Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Gandeng Lembaga Pendidikan Sosialisasikan IPNU-IPPNU

Probolinggo, Mujahidin Cyber. Berbagai terobosan terus dilakukan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo dalam melakukan pengkaderan. Hal ini dilakukan demi keberlangsungan organisasi pelajar NU tersebut.

Gandeng Lembaga Pendidikan Sosialisasikan IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Lembaga Pendidikan Sosialisasikan IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Lembaga Pendidikan Sosialisasikan IPNU-IPPNU

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menggandeng lembaga pendidikan untuk mensosialisasikan pembentukan IPNU-IPPNU kepada kalangan pelajar. Terobosan ini merupakan upaya nyata dalam rangka terus mencetak kader berkualitas demi keberlangsungan organisasi.

Ketua PC IPPNU Kota Kraksaan Nur Indah Muktamaroh mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya terus memperkuat diri sebagai organisasi kader di lingkungan NU dengan berupaya membentuk komisariat di sekolah atau madrasah.

Mujahidin Cyber

“Sosialisasi pembentukan IPNU-IPPNU ini dilakukan dalam rangka penguatan organisasi disamping juga mempermudah koordinasi. Dengan banyaknya kader, maka proses regenerasi di IPNU-IPPNU akan berjalan dengan baik,” ungkapnya, Selasa (13/1).

Mujahidin Cyber

Nur Indah Muktamaroh mengakui jika saat ini PC IPNU-IPPNU Kota Kraksaan kesulitan mencari kader yang benar-benar berkualitas dan mampu menjalankan roda organisasi dengan baik. Sebab rata-rata diantara kader NU ini tidak semua bisa terjun dalam kepengurusan karena alasan ijin dari keluarga.

“Salah satu upaya yang kami lakukan untuk menyiapkan dan mencetak kader militan ini adalah dengan membentuk kepengurusan komisariat sebanyak-banyaknya sebagai embrio kepengurusan selanjutnya. Jika sudah terlanjur cinta menjadi pengurus, maka nantinya secara sukarela akan bergabung menjadi pengurus di tingkat yang lebih tinggi,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PC IPNU Kota Kraksaan Masrur Ghazali. Menurutnya, dengan dibentuknya kepengurusan di tingkat komisariat maka siswa akan aktif belajar berorganisasi.

“Setelah terbentuk, tentunya kami akan rutin melakukan pembinaan sehingga siswa bisa lebih cepat untuk mengenal dan memahami organisasi IPNU-IPPNU. Intinya di komisariat ini hanya sebatas pengenalan organisasi IPNU-IPPNU saja. Ujian sebenarnya adalah saat mereka bergabung di level ranting, anak cabang maupun cabang,” ungkapnya.

Menurut Ghazali, kepengurusan komisariat IPNU-IPPNU di sekolah dan madrasah merupakan sebuah wadah pengkaderan pengurus dengan cara menggali potensi siswa agar mau belajar berorganisasi.

“Semoga dengan dibentuknya komisariat IPNU-IPPNU, organisasi di sekolah dan madrasah akan lebih hidup lagi. Pasalnya disini siswa akan mendapatkan pengalaman yang lebih luas,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Doa, Lomba Mujahidin Cyber

Selasa, 06 Februari 2018

Cara Mbah Kiai Umar Solo Ajarkan Kritisisme

Pada tahun 1972, seorang pengusaha asal Surabaya bermaksud mengambil dua putra Mbah Ngismatun Sakdullah Solo–biasa dipanggil Mbah Ngis–untuk diambil menjadi anak asuh. Mbah Ngis dan Mbah Dullah sebagai orang tua setuju atas hal itu meski tempat pengasuhannya bukan di Surabaya, tetapi di Madiun. Beberapa saat sebelum kedua putra Mbah Ngis itu dibawa ke Madiun, Mbah Ngis dan Mbah Dullah memamitkan kepada Mbah Kiai Umar sekaligus memohon nasihat-nasihatnya. 

Hal pertama yang ditanyakan Mbah Kiai Umar (wafat 1980) kepada Mbah Ngis terkait pendidikan kedua putranya di Madiun adalah bagaimana dengan kegiatan mengaji Al-Qur’an.

Cara Mbah Kiai Umar Solo Ajarkan Kritisisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Mbah Kiai Umar Solo Ajarkan Kritisisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Mbah Kiai Umar Solo Ajarkan Kritisisme

“Lha mengko piye ngajine anak-anakmu neng kana (nanti bagaimana kegiatan anak-anakmu mengaji di sana)?” tanya Mbah Kiai Umar.

Ngendikanipun bade dipun padosaken guru ngaji, Pakde (katanya akan dicarikan guru ngaji, Pakde), jawab Mbah Ngis).”

Kowe ya percaya anak-anakmu bakale digolekke guru ngaji (kamu ya percaya anak-anakmu akan dicarikan guru ngaji)?” tanya Mbah Kiai Umar lebih lanjut.

Mujahidin Cyber

Mendengar pertanyaan Mbah Kiai Umar yang seperti meragukan kesungguhan pengusaha itu dalam memenuhi janjinya, Mbah Ngis tidak berani menjawab sepatah kata pun. Mbah Ngis tidak mungkin menjawab, “Kula husnudhan mawon, Pakde (saya husnudhan [berbaik sangka] saja, Pakde).” 

Tentu bisa dipahami mengapa Mbah Ngis (wafat 1994) memilih diam. Bukankah seandainya Mbah Ngis menjawab seperti di atas akan sama saja mengatakan atau menganggap Mbah Kiai Umar melakukan su’udhan (berburuk sangka) terhadap pengusaha tersebut?

Maka pertanyaannya adalah apakah Mbah Kiai Umar telah melakukan su’udhan? Ataukah sebenarnya ini bukan persoalan husnudhan atau su’udhan, tetapi sekadar masalah metode bagaimana mendapatkan sebuah kebenaran atau kepastian bahwa suatu kesanggupan akan dipenuhi dengan cara mengawalnya secara kritis sehingga pengusaha itu benar-benar mendatangkan guru ngaji.

Bagi Mbah Kiai Umar, mengaji Al-Qu’ran bukanlah persoalan sepele. Mbah Kiai Umar tentu menginginkan meskipun kedua putra Mbah Ngis itu diasuh orang lain dan tinggal jauh dari rumah sendiri, mereka harus tetap mengaji Al-Qur’an sebagaimana santri-santri di Mangkuyudan.

(Baca juga: Sekilas Riwayat Kiai Umar Al-Muayyad Solo)Setelah kedua putra itu tiggal di Madiun, guru ngaji Al-Qur’an sebagaimana dijanjikan pengusaha tersebut tidak pernah ada. Memang kedua putra itu sempat dibawa ke sebuah masjid untuk dicarikan guru ngaji, tetapi hasilnya nihil.

Mujahidin Cyber

Mbah Kiai Umar benar. Bisa jadi beliau memiliki mukasyafah karena kejernihan mata batinnya sehingga tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Mbah Kiai Umar tidak mengintervensi apa yang telah diputuskan Mbah Ngis, Mbah Dullah dan pengusaha itu. Beliau justru membiarkan Mbah Ngis dan Mbah Dullah berproses menapaki jalannya sendiri sebagai bagian dari pembelajaran mencari kebenaran. 

Empat bulan lamanya kedua putra Mbah Ngis itu tinggal di Madiun menyelesaikan satu kuartal pendidikan SD. Setelah itu ketika liburan panjang mereka diantar pulang ke Solo dan tidak pernah kembali lagi ke sana karena beberapa alasan. 

Sekembali mereka di Mangkuyudan, Mbah Kiai Umar memberikan perhatian yang besar kepada kedua putra Mbah Ngis itu daripada sebelumnya. Mereka diajari mengaji Al-Qur’an secara langsung oleh Mbah Kiai Umar sebagaimana santri-santri di pondok.

Sarung, Peci dan Masjid

Suatu hari Mbah Kiai Umar nimbali (memanggil) Mbah Ngis karena selama beberapa hari kedua putra Mbah Ngis tidak mengaji Al-Qur’an pada Mbah Kiai Umar sehabis Maghrib. Waktu jamaah shalat Maghrib pun, mereka juga tidak kelihatan di masjid. Kepada Mbah Ngis, Mbah Kiai Umar mengatakan:

Yen anak-anakmu pas wayah Maghrib metu soko ngomah kalungan sarung, nganggo kupluk, mlaku menyang mesjid, kuwi ojo kok anggep anak-anakmu bakale mesti munggah mesjid terus jamaah shalat. Coba tutna anak-anakmu kuwi pada menyang endi? (jika anak-anakmu di saat Maghrib keluar rumah berkalung sarung, memakai peci, berjalan menuju masjid, itu jangan kamu anggap anak-anakmu pasti naik ke masjid lalu shalat berjamaah. Coba dikuntit anak-anakmu kemana perginya).” 

Mbah Ngis paham dengan apa yang dimaksudkan Mbah Kiai Umar. Mbah Ngis tidak perlu menjawab dengan mengatakan, misalnya, “Kula husnudhan dateng lare-lare, Pakde  (saya husnudhan terhadap anak-anak, Pakde).”

Jawaban seperti itu pasti tidak diharapkan Mbah Kiai Umar karena yang dikehendaki beliau adalah Mbah Ngis bisa bersikap kritis dengan tidak percaya begitu saja terhadap apa yang ditangkap oleh indera mata karena penglihatan bisa terkecoh oleh anggapan-anggapan atau dugaan-dugaan yang ada dalam pikiran sebelum pembuktian. 

Dari ndalem Mbah Kiai Umar, Mbah Ngis pulang ke rumah dan melapor kepada Mbah Dullah sebagai suami. Disepakati Mbah Dullah (wafat 2005) akan menguntit kedua putranya itu dari belakang ketika mereka keluar rumah dengan berkalung sarung, mengenakan peci, dan berjalan menuju masjid menjelang adzan Maghrib. 

Benar, Mbah Dullah mendapati kedua putranya itu sampai di masjid, tetapi mereka tidak naik ke tempat itu untuk shalat Maghrib. Mbah Dullah melihat, dari samping selatan masjid kedua putranya itu mlipir-mlipir (berjalan secara hati-hati) ke arah barat hingga pintu keluar. Dari sana mereka belok ke selatan dan bergegas ke sebuah rumah di seberang jalan untuk menonton televisi yang sedang menyiarkan film “Rin Tin Tin”, sebuah film serial TV yang sangat disenangi anak-anak di zaman itu.

Melihat hal itu, Mbah Dullah menyadari bahwa selama ini telah keliru oleh anggapan-anggapan dalam pikiran ketika melihat sarung dan peci dikenakan kedua putranya itu di petang hari menjelang Maghrib dan berjalan menuju masjid. Sejak peristiwa ini, Mbah Ngis dan Mbah Dullah bersikap kritis dalam menghadapi hal-hal yang memang perlu pembuktian sebagaimana yang diharapkan Mbah Kiai Umar. 

Itulah metode keraguan (syak minhaji) yang diperkenalkan Imam Al-Ghazali dalam risalahnya berjudul Al-Munqidz minadl Dlalal (Pembebas dari Kesesatan) yang ditulisnya pada sekitar tahun 1097. Dengan metode itu Mbah Kiai Umar bermaksud memberikan pembelajaran kepada pasutri Mbah Dullah dan Mbah Ngis agar mereka memiliki sikap kritis dengan pendekatan keraguan metodis dalam mendidik putra-putranya demi keberhasilan mereka di kemudian hari. 

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Budaya, Lomba, Syariah Mujahidin Cyber

Senin, 05 Februari 2018

Kawal Perda Mihol, NU Adakan Aksi Damai di Kantor DPRD Surabaya

Surabaya, Mujahidin Cyber. Untuk mengawal dan memberi dukungan moral kepada Panitia Khusus atau Pansus minuman beralkohol (Mihol) DPRD Surabaya, ratusan warga yang terdiri dari Badan Otonom Nahdlatul Ulama di antaranya Banser, Ansor, IPNU serta IPPNU mengadakan aksi di Gedung DPRD Surabaya, Jalan Yos Sudarso 18-22 Surabaya, Senin (25/4).

Kawal Perda Mihol, NU Adakan Aksi Damai di Kantor DPRD Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kawal Perda Mihol, NU Adakan Aksi Damai di Kantor DPRD Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kawal Perda Mihol, NU Adakan Aksi Damai di Kantor DPRD Surabaya

"Kami datang mendukung Peraturan daerah atau Perda larangan Mihol di Kota Surabaya," kata Muhammad Asrori, Ketua PC GP Ansor Surabaya. Lebih lanjut Asrori mengatakan bahwa peredaran Mihol di Surabaya dipastikan akan merusak moral generasi muda.

Selain itu, Asrori menyerukan kepada seluruh warga Muslim untuk mendukung gerakan penolakan Mihol demi menyelamatkan generasi muda khusus di Kota Surabaya.

"Kami meminta seluruh warga muslim, terutama NU untuk ikut berjuang mengawal Perda Mihol. Jangan sampai minuman haram itu beredar di Surabaya," tegasnya.?

"Kawal terus pembahasan Perda Mihol di DPRD Surabaya. Jangan biarkan orang-orang tak bertanggung jawab bermain dalam masalah ini," pungkasnya. (Rof Maulana/Fathoni)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Fragmen, Pemurnian Aqidah, Lomba Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber

Jumat, 02 Februari 2018

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar

Dhaka, Mujahidin Cyber. Kekerasan pemerintah Myanmar atas Rohingya tak hanya memaksa hampir 400.000 ribu etnis minoritas tersebut melakukan eksodus ke negara tetangga, tetapi juga membuat Bangladesh sebagai negeri tujuan pengungsi tertimpa beban. Bangladesh beberapa kali mengecam Myanmar terkait krisis kemanusiaan ini.

Belakangan hubungan keduanya kian panas ketika Bangladesh menuduh Myanmar berulang kali melanggar perbatasan kawasan udara. Bangladesh menilainya sebagai provokasi dan mengancam tentang konsekuensi tertentu bila tindakan itu terulang lagi.

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)
Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar (Sumber Gambar : Nu Online)

Krisis Rohingya Perpanas Hubungan Bangladesh-Myanmar

Ratusan ribu Muslim Rohingya telah tiba di Bangladesh sejak mereka lari dari serbuan tentara Myanmar yang berdalih telah melakukan perburuan "teroris Bengali". Jumlahnya terus meningkat sejak 25 Agustus lalu. PBB menyebut krisis ini sebagai langkah "pembersihan etnis" oleh Myanmar.

Bangladesh, seperti dilansir Reuters, mengatakan bahwa pesawat tempur dan helikopter Myanmar melanggar kawasan udara sebanyak tiga kali, yakni pada 10, 12 dan 14 September,  dan telah meminta pejabat kedutaan besar Myanmar di Dhaka untuk melakukan komplain.

"Bangladesh menyampaikan keprihatinan mendalam atas pengulangan tindakan provokasi semacam itu dan menuntut agar Myanmar segera melakukan tindakan untuk memastikan bahwa pelanggaran kedaulatan semacam itu tidak terjadi lagi," kata kementerian di Myanmar dalam sebuah pernyataan pada Jumat malam. (Red: Mahbib)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Quote, Lomba, Makam Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber

Senin, 29 Januari 2018

PMII Tuntut Pemerintah Bojonegoro Perbaiki Pendidikan

Bojonegoro, Mujahidin Cyber. Merasa prihatin melihat bobroknya pendidikan di Indonesia, terutama di Kabupaten Bojonegoro Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia? Bojonegoro melakukan aksi turun jalan, Kamis (8/5). Mereka menuntut perbaikan pendidikan.

Puluhan aktivis PMII memulai aksinya dari sekretariat PC PMII di jalan Pondok Pindang, dilanjutkan melakukan orasi di Bunderan Adi Pura. Rencananya aksi tersebut berpindah ke kantor Dinas Pendidikan, DPRD dan diakhiri di Pemkab Bojonegoro.

PMII Tuntut Pemerintah Bojonegoro Perbaiki Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Tuntut Pemerintah Bojonegoro Perbaiki Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Tuntut Pemerintah Bojonegoro Perbaiki Pendidikan

Korlap kasi demo, Akhmad Zainul Hasan mengakan, aksi demo ini menutut pemerinh, agar menuntaskan pembangunan infrastruktur pendidikan di Bojonegoro. Serta meningkatkan moralitas elemen dunia pendidikan di Bojonegoro.

Mujahidin Cyber

"Jadikan Bojonegoro sebagai kota pendidikan, perjelas kinerja guru PNS, perbaiki pembangunan infrastruktur di pedesaaan," teriaknya saat berorasi di Bunderan Adipura.

Selain itu para aktivis mahasiswa itu menilai kurukulum berbasis muatan lokalitas dan moralitas, serta permasalahan kejujuran UN. Makanya PC PMII Bojonegoro turun jalan.

Mujahidin Cyber

Mereka juga meminta kepada pemerintah agar segera, untuk pembenahan sistem pendidikan yang terpaku oleh kepentingan globalisasi dan Industralisasi. Jadikan UN sebagai tolak ukur dan pemetaan pendidikan nasional bukan sebagai syarat kelulusan siswa semata. "Perhatikan kesejahteraan Guru Tidak Tetap (GTT) dan Guru Honorer," jelasnya.

Ditambahkan, merosotnya moral pendidikan di Bojonegoro, karena penegakkan dasar sila Pancasila kemanusiaan yang adil dan beradab tidak diterapkan. Oleh sebab itu sistemnya tidak ada yang benar dan menyesatkan, pendidikan di Indonesia ini bukan mendidik tapi meruntuhkan alias pembodohan.

"Karena tidak menerapkan budaya lokal dan karakter orang Indonesia adab tidak lagi dipakai melainkan hanya sebagai simbol semata," pungkasnya.[Muhammad Yazid/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Hadits, Sejarah, Lomba Mujahidin Cyber

Kamis, 25 Januari 2018

Hasil Lengkap Babak 16 Besar Liga Santri Nusantara 2017

Bandung, Mujahidin Cyber

Babak 16 Besar Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 sudah selesai digelar hari ini (26/10) di Kota Bandung. Pada pukul 10:00 WIB, secara bersamaan babak 16 Besar dibuka pertemuan delapan tim di empat venue berbeda.     

Di Stadion Siliwangi, Darul Huda dan Asshiddiqiyah, dua tim kuat LSN tahun ini, mengadu kualitas di lapangan. Di tengah guyuran hujan yang deras dan lapangan yang licin, tim asal Ponorogo Darul Huda, menang meyakinkan setelah tiga kali menggelontorkan gol ke gawang perwakilan Jakarta Asshiddiqiyah. Sementara di Stadion Brigif, tim tuan rumah Al Husaini menghentikan perlawanan kesebelasan Birul Walidain dengan skor tipis 1-0.

Hasil Lengkap Babak 16 Besar Liga Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Lengkap Babak 16 Besar Liga Santri Nusantara 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasil Lengkap Babak 16 Besar Liga Santri Nusantara 2017

Nurul Iman dan Manba’ul Hikmah bertarung dengan sengit dan mesti menyelesaikan laga dengan adu penalti, dalam laga yang digelar di Lapangan Pusdikif. Babak kedua pertandingan berakhir dengan skor 1-1. Sementara di masa perpanjangan waktu gawang kedua tim sama-sama tetap steril. Adu penalti berakhir dengan skor tipis 2-3 untuk keunggulan Manba’ul Hikmah. Di Stadion Arcamanik, tim asal Sragen Walisongo “memberi tiket pulang” kesebelasan Mambaul Ma’arif, setelah mengalahkan tim asal Denanyar tersebut dengan skor tipis 1-0.

Mujahidin Cyber

Pada sesi kedua yang dimulai pada pukul 13:00 WIB, Stadion Siliwangi menyaksikan terhentinya langkah tim yang sampai saat ini paling rajin membobol gawang lawan (17 gol), DDI Kaballangan. Langkah tim ini terhenti di tangan Al Kahfi dengan skor tipis 1-2. Pada saat bersamaan di Stadion Brigif, Arraisiyah melewati adangan tim Cianjur Al Huda lewat skor meyakinkan 3-0.

Mujahidin Cyber

Di Stadion Arcamanik, Babussalam memaksa Darul Hikmah memainkan babak pertambahan waktu, setelah dua babak normal berakhir dengan angka sama kuat 1-1. Satu gol di pertambahan waktu membawa Darul Himah melenggang ke babak Delapan Besar. Satu laga 16 Besar antara AIAI melawan Assalam, ditunda lantaran kondisi lapangan Pusdikif yang tidak memungkinkan menggelar pertandingan setelah diguyur hujan. Laga yang akhirnya digelar pada malam hari di lapangan Footballplus itu berkesudahan dengan skor 1-3 untuk keunggulan tim asal Bangkalan, Assalam.

Dengan demikian delapan tim yang lolos ke babak Delapan Besar LSN 2017 adalah: Darul Huda, Alhusaeni, Manba’ul Hikmah, Walisongo, Al Kahfi, Arraisiyah, Darul Hikmah dan Assalam.

Hasil Lengkap Babak 16 Besar Liga Santri Nusantara 2017

Darul Huda 3 - 0 Asshiddiqiyah

Alhusaeni 1 - 0 Birul Walidain

Nurul Iman 2 (1) – (1) 3 Manba’ul Hikmah*

Mambaul Ma’arif 0 - 1 Walisongo

DDI Kaballangan 1 - 2 Al Kahfi

Arraisiyah 3 – 0 Al Huda

Darul Hikmah 2 (1) – (1) 1 Babussalam**

AIAI Babel 1 – 3 Assalam

Keterangan:

*: Adu penalti

**: Perpanjangan waktu

(Ahmad Makki/Abdullah Alawi)    



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Lomba Mujahidin Cyber

Selasa, 09 Januari 2018

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi

Oleh Muhammad Ishom 



“Aku punya gagasan untuk mempertemukan mereka berdua



Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gagasan Mengawinkan Bencong dengan Tomboi

agar saling isi dengan cerita derita duka lara

Barangkali nanti tumbuh naluri sejati

dan kembali seperti sediakala

Mujahidin Cyber

Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti

Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” (Bait ke-6)

Itulah enam baris dari bait terakhir lirik lagu berjudul “Zaman” yang dinyanyikan sendiri oleh penciptanya– Ebiet G. Ade–dan dirilis pada tahun 1986. Apa yang dimaksudkan Ebiet dengan frasa “mereka berdua” pada baris pertama di atas tak lain adalah bencong dan tomboi sebagaimana terdapat dalam judul tulisan ini meski Ebiet tidak menyebut sama sekali dua istilah itu di dalam lirik lagunya. 

Mujahidin Cyber

Kedua istilah itu telah umum digunakan oleh masyarakat untuk menyebut kelompok orang yang perilaku atau penampilannya tidak cocok menurut kewajaran dengan jenis kelamin yang disandangnya. Mereka yang disebut bencong mungkin sama dengan yang dimaksud gay atau transgender dalam LGBT meski tidak setiap bencong adalah gay atau transgender. Demikian pula mereka yang disebut tomboi mungkin sama dengan yang dimaksud lesbian dalam LGBT meski tidak setiap tomboi adalah lesbian. 

Saat ini orang tengah ramai kembali membicarakan tentang LGBT sehubungan dengan penolakan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap perkara 46/PUU-XIV/2016 yang diajukan oleh Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Euis Sunarti bersama sejumlah pihak. Tahun lalu Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta para lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dihukum penjara maksimal 5 tahun. 

Penolakan itu telah dipahami sebagian kalangan di sejumlah postingan di media sosial bahwa MK telah melegalkan perbuatan zina dan homoseksual. Pemahaman sekaligus tuduhan ini ditolak oleh Juru Bicara MK Fajar Laksono yang menegaskan Mahkamah tidak melegalkan perbuatan seksual sejenis (Kompas.com, 18/12/2017, 20:15 WIB).

Namun, tulisan ini tak dimaksudkan untuk membicarakan polemik tentang LGBT dari berbagai perspektif karena penulis hanya sekedar ingin mengingat kembali bahwa tiga puluh satu (31) tahun lalu seorang penyanyi sekali pencipta lagu–Ebiet G. Ade–telah menyodorkan sebuah gagasan untuk mencarikan solusi terhadap fenomena bencong dan tomboi yang masing-masing bisa masuk dalam kategori gay atau transgender dan lesbian.

Sejauh yang bisa saya tangkap dari lirik lagu “Zaman” secara keseluruhan, Ebiet G. Ade berpikir bahwa bencong dan tomboi dapat dipertemukan dalam ikatan perkawinan sebab mereka yang secara fisik laki-laki tetapi secara seksual tertarik kepada sesama jenis sebenarnya juga menyadari ketidak wajarannya. Mereka bahkan tak menghendaki hal itu terjadi sehingga selalu menangisi nasibnya. Akhirnya mereka sampai pada pertanyaan mendasar apakah hal itu berdosa. 

Pikiran Ebiet G. Ade tersebut sebagaimna dapat kita simak pada bait ketiga sebagai berikut: 

Ia bersembunyi menyimpan tangis yang tak kuasa dibendung

Ia jatuh cinta namun keburu sadar itu tak wajar

Tanda tanya bergolak di dalam fikirannya, “Berdosakah?”

Sedang ia pun tak menghendaki

Siapa gerangan yang dapat membantu menjawabnya? (Bait ke-3)





Pada baris terkahir dari bait ini Ebiet G. Ade mengajukan pertanyaan siapa gerangan yang dapat membantu menjawab pertanyaan dari laki-laki bencong tentang berdosa tidaknya jika ia jatuh cinta secara tidak wajar karena mencintai sesama jenis. Beberapa pihak dari kalangan agamawan baik Islam maupun Nasrani telah memberikan jawaban tegas bahwa mencintai sesama jenis yang kemudian diungkapkan dengan hubungan seksual adalah berdosa. 

Pada bait keempat dan kelima Ebit G. Ade mengungkap fenomena yang berkebalikan dengan bencong, yakni tomboi sebagaimana tertuang dalam dua bait berikut ini:

Perempuan dongak di atas angin

Kepalanya bengkak penuh mimpi kekerasan

Tubuh sintal dan tegap menampilkan kejantanan

Tak tercermin sikap lembut sebagaimana kodratnya (Bait ke-4)

 

Rambutnya yang kasar kotor berdebu

Diisapnya cerutu bibir retak terbakar

Langkah dihentak-hentak, galak seperti singa

Ia ingin tampil lengkap sebagaimana layaknya lelaki (Bait ke-5)





Kedua bait itu (Bait ke-4 dan ke-5) mengungkapkan secara jelas tentang tomboi dengan disebutnya perempuan yang bertingkah laku tidak sebagaimana kodratnya tetapi malahan  ingin menampilkan kejantanan sebgaimana layaknya lelaki. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Queen Mary University, London, 1 dari 3 perempuan tomboi tumbuh menjadi lesbian. (Hidayatullah, 12 Juli 2011-10:44 WIB). 

Perempuan tomboi yang tumbuh menjadi lesbian inilah yang dibicarakan Ebiet G. Ade untuk dipertemukan dalam ikatan perkawinan dengan seorang bencong yang gay atau transgender sebagaimana diungkapkan dalam bait keenam di awal tulisan ini. Argumentasi Ebiet G. Ade dalam gagasanya ini adalah karena dari perkawinan semacam ini barang kali akan tumbuh naluri sejati dari masing-masing pihak sehingga akan kembali menjadi orang normal sesuai dengan kodrat jenis kelamin masing-masing. 

Gagasan Ebeit G. Ade tersebut patut diapresiasi karena dari berbagai perspektif agama, sosial dan susila tidak bertentangan. Bisa jadi gagasan ini menjadi alternatif terapi yang mujarab bagi ketidakwajaran kaum bencong dan tomboi dalam ekspresi diri dan seksualitasnya sehingga mereka bisa diselamatkan secara hukum maupun moral. Namun pertanyaannya adalah apakah para bencong mau kawin atau dikawinkan dengan kaum tomboi?

Jawaban dari pertanyaan itu telah Ebiet temukan dalam kedua baris terkahir dari bait keenam atau penutup di atas: “Semua jawabnya hanyalah Tuhan yang mengerti. Sekali lagi jawabnya hanya Tuhan yang mengerti.” Artinya jika Tuhan berkata “Kun” (jadilah), maka “fayakun” (maka jadilah).  

Penulis adalah dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Lomba, Pesantren, Sholawat Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock