1 dari 3 perempuan tomboi tumbuh menjadi lesbian. (Hidayatullah, 12 Juli 2011-10:44 WIB). 

Perempuan tomboi yang tumbuh menjadi lesbian inilah yang dibicarakan Ebiet G. Ade untuk dipertemukan dalam ikatan perkawinan dengan seorang bencong yang gay atau transgender sebagaimana diungkapkan dalam bait keenam di awal tulisan ini. Argumentasi Ebiet G. Ade dalam gagasanya ini adalah karena dari perkawinan semacam ini barang kali akan tumbuh naluri sejati dari masing-masing pihak sehingga akan kembali menjadi orang normal sesuai dengan kodrat jenis kelamin masing-masing. 

Gagasan Ebeit G. Ade tersebut patut diapresiasi karena dari berbagai perspektif agama, sosial dan susila tidak bertentangan. Bisa jadi gagasan ini menjadi alternatif terapi yang mujarab bagi ketidakwajaran kaum bencong dan tomboi dalam ekspresi diri dan seksualitasnya sehingga mereka bisa diselamatkan secara hukum maupun moral. Namun pertanyaannya adalah apakah para bencong mau kawin atau dikawinkan dengan kaum tomboi?

Jawaban dari pertanyaan itu telah Ebiet temukan dalam kedua baris terkahir dari bait keenam atau penutup di atas: “Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti. Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” Artinya jika Tuhan berkata “Kun” (jadilah), maka “fayakun” (maka jadilah).  

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Lomba, Pesantren, Sholawat Mujahidin Cyber

Senin, 01 Januari 2018

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional

Jakarta, Mujahidin Cyber. Banyaknya persoalan yang mendera bangsa Indonesia mulai dari korupsi, suap, asusila, kekerasan rumah tangga, dan segudang persoalan lainnya, menuntut warga Indonesia yang mayoritas beragama untuk mengintrospeksi diri. Mereka perlu mempertanyakan kembali sejauh mana makna keberagamaan itu sendiri.

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Malik Madani Ajak Muhasabah Nasional

Demikian dikatakan Katib Aam PBNU KH Malik Madani ketika ditanya Mujahidin Cyber perihal semangat harlah 91 tahun NU, Senin (19/5) malam.

Kiai Malik menilai perhatian umat beragama terfokus pada kesalehan ritual. “Umat beragama di Indonesia tampak hanya mengejar peribadatan formal. Mereka sudah merasa cukup beragama hanya dengan melakukan rutinitas ibadah formal.”

Mujahidin Cyber

Padahal, tujuan puncak dari agama ialah kesalehan moral baik secara individu maupun sosial. Tujuan pengutusan Nabi Muhammad Saw dimaksudkan untuk membenahi moral masyarakat yang bobrok.

Mujahidin Cyber

“Selain ‘makarimal akhlaq’, riwayat Ahmad menyatakan Rasulullah diutus untuk menyempurnakan shalihal akhlaq, kesalehan moral. Karena ritual itu wasilah, bukan tujuan,” terang Kiai Malik.

Kalau pengamalan beragama berhenti pada kesalehan ritual, maka tidak heran banyak orang yang tampak rajin ibadah tetapi terjerumus dalam kejahatan sosial seperti korupsi atau melakukan praktik suap.

Mereka yang tidak pernah absen dalam ibadah formal, justru di lain pihak melakukan kejahatan-kejahatan, penipuan, dan kekerasan, kata Kiai Malik memberi contoh. Ia mengajak segenap warga Indonesia yang terkenal sebagai umat beragama untuk menyoal keberagamaannya.

“Introspeksi ini bukan hanya ditujukan kepada para politikus dan pengusaha, tetapi juga masyarakat secara umum,” tandas Kiai Malik. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pesantren, Ulama Mujahidin Cyber

Minggu, 24 Desember 2017

Kala Gus Dur Beri Gelar ‘KH’ Sastrawan Ahmad Tohari

Pada tahun 1988, sastrawan Ahmad Tohari (AT) berada di Tanah Suci Mekkah bersama Gus Dur, Cak Nur, juga Prof Quraish Shihab. Bersama-sama mereka menunaikan ibadah haji. Di Masjidil Haram, usai melaksanakan Thawaf Wada, Gus Dur mendekati Pak AT, dan terjadilah percakapan.

"Ehmm, ehmm, Sampeyan sekarang sudah bergelar KH ya, Kang?" Tutur Gus Dur, sambil mengulum senyum.

Kala Gus Dur Beri Gelar ‘KH’ Sastrawan Ahmad Tohari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kala Gus Dur Beri Gelar ‘KH’ Sastrawan Ahmad Tohari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kala Gus Dur Beri Gelar ‘KH’ Sastrawan Ahmad Tohari

"Ah, bisa saja Sampeyan ini, Gus," timpal AT.

Mujahidin Cyber

"Eh, Sampeyan jangan Ge-eR dulu!"

Mujahidin Cyber

"Kenapa, Gus?"

"Gelar KH buat Sampeyan itu bukan Kiai Haji, tapi Kang Haji," seloroh Gus Dur, yang kemudian dilanjut tawa keduanya. (Wahyu Noerhadi)

*Kisah di atas diceritakan langsung oleh Pak AT ketika beliau sedang di Jakarta, sebelum menghadiri undangan dari Sekretaris Negara pada Selasa (3/05/2017).



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian, Nahdlatul, Pesantren Mujahidin Cyber

Senin, 04 Desember 2017

Pimpinan Umat Islam Dunia Harus Berani Wujudkan Damai di Irak

Bogor, Mujahidin Cyber. Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan, pimpinan umat Islam seluruh dunia harus berani mewujudkan perdamaian berkelanjutan di Irak.

"Perdamaian dan perang, hanya dapat dilaksanakan oleh para pemimpin yang terbaik. Dan saya yakin para pemimpin umat Islam di Timur Tengah memiliki keberanian untuk wujudkan damai di Irak," katanya, sesaat sebelum menutup Konferensi Internasional Para Pemimpin Umat Islam untuk Rekonsiliasi Irak di Istana Bogor, Rabu.

Pimpinan Umat Islam Dunia Harus Berani Wujudkan Damai di Irak (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpinan Umat Islam Dunia Harus Berani Wujudkan Damai di Irak (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpinan Umat Islam Dunia Harus Berani Wujudkan Damai di Irak

Ia mengatakan, persoalan yang berujung konflik di Irak merupakan permasalahan pula bagi umat Islam di seluruh dunia. Persoalan dan konflik di Irak merupakan persoalan yang kompleks karena melibatkan banyak hal, banyak negara dan kepentingan.

Namun, tambah Jusuf Kalla, yang penting adalah bagaimana umat Islam dunia bersatu untuk menyelesaikan konflik di Irak. Hal itu, hanya dapat dicapai melalui dialog yang tulus serta komitmen yang kuat.

"Dialog antarumat Islam yang dilandasi niat tulus, merupakan kunci penting bagi penyelesaian masalah termasuk konflik yang terjadi di Irak," katanya.

Mujahidin Cyber

Wapres mengatakan, dialog merupakan langkah awal untuk memetakan perkembangan yang ada termasuk dalam mengembangkan mekanisme penyelesaian konflik, pemahaman tata nilai dan ajaran Islam, agar tercipta persepsi dan komitmen kuat untuk mewujudkan perdamaian di Irak.

"Ini yang harus kita lalui bersama, yakni menyepakati hal-hal yang telah diamanatkan dalam deklarasi konferensi, untuk memajukan langkah kita bersama menciptakan perdamaian di Irak," kata Wapres.

Mujahidin Cyber

Jusuf Kalla menambahkan, perbedaan pandang dalam setiap dialog merupakan bukti bahwa perbedaan adalah rahmat dari Allah SWT dan harus disikapi secara positif.

"Dengan niat tulus dan komitmen yang kuat maka nilai-nilai dan semangat perdamaian dapat diteruskan oleh para pemimpin kepada seluruh umat Islam di dunia, hingga perdamaian di Irak dapat benar-benar terwujud secara berkelanjutan," ujarnya menambahkan.

Jusuf Kalla mengatakan, perdamaian di Irak masih memerlukan jalan panjang, kerja keras, pengorbanan keberanian. Tetapi kalau niat dan komitmen seluruh pemimpin dan umat Islam kuat maka perubahan akan segera terwujud di Irak. (ant/mad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Ahlussunnah, Amalan, Pesantren Mujahidin Cyber

Selasa, 21 November 2017

Usaha Cetak Kitab, Ketua MWCNU ini Raup Omset Puluhan Juta

Sidoarjo, Mujahidin Cyber. Seorang pengusaha percetakan kitab salaf dan sejumlah buku nahwu sorof asal Sidoarjo, Jawa Timur, mempunyai trik tersendiri dalam mengembangkan usahanya. Dengan modal Rp 500 ribu rupiah, pengusaha percetakan ini mampu menghasilkan omset senilai Rp 90 juta rupiah per bulannya.

Usaha Cetak Kitab, Ketua MWCNU ini Raup Omset Puluhan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Usaha Cetak Kitab, Ketua MWCNU ini Raup Omset Puluhan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Usaha Cetak Kitab, Ketua MWCNU ini Raup Omset Puluhan Juta

Meskipun, banyak pengusaha percetakan di sejumlah wilayah Sidoarjo telah gulung tikar, akibat naiknya harga bahan baku kertas, namun usaha percetakan buku tersebut masih eksis dalam mengembangkan bisnisnya dengan dibantu 10 karyawan.

Usaha percetakan yang dikembangkan oleh Ahmad Kuzaemi (53) warga Dusun Magersari, Desa Kedungcangkring? RT 04 RW 02, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, itu mampu menyelesaikan 30 hingga 50 eksemplar lembar kertas kitab dan buku dalam sehari sesuai pesanan konsumen dari berbagai kalangan.

Mujahidin Cyber

"Percetakan ini mencetak berbagai kitab salaf atau materi pembelajaran siswa Taman Pendidikan Al-Quran diantaranya, buku metode tartil tingkat satu hingga tingkat lima. Selain itu, percetakan ini juga mencetak kitab materi nahwu, sorof, khat naskhi, materi doa istiqhosah dan tahlil, undangan serta kalender yang kebanyakan pesanan dari Lembaga Pendidikan Maarif NU Sidoarjo," terang Kuzaemi, Jumat (5/2).

Mujahidin Cyber

Ia menceritakan, usaha percetakannya mulai dibuka sejak tahun 1980. Saat itu, Kuzaemi masih menjabat sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Jabon, Sidoarjo. Dari amanah jabatan itu, ia mendapat kepercayaan penuh dari TK Muslimat NU dan LPM NU Sidoarjo untuk mengerjakan berbagai materi tartil TPQ dan TKQ.

Setelah sukses menjabat sebagai Ketua PAC GP Ansor Jabon, ia juga pernah menjabat Ketua Dewan Suro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan selanjutnya mendapatkan amanah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Jabon selama dua periode hingga saat ini.

Selama 36 tahun, usahanya semakin berkembang. Meski banyak perusahaan percetakan yang gulung tikar akibat naiknya harga bahan baku kertas yang semakin tinggi. Bagi Kuzaemi, imbas dari naiknya harga kertas tersebut tidak menjadi masalah. Sebab, ia mampu mengemas dan mampu bertahan dan bersaing melalui harga serta kualitas hasil percetakan.

"Percetakan ini mempunyai pelanggan di tiga Kabupaten diantaranya, Kabupaten Pasuruan, Mojokerto dan Sidoarjo, Jawa Timur. Semua materi yang akan di cetak dari kalangan Nahdlatul Ulama. Sampai saat, saya belum pernah meminjam ke bank swasta maupun pendapat bantuan pinjaman dari pemerintah. Karena saya optimis mengembangkan usaha ini dengan modal sendiri dengan cara berdikari melalui organisasi Nahdlatul Ulama," paparnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pesantren, AlaSantri, Berita Mujahidin Cyber

Sabtu, 18 November 2017

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam

Judul Buku : Fiqih Imam Syafi’i

(Mengupas Masalah Fiqhiyah Berdasar Al-Qur’an dan Hadits)

Penulis : Prof. Dr. Wahbah Zuhaili

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Imam Syafi’i dalam Yurispundensi Islam

Penerbit : Almahira, Jakarta

Cetakan : I, Februari 2010

Tebal : 716 hal.

Peresensi : Ahmad Shiddiq Rokib*

Mujahidin Cyber



Fiqih merupakan cabang ilmu keislaman yang mengkaji hukum syariat yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan? hubungan antar sesama manusia (hablum minannas). Kata “fiqih” sendiri secara bahasa berarti “paham”, seperti dikutip dalam hadits di atas, awal mulanya fiqih pengertian yang luas, yaitu pemahaman yang mendalam terhadap islam secara utuh. Definisi ini berlaku pada masa generasi sahabat dan tabi’in. Selanjutnya pada masa muta’akhirin (abad IV-XII H), fiqih mengalami penyempitan makna, menjadi “pengetahuan hukum syara’ yang bersifat alamiyah bersumber dari dalil-dalil yang spesifik”.

Pada periode Mutaakhirin ini, pula terjadi pelembagaan fiqih dalam beberapa madzhab. Ketika itu ada empat madzhab besar berkembang dan mampu bertahan hingga saat ini, yaitu Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hambali. Empat madzhab tersebut tersebar ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Berdasarkan sejarah masuknya Islam ke Nusantara, Madzhab Syafi’i lah yang pertama kali di anut penduduk Nusantara. Dan saat ini mayoritas kaum muslimin indonesia bermadzhab Syafi’i.

Mujahidin Cyber

Madzhab Syafi’i yang digagas oleh Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H) mendapat apresiasi yang luar biasa dari umat Islam dunia. Madzhab ini dianut oleh kurang lebih 28 persen populasi muslim dunia, atau sekitar 439,6 juta jiwa dari 1,57 miliyar penduduk? dunia.? Penganut Madzhab Syafi’i tersebar di Mesir, Arab Saudi, Suriah, Indonesia, Malasyia, Brunai Darussalam, Pantai Koromandel, Malabar, Hadramaut, dan Bahrain.

Tidak heran jika pengaruhnya sangat luar biasa dalam yurispundensi Islam sebab Imam Syafi’i memang dikaruniai kecerdasan istimewa, kemampuan nalar dan gaya bahasa yang luar biasa. Pada usia 20 tahun ia sudah hafal kitab “al-Muwaththa’” karya monumental Imam Malik. Imam Malik mengagumi Imam Syafi’i sembari berkata “wahai Muhammad (Syafi’i)” sesungguhnya Allah telah memancarkan cahaya hatimu, maka jangan engkau sia-siakan cahaya itu dengan maksiat. Esok akan banyak orang yang berdatangan untuk belajar kepadamu. Pujian Imam Malik benar menjadi kenyataan. Syafi’i kemudian Imam madzhab panutan umat diberbagai belahan dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Madzhab Syafi’i, satu dari sekian banyak madzhab fiqih saat ini masih mendapat apresiasi luar biasa mayoritas kaum muslim dunia. Keunggulan utama madzhab Syafi’i terletak pada sifatnya yang moderat. Di awal pertumbuhannya, pendiri madzhab ini, Muhammad bin Idris as-Syafi’i (150-204 H), mengakomodasi dua aliran hukum Islam yang berkembang saat itu, yaitu aliran tektualis (madrasatul hadits) dan aliaran rasionalis (madrasatur ra’y). Hasil kolaborasi keduanya dapat dilihat dari produk hukum Imam Syafi’i yang selalu mengacu pada subtansi nash (Al-Qur’an dan as-Sunnah), kemudian dalam kasus tertentu dipadukan dengan dalil analogi (qiyas).

Sebagai Bapak Ushul Fiqh, Imam syafi’i mewariskan seperangkat metode istimbath hukum yang berfungsi untuk menganalisasi beragam kasus hukum baru yang terjadi dikemudian hari. Dari tangan Imam Syafi’i lahir ribuan ulama yang konsen menafsirkan, menjabarkan, dan mengembangkan pemikiran beliau dalam ribuan halaman karya dibidang hukum Islam. Tidak heran jika dinamika perkembangan Madzhab ini melampaui Madzhab lainnya.

Buku yang terdiri tiga jilid yang ditulis Prof. Dr. Wahbah Zuhaili ini, memuat ribuan kasus yang terjadi masyarakat, yang dibidik dengan aturan hukum islam dalam berbagai aspek kehidupan yang bersumber dari al-qur’an, as-sunnah, ijma’ ulama dan qiyas serta hasil ijtihad Imam Syafi’i dan murid-murid beliau.

Secara garis besar, Masterpiece Prof. Dr. Wahdah as Zuhaili ini disusun dalam lima bab. Sebagai pendahuluan, pembaca akan diajak menelusuri biografi dan pemikiran hukum Imam Syafi’i. Selanjutnya secara sistematis, Prof. Wahbah mengurai secara detail hukum thaharah dan ibadah, pada bab satu. Bab dua menyajikan hukum muamalah konferensional dan syari’ah berikut transaksinya. Bab ketiga memaparkan hukum keluaga Islam. Kemudian pada bab empat berisi hukum Hadd, Jinayah, dan Jihad, terakhir. Bab lima, mengulas aspek peradilan Islam.

Dalam buku fiqih Imam Syafi’i ini diperkaya dengan penjelasan hikmah dibalik penetapan sebuah aturan syariat, penjelasan terperinci atas setiap topik bahasan, dan pemberian contoh-contoh lengkap dengan dalilnya. Penulisan buku ini berpatokan sepenuhnya pendapat Imam Syafi’i yang lebih valid yang terdapat didalam Majmu’dan minhajnya, dan tidak merujuk pada kitab al-raudhah dan sebagainya. Tujuan agar madzhab ini dapat menjadi jelas bagi kalangan awam. Apalagi, penyajian Fiqih perbandingan yang dilakukan terlalu dini tampaknya lebih sering hanya akan memunculkan kebingungan serta menhancurkan keselarasan hukum syaiat.

Jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu lainya, fiqih merupakan ilmu yang paling lurus dan matang. Dengan fiqih, syariat Islam telah menjadi salah satu sumber penetapan syariat yang sekaligus dapat diterima disetiap waktu dan tempat. Karena itu, fiqihlah yang telah menghimpun antara ajaran pokok dengan hal-hal yang menjaman serta menghimpun antara upaya untuk menjaga berbagai macam sumber syariat yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadis dengan berbagai macam pekembangan dan perubahan yang terjadi, yang tujuannya adalah untuk mengindentifikasi hukum halal-haram dan demi menggapai kemaslahatan bagi umat manusia dan kebutuahan mereka disepanjang zaman. Karena fiqih memang terlahir dari dasar-dasar dan berbagai sumber yang kokoh demi tujuan syariat yang universal.

Dengan demikian, buku yang sangat mengagumkan ini patut menjadi rujukan umat Islam, baik untuk dijadikan leterasi dalam dunia akademik maupun sebagai pandangan hidup dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Sehingga, mampu membedakan dari hal-hal yang diperbolehkan dengan yang tidak diperbolehkan oleh agama. Wallahu a’lam bis-showab.



* Peresensi adalah mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, aktif Pada Pondok Budaya Ikon Surabaya
Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pesantren, Meme Islam Mujahidin Cyber

Jumat, 17 November 2017

Wujudkan Gagasan Gus Dur, Kiai Muda NU Bahas Eksistensi Kiai Kampung

Purworejo, Mujahidin Cyber

Sejumlah Kiai Muda Nahdlatul Ulama mengadakan silaturrahim dan rembug bersama terkait eksistensi kiai kampung yang saat ini kondisinya semakin memprihatinkan. Silaturrahim ini berlangsung di Pondok Pesantren An-Nur Maron Purworejo, Sabtu (12/3) lalu. Dihadiri oleh perwakilan kiai-kiai muda dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.

Wujudkan Gagasan Gus Dur, Kiai Muda NU Bahas Eksistensi Kiai Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Wujudkan Gagasan Gus Dur, Kiai Muda NU Bahas Eksistensi Kiai Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Wujudkan Gagasan Gus Dur, Kiai Muda NU Bahas Eksistensi Kiai Kampung

Kiai Lukman Haris Dimyati, selaku inisiator silaturrahim kiai-kiai muda Nahdlatul Ulama mengatakan bahwa gagasan memperkuat eksistensi kiai kampung ini sebenarnya berawal dari gagasan Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid yang sampai saat ini belum terelisasi dengan baik.?

“Ketika Gus Dur masih hidup, saya pernah ditimbali oleh Gus Dur, dalam perbincangan itu saya diminta untuk merawat jamaah NU. Sebagai orang yang tinggal didaerah pelosok Pacitan, saya merasa tersanjung ketika diminta oleh beliau langsung untuk memperhatikan nasib para kiai kampung yang mayoritas basis dari kalangan NU,” jar Gus Lukman.

Seperti diketahui bersama bahwa nasib kiai kampung kini semakin terpinggirkan. Dalam acara tersebut, Gus Lukman berpesan dan mengajak kepada hadirin untuk memikirkan kembali nasib kiai kampung.?

Mujahidin Cyber

“Pada saat ini nasib kiai kampung semakin terpinggirkan, karena adanya ustadz-ustadz karbitan yang sering muncul di media-media yang secara kapasitas tidaklah seberapa, sementara tanggung jawab kiai kampung tersebut sangatlah berat tapi secara penghargaan sangat rendah sekali,” terangnya.

Turut hadir dalam silaturrahim ini, putri sulung Gus Dur, Alissa Wahid. Di dalam sambutannya, Alissa Wahid mengatakan bahwa ide membangun kembali eksistensi kiai kampung ini sangatlah cemerlang. Posisi kiai kampung itu sangatlah sentral di lingkungan masyarakat Nahdlatul Ulama tapi saat ini kalah populer dengan ustadz-utadz pendatang baru.?

“Sebenarnya ini sudah menjadi keluhan banyak kiai tapi sampai saat belum terealisasikan. Semoga dengan adanya silaturrahim ini nanti yang akan mengeksplorasi gagasan gagasan tersebut,” tambah Alissa.

KH M Imam Aziz yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjelaskan, kita ini punya hutang besar kepada Gus Dur, gagasan kiai kampung ini belum bisa dilaksanakan.

Mujahidin Cyber

“Menurut hasil ? penelitian, ada sebuah kekhawatiran besar terhadap masa depan islam moderat. Dan bisa disimpulkan bahwa menjadi sebuah kegagalan jika islam moderat tidak merumuskan tawassuth dalam islam moderat itu seperti apa? Terutama dalam bertindak maupun dalam bersikap,” jelas Imam Aziz.?

Seperti yang diketahui bersama, dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia masih banyak diwarnai dengan islam garis keras dan gerakan intoleransi. Sementara penganut Islam moderat yang banyak perannya ini semakin tidak kelihatan dan semakin kehilangan identitas.?

“Saya rasa ini gagasan yang sangat penting untuk segera dirumuskan kembali,” ujar Imam Aziz.

Acara silaturrahim ini dilanjutkan dengan dialog untuk menyumbangkan gagasan dari perwakilan daerah-daerah. Dialog ? ini dipimpin langsung oleh KH M Dian Nafi’, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan Solo. (Autad/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Sholawat, Pesantren, Cerita Mujahidin Cyber

Rabu, 08 November 2017

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII

Jakarta, Mujahidin Cyber. Ketua PBNU Juri Ardiantoro mengatakan, orientasi kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) harus diperluas, tidak hanya sekadar menambah jumlah kader, tapi menambah bobot atau kualitas kader.?

“Bobot kader juga harus diperluas tidak hanya sekadar menghiasi dunia politik, tapi dunia profesional. PMII harus mulai menyiapkan kader-kader untuk mengambil peran di wilayah itu,” katanya selepas menghadiri peringatan Harlah ke-57 yang digelar Pengurus Besar PMII di Jakarta pada Senin malam (17/4).

Untuk tujuan itu, Juri mengusulkan agar PMII melakukan pemetaan potensi kader dan pemetaan berdasar keunikan kader di tiap-tiap daerah.?

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Perlu Pemetaan Kaderisasi PMII

“Jadi, kaderisasi tak harus mesti sama seluruh daerah di seluruh Indonesia. Pada hal-hal yang sangat prinsip seperti tata, nilai, ideologi memang harus sama. Tapi pada konteks pengembangan kader dan penyiapan kepemimpinan ya harus memperhatikan karkater atau keunikan daerah,” jelasnya.?

Sehingga, lanjut mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum Pusat itu, kader PMII di daerah tidak harus semua ke jakarta. “Itu PR PMII k depan,” tegasnya.

Mujahidin Cyber

Ia menambahkan, untuk tujuan itu, selain pemetaan kader, PMII juga harus melakukan penguatan kelembagaan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Kiai, Pesantren Mujahidin Cyber

13 Negara Siap Ikuti Musabaqah Al Quran dan Hadits

Jakarta, Mujahidin Cyber. Sebanyak 82 peserta dari 13 negara di ASEAN, Asia Tengah dan Pasifik, siap mengikuti Musabaqah Hafalan Al-Quran dan Hadits Internasional Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz ke-6 yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal Jakarta, mulai 23-26 Maret 2015.

13 Negara Siap Ikuti Musabaqah Al Quran dan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)
13 Negara Siap Ikuti Musabaqah Al Quran dan Hadits (Sumber Gambar : Nu Online)

13 Negara Siap Ikuti Musabaqah Al Quran dan Hadits

“Ada 18 negara yang diundang, alhamdulillah yang bisa hadir 13 negara. Jumlah peserta yang hadir ada 82 peserta,” kata Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Shobah Surur Syamsi, di Jakarta, Selasa (24/3). Peserta berasal dari Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Philipina, Thailand, Myammar, Kamboja, Kazakhstan, Tajikistan, Kyrgyz, Australia dan New Zealand serta tuan rumah Indonesia.

Shobah menjelaskan, peserta  akan berkompetisi dalam 5 cabang perlombaan, yakni Hafalan Al-Quran 30 Juz, 20 Juz, 15 Juz dan 10 Juz, serta hafalan 500 Hadist. “Juri yang akan menilai para peserta seluruhnya berasal dari Lembaga Musabaqah Internasional dari Arab Saudi,” jelasnya.

Mujahidin Cyber

Menurut Shobah, untuk musabaqoh tingkat ASEAN, Asia Tengah dan Pasifik ini panitia telah menyiapkan hadiah berupa uang tunai dan ibadah Haji bagi seluruh pemenang. Meski diadakan di Indonesia, namun, Shobah menjamin netralitas penyelenggara.

“Pemenangnya nanti ada 15 pemenang karena ada 5 cabang, masing-masing juara 1, 2 dan 3. Para juara akan mendapatkan hadiah berupa uang,” tambah Shobah. Dijelaskan lebih lanjut untuk juara 1, sebesar 16ribu real atau sekitar Rp 48 juta dan Ibadah Haji untuk seluruh pemenang.

Mujahidin Cyber

Diharapkan, melalui kegiatan ini para peserta semakin bersemangat untuk terus meningkatkan kemampuan mereka. Selain itu, melalui kegiatan ini pula, kerjasama antar negara-negara juga dapat dieratkan.

“Tujuan acara ini, antar negara peserta, kan ada negara yang besar, ada yang kecil, ada negara maju dan berkembang, semuanya diharapkan ada kerjasama dan saling tolong menolong. Selain itu, dapat menjadi pemersatu dan menjadi kekuatan islam,” terang Shobah.

Duta Besar Arab Saudi Mustofa Mubarak yang hadir menyaksikan musabaqah hafalan Al Quran dan Hadits tingkat nasional beberapa waktu lalu mengatakan pelaksanaan musabaqah diikuti pelajar atau mahasiswa dari berbagai negara, didanai oleh Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz. “Saat ini Pangeran Sultan telah wafat pendanaan dilanjutkan oleh putranya Pangeran Khalid Bin Sultan,” kata Dubes Mustofa.

Menurut Dubes, musabaqah ini menunjukan kerjasama Indonesia dengan Arab Saudi semakin erat khususnya dalam pengembangan dakwah Islam. “Kegiatan ini juga memberi semangat kepada peserta dan masyarakat dalam menggiatkan Al Quran,” pungkas Mustafa. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pesantren, Lomba Mujahidin Cyber

Kamis, 26 Oktober 2017

Mustolih: Kalau Tidak Transparan, Hentikan Pungutan Dana Publik

Jakarta, Mujahidin Cyber. Terkait keberatan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (SAT) disebut sebagai badan publik, Mustolih Siroj mengatakan tidak ada persoalan apakah Alfamart badan publik atau bukan. Menurutnya, menghimpun dana publik, harus memberikan transparansi dalam pelaporan dana yang dikumpulkan.

“Kalau Alfamart tidak mampu memberikan transparansi kepada publik, padahal Alfamart harus mempertanggungjawabkan itu, maka hentikan pungutan sumbangan kepada publik,” kata Mustolih, sesaat setelah menjadi pembicara dalam acara Ngobrol Filantropi (Ngopi) yang digelar NU Care Tangerang Selatan, di Saung Cendol Huis, Ciputat, Ahad (26/2).

Mustolih: Kalau Tidak Transparan, Hentikan Pungutan Dana Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustolih: Kalau Tidak Transparan, Hentikan Pungutan Dana Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustolih: Kalau Tidak Transparan, Hentikan Pungutan Dana Publik

(Baca:? Pengelola Jaringan Alfamart Tolak Disebut Badan Publik)

Mustolih menegaskan pihaknya tidak minta ketransparanan pada tata kelola Alfamart, misalnya terkait dengan transaksi bisnis, manajemen, gaji karyawan, maupun keuntungan.?

“Sejak awal saya tidak ingin mengotak-atik misalnya laba Alfamart berapa, gaji karyawan berapa, menajemen seperti apa. Itu kegiatan komersial Alfamart yang kita hargai dan tidak kita persoalkan,” ungkapnya.

Mujahidin Cyber

Hanya saja, lanjut Mustolih, Alfamart meminta sumbangan kepada setiap konsumen yang datang, walaupun itu hanya uang kembalian bernilai seratus rupiah. Menjadi sangat penting bagi Alfamart untuk melakukan transparansi.?

“Alfamart sudah melakukan pungutan seperti yang dilakukan lembaga zakat seperti NU Care LAZISNU, Dompet Duafa, Lazismu. Apakah Alfamart juga sudah melakukan pelaporan seperti lembaga-lembaga zakat, ini yang tidak pernah. Mestinya setiap akhir tahun ada laporan neraca keuangan, lalu dimuat di koran. Alfamart tidak melakukan itu,” terang Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mujahidin Cyber

Mustolih juga menyampaikan tuntutannya ? agar Alfamart melakukan transparansi bukan menandakan bahwa ia antikedermawanan, tetapi justru mendorong profesionalisme. Sementara tindakan Alfamart yang melaporkannya ke pengadilan merupakan preseden buruk bagi konsumen dan kasus itu baru ada.?

“Jadi ada resiko dengan menjadi donatur Alfamaret diseret ke pengadilan,” seloroh Mustolih.

Sebelumnya, beberapa pihak menyampaikan dukungan kepada Mustoloh atas perkara tersebut. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pesantren Mujahidin Cyber

Selasa, 17 Oktober 2017

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang (1)

Oleh M Rikza Chamami

Bulan Rajab sangat banyak dinanti oleh orang Islam. Sebab bulan ini semakin mendekatkan hadirnya bulan Ramadan yang sangat agung. Oleh sebab itu, perlu kembali kita renungkan bagaimana KH Sholeh bin Umar Assamarani (dikenal Mbah Sholeh Darat) menjelaskan tentang fadlilah bulan Rajab ini.

Dalam Kitab Lathaifut Thaharah wa Asrarus Sholat karya Mbah Sholeh Darat halaman 83-88 dituliskan bab khusus tentang "Bab Fadlilah Rajab". Kitab yang ditulis dengan pegon dan diterbitkan oleh Thoha Putra Semarang ini sangat detail menjelaskan keutamaan Rajab merujuk pada hadits Nabi.

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Bulan Rajab Menurut KH Sholeh Darat Semarang (1)

KH Sholeh menjelaskan: "Nabi bersabda: Barang siapa yang mengucapkan kalimat ? ? ? sebanyak 100 kali tiap hari pada sepuluh hari awal Rajab,? mengucap ? ? ? sebanyak 100 kali tiap hari pada sepuluh hari kedua, dan mengucap ? ? sebanyak 100 kali tiap hari pada sepuluh hari ketiga, maka tidak ada orang yang bisa menghitung pahalanya".

Mujahidin Cyber

Hadits ini memberikan pengertian tentang bacaan atau wirid yang perlu didawamkan untuk dibaca setiap hari di bulan Rajab. Dan pahala yang didapatkan sangat banyak sekali, sehingga tidak bisa dihitung.

Dan Rasulullah Saw juga menyampaikan bahwa bulan Rajab adalah bulannya Allah Swt, sedangkan bulan Syaban adalah bulannya Rasulullah, sementara bulan Ramadan merupakan bulannya umat Muhammad. Maka Nabi selanjutnya menegaskan bahwa siapa saja yang menjalankan puasa sehari di bulan Rajab murni karena Allah tanpa niat lainnya, maka akan selalu mendapatkan ridla agung Allah dan dijanjikan tempat surga Firdaus.

Mujahidin Cyber

Sedangkan pahala puasa Rajab dua hari akan mendapatkan kelipatan dua kali hitungan semua gunung di dunia. Puasa tiga hari mendapat pahala penghalang neraka. Puasa empat hari mendapat pahala diselamatkan dari segala bala yang menimpa semacam junun, judzam dan barash serta diselamatkan dari fitnah Dajjal.

Sedangkan pahala puasa selama lima hari akan selamat dari siksa kubur. Pahala puasa enam hari adalah jaminan wajahnya bersinar saat keluar dari qubur sebagaimana sinar rembulan tanggal empat belas.

Adapun puasa tujuh hari adalah ditutupnya tujuh pintu neraka. Untuk pahala puasa delapan hari adalah dibukakan delapan pintu surga. Pahala puasa sembilan hari adalah akan bangun dari qubur dengan memanggil kalimat ? ? ? ? dan langsung masuk surga. Dan pahala sepuluh hari berpuasa adalah jalan mulus menuju shiratal mustaqim.

Mbah Sholeh Darat masih melanjutkan pahala puasa sebelas hari adalah tidak akan mendapat tandingan pahala kecuali orang yang sama menjalankan puasa 11 hari. Dan pahala puasa dua belas hari adalah mendapatkan pengakuan sebagai hamba yang mulia dibandingkan dunia dan seisinya.

Bersambung.....

Alfatihah.

Penulis adalah Wakil Ketua KOPISODA/Komunitas Pecinta Mbah Sholeh Darat, Alumni Qudsiyyah dan Dosen UIN Walisongo

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Pesantren, IMNU Mujahidin Cyber

Jumat, 13 Oktober 2017

Indahnya Kebersamaan, Sekolah NU Ini Mayoritas Gurunya Muhammadiyah

Kang Ranto, begitu aku biasa memanggilnya. Nama lengkapnya adalah Drs. Sugiranto, M.Pd. Beliau adalah guru SLB Maarif Muntilan, sekaligus sekretaris Panitia Pengadaan Tanah sekolah tersebut. Selain mengajar, Kang Ranto juga punya perusahaan konveksi yang tenaga kerjanya adalah para mantan siswa SLB yang sudah dididik olehnya. Beliau juga punya toko alat olahraga yang dikelola oleh istrinya. Selain olah raga, hobi beliau adalah memelihara burung murai. Dan di desanya dikenal sebagai orang yang suka memberdayakan pemuda dan masyarakat lewat ternak cacing. Dan itu menghantarnya masuk TV Jogja sebagai narasumber dalam acara kontak tani.

Kang Ranto mengajar di SLB Maarif Muntilan sejak tahun 1993. Yang paling aku suka dari beliau adalah semangat dan komitmennya dalam mengelola anak-anak berkebutuhan khusus. Bisa dibilang setiap hari Kang Ranto pulang dari sekolah setelah pukul 17.00. Hari-harinya habis di sekolah. Entah itu untuk memberesi administrasi pelaporan, membuat PTK (penelitian tindakan kelas), bahkan menunggui tukang mengecat tembok sekolah hingga dini hari. Dan yang paling membuat aku suka padanya adalah kesamaan visi denganku, selaku ketua Yayasan.

Indahnya Kebersamaan, Sekolah NU Ini Mayoritas Gurunya Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Indahnya Kebersamaan, Sekolah NU Ini Mayoritas Gurunya Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Indahnya Kebersamaan, Sekolah NU Ini Mayoritas Gurunya Muhammadiyah

Dialog malam ini kuhabiskan bersamanya dengan tema wasilah (sarana) dan ghoyah (tujuan). Bagi kami, saya dan Kang Ranto, NU dan Muhammadiyah hanyalah suatu wasilah atau alat untuk mencapai tujuan. Adapun tujuannya adalah mencari ridlo Allah SWT. Oleh karena itu meskipun Kang Ranto adalah Muhammadiyah dan saya NU, namun kami satu hati dalam mengabdikan diri pada anak-anak SLB. Demikian juga ketika anak-anak itu memerlukan tempat belajar, maka kami sepakat untuk menyatukan diri berhimpun dan bergerak mencari dana lewat Panitia Pengadaan Tanah SLB Maarif Muntilan.

Mujahidin Cyber

Kang Ranto tidak sendirian. Di SLB Maarif Muntilan yang gurunya berjumlah 25 orang, 20 orang gurunya berlatar belakang Muhammadiyah, sedang sisanya NU. Sejak SLB ini berdiri, komposisinya tetap didominasi Muhammadiyah. Begitu juga kepala sekolahnya, Bapak Suyadi,S.Pd sebagai kepala sejak sekolah ini berdiri. Beliau dari kalangan Muhamadiyah. Namun, itu tidak menjadikan masalah dalam mengelola ABK (anak berkebutuhan khusus). Sebagai pendiri (alm) Pak Sagimin dan Pengurus LP Maarif NU Muntilan yang lain selalu mengedepankan asas profesionalisme dan kerja sama. Oleh karena itu latar belakang Muhammadiyah para guru tidak menjadi ganjalan, sepanjang mereka berlaku profesional. Para guru PNS DPK tersebut mengabdi sepenuh hati di sekolah ini. Bahkan karena kebanyakan orang tua siswa berasal dari kalangan miskin, para guru tersebut dengan rela hati merogoh uang dari kantongnya sendiri untuk memberi uang transport anak-anak yang malang itu. Ketika kutanya mengapa begitu, jawabnya adalah tidak tega melihat anak-anak tak mampu sekolah karena orang tua tak mampu memberi uang saku dan transportasi. Masyaallah, sungguh mulia hati Bapak Ibu guru SLB tersebut.

Mujahidin Cyber

Para guru mulia tersebut tidak pernah membahas perbedaan NU-Muhammadiyah di sekolah. Mereka lebih banyak mencari persamaannya. Bekerja dengan dilandasi ibadah, yakni mendidik anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) agar bisa mandiri, tidak merepotkan orang tua dan saudaranya menjadi tujuan para guru itu. Sedang kan pelajaran agama Islam diajarkan sesuai dengan amaliah orang NU karena SLB Maarif Muntilan adalah milik NU.

Meskipun Kang Ranto sejak kecil adalah Muhamadiyah tulen, namun ia terbiasa ikut mujahadah ala NU di SLB Maarif Muntilan. Demikian juga guru-guru yang lain. Mereka tetap menghormati amaliah dan kebiasaan Nahdliyin yang dilestarikan setiap malam Kamis di sekolahnya.

Demikian pula, pengaruh suka beramal ala Muhamadiyah juga terasa kental di SLB Maarif Muntilan. Kesadaran berinfak, sedakah, sangat ditekankan oleh seluruh guru di sana. Semoga semangat kebersamaan NU-Muhamadiyah tetap terjaga dan menjadi ladang amal guru-guru tersebut. Saya sendiri sebagai ketua yayasan telah menyaksikan sendiri bagaimana semangat para guru untuk memenuhi kebutuhan tanah SLB untuk memperluas daya tampung siswa ABK yang bertambah tahun semakin meningkat. Tanah seluas 1.113 meter persegi telah terbeli seharga Rp1,5 miliar dengan berutang di salah satu bank. Dengan kesadaran diri mereka mempelopori pembelian tanah dengan menyetorkan minimal satu bulan gaji mereka (kira-kira Rp4 juta). Namun itu belum cukup. SLB masih berutang sebanyak Rp 1 miliar dengan cicilan Rp18,2 juta per bulan selama 10 tahun.

Kami atas nama Panitia Pembelian Tanah SLB Maarif Muntilan telah menjaminkan diri kami untuk menanggung pelunasan hutang itu selama 10 tahun. Namun siapa yang bisa menjamin bahwa nyawa kami masih tetap bertahan hingga 10 tahun mendatang. Untuk itu kami mohon bantuan kepada Bapak/Ibu dermawan di mana pun berada. Tidak memandang latar belakang agama dan golongan. Sudilah kiranya untuk membantu mengurangi beban kami dengan membantu pelunasan pembelian tanah tersebut. Semakin banyak yang membantu, semakin ringan beban yang kami tanggung. Semoga saat pelunasan hutang tersebut, kami semua masih diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menyaksikan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) SLB Maarif Muntilan belajar di gedung baru yang representatif pada lahan tersebut. Amin. Ladang amal tersebut kami buka lewat Rekening BRI Nomor 0251-01- 009271-53-6 a.n Panitia Pengadaan Tanah SLB Maarif Muntilan. Jazakumulloh ahsanal jaza’.



Muh Muslih, Ketua LP Maarif MWCNU Muntilan, Magelang, Jawa Tengah


Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Lomba, Pesantren, Sejarah Mujahidin Cyber

Minggu, 08 Oktober 2017

LPJ PB PMII Diterima, Sidang Berjalan Lancar

Jambi, Mujahidin Cyber. Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2011-2013 berjalan lancar. Setiap Pengurus Cabang dari berbagai Nusantara memberikan pandangan dan sikap atas kinerja kepengurusan PB di bawah pimpinan Addin Jauharuddin.

"Kami yakin Pengurus Besar sudah memberikan komitmen untuk untuk mengabdi kepada PMII, mulai dari materi, tenaga dan pikiran untuk membesarkan PMII. Sehingga kami memberikan apresiasi yang sangat besar," kata Romel Masykuri, salah satu peserta Kongres PMII XVIII, Sabtu (7/6).

LPJ PB PMII Diterima, Sidang Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)
LPJ PB PMII Diterima, Sidang Berjalan Lancar (Sumber Gambar : Nu Online)

LPJ PB PMII Diterima, Sidang Berjalan Lancar

Dia mengatakan bahwa kepengurusan PB PMII selama dua tahun lebih sudah berjalan maksimal. Menurutnya, yang harus segera diperbaiki adalah? persoalan ketepatan dalam melaksakan Kongres. Pasalnya, lebih dari 200 cabang, 50 di antaranya mengkritik tentang ketidaktepan waktu Kongres.

Mujahidin Cyber

Kendati demikian, harus diakui bersama bahwa ada beberapa hal yang perlu diperbaharui tentang sistem dan management kaderisasi.

Mujahidin Cyber

Adapun dalam pernyataan sikapnya terhadap LPJ PB PMII, 157 Pengurus Cabang (PC) 17 Pengurus Koordinator Cabang (PKC) menerima, sementara 54 PC dan 2 PKC menolak. Sehingga dengan otomatis PB PMII yang dipimpin oleh Addin dengan resmi nyatakan diterima. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Anti Hoax, Pesantren Mujahidin Cyber

Selasa, 05 September 2017

Lewat Musyawarah Mufakat, KMNU Pilih 5 Presidium Nasional Baru

Semarang, Mujahidin Cyber

Setelah melalui berbagai proses penyaringan, akhirnya Presidium Nasional (Presnas) Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama masa khidmah 2017-2018 terpilih dan disepakati secara sah oleh seluruh peserta Musyawarah Nasional III KMNU pada Sabtu (21/1).

Lewat Musyawarah Mufakat, KMNU Pilih 5 Presidium Nasional Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Musyawarah Mufakat, KMNU Pilih 5 Presidium Nasional Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Musyawarah Mufakat, KMNU Pilih 5 Presidium Nasional Baru

Berawal dari 21 nama yang diajukan, lalu terseleksi menjadi 11 nama melalui tahap verifikasi, dan terakhir mengerucut menjadi 6 calon. Keenam calon tersebut adalah Ridlo dari KMNU UIN Sunan Kalijaga, Mazdan (KMNU UII), Nurbaeti (KMNU UNY), Imam Syafii (KMNU ITB), Saroji (KMNU Unila), dan Hamzah (KMNU IPB).

Untuk memperoleh keenam calon tersebut, forum bersepakat membentum tim verifikasi khusus yang terdiri atas Presnas terdemisioner dan MPO. Dari verifikasi khusus inilah diperoleh 6 nama yang direkomendasikan untuk mengawal KMNU Nasional 1 tahun mendatang.

Mujahidin Cyber

Melalui musyawarah yang cukup panjang, dengan berbagai pertimbangan, maka dipilihlah kelima Presnas KMNU Nasional masa khidmah 2017-2018. Kelima Presnas terpilih tersebut, yaitu Hamzah Alfarisi (KMNU IPB) sebagai Presnas 1, Nur Baety (KMNU UNY) sebagai Presnas 2, Ahmad Saroji (KMNU Unila) sebagai Presnas 3, Imam Syafi’i (KMNU ITB) sebagai Presnas 4, dan Mazdan (KMNU UII) sebagai Presnas 5.

Munas? yang berlangsung selama 2 hari, 20-21 Januari, ini dihelat di Pondok Pesantren Ash-Shodiqiyah Semarang, Jawa Tengah. Kegiatan dibuka secara resmi dengan pembukaan Maulid Simthudduror dari tim hadrah Kiai Galang Sewu. (Ari/el-Naomiy/Mahbib)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Meme Islam, Pesantren, AlaSantri Mujahidin Cyber

Selasa, 22 Agustus 2017

Kurban Dan Pendidikan Tauhid Keluarga

Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan. Keluarga yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati

? ?? ? ? ? ?  -? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ?  ? ? ?

Kurban Dan Pendidikan Tauhid Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban Dan Pendidikan Tauhid Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurban Dan Pendidikan Tauhid Keluarga

? ?: ? ? : ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?.  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ?

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

Alhamdulillah, kita panjatkan segala puji dan syukur bagi Allah SWT. Allah satu-satunya Tuhan. Itu berarti tidak ada tuhan selain Dia. Tidak ada satu zat pun, apa pun  dan siapa pun yang pantas, yang berhak, yang layak, dan yang wajib kita ibadahi selain Allah. Peribadatan dan penghambaan hanya kita pasrahkan kepada Allah SWT. Allah Sang Pencipta dan Pemilik jagat raya,  pemelihara langit dan bumi seisinya. Inilah tauhid, inti ajaran  para rasul sejak Adam AS hingga Muhammad SAW. Tauhid yang harus kita pegang dengan teguh sampai kapan pun dan apa pun konsekwensinya.

Mujahidin Cyber

Kemudian kita mohonkan agar shalawat dan salam tetap Allah limpahkah kepada Muhammad Rasulullah SAW. Khataman nabiyyin yang dengan risalah yang dibawanya, sanggup mengantarkan  ummatnya pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Pemimpin pemberi uswah terbaik yang tiada banding dan tiada tanding.

Mujahidin Cyber

Hari ini gema takbir berkumandang memenuhi langit. Bersahut-sahutan tiada henti. Hati siapakah yang tidak tergetar mendengar keagungan dan kebesaran Allah terus-menerus dilantunkan oleh lebih dari 1,5 miliar manusia di seluruh pelosok bumi? Takbir itu terus bergema dan menggelegar, sambung-menyambung dari satu negeri ke negeri lain. Hanya hati yang telah mengeras bagai batu belaka yang tidak merespon dengan amat positif salah satu tanda-tanda kebesaran Allah ini.

 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah

Setiap kali sampai pada momen Idul Adha, kita diingatkan kembali akan kisah agung keluarga Ibrahim AS. Kisah penuh teladan bagi segenap manusia sepanjang zaman. Kisah yang telah dengan amat indah Allah rekam dalam surat TQS. Ash Shafaat [37] : 100-113.

Kisah keluarga Ibrahim telah menjadi legenda sejak lebih dari 5.000 tahun silam. Inilah kisah keluarga teladan. Keluarga yang telah berhasil membangun dan menanamkan tauhid pada segenap sendi-sendi kehidupan. Ibrahim, Hajar, dan Ismail adalah potret anggota keluarga sempurna dalam pengabdian dan penghambaan kepada Allah SWT, robbul ‘izzati. Setiap individu dalam keluarga utama ini, benar-benar menunjukkan kwalitas ultraprima dalam bertauhid secara murni dan luar biasa.

Sejak kita kanak-kanak, kisah keluarga ini sudah begitu akrab. Di sekolah para guru menceritakannya. Di surau, langgar, dan mushola-mushola, para ustadz dan guru ngaji mengisahkannya. Seperti baru kemarin, kisah berusia ribuan tahun itu disampaikan kembali kepada kita. Kita masih ingat, bagaimana Ibrahim AS teramat sangat merindukan anak. Di usianya yang sudah renta, Allah belum juga menganugrahi keturunan baginya. Sementara Sarah, istrinya yang juga sudah tua, tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Buat Ibrahim AS, anak bukanlah sekadar pelanjut keturunan. Bagi sang khalilullah, kekasih Allah ini, anak juga sekaligus pewaris risalah kenabian.

Berapa lama di antara kita yang menanti kehadiran si buah hati dalam keluarga? Lima tahun? Tujuh tahun? 10 tahun, 12 tahun, atau mungkin bahkan 15 tahun? Suasana seperti apakah yang mewarnai kehidupan keluarga tanpa tangis bayi? Sepi. Sunyi. Sepertinya hari demi hari berlalu berselimut suram dan muram. Hampir pasti, hari-hari seperti itulah yang dijalani pasangan Ibrahim AS dan Sarah.  Namun Ibrahim tidak putus-putusnya terus berdoa kepada Allah agar dikaruniai keturunan.

? ? ? ? ? (100) ? ? ? (101

 

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak yang Amat sabar. (TQS. Ash Shafaat [37] : 100-101)

Alhamdulillah, sejarah akhirnya mengabarkan, melalui Hajar, Allah menganugrahi Ibrahim AS keturunan. Lahirlah Ismail, bayi laki-laki yang telah teramat lama didamba. Kalau saja kita mencoba hadir pada peristiwa itu, maka akan dapat kita rasakan betapa kebahagiaan membuncah dari dada Ibrahim AS dan istrinya Hajar. Anak yang diharapkan telah hadir di pangkuan. Sejuta doa dan harapan tumpah-ruah kepada si bayi. Kasih dan sayang tercurah bagi penyambung risalah dan keturunan, Ismail kecil. Hari-hari pun bagai dipenuhi pelangi. Warna-warni indah senantiasa mengiringi. Senyum dan tawa bahagia setiap saat pecah menghiasi kehidupan keluarga utama ini.

Namun agaknya Allah punya rencana sendiri. Allah ingin menguji cinta Ibrahim kepadaNya. Adakah cinta kepada Allah itu adalah cinta yang tidak tertandingi? Atau, jangan-jangan Ismail yang amat rindukan itu menjadi “pesaing” cinta Ibrahim kepada Allah Tuhannya yang Maha Agung?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?: 102

 

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". (TQS. Ash Shafaat [37] ; 102)

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan saudara-saudara yang saya hormati

Perasaan seperti apakah yang menyelimuti Ibrahim saat mendapat perintah menyembelih Ismail, putra yang amat dikasihinya? Dapatkah kita bayangkan, setelah puluhan tahun menanti keturunan, bahkan ketika fisiknya sudah semakin renta, lalu ketika anak yang teramat didamba itu ada, Allah perintahkan untuk menyembelih? Ibrahim pun menghadapi dua pilihan, mengikuti perasaan hatinya dengan ”menyelamatkan” Ismail buah cinta keluarga. Atau, menaati perintah Allah dengan ”mengorbankan” putra kesayangannya.

Situasi seperti inilah yang sejatinya setiap saat kita hadapi dalam hidup sehari-hari. Mengutamakan Allah dan rasulNya, atau memilih tetap menggenggam ‘Ismail-Ismail’ lain di sekeliling kita? Walau sering lidah kita mengatakan, “ini adalah karunia Allah”, namun praktiknya kita sering merasa menjadi ‘pemilik’ karunia itu.

Sekarang, mari kita kenali segala sesuatu yang kita cintai. Begitu kita cintai sesuatu itu, hingga kita rela mengorbankan apa saja untuknya. Ketahuilah, itulah ‘Ismail kita. ‘Ismail’ kita adalah segala sesuatu yang dapat melemahkan iman dan dapat menghalangi kita menuju taat kepada Allah. Setiap sesuatu yang dapat membuat diri kita tidak mendengarkan perintah Allah dan enggan mengikuti kebenaran. ‘Ismail’ kita adalah setiap sesuatu yang menghalangi kita untuk melaksanakan kewajiban-kewajiban syar’i. Setiap sesuatu yang menyebabkan dan menjadikan kita mengajukan bermacam alasan dan dalih untuk menghindar dari perintah Allah SWT.

Anak, istri, keluarga, kerabat, harta benda, perniagaan/bisnis, rumah-rumah tinggal sejatinya adalah ‘Ismail-ismail’ buat kita. Jika semua itu lebih kita cintai daripada cinta kepada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan Allah, maka sungguh, kita sudah membuat pilihan yang keliru. Karena dengan demikian, berbagai karunia yang Allah anugrahkan tadi, buat kita telah menjadi tuhan-tuhan tandingan bagi Allah. Dan itu artinya, kita sedang menanam benih-benih yang akan berujung pada panen kemurkaan Allah. Naudzu billahi mindzalik!

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Katakanlah: "Jika bapa-bapa kamu, anak-anak kamu, saudara-saudara kamu, isteri-isteri kamu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik (Al-taubah; 24).

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah.

 Hikmah lain yang bisa kita petik dari kisah agung ini adalah betapa luar biasanya Ismail. Sebagai seorang pemuda, yang tengah tumbuh dengan segala potensinya, yang masa depan gemilang menantinya, Ismail telah menunjukkan kualitas jauh di atas rata-rata. Tauhid telah terpatri dengan sangat kokoh di dadanya.

Bisakah kita membayangkan, perasaan seperti apakah yang kira-kira berkecamuk di dada seorang pemuda, ketika ayah yang amat dicintai dan mencintainya, berkata akan menyembelihnya? Benarkah ayahandanya itu sungguh-sungguh mencintainya? Kalau benar, cinta seperti apakah yang mampu menggerakkan lidah ayahandanya untuk mengucapkan kata-kata itu?

Tapi lagi-lagi Ismail bukanlah seorang pemuda rata-rata. Perintah yang amat berat itu pun disambut Ismail dengan penuh kesabaran. Dia menyanggupi menyerahkan lehernya untuk disembelih. Bukan itu saja, Ismail yang tahu persis bahwa perintah itu pasti amat berat bagi ayahandanya, bahkan mendorong keteguhan jiwa Ibrahim AS untuk melaksanakan perintah Allah tersebut.

Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya’a Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (TTQS ash-Shaffat [37]: 102)

Pertanyaan besar yang bisa diajukan dari adegan luar biasa ini adalah, gerangan apakah yang membuat Ismail menjadi setegar ini? Menu apakah yang setiap hari mengisi kepala dan dadanya, sehingga dia bisa dengan rela menyerahkan lehernya untuk disembelih ayahnya? Pendidikan seperti apa yang bahkan membuat Ismail juga meneguhkan hati ayahnya agar tidak ragu-ragu melaksanakan perintah Allah?

Tentu saja kehebatan Ismail itu bukanlah sesuatu yang instan apalagi sim salabim. Keluarbiasaan Ismail adalah buah dari pendidikan dan bimbingan dari seorang ibu yang juga sangat luar biasa. Inilah peran dahsyat dari Siti Hajar, perempuan yang telah dipilih Allah untuk mendampingi Ibrahim AS dan melahirkan keturunan para nabi. Dia telah mampu membentuk bayi merah Ismail yang ditinggalkan suaminya di tengah padang gersang tak berpenghuni, menjadi anak muda istimewa. Hajar telah suskes mentransformasikan kesalehan, kesabaran, kepasrahan, dan ketakwaannya   kepada anak yang amat dicintainya.  Dan, proses transformasi itu berlangsung setiap hari, setiap detik, setiap saat.

Bagaimana dengan pemuda-pemuda kita hari ini? Adakah mereka mewarisi kedahsyatan Ismail? Sayang sekali, yang terjadi justru sebaliknya. Sebagian (besar) anak-anak muda kita, pelajar dan mahasiswa kita, hari-harinya dipenuhi dengan berbagai perilaku memprihatinkan. Tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, dan seks bebas telah menjadi konsumsi harian mereka.

Data-data yang tersaji tentang perilaku anak-anak muda kita sungguh membuat miris. Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPAI), misalnya, pada semester satu 2012 saja ada 229 kasus tawuran antarpelajar, 19 tewas dan sisanya luka berat dan ringan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2011, yaitu 128 kasus tawuran.

Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebut pada 2008 terdapat 3,4 juta penyalahgunaan narkoba. Angkanya naik menjadi 3,83 juta pada 2010. Pada 2015, diperkirakan jumlah pengguna narkoba menembus 5,13 juta jiwa.

Sementara itu, seks bebas juga marak di kalangan remaja. Hal itu antara lain ditandai dengan tingginya angka aborsi di kalangan remaja. Komnas Perlindungan Anak (PA) mencatat, pada periode 2008–2010 terjadi 2,5 juta kasus, 62,6% dilakukan anak di bawah umur 18 tahun.

Sementara berdasarkan data dari BKKBN  tahun 2013, anak usia 10-14 tahun yang telah melakukan aktivitas seks bebas atau seks di luar nikah mencapai 4,38%. Sedangkan pada usia 14-19 tahun sebanyak 41,8% telah melakukan aktivitas seks bebas.  Data lain mengatakan bahwa tidak kurang dari 700.000 siswi melakukan aborsi setiap tahunnya.

Apa yang terjadi dengan pemuda-pemudi kita? Kenapa ini bisa terjadi? Benarkah anak-anak muda itu nakal? Kurang ajar, tidak bermoral, dan berkhlak rendah? Sudah berapa lama ini semua terjadi?

Semestinya bukan pertanyaan-pertanyaan bernada kecaman seperti itu yang kita sorongkan. Pertanyaan yang seharusnya diajukan adalah, dimana saja selama ini kita; para orang tua, guru, dan pemerintah berada? Apa yang telah kita lakukan dan berikan kepada anak-anak itu?

Sebagai orang tua, bukankah selama ini nyaris tidak ada apa pun yang kita berikan kepada anak-anak itu? Kita sudah merasa menuntaskan kewajiban jika sudah menjejali mereka dengan aneka hadiah dan kebutuhan fisiknya. Pertanyaannya, adakah perhatian dan kasih-sayang kita masih tercurah kepada mereka? Bagaimana dengan waktu dan kebersamaan di rumah dan keluarga? Masihkah kita shalat berjamaah dan membaca al quran bersama mereka? Dan, di atas semua itu, masih adakah teladan yang kita tunjukkan kepada anak-anak itu?

Bukankah di rumah kita telah menjadi para diktator bagi anak-anak. Kita melarang mereka melakukan ini-itu. Namun pada saat yang sama kita tetap saja asyik dengan larangan tersebut. Para ayah melarang anak-anaknya merokok, sementara di sela-sela jemarinya terselip rokok yang masih mengepulkan asap. Para ibu menyuruh anak-anaknya belajar dan melarang mereka menonton tv, sementara dia sendiri asyik duduk di sofa sambil matanya tidak lepas dari sinetron pengumbar mimpi dan nafsu.

Para guru di sekolah mengajarkan moral kepada para siswanya, sementara berbagai kecurangan terus dilakukan. Tidak disiplin dengan kehadiran yang membuat anak-anak gaduh di kelas. Sibuk mencari tambahan di luar kelas hingga kwalitas pengajaran terus melorot. Para kepala sekolah sibuk mengutak-atik anggaran bantuan operasional sekolah (BOS) untuk kepentingan sendiri.

Para pejabat publik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang digaji dengan uang rakyat, tidak lagi memikirkan dan bekerja dengan sungguh-sungguh agar rakyatnya sejahtera dan tercerahkan. Mereka justru sibuk bermanuver untuk melanggengkan jabatan untuk menumpuk harta dan kekuasaan, kekuasaan dan harta.

Teladan telah menjadi barang amat langka di negeri ini. Anak-anak kita tidak lagi bisa menemukan contoh hidup sederhana, arif, santun, dan penuh kasih kepada sesama yang bisa ditiru. Yang ada, setiap hari mereka dijejali dengan budaya hedonis, konsumtif, koruptif, dan manipulatif. Dan semua hal buruk itu setiap saat dipertontonkan  dengan sangat telanjang oleh para orang tua di rumah, guru di sekolah, dan para pejabat di kursi-kursi kekuasaannya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah

Kalau kita ingin memiliki anak seperti Ismail, maka dengan sendirinya diperlukan seorang bapak seperti Ibrahim AS. Tentu saja, tidak 100% seperti Ibrahim. Mungkin cuma 50%, 25%, 10%, bahkan mungkin 1% dari kualitas Ibrahim. Anak-anak seperti Ismail juga memerlukan seorang ibu seperti Hajar. Tentu saja, tidak 100% seperti Hajar. Cukup 50%, 25%, 10%, bahkan mungkin 1% dari kualitas bunda Hajar.

Pertanyaannya sekarang, seper berapa persenkah para bapak dan suami  zaman ini dari Ibrahim? Apakah ada tanda-tanda bunda Hajar pada istri dan para ibu di rumah tangga kita sekarang? Dimanakah kita bertemu jodoh yang kemudian berlanjut pada pernikahan dan keluarga? Apakah di night club, karaoke atau lokasi-lokasi maksiat lain yang menjadi tempat pertemuan dengan jodoh kita?

Jangan pernah berharap di rumah kita akan hadir anak-anak sekelas Ismail, kalau kita sendiri sebagai orang tua tidak mewarisi keutamaan Ibrahim dan Hajar. Sebagai kepala keluarga, sudahkah para bapak hanya memberi nafkah anak dan istri dengan harta yang halal? Adakah rupiah yang kita bawa pulang benar-benar bersih dari unsur haram? Sah dan halalkah kelebihan penghasilan di luar gaji yang kita berikan kepada anak istri dalam bentuk nafkah, rumah, vila, tabungan dan deposito, saham dan obligasi, mobil, dan harta benda lain?

Ibu seperti apakah yang mampu melahirkan dan membimbing anak-anaknya seperti Ismail? Atau, ibu yang bagaimanakah yang memiliki surga di bawah telapak kakinya? Al-jannatu tahta aqdamil ummahat, surga di bawah telapak kaki ibu. Sebagian ulama memang menyebut ini hadits palsu. Sebagian lain mengatakan munkar, karena ada Manshur dan Abu Nadzhar, sebagai perawi tidak dikenal. Bahkan Al-Hafidz menyebutkan perawi lain hadits ini, yaitu Musa, adalah al-kadzdzab atau pendusta.

Meski demikian, ada hadits lain yang senada namun punya kedudukan shahih. Sanad hadits ini oleh banyak ulama diterima sebagai hadits yang hasan. Bahkan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai hadits shahih. Hadits itu adalah hadits dari Muawiyah bin Jahimah. Beliau pernah mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya :

"Ya, Rasulallah. Aku ingin ikut dalam peperangan, tapi sebelumnya Aku minta pendapat Anda". Rasulullah SAW bertanya, "Apakah kamu masih punya ibu?". "Punya", jawabnya. Rasulullah SAW," Jagalah ibumu, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua telapak kakinya". (HR. An-Nasai, Ahmad dan Ath-Thabarani).

Pesan yang ingin disampaikan di sini adalah, hanya para ibu utama dan mulia saja yang mampu menyediakan surga di bawah telapak kakinya. Dan para ibu itu juga tidak sendiri. Mereka harus didampingi para suami yang sholeh, yang memurnikan tauhidnya sesuai dengan millah Ibrahim yang hanif.

Di tangan para orang tua seperti inilah kelak akan lahir dan terbentuk anak-anak yang berakhalak mulia. Generasi muslim yang juga memegang tahuid dengan teguh dan istiqomah. Sebab, pada dasarnya tiap anak lahir dengan bersih. Ibu dan bapaknyalah yang akan mewarnai anak-anak itu menjadi “sesuai” di kemudian hari.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?  

Setiap anak dilahirkan dlm keadaan fitrah (Islam), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.” (HR. al-Bukhari&Muslim)

? ?,

mulailah dari dirimu sendiri.

Demikian Muhammad Rasulullah SAW bersabda. Jika para orang tua memulai dari diri sendiri, baik dalam hal kebaikan dan menghindari keburukan, maka anak-anak akan menemukan teladan. Para pemuda-pemudi kita bisa menduplikasi perilaku mulia dari orang tua, guru, dan para pejabat publik negeri ini. Alangkah indahnya hidup ini dan damainya Indonesia, jika tiap keluarga hanya menularkan kebaikan dalam perilaku sehari-harinya. Tidak ada lagi perkelahian antarpelajar. Tidak ada lagi tawuran antakampung. Tidak ada lagi korupsi yang menyengsarakan rakyat. Sungguh, Indonesia akan menjadi baldatun thoyibatun warobbun ghafur. Sebuah negara yang baik dan berada di bawah perlindungan Allah yang Maha Pengampun. Insya Allah, aamiin...

 

? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?

KHUTBAH KEDUA:

? ? (3×) ? ? (4×) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

 

H. Edy Mulyadi (Ketua Korps Muballigh Jakarta (KMJ), Ketua Badan Koordinasi Muballigh se-Indonesia)  Khotbah disampaikan pada Khutbah Idul Adha 10 Zulhijjah 1436 H/24 September 2015 M di Masjid At Taufiq, Tanjung Duren, Jakarta Barat (red.Ulil)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pesantren Mujahidin Cyber

Sabtu, 12 Agustus 2017

Baca Maulid Simtut Durar di Monumen Ari-ari Kartini

Jepara, Mujahidin Cyber?



Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Mayong, Jepara membacakan maulid Simtut Durar di Monumen Ari-ari Kartini di kompleks kecamatan Mayong, Jepara, Jawa Tengah pada Kamis (20/4) malam. Pembacaan maulid dipimpin Amin Makruf (Banser) dan Sakdullah (IPNU) serta diiringi oleh 40 penerbang dari Ansor ranting dan pesantren se-kecamatan Mayong.?

Kegiatan dihadiri pengurus MWCNU, Danramil, Polsek, Camat juga 80an jamaah. Ketua panitia, Misbahul Munir mengatakan kegiatan di Monumen Ari-ari Kartini dilaksanakan baru kali pertama. “Doa dan maulid diiringi rebana merupakan hal yang baru pertama kali dilakukan dalam rangka mengenang kelahiran kartini,” terang Munir.

Baca Maulid Simtut Durar di Monumen Ari-ari Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)
Baca Maulid Simtut Durar di Monumen Ari-ari Kartini (Sumber Gambar : Nu Online)

Baca Maulid Simtut Durar di Monumen Ari-ari Kartini

Sebab itu pihaknya merencanakan tahun depan ingin menggelar kegiatan serupa dengan mengundang 1000 penabuh rebana. Hal lain disampaikan Ahmad Kholas Syihab. Menurut Ketua PAC GP Ansor Mayong kegiatan dilaksanakan untuk mengenang kelahiran tokoh pahlawan perempuan dari Jepara, RA Kartini.?

Syihab memaparkan, Kartini adalah sosok santri yang mempunyai wawasan kebangsaan. “Darinya perempuan bisa merasakan pendidikan dan kedudukan yang layak di masyarakat,” tandas sarjana Psikologi Unissula Semarang ini.?

Ia berharap generasi muda bisa meneruskan spirit Kartini utamanya dengan hal-hal yang positif.?

Mujahidin Cyber

Dalam mauidlahnya KH Mahrus Ali menegaskan Kartini adalah tokoh wanita santri murid KH Sholeh Darat. Mantan Ketua LDNU Jepara itu menambahkan dari Kartini bisa mencontoh semangat dan dedikasinya untuk memperjuangkan hak-hak yang tertindas. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Humor Islam, Daerah, Pesantren Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock