Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Gerak Pemberitaan NU Harus Berani dan Cepat

Yogyakarta, Mujahidin Cyber. Media pemberitaan di lingkungan NU harus menjadi tradisi dan gerakan di masa depan. Globalisasi yang ditandai dengan makin kuatnya peran media harus dimanfaatkan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut untuk mengukuhkan gerakan.

Ketua Lajnah Talif wan Nasyr (LTN) PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta HM. Lutfi Hamid mengatakan di Graha Sabha Pramana, UGM Yogyakarta (12/12).

Gerak Pemberitaan NU Harus Berani dan Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerak Pemberitaan NU Harus Berani dan Cepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerak Pemberitaan NU Harus Berani dan Cepat

Ia menambahkan, memasuki era yang penuh tantangan tersebut jangan sampai NU menjadi orang pasif, melainkan aktif untuk mengisi globalisasi. Untuk itu, NU harus bergerak berani dan cepat melalui media pemberitaan.

Mujahidin Cyber

"Jangan sampai kaum muda menjadi pemain pasif. Kita harus aktif. Mari gerakkan semua potensi, khususnya media untuk mengisi peradaban di masa depan," tegas Lutfi yang juga Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Sleman DIY.

Mujahidin Cyber

Lutfi juga menegaskan bahwa media NU DIY, yakni Majalah Bangkit, dengan mengangkat tema "Koruptor Mati tak perlu Disholati" mendapatkan apresiasi sangat besar dari pengunjung Expo KPK beberapa hari lalu (9-11 Desember).

"Hampir semua pengunjung sangat apresiasi dengan tema Majalah Bangkit. Karena stand Bangkit juga dikunjungi oleh Presiden Jokowi," tegas Lutfi yang juga santri KH Ali Maksum Krapyak.

Dalam Expo KPK tersebut, lanjut Lutfi, Bangkit hadir dibagikan gratis, termasuk kepada para Menteri yang hadir, komisioner KPK, peserta acara Mata Najwa, para gubernur, bupati, walikota, dan lainnya.

"Ini membuktikan bahwa komitmen NU sangat besar dalam memberantas korupsi. Majalah Bangkit akan selalu hadir memberikan yang terbaik kepada bangsa ini," tegas Lutfi yang juga aktif dalam menulis berbagai buku. (madun/abdullah alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pemurnian Aqidah, AlaSantri, Nahdlatul Mujahidin Cyber

Jumat, 09 Februari 2018

Mulanya Tak Ada yang Berani Mendirikan Cabang NU di Tuban

Kemunculan Nahdlatul Ulama (NU) di daerah Tuban, Jawa Timur, tergolong lebih muda jika dibandingkan daerah-daerah lain di Jawa Timur atau Jawa Tengah. NU yang didirikan pada tahun 1926, baru berdiri di Bumi Wali pada tahun 1935, itupun bukan di pusat kota, melainkan di Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban.

“Salah satu penyebabnya, dikarenakan pengaruh dan wibawa dari KH Moertadlo. Beliau merupakan seorang ulama sepuh seangkatan KH Hasyim Asy’ari, yang masih memegang prinsip bahwa dakwah Islam tidak harus melalui organisasi, tetapi cukup melalui dakwah dan pengajian,” terang Wakil Rais Syuriyah PCNU Tuban KH Ahmad Mundzir, saat ditemui Mujahidin Cyber, belum lama ini (3/10).

Mulanya Tak Ada yang Berani Mendirikan Cabang NU di Tuban (Sumber Gambar : Nu Online)
Mulanya Tak Ada yang Berani Mendirikan Cabang NU di Tuban (Sumber Gambar : Nu Online)

Mulanya Tak Ada yang Berani Mendirikan Cabang NU di Tuban

Mundzir menambahkan, pendapat Kiai Moertadlo yang kala itu mengasuh Pesantren Ash-Shomadiyah Makam Agung Tuban, kemudian diikuti para kiai dan tokoh Islam setempat. Alhasil, tak ada yang berani mendirikan cabang NU di kota Tuban.

Mujahidin Cyber

“Baru kemudian pada tahun 1935, sejumlah santri alumni Pesantren Tebuireng di Kecamatan Jenu mendirikan NU Cabang Jenu. Sehingga muncul anekdot Jenu (Jelas NU)!” ungkapnya.

Sebagai pengurus di masa awal, KH Khusen mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah berduet dengan Kiai Umar Farouq sebagai Ketua Tanfidziyah.

Mujahidin Cyber

Meskipun demikian, pada perkembangannya hingga Indonesia merdeka, NU di Tuban belum jua mengalami perkembangan yang pesat. Selain karena faktor di atas, kebijakan Jepang yang membekukan semua organisasi masyarakat dan politik di Indonesia juga menjadi alasan lain.

Hingga akhirnya, KH Wahid Hasyim, yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Masyumi, datang menemui Bupati Tuban  R.T. Soediman Hadiatmodjo dan memintanya untuk mengizinkan membuka cabang NU di daerah Tuban.

Pada tahun 1945 NU berdiri di kota Tuban dan dengan sendirinya keberadaan NU Cabang Jenu pun berakhir. (Ajie Najmuddin)

Sumber terkait : Buku Perjalanan NU Tuban (PCNU Tuban:2014)

Foto: Rais Syuriah pertama NU Jenu, Tuban, KH Khusen

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber AlaSantri Mujahidin Cyber

Kamis, 08 Februari 2018

Kakek Ini Bilang: Banser Itu Jalan Jihad fi Sabilillah

Musi Rawas, Mujahidin Cyber 



Mata dan rambutnya kelabu, tapi jalan dan suaranya masih gagah dan berwibawa, terutama saat mengajak anggota Banser yang masih muda untuk terus mendisiplinkan diri, berkhidmah bagi organisasi dan NKRI.

Kakek Ini Bilang: Banser Itu Jalan Jihad fi Sabilillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kakek Ini Bilang: Banser Itu Jalan Jihad fi Sabilillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kakek Ini Bilang: Banser Itu Jalan Jihad fi Sabilillah

"Jadi Banser itu harus diniatkan sebagai jihad fi sabilillah," ujar Ahmad Sugiyanto, di Musi Rawas, Senin (11/12).

Pria kelahiran Yogyakarta 1948 yang kini menjadi warga desa dan Kecamatan Sumber Harta, Kabupaten Musirawas, Provinsi Sumatera Selatan itu mengaku bangga menjadi bagian keluarga Ansor Banser.

Ia berharap, Banser zaman now dapat menjadi generasi yang memegang teguh Ahlussunah wal-Jama’ah an-Nahdliyah, Pancasila, lebih profesional dan lebih bertanggung jawab dengan tugas diberikan serta memotivasi diri untuk terus membela kebenaran, juga NKRI.

Yanto telah mendorong empat anaknya untuk menjadi  anggota Banser. Alasannya, “akidah” Nahdlatul Ulama beserta badan otonomnya adalah Ahlussunah wal-Jama’ah.

Mujahidin Cyber

"Kiprah Ansor dan Banser dalam mempertahankan NKRI dan menjaga ulama dari saya muda juga sudah jelas. Alhamdulillah, tiga anak lelaki saya sudah menjadi anggota Banser dan satu perempuan bergabung dengan Fatayat NU," ujar pria karib dipanggil Mbah Yanto itu.

Saat ditanya berapa honor ia terima menjaga pengajian sejak menjadi Banser sejak 1964, ia justru tertawa geli.

Mujahidin Cyber

"Sudah puluhan kali memang menjaga pengajian. Tapi untuk masalah itu, bisa tanya kiai kalau masalah itu," ujar Mbah Yanto tersenyum sembari menunjuk KH Muhammad Ali Masud, Pengasuh Pesantren Riyadlus Sholihin dengan ibu jarinya.

Kiai Ali secara terpisah menjelaskan, seringkali merasa tidak enak dengan Yanto. 

"Secara usia saya ini lebih muda dari Mas Yanto. Tapi takzimnya pada kiai-kiai sungguh luar biasa. Dari menjaga pengajian hingga silaturahmi pada kiai, kontinu ia lakukan, dan tanpa pernah merengek meminta apa-apa," kata dia.

Kaderisasi Banser selalu menekankan, berkhidmah di Ansor atau Nahdlatul Ulama tidak akan menerima gaji. Peserta yang tidak sanggup dipersilakan mundur sejak awal. 

Sehingga jika ada ungkapan fitnah, Banser menjaga gereja demi sebungkus nasi tentu informasi tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Kiai Ali menambahkan, Mbah Yanto saat bersilaturahim dengan kiai justru malah sering memberi kenang-kenangan walau hanya pin Banser. Para kiai diminta ikhlas menerima pemberiannya.

Dan jika ada kegiatan kaderisasi, Mbah Yanto juga sering hadir. Termasuk survei lokasi, dan menginap di sekitar lokasi kegiatan sebelum hari H demi suksesnya kaderisasi.

"Khidmahnya untuk organisasi luar biasa, dan tidak bisa diragukan lagi," papar Kiai Ali yang tinggal di Desa Jaya Bakti, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Musi Rawas. (Alya Juwita Kusumah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber AlaSantri Mujahidin Cyber

Selasa, 06 Februari 2018

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel

Banjarmasin, Mujahidin Cyber 

Pimpinan Pusat Muslimat NU mengadakan orientasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) untuk pondok pesantren dan majelis taklim Muslimat NU di Hotel Amaris, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (17/11).



PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel



Pembukaan dihadiri Gubernur Kalimantan Selatan yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kalimantan Selatan H. Gusti Burhanuddin. 

Mujahidin Cyber





Mujahidin Cyber

Hadir pula dari Pendamping Promkes Kementrian Kesehatan RI Ismoyowati. Ia menyampaikan 5 Nawacita program Indonesia Sehat Germas.





“Standar SPM sehat diharapkan dari pemerintah kabupaten kota untuk preventif dan sistematis dalam pelaksanaan Germas,” katanya. 





Ia menambahkan, kesehatan tidak bisa dilakukan aendiri- sendiri, tetapi harus bersama-sama seluruh komponen bangsa, harus sadar dan mampu hidup sehat sehingga sejajar dengan bangsa-bangsa lain.





“Maka lini pondok pesantren dan majelis taklim akan mengadakan RTL (Rencana Tindak Lanjut, red.) program yang tidak membumbung tinggi, tapi yang realistis bisa dilaksanakan di pondok pesantren dan majelis taklim,” jelasnya. 





Ketua Tim Germas PP Muslimat NU Hj. Erna Soefihara menyatakan, bidikan peserta orientasi adalah pimpinan pondok pesantren dan pimpinan majelis taklim sangat tepat sekali.





Karena, kata dia, anggota Muslimat NU bisa dipastikan memiliki dan akrab dengan majelis taklim. Selain itu, anggota Muslimat di masyarakat kebanyakan adalah ibu-ibu Muslimat. 





Acara itu diwarnai simulasi senam sehat Germas hingga doorprize. (A-Moez/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Tokoh, AlaSantri Mujahidin Cyber

Rabu, 31 Januari 2018

Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel

Semarang, Mujahidin Cyber. Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesi (PMII) cabang kota Semarang menggelar pelatihan penulisan artikel. Bertempat di aula masjid Al-Jauhari tampak ? puluhan kader dari Universitas Islam Walisongo, Universitas Diponegoro, dan Universitas Negeri Semarang dan Universitas Wahid Hasyim, Ahad (17/5).?

Acara dibuka langsung oleh KH Ahmad selaku sesepuh pergerakan Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan Semarang.?

Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel

KH Ahmad yang pernah menjadi wakil gubernur Jawa Tengah menanggapi positif diselenggarakannya pelatihan ini.?

Mujahidin Cyber

"Pembelaan dari segi pers dan jurnalis harus kita tingkatkan," tambah sesepuh asli Magelang ini. Tulisan di media bisa mengarahkan kebenaran dan keburukan yang terjadi di masyarakat. Sudut pandang dan cara penulisan jurnalis menjadi salah satu cara untuk mengontruksi kebenaran tersebut.

Ia juga bercerita mengenai seorang muslimah berkewarganegaraan Jerman yang menyelamatkan seorang wanita yang diperkosa di sebuah kafe. Namun, muslimah tersebut terbunuh oleh geng pemerkosa. Kebanyakan media tidak menonjolkan bahwa wanita tersebut muslimah. Kiai Ahmad yang pernah menjadi ketua tanfidziyyah menambahkan banyak pemberitaan yang menyudutkan Islam.?

Mujahidin Cyber

Selain itu, hadir M. Rikza Chamami M.Si dosen UIN Walisongo Semarang yang sering mengirimkan artikelnya ke media massa memberikan motivasi kepada kader yang hadir. Selain itu, Ida Nur Laila redaktur Harian Jawa Pos Radar Semarang memberikan materi teknik dan cara penulisan artikel dan trik menembus media massa.?

Pelatihan penulisan sehari ini memberikan suntikan semangat sendiri bagi kader-kader agar mulai memandang pentingnya dunia penulisan dalam dunia pergerakan.?

"Peningkatan kualitas penulisan dan pemahaman kader dalam dunia jurnalistik ke depan harus lebih baik," ungkap Abdur Rahman selaku ketua cabang. Media massa yang ada di Semarang bisa menjadi alternatif bagi kader-kader untuk menyalurkan ide dan gagasan dalam dunia tulis-menulis. Berbagai macam rubrik bisa menjadi tujuan dari kader PMII kota Semarang.?

Dengan lahirnya kader baru pergerakan dalam dunia tulis menulis harapannya PMII tidak hanya berkoar di jalan menyuarakan aspirasi rakyat namun, melalui pembentukan opini di media massa. Selain itu dunia tulis-menulis juga bisa menjadi lahan belajar bagi kader pergerakan dalam memahami dunia jurnalistik. (m zulfa/mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber AlaSantri Mujahidin Cyber

Jumat, 26 Januari 2018

Senangnya Warga OKUT Ketemu Banser di Baksos ATS Pelajar NU

Martapura, Mujahidin Cyber. Sejumlah warga Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan mengaku senang bertemu Banser di acara Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) setempat yang menggelar bakti sosial penyembuhan alternatif penyakit medis dan nonmedis Aji Tapak Sesontengan (ATS), Ahad (1/10).

Srianah, warga Trimoharjo, Semendawai Suku III, bertahun-tahun mengidap penyakit vertigo dan maag. Dua tahun terakhir, perempuan berusia 41 tahun itu tiga kali keluar masuk rumah sakit.

Senangnya Warga OKUT Ketemu Banser di Baksos ATS Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Senangnya Warga OKUT Ketemu Banser di Baksos ATS Pelajar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Senangnya Warga OKUT Ketemu Banser di Baksos ATS Pelajar NU

"Badan enteng dan pusing di kepala berkurang drastis," ujar Srianah menanggapi terapi beberapa menit ATS oleh Pelaksana Tugas Kepala Satuan Khusus Banser Husada Lampung, Gatot Arifianto.

Selain itu, Srianah juga sudah bisa sedikit demi sedikit melepas kaca mata minus yang 12 tahun terakhir sama sekali tidak bisa dilepasnya.

Mujahidin Cyber

Tanggapan serupa juga disampaikan Masudah, warga Darirejo, Belitang III, yang menderita penyakit kanker kolorektal atau kanker usus besar yang secara medis merupakan pertumbuhan sel kanker pada usus, anus dan usus buntu.

"Ada benjolan pada usus berdasarkan pemeriksaan dokter. Setiap magrib perut sering sakit dan usus seperti diremas, badan tidak nyaman, nafas sesak, kepala dan kaki kiri sering sakit. Alhamdulillah diterapi tiga kali perut sudah nyaman, termasuk bagian tubuh sakit lainnya. Sekarang untuk mengatasi pekerjaan rumah tidak terlampau sakit seperti biasanya, rasa sakit pada benjolan sekarang juga berkurang jauh," kata dia lagi.

Bekerjasama dengan Gusdurian Lampung dan Tim Swarna Raya Yayasan ATS Global Indonesia, IPNU OKUT menggelar baksos di Yayasan Pondok Pesantren Mafatihul Huda, Comal, Yosowinangun, Belitang Madang Raya, asuhan Kiai Syaiful Anam.

Dalam kegiatan baksos dihadiri 56 masyarakat itu, Gatot didampingi? sejumlah kader Ansor yang juga praktisi ATS dari Sumatera Selatan. Supriyanto dari OKI Selatan dan Ririz, dari Musi Banyuasin.

"Setelah aktivasi ATS, saya jarang memberi obat atau menyuntik pasien dengan beragam penyakit," ujar Supriyanto, kader Ansor Cahaya Mas, Ogan Komering Ilir (OKI) yang berprofesi sebagai mantri di Puskesmas di daerah itu. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber PonPes, IMNU, AlaSantri Mujahidin Cyber

Rabu, 24 Januari 2018

Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom

Jakarta, Mujahidin Cyber

Vivi Normasari, salah satu korban pengeboman Hotel JW Marriott tahun 2003 silam mengeluhkan sikap wartawan. Menurutnya para wartawan seperti tidak punya hati nurani saat korban pengeboman dalam keadaan luka parah dan meminta tolong wartawan hanya sibuk mengambil gambar atau merekam video.

Vivi menceritakan hal tersebut dalam Short Course “Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media” di Hotel Ibis Budget, Menteng Jakarta Pusat, Rabu (25/5).

Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom (Sumber Gambar : Nu Online)
Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom (Sumber Gambar : Nu Online)

Korban Aksi Terorisme Ini Keluhkan Wartawan dalam Liputan Serangan Bom

Diceritakan Vivi, akibat peristiwa JW Marriott, ia menghadapi situasi hilangnya rasa percaya diri. Sebelum pengeboman JW Marriott, ia sedang menyiapkan rencana pernikahannya. Ia juga sebagai karyawan sebuah bank. 

Peristiwa pengeboman Hotel JW Marriott menyebabkan Vivi harus menjalani masa sulit. Vivi mengalami luka di beberapa bagian tubuhnya, rasa takut menghadapi pernikahan, termasuk kehilangan pekerjaan. Vivi pun harus menjalani fisioterapi untuk menyembuhkan luka fisiknya dan memulihkan trauma psikologis melalui Bimbingan dan Konseling.

Mujahidin Cyber

Luka batin dan trauma yang dialami Vivi akhirnya perlahan mencair. Bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA), kini Vivi menjadi salah satu agen perdamaian yang salah satu kegiatannya mengampanyekan pesan damai ke sekolah-sekolah menengah di Indonesia.

Kepada masyarakat, Vivi menyampaikan pesan moral, dampak tragedi bom sangat mengubah kehidupa seseorang; aksi kekerasan di belahan bumi mana pun tidak dapat ditolerir baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan beragama yang kita anut. 

“Kita hidup tidak sendirian, oleh karena itu kepedulian terhadap sesama menjadi penting,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Aswaja, AlaSantri, Olahraga Mujahidin Cyber

Jumat, 19 Januari 2018

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Rabat, Mujahidin Cyber?

Rais Syuriah PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah melantik kepengurusan Pengurus Cabang Istlimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko periode 2016-2018. Pelantikan berlangsung di gedung serbaguna KBRI di ibu kota Maroko, Rabat pada Rabu 30 November.?

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Pelantikan dimulai pukul 09.00 tersebut dihadiri beberapa ulama Maroko, Nahdliyyin, juga ? Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Maurutinia H.E.D Syarief Syamsyuri beserta jajarannya.?

Pelantikan ini dimulai dengan serah terima jabatan dari ketua PCINU Periode 2014-2016 Kusnadi kepada Ketua PCINU periode 2016-2018 Abdullah Aniq Nawawi. Lalu Pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung Masykuri Abdillah.?

Seperti periode sebelumnya, dalam periode ini pun Pengurus PCINU Maroko tidak hanya diisi warga negara Indonesia. Beberapa ulama terkenal Maroko seperti Dr. Ahmad Roisuni, Dr. Yusuf Kallam, Dr. Nadia Syarqoui, dan Syekh Rodi Genun juga berada dalam jajaran kepengurusan.?

Masykuri Abdillah meminta kepada Nahdliyyin di Maroko untuk terus menjaga paham Islam Ahlussunnah wal-Jamaah dan menegaskan pentingnya belajar setinggi-tingginya. Tak cukup hanya bermodal S1 saja.

Mujahidin Cyber

Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Mauritania mengingatkan kepada organisasi PCINU Maroko untuk terus menjaga hubungan baik dengan KBRI ? Rabat yang sudah terjalin sejak lama.?

Pelantikan ini juga diisi dengan penyerahan buku antologi cerpen “Sepenggal Cerita Di Lorong Pesantren”, yang merupakan 20 cerpen terbaik pilihan PCINU Maroko. Buku ini diserahkan Ketua PCINU Maroko Aniq Nawawi kepada KBRI Rabat sebagai cenderamata sekaligus ucapan terimakasih atas bantuan KBRI Rabat selama ini. Acara yang berlangsung sekitar 120 menit ini kemudian ditutup oleh doa dari ulama Maroko Dr. Yusuf Kallam. (Sirojudin Ahmad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Pendidikan, AlaSantri Mujahidin Cyber

Minggu, 14 Januari 2018

“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional

Jombang, Mujahidin Cyber - Setidaknya ada enam lagu baru yang akan? ditetapkan sebagai lagu perjuangan nasional oleh Kementerian Sosial, salah satunya adalah "Ya Ahlal Wathan" atau yang kerap disebut “Ya ‘Lal Wathan” karya KH Abdul Wahab Chasbullah.

"Kini dalam proses penyelesaian oleh tim sebelum nanti ditetapkan jelang peringatan hari pahlawan, 10 November 2016," ujar Menteri Sosial RI, Khofifah Indar Parawansah saat menghadiri Haul pendiri , penggerak NU, KH Wahab Chasbullah ke-45 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (13/8) malam.

“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

“Ya Lal Wathan” Segera Jadi Lagu Perjuangan Nasional

Mensos menambahkan, lagu Cinta Tanah Air yang diciptakan KH Wahab Chasbullah ini menurutnya layak untuk menjadi salah satu lagu nasional. Karena menggelorakan semangat cinta tanah air yang sangat luar biasa. (Unduh Lagu Ya Lal Wathan di Sini)

Mujahidin Cyber

"Kita tahu lagu-lagu nasional sejak lama tidak ada perubahan, sejak saya duduk di SD lagu-lagu nasional tidak ada perubahan. Ketika lagu ini saya perdengarkan ke tim yang sudah menggodok ternyata layak untuk dijadikan lagu nasional," imbuh Khofifah yang datang bersama pejabat Direktorat Jenderal Kepahlawanan dari Kementerian Sosial.

Menurutnya, untuk dapat menjadi lagu perjuangan nasional, maka ada sejumlah syarat yang harus dilalui, di antaranya aransemen. "Kami telah menyiapkan aransemen dan partitur lagu tersebut," kata perempuan yang juga Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

Demikian pula syair lagu yang awalnya berbahasa Arab, maka harus digubah ke bahasa Indonesia. "Karena kalau tetap berbahasa Arab, kami khawatir ini dikira lagunya ISIS. Itu kan bahaya," katanya disambut tawa hadirin.

Persyaratan lain yang mesti dilalui dalam penetapan ini adalah izin dari pihak keluarga. Jika direstui untuk diubah, kata Khofifah, maka lagu Ya Ahlal Wathon akan menjadi salah satu dari 6 lagu yang sekarang dalam penyelesaian oleh tim.

Mujahidin Cyber

“Saat ini sudah ada 5 lagu, jika disetujui pihak keluarga maka akan ada 6 lagu nasional. Salah satunya lagu Ya Ahlal Wathan," kata Menteri yang dikenal dekat dengan Presiden KH Abdurrahman Wahidini.

Lagu Ya Ahlal Wathan diciptakan Mbah Wahab sekitar tahun 1916, saat aktif dalam dunia pergerakan kebangsaan di Surabaya. Lagu ini selalu dinyanyikan siswa atau santri Madrasah Nahdlatul Wathan di Surabaya.

?

Khofifah pun mengatakan, sebelumnya sudah meminta elemen yang ada di NU agar selalu menyanyikan lagu ini saat mengadakan acara. Seperti acara diklat, seminar, maupun lainnya. "PMII, Fatayat, Muslimat sudah kami minta menyanyikan lagu ini saat acara," katanya.

?

Haul Mbah Wahab kali ini mengambil tema mengukuhkan hubbul wathan minal iman. Tampak hadir Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko dan pejabat yang lain. (Muslim Abdurrahman/Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Halaqoh, AlaSantri Mujahidin Cyber

Minggu, 07 Januari 2018

Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI

Yogyakarta, Mujahidin Cyber. Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi, Sleman, DI Yogyakarta, kembali menerbitkan jurnal ilmiah dengan mengusung tema “Pesantren, Ushul Fiqh dan Politik Hukum: Maqashid Sebagai Metode Pendekatan”.

Kepada Mujahidin Cyber, Muhammad Mustafid, selaku Pengasuh Pesantren Aswaja Nusantara mengatakan empat hal yang melatarbelakangi munculnya tema tersebut dalam Jurnal Mlangi Edisi Ketiga ini, Rabu (08/01).

Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Jurnal Mlangi Angkat Ushul Fiqh dan Penataan Ulang NKRI

Pertama, gerakan sosial yang pada akhirnya harus diukur dengan perubahan kebijakan. Karenanya, berbicara politik hukum nasional menjadi penting. Kedua, kekuatan asing saat ini, yang berkepentingan terhadap Indonesia memusatkan aktivitasnya pada rekonstruksi perundang-undangan sesuai dengan kepentingan mereka.

Mujahidin Cyber

“Hal ini sangat membahayakan kedaulatan nasional. Sistem hukum nasional saat ini mengalami kebuntuan dan kelumpuhan dalam menegakkan kedaulatan bangsa dan memenuhi hak-hak konstitusional warga Negara,” ujarnya.

Mujahidin Cyber

Ketiga, kalangan pesantren, karenanya juga harus memberikan kehirauan yang tinggi pada hal tersebut. Bahkan pesantren harus menata ulang NKRI yang telah terongrong sedemikian rupa konstruksi hukumnya oleh kepentingan modal asing.

“Pesantren, sesuai mandat sejarahnya, harus menatanya melalui kontekstualisasi maqashid syari’ah,” tegas mantan aktivis PMII Universitas Gajah Mada tersebut.

Keempat, untuk kebutuhan tersebut dibutuhkan tajaddud dan tajdid (pembaharuan) dalam pemikiran ushul fiqh, yang saat ini tidak banyak digunakan sebagai kerangka kontekstual pencarian solusi permasalahan kebangsaan, kemasyarakatan, dan keislaman.

“Dengan ini, maka semua pemikiran fiqh akan dikembalikan pada mashalihul anam, atau meminjam istilah Jasser Auda, pada dilalatul maslahat,” tambahnya.

Jurnal setebal 223 halaman ini menyediakan beberapa tulisan yang berkaitan dengan tema yang telah diusung. Riset utama membicarakan tentang menata ulang NKRI berbasis maqashid syari’ah, peta pemikiran ulama ushul fiqh tentang maqashid syari’ah, dan ushul fiqh dalam kaitannya dengan kontekstualisasi atau reformulasi.

Sedangkan artikel utama tentang perkembangan dan pergeseran hukum nasional Indonesia, permasalahan paradigma dalam ilmu hukum, dan syari’at dan hak asasi manusia: hukum internasional dan hubungan internasional.

Kolom menyinggung tentang fungsi ilmu sosial, juga tiga struktur nalar dalam tradisi Islam. Sedangkan artikel lepas mengusung perempuan menggugat (Kajian atas QS al-Mujadilah [58]: 1-6), dan esai budaya dan sastra tentang para aastrawan jahiliah.

Muslim Legal Thought in Modern Indonesia: Sebuah Catatan Kritis; dan Wacana Ushul Fiqh dalam Literatur Pesantren mengisi rubrik review buku-kitab. Panorama global berisi tentang geo-politik huru-hara Arab.

Adapun apresiasi tokoh kali ini berjudul "Membaca Perjuangan Kiai Abdul Wahab Chasbullah", dan "Hunain Ibn Ishaq: Penerjemah Ensiklopedis dan Dokter Klinik". Mlangisiana berbicara mengenai membaca ulang kehidupan kaum santri: refleksi dari Mlangi. Dan Aswaja Bergerak tentang Risalah Aswaja: Sebuah Pendekatan normatif Hadhratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari.

Rencananya jurnal tersebut akan dibedah di UIN Sunan Kalijaga pada 18 Januari 2014, dan setelah itu di Universitas Gajah Mada. (Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber AlaSantri Mujahidin Cyber

Selasa, 02 Januari 2018

Tutup Pra-Munas, Kiai Musthofa Aqil Harap Bahtsul Masail Hidup di Jabar

Purwakarta, Mujahidin Cyber - Rais Syuriyah PBNU KH Musthofa Aqil Siroj menutup forum bahtsul masail pra-Munas NU 2017 di Pesantren Al-Muhajirin 3, Kabupaten Purwakarta, Sabtu (11/11) sore. Ia berharap forum ini menjadi tonggak kebangkitan kajian bahtsul masail di Jawa Barat.

“Semoga ini menjadi tonggak ilmiah bagi Jabar. Selama ini Jabar sepi dari forum ilmiah bahtsul masail. Hasil kajian di sini baru draf. Nanti kita akan sempurnakan kembali,” kata Kiai Musthofa Aqil.

Tutup Pra-Munas, Kiai Musthofa Aqil Harap Bahtsul Masail Hidup di Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)
Tutup Pra-Munas, Kiai Musthofa Aqil Harap Bahtsul Masail Hidup di Jabar (Sumber Gambar : Nu Online)

Tutup Pra-Munas, Kiai Musthofa Aqil Harap Bahtsul Masail Hidup di Jabar

Pengasuh Pesantren Kempek Cirebon ini juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada tuan rumah KH Abun Bunyamin atas kesediaannya menjadi tuan rumah bahtsul masail pra-Munas NU 2017.

Mujahidin Cyber

KH Abun Bunyamin berharap hasil forum kajian ini bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, umat Islam, dan juga nahdliyin. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber AlaSantri, Kajian Sunnah Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber

Rabu, 27 Desember 2017

Banser Kudus Bantu Pengamanan Bu Sinta di Pati

Kudus, Mujahidin Cyber

Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serbaguna (Satkorcab Banser) Kudus memberangkatkan puluhan personelnya di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Sabtu malam (18/6). Selepas Tarawih, mereka berbaur bersama Banser Kabupaten Pati guna membantu pengamanan kegiatan sahur bersama Hj Sinta Nuriyah di balai desa setempat.

?

Banser Kudus Bantu Pengamanan Bu Sinta di Pati (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Kudus Bantu Pengamanan Bu Sinta di Pati (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Kudus Bantu Pengamanan Bu Sinta di Pati

Komandan Satkorcab Banser Kudus Wawan Awaluddin mengatakan, pihaknya berpartisipasi dalam pengamanan acara sahur bersama istri Presiden Ke-4? RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini atas permintaan panitia dan instruksi Satkorwil Banser? Jawa Tengah.

?

"Bu Sinta Nuriyah adalah istri Gus Dur sekaligus tokoh pluralisme yang wajib hukumnya mendapat pengamanan dan perlindungan. Kita menjaga karena belakangan ada pihak-pihak yang kurang berkenan akan kegiatan sahur atau buka bersama beliau," ujarnya kepada Mujahidin Cyber sebelum berangkat.

Mujahidin Cyber

?

Wawan menjelaskan, Banser memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai garda terdepan dalam mengawal dan menjaga ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama. Banser Kudus, ujarnya, selalu siap bergerak menjalankan perintah pengamanan terhadap tokoh NU.

?

Mujahidin Cyber

Ia juga mengingatkan, bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, agama dan adat istiadat yang telah menjadi kekuatan besar dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Sehingga, masyarakat perlu menghargai kegiatan yang mengajak kepada kerukunan antarkomponen bangsa terutama umat beragama.

?

"Kegiatan Bu Sinta ini sangat positif karena memberikan keteladanan kerukunan umat beragama. Jadi, Banser secara tegas sangat mendukung dan siap mengawal kegiatan hingga selesai," tegas Wawan.

?

Kegiatan sahur bersama Bu Sinta Nuriyah ini berlangsung pada pukul 02.00 dini hari. Sebelumnya, panitia mengadakan kegiatan budaya di halaman masjid desa setempat. (Qomarul Adib/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber AlaSantri Mujahidin Cyber

Kamis, 14 Desember 2017

PBNU: Empat Pilar Negara adalah Ruh Bangsa

Jakarta, Mujahidin Cyber. “Empat pilar negara Indonesia yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI merupakan ruh kehidupan bangsa Indonesia. Tanpa itu, mati kita!”

Demikian ditegaskan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat menerima kunjungan kerja Pimpinan MPR Taufik Kiemas, Hajriyanto Y. Thohari beserta rombongan, pada Selasa, (15/5) di gedung PBNU, Jakarta.   

PBNU: Empat Pilar Negara adalah Ruh Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Empat Pilar Negara adalah Ruh Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Empat Pilar Negara adalah Ruh Bangsa

Pada kesempatan itu, Pimpinan MPR mengundang Ketua PBNU untuk menyampaikan pidato dalam peringatan hari lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni nanti. 

Mujahidin Cyber

Kang Said, sapaan akrab Ketua Umum PBNU, menyatakan siap memenuhi undangan tersebut. Ia menyatakan undangan itu merupakan kehormatan bagi NU. 

“Tapi sebenarnya bagi NU, ada undangan atau tidak, diajak atau nggak diajak, tetap saja setiap kesempatan bicara tentang empat pilar itu. Setiap Munas, setiap muktamar, kita selalu menegaskan empat pilar sudah final!” tegas Kiai Said.

Mujahidin Cyber

Karena bagi NU, sambung Kang Said, empat pilar negara sangat pas dengan jatidiri bangsa Indonesia. 

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Syariah, AlaSantri Mujahidin Cyber

Senin, 11 Desember 2017

Sujiwo Tejo: NU Jangan Andalkan Donatur untuk Kebudayaan

Budayawan Sujiwo Tejo turut mengahadiri Silaturahim Budaya yang digelar Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia pada akhir bulan lalu, di gedung PBNU, Jakarta. Ia sempat bernyanyi beberapa lagu dan mengikuti sarasehan budaya. Selepas kegiatan itu, ia sempat diwawancarai Abdullah Alawi dari Mujahidin Cyber tentang beberapa hal terkait kebudayaan di NU. Berikut petikannya: 



Apa pendapat Anda tentang Lesbumi?

Sujiwo Tejo: NU Jangan Andalkan Donatur untuk Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sujiwo Tejo: NU Jangan Andalkan Donatur untuk Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sujiwo Tejo: NU Jangan Andalkan Donatur untuk Kebudayaan

Oh, saya pas kecil, kalau tidak ada Lesbumi, tidak ada hiburan di situbondo. Mereka bikin ludruk, bikin banyak hal. Di situbondo itu, kegiatannya, saya waktu SD, kalau enggak ada Lesbumi, ya sepi.  Lesbumi bikin ini, bikin itu, saya nonton; ketoprak. Itu yang saya selalu saya kenang. Makanya saya kan sekarang ditaro di Lesbumi juga. 

Itu peran yang paling konkret yang saya rasakan. Kalau tidak ada Lesbumi, Situbondo daerah yang sunyi dari kesenian-kesenian juga. Mereka nanggap wayang juga. Peran yang paling membekas bagi saya itu. 

Bagaimana peran Lesbumi saat ini? 

Kalau Pak Said (Ketua Umum PBNU) ngandikane (mengatakan, red.) pencapaian kebenaran yang mendekati lebih kebenaran bukan dari premis-premis, tapi dari kesenian. Jadi, kalau keseniannya makin tinggi bangsa ini, maka konflik antaragama, antarsekte di dalam agama juga bisa dikurangi karena mereka mencari kebenarannya tidak dari premis-premis, tidak dari anggapan-anggapan kebenaran itu, tetapi dari sesuatu yang lebih dari hati itu. Kalau dari hati kan pasti ketemu.

Mujahidin Cyber





Bagaimana saran untuk memaksimalkan peran dalam penataan kebudayaan di NU? 

Wah, itu yang agak angel (sulit, red.). Kalau aku secara garis besarnya, NU jangan ngurus komunitas tok. 

Mujahidin Cyber

Bagaimana itu?

Ya bisnis, bikin rumah sakit. Bukan bisnis, ya, bikin perguruan-perguruan tinggi, duitnya untuk menghidupkan kesenian, jangan dari donatur-donatur begitu. Ya. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Halaqoh, Pondok Pesantren, AlaSantri Mujahidin Cyber

Minggu, 26 November 2017

Aneka Lomba Meriahkan Tahun Baru Hijriah IPNU Padangpariaman

Padangpariaman, Mujahidin Cyber



Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Padangpariaman sukses menyelenggarakan berbagai lomba dalam rangka menyambut tahun baru hijriah, 1 Muharram 1438 H. Lomba yang diselenggarakan meliputi lomba shalat jenazah, lomba adzan, fahmil qur’an (memahami Al-Quran) dan hifdhul qur’an (hafalan Al-Quran).

Aneka Lomba Meriahkan Tahun Baru Hijriah IPNU Padangpariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Aneka Lomba Meriahkan Tahun Baru Hijriah IPNU Padangpariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Aneka Lomba Meriahkan Tahun Baru Hijriah IPNU Padangpariaman

?

Ketua PC IPNU Padangpariaman Fauzan Ahmad mengatakan, Senin (3/10) di Padangpariaman, penyelenggaraan lomba berlangsung sejak Selasa (27/9) hingga Jumat (30/9) di Pondok Pesantren Nurul Yaqin Al-Hikmah, Sungai Bais, Nagari Sungai Sariak Kecamatan VII Koto Kabupaten Padangpariaman. Sedangkan acara puncak berlangsung Sabtu (1/10) malam dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang. ?

“Puncak acara juga dimeriahkan dengan penampilan shalawat dulang Sinar Barapi dengan Arjuna Minang. IPNU juga memberikan penghargaan kepada Ketua Pesantren Nurul Yaqin Al-Hikmah ? M. Taher Dt.Rajo Mudo dan Pimpinan Nurul Yaqin Al-Hikmah ? M. Almunawwir M.Pd.I Tuanku Sidi Ibrahim,” kata Fauzan.

Mujahidin Cyber

Menurut Fauzan, masyarakat ? di sekitar Pesantren Nurul Yaqin Al-Hikmah menyambut baik berbagai lomba yang diadakan IPNU Padangpariaman. ? “Kegiatan ini merupakan sosialisasi IPNU ke tengah masyarakat. Apalagi daerah ini kultur Nahdlatul Ulamanya kuat. Sehingga masyarakat patut mendukung kegiatan IPNU. Karena dengan hadirnya IPNU, para pelajar dari masyarakat disini bisa bergabung dan memperkuat IPNU di Padangpariaman,” kata Fauzan menambahkan.

Dikatakan Fauzan, masyarakat menyambut baik kehadiran IPNU. Buktinya, masyarakat langsung menawarkan kepada IPNU agar menyelenggarakan acara serupa seminggu ke depan di lokasi yang berbeda. “Karena masyarakat yang minta, IPNU tentu siap melaksanakannya. Apalagi masyarakat mendukung,” kata Fauzan yang alumni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, Pakandangan, Kabupaten Padangpariaman ini.?

Ketua Pesantren Nurul Yaqin Al-Hikmah ? M. Taher Dt.Rajo Mudo ? sangat mengapresiasi ? kerjasasama IPNU dengan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Al-Hikmah. Ke depan kami pun berharap IPNU bisa lebih eksis di tengah masyarakat, terutama di kalangan pelajar. ? (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber AlaSantri Mujahidin Cyber

Selasa, 21 November 2017

Usaha Cetak Kitab, Ketua MWCNU ini Raup Omset Puluhan Juta

Sidoarjo, Mujahidin Cyber. Seorang pengusaha percetakan kitab salaf dan sejumlah buku nahwu sorof asal Sidoarjo, Jawa Timur, mempunyai trik tersendiri dalam mengembangkan usahanya. Dengan modal Rp 500 ribu rupiah, pengusaha percetakan ini mampu menghasilkan omset senilai Rp 90 juta rupiah per bulannya.

Usaha Cetak Kitab, Ketua MWCNU ini Raup Omset Puluhan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)
Usaha Cetak Kitab, Ketua MWCNU ini Raup Omset Puluhan Juta (Sumber Gambar : Nu Online)

Usaha Cetak Kitab, Ketua MWCNU ini Raup Omset Puluhan Juta

Meskipun, banyak pengusaha percetakan di sejumlah wilayah Sidoarjo telah gulung tikar, akibat naiknya harga bahan baku kertas, namun usaha percetakan buku tersebut masih eksis dalam mengembangkan bisnisnya dengan dibantu 10 karyawan.

Usaha percetakan yang dikembangkan oleh Ahmad Kuzaemi (53) warga Dusun Magersari, Desa Kedungcangkring? RT 04 RW 02, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, itu mampu menyelesaikan 30 hingga 50 eksemplar lembar kertas kitab dan buku dalam sehari sesuai pesanan konsumen dari berbagai kalangan.

Mujahidin Cyber

"Percetakan ini mencetak berbagai kitab salaf atau materi pembelajaran siswa Taman Pendidikan Al-Quran diantaranya, buku metode tartil tingkat satu hingga tingkat lima. Selain itu, percetakan ini juga mencetak kitab materi nahwu, sorof, khat naskhi, materi doa istiqhosah dan tahlil, undangan serta kalender yang kebanyakan pesanan dari Lembaga Pendidikan Maarif NU Sidoarjo," terang Kuzaemi, Jumat (5/2).

Mujahidin Cyber

Ia menceritakan, usaha percetakannya mulai dibuka sejak tahun 1980. Saat itu, Kuzaemi masih menjabat sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (PAC GP) Ansor Jabon, Sidoarjo. Dari amanah jabatan itu, ia mendapat kepercayaan penuh dari TK Muslimat NU dan LPM NU Sidoarjo untuk mengerjakan berbagai materi tartil TPQ dan TKQ.

Setelah sukses menjabat sebagai Ketua PAC GP Ansor Jabon, ia juga pernah menjabat Ketua Dewan Suro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan selanjutnya mendapatkan amanah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah MWCNU Jabon selama dua periode hingga saat ini.

Selama 36 tahun, usahanya semakin berkembang. Meski banyak perusahaan percetakan yang gulung tikar akibat naiknya harga bahan baku kertas yang semakin tinggi. Bagi Kuzaemi, imbas dari naiknya harga kertas tersebut tidak menjadi masalah. Sebab, ia mampu mengemas dan mampu bertahan dan bersaing melalui harga serta kualitas hasil percetakan.

"Percetakan ini mempunyai pelanggan di tiga Kabupaten diantaranya, Kabupaten Pasuruan, Mojokerto dan Sidoarjo, Jawa Timur. Semua materi yang akan di cetak dari kalangan Nahdlatul Ulama. Sampai saat, saya belum pernah meminjam ke bank swasta maupun pendapat bantuan pinjaman dari pemerintah. Karena saya optimis mengembangkan usaha ini dengan modal sendiri dengan cara berdikari melalui organisasi Nahdlatul Ulama," paparnya. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pesantren, AlaSantri, Berita Mujahidin Cyber

Doktor Humoris Causa Gus Dur

Saat kunjungan kenegaraan di Kuba, Fidel Castro mendatangi hotel tempat Gus Dur dan rombongannya menginap. Mereka pun terlibat pembicaraan hangat, menjurus serius. Agar pembicaraan tidak terlalu membosankan, Presiden Gus Dur pun mengeluarkan jurus andalannya, yaitu guyonan.

Beliau bercerita pada Fidel Castro, bahwa ada tiga orang tahanan yang berada dalam satu sel. Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai ditahan. "Saya dipenjara karena saya anti dengan Che Guevara," kata tahanan pertama. Seperti diketahui Che Guevara memimpin perjuangan kaum sosialis di Kuba.

Doktor Humoris Causa Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Doktor Humoris Causa Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Doktor Humoris Causa Gus Dur

Tahanan kedua berkata geram."Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che Guevara!”

Mereka berdua terlibat perang mulut. Tapi mendadak mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya. "Kalau kamu kenapa sampai di penjara di sini?” tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga.

Mujahidin Cyber

Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati.

"Karena saya Che Guevara…”

Fidel Castro pun tertawa tergelak-gelak mendengar guyonan Gus Dur tersebut.

Mujahidin Cyber

--------------------

Pembaca tentu masih ingat sosok Gus Pur, tokoh ”tembakan” Gus Dur dalam acara parodi politik di sebuah stasiun TV? Gus Pur, yang diperankan dr. Handoyo, dalam salah satu episode Kick Andy, mengakui satu hal yang tidak bisa ”dijiplak” dari Gus Dur adalah kecerdasan membikin humor segar.

Ya, salah satu ciri khas yang melekat pada jatidiri Gus Dur adalah sifat humorisnya. Tak heran jika selain dikenal sebagai produsen gagasan, Gus Dur juga dikenal sebagai pabrik joke. Bahkan ketika tergolek sakit, Gus Dur masih sempat-sempatnya melontarkan guyonan.

Secara lengkap humor Gus Dur maupun anekdot mengenai dirinya telah dikodifikasikan dalam buku Gitu Aja Kok Repot ( 1999) dan Saya Nggak Mau Jadi Presiden Kok! (2001), keduanya karya Hamid Basyaib. Gus Dur Taruhan Kathok Kolor (Tim Tabloid Warta: 1999), serta Presiden Gus Yang Dur Itu (Mas’ud Adnan: 2000). Yang berbahasa Jerman juga ada, yaitu karya Johanna Pangestian-Harahap berjudul Lachen mit Gus Dur: Islamischer Humor aus Indonesien. Sebagian lagi tercecer di Tawashow Di Pesantren (Fikri AF : 1999), Kelakar Madura Buat Gus Dur (Sujiwo Tejo: 2001) dan Humor Kiai (Ahmad Mustofa : 2005). Di website Gusdur.net serta okezone.com juga rutin dimuncukan humor-humor menggelitik dari Gus Dur.

Memang, membuat humor yang mampu meledakkan tawa pendengar membutuhkan keahlian khusus. Misalnya menembakkan lelucon pada saat yang tepat, lalu mengakhirinya dengan kejutan yang menggegerkan. Humor juga butuh daya kejut dan berdaya cegat (unsur sensasional), merangsang penikmat untuk berpikir (olah intelejensia), melakukan kontrol dan kritik sosial, serta tentu saja mengandung aspek edukatif. Itulah tantangannya. Untunglah, Gus Dur berhasil memenuhi pra-syarat ini.

Suatu saat, ketika ditanya tentang "hobinya" ini, bagi Gus Dur, humor sudah menjadi makanan sehari-harinya. "Gus, kok suka humor terus sih?" tanya seseorang, yang kagum karena humor Gus Dur selalu berganti-ganti. "Di pesantren, humor itu jadi kegiatan sehari-hari," jelasnya. "Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat," sambungnya.

Seorang kiai memang ”wajib” memiliki sense of humor, baik dalam konteks kepekaan dan keahlian untuk melontarkan humor, maupun dalam rangka menertawakan diri sendiri, agar terhindar dari sikap takabur. Di dunia pesantren, selain merupakan bagian dari karakter kearifan yang khas, humor juga merupakan kiat tersendiri; terutama sebagai siasat agar suasana tidak monoton, tegang, dan sumpek. Sikap ini tentu berkaitan dengan tugas kiai di bidang dakwah, agar lebih mudah diterima oleh masyarakat. Inilah mengapa, humor bisa menjad oase maupun katarsis masyarakat untuk melepaskan diri dari belenggu ketegangan hidup.

Para pemimpin dunia, yang berpikir besar dan memiliki wawasan kenegaraan, bisa dipastikan punya sense of humor yang tinggi. Churchill, Nehru, Soekarno, adalah di antaranya. Di dunia Islam sendiri, khalifah Harun Arrasyid juga dikenal memiliki cita rasa humor yang tinggi. Khusus nama terakhir, memiliki punakawan eksentrik bernama Abunawas. Ia cerdik, lugu, legawa, luhur, dan tentu saja kocak. Abunawas-lah yang dalam kisah-kisah folklore, bisa leluasa menyindir, mengkritik, dan berani menertawakan sang khalifah bijak itu. Di dunia pewayangan kita, sosok Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong “bertugas” mencairkan ketegangan di istana. Ya, seorang pemimpin bisa bersi-kap adigang adigung adiguna, manakala tidak memiliki sense of humor.

Dari fungsinya, humor merupakan mekanisme penyalur dari apa yang disebut Arthur Koestler kandungan sifat agresif dan defensif dalam jiwa manusia. Agar kandungan defensif ini tidak tercetus dalam tindakan yang destruktif, ia harus disalurkan lewat humor. Untuk itulah Immanuel Kant menyebut humor sebagai sumber kekuatan yang memberi pengaruh kuat dalam mencairkan manusia dari ketegangan.

Abunawas Modern

Setiap kali kritik menghantam Gus Dur, selalu saja ada jawaban spontan yang tak terduga, yang membut pendengarnya tergelak. Sehingga, M Lukman Hakim, praktisi suf-istik itu, menjuluki Gus Dur sebagai Kiai Super Khos di Bidang Humorologi. Pakar ke-lirumologi Jaya Suprana, malah melekatkan gelar Doktor Humoris Causa, setelah berkali-kali Gus Dur mendapatkan gelar doktor honoris causa dari berbagai universitas di dunia.

Sikap humoris Gus Dur, harus dilihat dalam konteks pengereman diri agar tak terjebak sikap mengangungkan diri sendiri. Hal ini bisa dilihat dari keterbukaan dirinya menerima siapapun, tanpa membedakan latarbelakangnya. Melalui humor cerdasnya, Gus Dur bisa melontarkan kritik sosial-politik tanpa beban, sekaligus menjadikan dirinya ba-han lawakan. Melalui humor Gus Dur, pula kita bisa terhibur di tengah kondisi bangsa yang memiliki trauma politik-ideologis maupun krisis spiritual.

Tanpa kita sadari, Gus Dur telah menerapkan politik Abunawas. Jika kehidupan dianggap mempermainkan manusia, tidak bagi Abunawas. Ia malah mempermainkan ke-hidupan dan menyikapinya secara jenaka. Maka, wajar jika Abunawas menjadi referensi katarsis tatkala kepengapan sosial politik dan ekonomi menyekap masyarakat. Sosok Abunawas bukanlah sosok yang “kurang waras” dan kontroversial, sebab dia mendekati setiap masalah dari sudut pandang masalah itu sendiri. Maka ia bebas dari belenggu perasaan takut dan khawatir, sehingga ia tampak lebih kuat dibandingkan dengan orang lain.

Dan, sosok Abunawas tampaknya menjelma pada diri Gus Dur yang selama menjabat sebagai presiden memporakporandakan nilai-nilai politik yang selama ini dianggap “sakral”. Maka, ia melakukan demiliterisasi, desakralisasi kekuasaan, dan deformalisasi kepresidenan. Bisa jadi, bagi seorang doktor humoris causa seperti Gus Dur, humor adalah politik, dan politik adalah humor yang lain. Ah, gitu aja kok repot!

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber RMI NU, AlaSantri Mujahidin Cyber

Jumat, 17 November 2017

PBNU: Konsep Khilafah Islamiyah Tidak Pernah Jelas

Jakarta, Mujahidin Cyber

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan, konsep pemerintahan Islam (Khilafah Islamiyah) tidak pernah jelas bagaimana bentuk dan mekanisme pendiriannya. Kejelasan konsep tersebut hanyalah selalu mengganggu dan mempersoalkan keabsahan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.



PBNU: Konsep Khilafah Islamiyah Tidak Pernah Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Konsep Khilafah Islamiyah Tidak Pernah Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Konsep Khilafah Islamiyah Tidak Pernah Jelas

“Kalau seperti itu (ketidakjelasan konsep Khilafah Islamiyah, Red), saya sama sekali tidak heran. Karena demikianlah yang dilakukan di Eropa sehingga negara yang ditempati marah karena filosofi dan konstitusi negara setempat dipersoalkan,” ujar Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta (13/8)

Hasyim menjelaskan, hingga saat ini tidak ada satu pun negara di dunia yang menerapkan sistem kenegaraan dan sistem pemerintahan berdasarkan agama Islam. Bahkan, di negara-negara berpenduduk sebagian besar Muslim sekalipun, sangat beragam bentuk negara dan sistem pemerintahannya.

Mujahidin Cyber

“Di Timur Tengah pun tidak ada negara yang berdasar khilafah, yang ada kerajaan, seperti Saudi Arabia, Yordania, atau Republik Islam, seperti Iran, Syria, Mesir dan Uni Emirat Arab atau negara-negara Teluk. Sehingga, di Timteng sendiri, Hizbut Tahrir menjadi persoalan, juga di Australia,” terang Hasyim.

Mujahidin Cyber

Dengan demikian, menurut Presiden World Conference on Religions for Peace itu, keberadaan Hizbut Tahrir Indonesia di negeri ini harus diwaspadai. Pasalnya, kelompok tersebut pasti akan melakukan hal serupa seperti yang dilakukan pada negara-negara lain, yakni mempersoalkan sistem Republik Proklamasi Indonesia.

Dalam kesempatan itu, Hasyim juga mempertanyakan sikap pemerintah sebagai penyelenggara negara yang tidak tegas terhadap gerakan tersebut. Padahal, katanya, ancaman bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah sangat jelas. Fundamentalisme dan liberalisme seolah-olah dibiarkan begitu saja.

“Ini semua (pembiaran terhadap fundamentalisme dan liberalisme, Red) mengakibatkan rontoknya kedaulatan politik, ekonomi, budaya, serta sikap kapitulasi terhadap bangsa asing di hampir segala bidang,” pungkas Hasyim yang juga Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Ulama, AlaSantri, Lomba Mujahidin Cyber

Kamis, 16 November 2017

PBNU: Tak Usah Ngurusin Pembenci Shalawat

Jakarta, Mujahidin Cyber?



Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj menjelaskan tentang shalawat yang akan dibacakan warga NU yang ditargetkan sampai 1 miliar kali pada tanggal 21 Oktober malam dalam rangka peringatan Hari Santri. Shalawat yang akan dibaca warga NU serentak dari Aceh sampai Papua itu adalah Shalawat Nariyah.

Menurut Kiai Said, Shalawat Nariyah ada yang menyebutkan Shalawat Taziyah. “Kalau nariyah kan artinya api. Yang jelas pengarangnya juga banyak pendapat,” katanya di PBNU, Jakarta, (Jumat 7/9).?

PBNU: Tak Usah Ngurusin Pembenci Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Tak Usah Ngurusin Pembenci Shalawat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Tak Usah Ngurusin Pembenci Shalawat

Namun yang jelas, lanjutnya, kita sepakat bahwa Shalawat Nariyah itu kalau dibaca, mengandung kiestimewaan yang luar biasa. Syekh ? Nazli Haqqi mengatakan, siapa yang membaca Shalawat Nariyah 4444, pasti kebutuhannya dikabulkan Allah.

Ketika ditanya untuk tujuan apa PBNU mengimbau warganya membacakan shalawat tersebut sampai 1 miliar kali, menurutnya, untuk ? bangsa dan negara Indonesia.

“Mudah-mudahan Indonesia selamat, aman, ternteram, masyarakatnya tetap solid, sabar dan tabah. Insya allah PBNU akan membacakannya 1 miliar,” katanya.?

Mujahidin Cyber

Ketika ditanya bagaimana pendapat PBNU kepada orang yang membenci dan membid’ahkan shalawat? “Tidak usah ngurusin,” katanya singkat. (Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber AlaSantri, Humor Islam Mujahidin Cyber

IPPNU Sayangkan Masih Ada Sekolah yang Melarang Jilbab

Jakarta, Mujahidin Cyber. Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) menyayangkan masih adanya sekolah di Indonesia yang melarang siswanya berjilbab. Hal ini menyusul kasus siswi SMAN 2 Denpasar Bali yang mengaku disuruh pindah sekolah gara-gara ingin mengenakan jilbab.

IPPNU Sayangkan Masih Ada Sekolah yang Melarang Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Sayangkan Masih Ada Sekolah yang Melarang Jilbab (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Sayangkan Masih Ada Sekolah yang Melarang Jilbab

Seperti diwartakan, pihak sekolah melarang Anita, seorang siswi SMAN 2 Denpasar, mengenakan jilbab dengan alasan tidak sesuai dengan ketentuan mengenai seragam yang berlaku. Kasus mencuat setelah Anita melaporkan kejadian itu ke sejumlah lembaga advokasi dan bantuan hukum.

Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU Farida Farichah kepada Mujahidin Cyber, Selasa (7/1) mengatakan, berjilbab merupakan hak warga negara karena menyangkut keimanan seseorang. Para kaum terdidik harus memahami Indonesia ini adalah multi agama dimana semua warga negara bebas menjalankan ajaran agama yang diyakininya.

Mujahidin Cyber

“Munculnya pelarangan berjilbab di kalangan kaum pendidik ini harus menjadi perhatian dan harus diwaspadai karena ini akan memberikan dampak panjang pada mindset siswanya yang nantinya akan berpengaruh kepada mindset generasi penerus bangsa,” kata Farida.

Dikatakannya, IPPNU mendukung langkah dan tindakan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim untuk memberikan sanksi terhadap sekolah SMAN 2 Denpasar.

Mujahidin Cyber

“Semoga kasus ini jadi pembelajaran bagi semua sekolah dimanapun diseluruh Indonesia. Pemahaman tentang Indonesia merupakan negara multi agama, multi etnis dan multi budaya ini merupakan kerangka dasar pembentukan karakter kebangsaan. Dan ini harus dipahamkan kepada kaum pendidik dan yang dididik,” kata Farida.

Pihaknya berharap kalangan LSM dan organisasi perempuan yang mau menyuarakan kebebasan berjilbab, seperti halnya mereka menyuarakan dan menuntut kebebasan berekspresi termasuk  kebebasan berpakaian seperti beberapa waktu lalu.

Sementara itu terkait ketentuan penggunaan jilbab di lingkungan kepolisian, IPPNU berharap pihak Polri tidak menunda-nunda ketentuan mengenai jilbab bagi polisi wanita. “Tidak ada alasan yang mendasar bagi Polri untuk menunda keputusan tersebut,” katanya.

“Dukungan kami untuk kebebasan berjilbab bukan karena semata-mata hanya perintah agama tetapi ini salah satu dukungan terbentuknya Indonesia yang demokratis dimana masyarakatnya bisa menjalankan perintah agamanya dan tidak mengganggu kepentingan orang lain,” tambahnya. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber AlaSantri, Pahlawan, Humor Islam Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock