Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Februari 2018

STAIN Pamekasan-Universitas Kebangsaan Malaysia Jalin Kerja Sama Penelitian

Pamekasan, Mujahidin Cyber. Bertempat di Gedung Multi Centre Lantai II, STAIN Pamekasan melangsungkan ekspos hasil penelitian internasional Indonesia-Malaysia, Kamis (29/12). Penelitian tersebut mengerucut pada pengaruh human capital, structural capital, dan customer capital terhadap informasi asimetris dan akuntabilitas kinerja anggaran bank umum syariah di negara negara Indonesia dan Malaysia.

Acara tersebut menghadirkan peneliti dari Universitas Kebangsaan Malaysia, Prof Madya Dr Shofian Ahmad selaku Deputy Dean for Graduate Studies and International Relations, Faculty of Islamic Studies UKM. Selain itu, terlihat Eric Kurniawan selaku pimpinam BRIS KC Pamekasan. Tampak pula Ketua STAIN Pamekasan Dr H Muhammad Kosim beserta jajaran petinggi kampus dan para mahasiswa.

STAIN Pamekasan-Universitas Kebangsaan Malaysia Jalin Kerja Sama Penelitian (Sumber Gambar : Nu Online)
STAIN Pamekasan-Universitas Kebangsaan Malaysia Jalin Kerja Sama Penelitian (Sumber Gambar : Nu Online)

STAIN Pamekasan-Universitas Kebangsaan Malaysia Jalin Kerja Sama Penelitian

Penelitian unggulan internasional yang diungkap dalam kesempatan itu merupakan hasil jerih payah Sri Handayani, Shofian Ahmad, Fatati Nuryana, dan Ainurrahman Hidayat. Latar belakang penelitian tidak lepas dari bank umum syariah di Indonesia yang meningkat tajam mulai 1992 sampai 2016, menjadi 13 bank yang hampir menyamai jumlah bank syariah di Malaysia.

"Perkembangan bank umum syariah seyogyanya diikuti dengan pengelolaan yang sesuai dengan kepentingan nasabah dan bank," ujar Sri Handayani.

Ditegaskan, bank syariah akan menjadi besar jika didukung dengan modal intelektual yang meliputi human capital, structural capital, structural capital, dan customer capital. Akan tetapi, penilaian kinerja perusahaan seringkali hanya didasarkan pada aktiva berwujud (tangible assets), sementara aktiva tidak berwujud (intangible assets) kurang diperhatikan.

Mujahidin Cyber

Dalam sambutannya, Ketua STAIN Pamekasan Muhammad Kosim menegaskan, pihaknya pernah ke Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM). Meskipun secara fisik kampus UKM tidak semegah STAIN, tetapi fasilitas keilmuannya cukup memadai.

"Seperti perpustakaan UKM yang cukup lengkap dan canggih. Ke depannya kita akan terus menjalin kerja sama dalam bidang penelitian maupun forum ilmiah," tukasnya.

Usai memberi sambutan, Muhammad Kosim dan Shofian Ahmad teken kontrak MoU. Itu sebagai wujud nyata jalinan kerja sama STAIN Pamekasan dengan UKM secara berkesinambungan. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber AlaNu, Tokoh Mujahidin Cyber

Jumat, 09 Februari 2018

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

Jombang, Mujahidin Cyber. Selama tiga minggu, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri Jawa Timur meneliti pengelolaan keuangan di Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng atau LSPT Jombang. Mereka yang berjumlah lima orang ini ingin mempraktikkan sejumlah pengetahuan yang telah diraih selama berada di kampus.

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)
Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa (Sumber Gambar : Nu Online)

Dana Sosial Pesantren Tebuireng Jadi Sasaran Riset Mahasiswa

"Kami dari Fakultas Syariah Program Studi Ekonomi Syariah," kata Krisna Winata Putra, pimpinan kelompok tersebut saat dikonfirmasi Mujahidin Cyber, Rabu (11/2).

Para mahasiswa sejak tanggal 9 hingga 28 Februari mendatang akan meneliti lebih dekat bagaimana LSPT mendapatkan dana sosial dari para donatur, pengadministrasian, penyaluran dana untuk kegiatan sosial, hingga pelaporan kepada khalayak.

Mujahidin Cyber

"Para peserta juga terlibat dalam kegiatan yang diselenggarakan LSPT, khususnya saat memberikan santunan kepada sejumlah kalangan," kata Krisna, sapaan akrabnya.

Mujahidin Cyber

Seperti pada kegiatan penyaluran bantuan. Bersama salah seorang pengurus, mereka diikutkan kegiatan penyaluran paket susu formula kepada masyarakat. "Kami menyaksikan, bantuan ini tidak semata diberikan kepada kalangan muslim, juga masyarakat yang beragama lain," tandas mahasiswa kelahiran Kediri ini. Bagi para mahasiswa, apa yang dilakukan LSPT adalah cerminan rasa solidaritas membantu masyarakat kurang mampu dengan tanpa membedakan agama dan keyakinan, lanjutnya.

Keterlibatan dengan kegiatan LSPT juga mereka rasakan saat pemberian santunan kepada para 200 fakir miskin dan kaum dluafa di Masjid Ulul Albab yang berada di lingkungan Pesantren Tebuireng. Selama acara berlangsung, para mahasiswa ikut dalam kegiatan shalat dhuha berjamaah, mendengarkan mauidhah hasanah, pemberian santunan dan layanan kesehatan secara gratis.

Bagi mahasiswa semester 6 ini, pengalaman mengikuti sejumlah kegiatan LSPT merupakan hal menarik dan berharga. "Hal ini juga menjadi pembanding dengan ilmu yang selama ini kami peroleh di kampus," ungkapnya.

Meskipun belum genap semingu terlibat dalam kegiatan LSPT, para mahasiswa merasa bahwa secara umum pengelolaan keuangan di lembaga sosial ini lumayan baik. "Apalagi kami dibantu dengan keterbukaan informasi yang disampaikan pengurus," katanya. Keberadaan majalah dan website juga menjadi sarana dalam menyampaikan informasi keadaan keuangan yang masuk serta digunakan sejumlah kegiatan, lanjutnya.

Waktu 3 minggu akan benar-benar dioptimalkan para mahasiswa untuk mendapatkan gambaran pengelolaan administrasi dan keuangan LSPT. "Kami juga akan memberikan saran serta masukan kepada lembaga ini sesuai dengan ilmu yang telah kami dapatkan selama kuliah," pungkas Krisna. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh Mujahidin Cyber

Kamis, 08 Februari 2018

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat

Waykanan, Mujahidin Cyber. Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Waykanan menyatakan syukur atas pelaksanaan pilkada di daerah setempat yang berlangsung damai dan tertib. Suasana damai pemilihan ini menandai peningkatan pemahaman masyarakat setempat dalam perbedaan pilihan politik.

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Damai, GP Ansor Waykanan Apresiasi Warga Setempat

"Pesta demokrasi 9 Desember 2015 telah usai. Patut disyukuri perhelatan di Waykanan berlangsung dan berakhir damai. Suatu penanda proses dan pemahaman demokrasi berlangsung baik di masyarakat," ujar Ketua GP Ansor Waykanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (10/12).

Pilkada Waykanan diikuti pasangan nomor urut 1 Bustami Zainudin dan Adinata (Adin Bustami) diusung PDI Perjuangan, Gerindra, PKB, dan Nasdem. Serta pasangan nomor urut 2 Raden Adipati Surya dan Edward Anthony (Berani) diusung Demokrat, PAN, Hanura dan PKS.

Mujahidin Cyber

Berdasarkan data KPU setempat sebanyak 337.827 pemilih terdiri atas pemilih lelaki berjumlah 172.810. sedangkan pemilih perempuan berjumlah sebanyak 165.017 orang sebagai pemilik suara yang bisa menggunakan suaranya di 780 TPS yang ada.

Berdasarkan hitung cepat Rakata Institute dari data masuk 95,10 persen dengan tingkat partisipasi 67,72 persen, Bustami-Adinata mendulang suara 39,73 persen. Lalu Berani meraup 60,27 persen.

Mujahidin Cyber

"Jabatan adalah amanah. Siapapun yang terpilih, tugas kami sebagai pemuda adalah berpartisipasi dalam pembangunan, bukan sebaliknya. Ini kami buktikan pada 2015, GP Ansor Waykanan dibantu sejumlah pihak seperti Tim Penggerak PKK, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu menggelar Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional atau Sanlat BPUN," kata Gatot lagi.

Gatot mengucapkan selamat kepada anggota Dewan Pembina Gerakan Pemuda Ansor Waykanan H Raden Adipati Surya dan Ketua PD Muhammadiyah Waykanan Dr H Edward Anthoni atas perolehan suara terbanyak pada Pilkada 9 Desember 2015. (Syuhud Tsaqafi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh, Tegal Mujahidin Cyber

Selasa, 06 Februari 2018

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel

Banjarmasin, Mujahidin Cyber 

Pimpinan Pusat Muslimat NU mengadakan orientasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) untuk pondok pesantren dan majelis taklim Muslimat NU di Hotel Amaris, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (17/11).



PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel



Pembukaan dihadiri Gubernur Kalimantan Selatan yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kalimantan Selatan H. Gusti Burhanuddin. 

Mujahidin Cyber





Mujahidin Cyber

Hadir pula dari Pendamping Promkes Kementrian Kesehatan RI Ismoyowati. Ia menyampaikan 5 Nawacita program Indonesia Sehat Germas.





“Standar SPM sehat diharapkan dari pemerintah kabupaten kota untuk preventif dan sistematis dalam pelaksanaan Germas,” katanya. 





Ia menambahkan, kesehatan tidak bisa dilakukan aendiri- sendiri, tetapi harus bersama-sama seluruh komponen bangsa, harus sadar dan mampu hidup sehat sehingga sejajar dengan bangsa-bangsa lain.





“Maka lini pondok pesantren dan majelis taklim akan mengadakan RTL (Rencana Tindak Lanjut, red.) program yang tidak membumbung tinggi, tapi yang realistis bisa dilaksanakan di pondok pesantren dan majelis taklim,” jelasnya. 





Ketua Tim Germas PP Muslimat NU Hj. Erna Soefihara menyatakan, bidikan peserta orientasi adalah pimpinan pondok pesantren dan pimpinan majelis taklim sangat tepat sekali.





Karena, kata dia, anggota Muslimat NU bisa dipastikan memiliki dan akrab dengan majelis taklim. Selain itu, anggota Muslimat di masyarakat kebanyakan adalah ibu-ibu Muslimat. 





Acara itu diwarnai simulasi senam sehat Germas hingga doorprize. (A-Moez/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Tokoh, AlaSantri Mujahidin Cyber

Minggu, 28 Januari 2018

Gandeng Malaysia, Himpunan Pengusaha Nahdliyin Kembangkan Koperasi Saudagar

Jakarta, Mujahidin Cyber - Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) melalui Koperasi Saudagar Indonesia, Kamis (18/8) malam, menandatangani nota kesepahaman dengan Ar Rahnu Yayasan Pembangunan Ekonomi Islam Malaysia (Yapeim) di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Ar Rahnu merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pegadaian syariah di bawah Yapeim. Ia menjadi program resmi pemerintah Malaysia yang menyediakan mikro kredit secara mudah bagi rakyat kecil.

Gandeng Malaysia, Himpunan Pengusaha Nahdliyin Kembangkan Koperasi Saudagar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Malaysia, Himpunan Pengusaha Nahdliyin Kembangkan Koperasi Saudagar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Malaysia, Himpunan Pengusaha Nahdliyin Kembangkan Koperasi Saudagar

Turut hadir dalam kesempatan itu Direktur Divisi Perencanaan Strategis Perdana Menteri Malaysia Dato Shahlan Ismail, Ketua Yapeim Dato Abibullah, Ketua HPN Abdul Kholik, dan sejumlah perwakilan HPN daerah. Prosesi penandatanganan MoU disaksikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Mujahidin Cyber

Abibullah di hadapan forum menyinggung soal masih tertinggalnya umat Islam di sektor ekonomi. Menurutnya, lembaga-lembaga perekonomian mesti diperkuat perannya. Ia berharap kerja sama ini dapat mendorong perekonomian masyarakat kecil di bawah.

Mujahidin Cyber

"Orang-orang non-Muslim tak pernah mendengar hadits Nabi tangan di atas lebih baik darpada tangan di bawah tapi mengapa mereka bisa menguasai ekonomi? Ini menjadi bahan introspeksi kita," ujarnya.

Shahlan menambahkan, di antara program yang bisa dilakukan adalah mendirikan supermarket-supermarket yang menampung dagangan para pelaku usaha kecil menengah yang selama ini tak mungkin ditampung di mal-mal besar. Termasuk juga membangunkan warung-warung klontong bagi sebagian mereka.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Said mengaku prihatin dengan kondisi perekonomian umat Islam secara umum. Baginya, sebagaimana di belahan dunia lain, muslimin Indonesia menghadapi ironi sebagai negara kaya namun dikuasai para pemodal asing. Ia mendorong pemberdayaan ekonomi kerakyatan kian massif dilakukan.

Abdul Kholik menyambut baik kerja sama ini. Menurutnya, Yapeim merupakan mitra lama HPN karena itu ia optimis kemitraan ini akan berjalan dengan baik. (Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh Mujahidin Cyber

Sabtu, 27 Januari 2018

Awal Puasa NU-Muhammadiyah Diprediksi Beda, Lebaran Sama

Probolinggo, Mujahidin Cyber. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah tahun ini diprediksi mengalami perbedaan dalam penetapan awal puasa Ramadhan. Namun demikian, keputusan dua ormas terbesar di Indonesia ini tentang 1 Syawal atau hari raya Idul Fitri diperkirakan serentak 28 Juli 2014.

Awal Puasa NU-Muhammadiyah Diprediksi Beda, Lebaran Sama (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Puasa NU-Muhammadiyah Diprediksi Beda, Lebaran Sama (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Puasa NU-Muhammadiyah Diprediksi Beda, Lebaran Sama

Warga NU diperkirakan akan mulai berpuasa pada 29 Juni 2014. Sementara Muhammadiyah sudah lebih dulu memastikan akan berpuasa pada 28 Juni 2014.

Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH Syaiful Hadi mengungkapkan bahwa penetapan sementara itu berdasarkan pada hasil rapat koordinasi (Rakor) PWNU Jawa Timur pada 2 Juni lalu. Pada rapat tersebut, diperkirakan awal bulan Ramadhan jatuh pada Ahad 29 Juni 2014.

Mujahidin Cyber

“Hal itu karena berdasarkan metode rukyatul hilal (melihat langsung bulan sabit). Posisi hilal ada pada titik 0,085 derajat. Perlu dicatat, ini penghitungan sementara,” ujarnya, Jumat (20/6) sore di Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo di Desa Warujinggo Kecamatan Leces, Probolinggo.

Pada posisi itu kata Kiai Syaiful Hadi, pada posisi itu bulan sangat dimungkinkan tidak terlihat secara kasat mata. Dengan demikian, bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari. “Sehingga terlihatnya hilal pada posisi 0,085 derajat itu yang tepat di hari Ahad, pertanda dimulainya puasa,” jelasnya.

Mujahidin Cyber

Pandangan itu berdasarkan hasil pemaparan tim rukyatul hilal PWNU Jawa Timur. Menurut Ketua Tim Rukyatul Hilal PWNU Jawa Timur KH. Sholeh Hayat, posisi itu berdasarkan peredaran bulan pada awal Sya’ban.

“Penetapan sementara ini berdasarkan pergeseran bulan. Tetapi keputusan resminya tunggu nanti, pada 29 Sya’ban atau 27 Juni. Saat itu NU akan melakukan rukyatul hilal,” tegasnya.

Diketahui, selama ini selain menggunakan metode hisab (penghitungan matematis) untuk memprediksi, NU juga memakai metode rukyat atau melihat langsung hilal untuk memastikan hasil akhir. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Cerita, Nahdlatul Ulama, Tokoh Mujahidin Cyber

Rabu, 17 Januari 2018

Geram Penyelewengan Dana Desa, Mendes PDTT Sebut Bulan Madu Telah Usai

Jakarta, Mujahidin Cyber. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo mengatakan, pemerintah telah sepakat untuk tidak main-main dengan penyelewengan dana desa. Ia memastikan, perangkat desa yang terbukti terlibat penyelewengan akan langsung dipecat.

Geram Penyelewengan Dana Desa, Mendes PDTT Sebut Bulan Madu Telah Usai (Sumber Gambar : Nu Online)
Geram Penyelewengan Dana Desa, Mendes PDTT Sebut Bulan Madu Telah Usai (Sumber Gambar : Nu Online)

Geram Penyelewengan Dana Desa, Mendes PDTT Sebut Bulan Madu Telah Usai

"Bulan madu sudah selesai. Kalau kemarin diingetin terus, saat ini kalau masih macem-macem lagi, masih main-main kita tangkap. Kita libatkan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), data informasi lengkap tidak mungkin tidak ketahuan," ujar Menteri Eko usai koordinasi dengan Menteri Dalam Negeri di Jakarta, Kamis (10/8).

Menteri Eko mengungkapkan, pada tahun 2016 Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi telah mendapat laporan pengaduan masyarakat terkait dana desa sebanyak 932 pengaduan. 200 laporan diantaranya diserahkan kepada KPK, 167 diserahkan kepada kepolisian, sisanya merupakan permasalahan administrasi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 67 kasus yang mendapat vonis. Untuk tahun ini, lanjutnya, laporan pengaduan yang diterima sebanyak 300 pengaduan dan terus dipantau oleh Satgas Dana Desa.

Menurut Menteri Eko, permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan dana desa sebenarnya jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah penerima dana desa yang mencapai 74.910 desa. Meski demikian, ia tetap melakukan koordinasi dengan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, untuk menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang mungkin terjadi dalam pengelolaan dana desa.

Mujahidin Cyber

"Tentu setiap satu kesalahan kita tidak terima. Persoalan ini (penyelewengan dana desa) adalah persoalan penanganan korupsi. Penanganan korupsi bukan ditangani dengan pembentukan lembaga pengawas baru lagi, karena tidak menjamin korupsi tidak terjadi. (Solusi) Ya kita tangani korupsinya," tegasnya.

Mujahidin Cyber

Menteri Eko mengakui, 40 persen kepala desa di Indonesia hanya berpendidikan SD dan SMP. Namun menurutnya, hal tersebut bukanlah alasan untuk meragukan kemampuan desa untuk mengelola dana desa.

"Kenyataannya mereka (kepala desa) bisa belajar. Kalau kita lihat dana desa tahun 2015 sebanyak Rp20,8 Triliun hanya terserap 82 persen. Tahun 2016 dinaikkan oleh Pak Presiden sebesar Rp46,98 Triliun. Angka penyerapan naik dari 82 persen menjadi 97 persen. Artinya mereka belajar dan selalu kita kasih pendampingan," ungkapnya.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo mengatakan, ia telah sepakat untuk melakukan penguatan aparatur desa. Menurutnya, peningkatan kualitas aparat desa jauh lebih penting dibandingkan harus mempermasalahkan ijazah pendidikan.

"Soal ijazah tidak menjadi alasan. Karena Kepala Desa kan dipilih langsung oleh masyarakat. Yang penting dia mampu untuk melakukan, menggerakkan, mengorganisir masyarakat desanya. Mampu menyusun perencanaan dengan baik, mampu mempertanggungjawabkan keuangan desa dengan baik, itu saja intinya," terangnya.

Tjahjo Kumolo mengaku telah berbagi tugas dengan Menteri Eko dalam menangani desa. Menurutnya, Kementerian Dalam Negeri dalam hal ini akan fokus pada penguatan aparatur desa. Sedangkan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi fokus pada perencanaan, pembangunan, dan evaluasi pembangunan.

"Urusan desa ini yang bertanggungjawab langsung ya Bupati. Jangan Kemendagri dan Kemendes yang menjangkau langsung semua desa," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh Mujahidin Cyber

Selasa, 16 Januari 2018

Memahami Aswaja ala NU

Oleh Ach Tirmidzi Munahwan*

Judul: Aswaja An-Nahdliyah, Ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah yang Berlaku di Lingkungan Nahdlatul Ulama

Penulis: Masyhudi Muchtar

Memahami Aswaja ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Memahami Aswaja ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Memahami Aswaja ala NU

Pengantar: Dr KH Ali Maschan Moesa, M.Si

Penerbit: Khalista Surabaya

Cetakan: I, Maret 2007

Tebal: vii+56 hal
Nahdlatul Ulama (NU) didirikan sebagai jamiyah diniyah al-ijtimaiyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan). Jamiyah ini dibentuk untuk menjadi wadah perjuangan para ulama dan para pengikutnya, yang di dalamnya memiliki konsep dan ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah (Aswaja).

Mujahidin Cyber

Senin, 15 Januari 2018

Indonesia-Yordania Siapkan Langkah untuk Kemerdekaan Palestina

Amman, Mujahidin Cyber. Kantor berita resmi Yordania, Petra, melaporkan bahwa Indonesia dan Yordania menawarkan solusi kunci bagi konflik panjang antara Israel dan Palestina.

Indonesia-Yordania Siapkan Langkah untuk Kemerdekaan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia-Yordania Siapkan Langkah untuk Kemerdekaan Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia-Yordania Siapkan Langkah untuk Kemerdekaan Palestina

Komitmen tersebut muncul seiring dengan kunjungan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi pada Rabu kemarin di Amman, Yordania. Ia diterima langsung oleh Raja Yordania Abdullah II dan menteri luar negeri setempat, Ayman Safadi.

Dalam perbincangan antardua menlu, kedua negara mencermati pentingnya upaya terbaru untuk menghidupkan kembali perundingan damai berdasarkan solusi mereka yang mengarah pada penciptaan sebuah negara Palestina merdeka di perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem timur sebagai ibukotanya.

Kedua negara tersebut sepakat tentang pentingnya menjadikan Yerusalem sebagai pusat bagi dunia Arab dan Islam.

Mereka juga menyuarakan penolakan mereka terhadap semua tindakan sepihak Israel yang berusaha mengubah status quo dan situasi bersejarah di Yerusalem.

Mujahidin Cyber

Dalam hal ini, Ayman Safadi mengatakan, Yordania akan terus mengambil tindakan untuk melindungi tempat-tempat suci di Yerusalem dan menekankan pada peran bersejarah Yordania dalam hal ini.

Mujahidin Cyber

Kedua pihak juga menyerukan upaya intensif untuk memerangi terorisme dan radikalisme. Mereka menegaskan, terorisme bukan bagian dari agama atau peradaban apa pun. Indonesia dan Yordania menyadari akan perlunya usaha terus-menerus menghadapi ancaman global ini.

Yordania dan Indonesia akan menandatangani beberapa kesepakatan pada awal 2018 untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ketua Mahkamah Agung Yordania, Direktur Kantor Kerajaan Yordania, Duta Besar RI di Amman, dan delegasi yang mendampingi Marsudi. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pertandingan, Jadwal Kajian, Tokoh Mujahidin Cyber

Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan

Oleh Achmad Sahri ?





Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Perlu ‘Ngaji’ Renang dan SAR Perairan



Sebuah koran pada tanggal 7 Oktober 2016 memberitakan tujuh dari 25 santri Pondok Pesantren Langitan, Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur hilang setelah perahu yang mereka tumpangi terbalik di Bengawan Solo. Sebelumnya, sejak Januari 2016, koran Tempo telah memuat dua berita tentang santri tenggelam, yaitu: Hanyut Setelah Cuci Jeroan Kurban, 3 Santri Ditemukan Tewas (14 September 2016) dan Lima Santri Tewas Tenggelam di Sungai Waduk Cangklik (20 Januari 2016).

Kabar tentang kurangnya jaminan keamanan santri saat mereka beraktivitas di lingkungan luar pondok pesantren seperti ini bisa menjadi pertimbangan yang memberatkan di tengah gencarnya gerakan “Ayo-Mondok” yang digalakkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan diamini oleh Kementerian Agama agar orang tua mau mengirimkan anaknya untuk belajar di pondok pesantren.

Kurikulum pondok pesantren saat ini sebenarnya sudah jauh lebih variatif daripada pesantren zaman dulu. Selain ilmu agama, santri kontemporer juga dibekali dengan ilmu dunia yang diharapkan dapat bermanfaat untuk masa depan mereka. Beberapa pesantren, sejak beberapa dekade terakhir juga membuka sekolah kejuruan atau memiliki kegiatan ekstra-kulikuler yang memungkinkan santri mereka belajar ilmu non-agama dan ketrampilan praktis lainnya seperti otomotif, tata boga, tata busana, bela diri dan sebagainya.?

Mujahidin Cyber

Namun ketrampilan bertahan hidup di alam terbuka seperti renang dan search and rescue (SAR) di perairan (seperti bagaimana mencari dan menyelamatkan orang tenggelam) sangat minim diajarkan di pesantren, jika tidak boleh dikatakan tidak ada.

Anjuran tentang renang

Benarkah renang merupakan sunnah Nabi? Kalau kita telusuri, memang ada beberapa hadits Nabi SAW yang menyinggung perihal renang ini, salah satunya adalah hadits dari Jabir bin Abdillah r.a yang redaksionalnya kurang lebih: "Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah (mengingat Allah) merupakan perbuatan sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang” (HR. An-Nasa’i).

Mujahidin Cyber

Kalau kita perhatikan teks hadits tersebut, mengajarkan renang bukan termasuk perbuatan yang sia-sia. Hanya saja Rasulullah SAW tidak secara langsung memerintahkan, apalagi mencontohkan dalam bentuk perbuatan. Para ulama umumnya menyebut perintah belajar berenang merupakan perintah dari Umar bin Al-Khattab r.a yang berbunyi: “Ajari anak-anakmu berenang, memanah dan naik kuda", sehingga umumnya para ulama sampai kepada kesimpulan bahwa pada dasarnya hukum berenang adalah sesuatu yang mubah (dibolehkan).

Butuh praktik

Tidak seperti ilmu-ilmu agama yang umumnya dipelajari, dikaji dan didiskusikan dengan membedah kitab tertentu, renang apalagi search and rescue (SAR) di perairan, karena merupakan ketrampilan praktis, tidak hanya selesai pada tataran dipelajari atau dikaji di majelis atau ruang kelas. Renang dan SAR perairan memerlukan praktik dan latihan yang disiplin dan terjadwal untuk dapat dikuasai.?

Sebagai bagian dari kurikulum, jika ke depan akhirnya perlu diajarkan di pesantren, materi ajar seperti buku atau referensi juga perlu diformulasikan. Tentunya yang sejalan dengan lingkup lingkungan pesantren. Tak ketinggalan, guru ‘ngaji’ tentang renang dan SAR perairan ini juga perlu disiapkan. Guru ngaji ini selain harus memahami teknik praktis tentang renang dan SAR perairan, mereka juga harus memahami ketentuan syar’i agar berenang tidak menyalahi ketentuan syariat, seperti misalnya bagaimana menyikapi aurat.

Sulitnya realisasi praktik renang islami

Memang agak sulit untuk menerapkan praktek renang islami, dimana laki-laki dan perempuan tidak boleh bercampur dalam satu tempat, apalagi jika proses pembelajaran renang dilakukan di kolam renang umum yang tidak membedakan pengunjung berdasarkan jenis kelamin, sebab konsepnya memang dibuat untuk umum, dimana laki-laki dan perempuan dibiarkan berenang dalam satu kolam renang. Kalaupun harus dipisah, pengadaan infrasutruktur kolam renang menjadi berlipat biayanya.

Saat ini, sebagian kalangan sudah mulai sepakat paling tidak sampai ke level memisahkan tempat antara laki-laki dan perempuan sebagai syarat kebolehan. Pengaturan waktu berenang antara laki-laki dan perempuan juga sempat menjadi usulan. Tujuannya bukan sekadar terjaganya aurat, tetapi juga agar tidak terjadi campur baur antara laki-laki dan perempuan.

Satu hal lain yang juga penting adalah belajar berenang diutamakan dilakukan sejak usia dini. Setidaknya ada dua alasan yang melatarbelakanginya. Pertama, karena belajar menguasai sesuatu akan menjadi lebih mudah bila dikerjakan saat usia kanak-kanak, sehingga nasehat Umar bin Al-Khattab r.a untuk mengajarkan anak-anak kita berenang sejak kecil menjadi sangat tepat. Kedua, anak yang masih kecil belum terikat dengan aturan membuka aurat dan keharusan menjaga pandangan.

Jadi, apakah sudah saatnya santri juga perlu ‘ngaji’ renang dan search and rescue perairan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.





Penulis adalah calon PhD Student di Marine Animal Ecology Wageningen University & Research Belanda, Alumnus Ponpes Kyai Galang Sewu, Jurang Blimbing, Tembalang, Kota Semarang, Jamaah PCI-NU Belanda, tinggal di Wageningen-Belanda

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber RMI NU, Sholawat, Tokoh Mujahidin Cyber

Kamis, 11 Januari 2018

Mbah Moen: Kiai Harus Pandai Baca Tanda-tanda Zaman

Salatiga, Mujahidin Cyber - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang KH Maimoen Zubair hadir dalam acara Multaqo Kebangsaan, di Pondok Pesantren Wakaf Literasi Islam Indonesia (WALI) Candirejo, Tuntang, Kabupaten Semarang, Sabtu (2/12).

Dalam kesempatan itu, Mbah Moen berpesan kepada para peserta yang terdiri atas kiai muda pengasuh pondok pesantren se-Jawa Tengah. Menurutnya, sebagai calon pengganti kiai yang sudah sepuh, mereka yang masih muda mesti mengantisipasi perubahan zaman.

Mbah Moen: Kiai Harus Pandai Baca Tanda-tanda Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen: Kiai Harus Pandai Baca Tanda-tanda Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen: Kiai Harus Pandai Baca Tanda-tanda Zaman

“Para kiai muda adalah calon pengganti kiai-kiai yang sudah senior. Karenanya para kiai muda harus pandai membaca tanda-tanda zaman dan mempersiapkan antisipasi perubahan zaman,” tutur Mustasyar PBNU itu.

Mujahidin Cyber

Selain itu, para kiai muda harus juga harus selalu siap dalam menghadapi ujian-ujian di masa mendatang yang saat ini mungkin belum kelihatan.

Mbah Moen memberikan semangat kepada para kiai muda agar tetap optimis dalam menyebarkan ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Mujahidin Cyber

“Saya mendukung setiap langkah para kiai muda dalam menempa diri dan menjalin komunikasi untuk menghadapi masa depan dengan optimis dan penuh semangat,” katanya.

Forum Multaqo Kebangsaan ini juga diselenggarakan beberapa rangkaian kegiatan, antara lain Ngaji Jurnalistik dan Seminar Regional yang mengangkat tema Nilai-Nilai Ukhuwah dalam Tradisi Pendidikan Pesantren. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kiai, Daerah, Tokoh Mujahidin Cyber

Rabu, 10 Januari 2018

PBNU: KPK harus Kuat, Polri harus Kuat

Jakarta, Mujahidin Cyber. Setelah selama sebulan terjadi hiruk pikuk politik nasional yang melibatkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri yang menguras energi masyarakat, akhirnya presiden membuat keputusan dengan tidak jadi melantik calon Kapolri Budi Gunawan dan mengisi kekosongan pimpinan KPK dengan menunjuk tiga pimpinan baru.?

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj berharap perseteruan antara KPK dan Polri tidak terulang kembali di masa mendatang. Dua-dua insitusi negara ini harus bekerjasama dalam upaya penegakan hukum. Ia berharap KPK dan Polri sama-sama kuat.

PBNU: KPK harus Kuat, Polri harus Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: KPK harus Kuat, Polri harus Kuat (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: KPK harus Kuat, Polri harus Kuat

“Siapapun harus bersikap adil. Presidennya milik kita, Polisi milik kita, KPK juga kita. Semuanya harus taat kepada konstitusi.”

Mujahidin Cyber

Untuk menegakkan hukum, institusi-institusi tersebut harus diperkuat, bukan malah saling melemahkan dan mencari-cari kesalahan satu sama lain.

Mujahidin Cyber

? “KPK harus Kuat, Polri harus Kuat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, dalam kerjasama penegakan hukum tersebut, ada etika dan moral yang harus dijunjung tinggi. Ia mencontohkan, mengajak orang shalat dengan mengata-ngatai “goblok” akan membuat orang merasa tersinggung, padahal ajakannya benar.?

“Ini perlu menjadi evaluasi,” jelasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Meme Islam, Tokoh Mujahidin Cyber

Minggu, 24 Desember 2017

Lakmud IPNU-IPPNU 2013 se-Jawa Barat, Lakmud Terbesar di Indonesia

Cirebon, Mujahidin Cyber. Latihan Kader Muda (Lakmud) IPNU-IPPNU 2013 se-Jawa Barat yang diselenggarakan PC IPNU-IPPNU kabupaten Cirebon, mendapat sambutan besar. Lakmud yang mencapai jumlah hingga 203 peserta menjadi Lakmud terbesar IPNU-IPPNU yang pernah digelar di Indonesia.

Demikian disampaikan Ketua I PP IPPNU Dewi Chandra Nur Imamah dalam sambutan pembukaan Lakmud IPNU-IPPNU 2013 se-Jawa Barat di halaman Ma’had As-Shighor, Pesantren Gedongan kecamatan Pangenan kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Ahad (22/12) sore.

Lakmud IPNU-IPPNU 2013 se-Jawa Barat, Lakmud Terbesar di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakmud IPNU-IPPNU 2013 se-Jawa Barat, Lakmud Terbesar di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakmud IPNU-IPPNU 2013 se-Jawa Barat, Lakmud Terbesar di Indonesia

“Itu baru jumlah sementara yang ia terima. Jumlah itu kemungkinan akan bertambah di malam nanti atau besok,” tambah Dewi di hadapan sedikitnya 250 hadirin yang terdiri dari pengasuh Ma’had As-Shighor, pengasuh Pesantren Gedongan, peserta Lakmud, aparat militer dan kepolisian, dan perwakilan pemkab setempat.

Mujahidin Cyber

Selain besarnya jumlah peserta, Dewi menilai kebesaran Lakmud IPNU-IPPNU se-Jabar terletak pada nihilnya biaya. Peserta Lakmud di sini tidak dikenakan biaya. Padahal di lain daerah, sejumlah biaya dipungut dari peserta untuk kegiatan Makesta dan Lakmud.

“Di sini makan dan istirahat gratis,” lanjut Dewi yang kemudian mengucapkan terima kasih kepada pengasuh pesantren atas kerja samanya dengan pelajar NU.

Mujahidin Cyber

Lakmud ini memang terbesar. Di lain daerah, peserta hanya memenuhi 1 kelas. “Tetapi di sini, dengan jumlah sebanyak itu peserta Lakmud IPNU-IPPNU se-Jabar ini memenuhi sampai enam kelas. Ini sudah sekelas konferensi,” tegas Dewi usai pembukaan, ditemani dua rekanita dari PP IPPNU.

Pembukaan diawali dengan pawai drumben persembahan ikatan remaja masjid dari Gebang, Cirebon yang mengelilingi kompleks Pesantren Gedongan. Pementasan drumben itu disusul dengan pertunjukan kesenian marawis dengan lagu “Selawat Keloas” dan instrumental angklung yang membawakan lagu “Warung Pojok”.

Sedangkan pengasuh Ma’had As-Shighor Kiai Bisyri Imam dalam sambutannya menyatakan rasa syukurnya atas keberadaan kegiatan Lakmud IPNU-IPPNU setingkat provinsi. “Tamu itu datang membawa rezeki dan pulang menghapus dosa,” ujar Kiai Bisyri.

Kiai Bisyri mengimbau pelajar NU untuk siap berdakwah di pelosok-pelosok yang belum terjamah. “Karena kelompok aliran garis keras atas nama agama, sudah masuk di pelosok Kalimantan, Sumatera, juga Sulawesi. Ini patut menjadi perhatian kader pergerakan NU,” tandas Kiai Bisyri menutup sambutannya.

Lakmud bertajuk "Aktualisasi Aswaja dalam Menghadapi Tantangan Global" rencananya berlangsung tiga hari, Ahad-Selasa (22-24/12). Acara pembukaan Lakmud 2013 ditutup doa yang dipimpin salah seorang pengasuh Pesantren Gedongan, Kiai Mukhlas Dimyathi. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh Mujahidin Cyber

Sabtu, 23 Desember 2017

Wilayah Luas Minim Aparat, Lampung Rawan Terorisme

Bandar Lampung, Mujahidin Cyber?

Provinsi Lampung sebagai daerah memiliki kerawanan yang tinggi terhadap gerakan radikal terorisme. ? Namun kondisi tersebut ternyata tidak diimbangi dengan keberadaan aparat keamanan yang memadai.?

Wilayah Luas Minim Aparat,  Lampung Rawan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Wilayah Luas Minim Aparat, Lampung Rawan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Wilayah Luas Minim Aparat, Lampung Rawan Terorisme

Demikian disampaikan oleh Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Lampung, Sukiran, saat menjadi narasumber dalam Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme di Bandar Lampung, Rabu (23/11/2016).?

"Kita sama-sama mengetahui berapa jumlah polisi di Lampung. TNI juga demikian, bahkan ada Mako (Markas Komando, Red.) yang kabarnya akan ditutup," kata Sukiran.?

Terkait kerawanan di Lampung, tambah Sukiran, luas wilayah dan minimnya aparat keamanan diperburuk dengan adanya catatan sejarah aksi-aksi terorisme di masa lalu. Dia mencontohkan, salah satunya adalah jaringan Warman dan kelompok pendukung Negara Islam Indonesia (NII).?

"Di Desa Bedeng, di Lampung Timur, sampai sekarang masih ada pengikut Warman. Meskipun sudah usia lanjut, secara pemikiran mereka masih radikal dan tidak menutup kemungkinan menyebarluaskan apa yang diyakininya," lanjut Sukiran.?

Mujahidin Cyber

Selain itu, masih kata Sukiran, keberadaan kelompok Islam beraliran keras menjadikan kerawanan terorisme di Lampung semakin mengkhawatirkan. "Di Lampung ada pengikut Islam Wahabi, Khilafatul Muslimin, HTI, dan kelompok-kelompok yang berkaitan dengan Pesantren Al Amin, Ngruki. Semuanya memiliki keyakinan yang nyaris sama, menganggap kelompok lain yang tidak sealiran adalah kafir," tegasnya.?

Untuk menanggulangi radikal terorisme tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung disebut oleh Sukiran sudah melakukan berbagai upaya, salah satunya meminta setiap kepala daerah tingkat Kota dan Kabupaten untuk selalu melakukan deteksi dini terhadap kerawanan di daerahnya dan menjaga situasinya tetap aman. Langkah lainnya adalah dengan menggandeng media massa melalui penyampaian saran masukan terkait konten pemberitaan.?

"Kami meminta media massa senatiasa memberitakan hal-hal yang tidak memancing munculnya raadikalisme terorisme. Media massa harus bisa ikut berperan menjaga keamanan," urai Sukiran.?

Mujahidin Cyber

Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa Pers dalam Meliput Isu-isu Terorisme adalah satu metode Pelibatan Masyarakat dalam Pencegahan Terorisme yang dilaksanakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di 32 provinsi se-Indonesia.?

Satu metode lainnya adalah Visit Media, kunjungan dan diskusi dengan redaksi pemberitaan media massa untuk menyamakan persepsi tentang peran media massa dalam pencegahan terorisme. (Samsul Hadi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh Mujahidin Cyber

Sabtu, 09 Desember 2017

Bupati Pekalongan Harapkan Konferwil Semakin Angkat Marwah Ansor

Pekalongan, Mujahidin Cyber - Konferensi Wilayah (Konferwil) Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah digelar di GPU Kajen Kabupaten Pekalongan, Ahad (12/11). Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi berharap momen Konferwil ini dapat semakin mengangkat marwah gerakan pemuda NU.

"Saya berharap konferwil Ansor Jateng di Kota Kajen Kabupaten Pekalongan menjadikan marwah Gerakan Pemuda Ansor semakin terangkat, terhormat, dan tentu saja sarat manfaat," kata Asip saat dihubungi Mujahidin Cyber, Jumat (10/11).

Bupati Pekalongan Harapkan Konferwil Semakin Angkat Marwah Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Pekalongan Harapkan Konferwil Semakin Angkat Marwah Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Pekalongan Harapkan Konferwil Semakin Angkat Marwah Ansor

Selain itu pihaknya juga menitipkan asa pada kegiatan ini sebagai wahana pembinaan generasi.

Sementara itu, Ketua PW GP Ansor Jateng Ikhwanudin menjelaskan, Konferensi Wilayah merupakan forum tertinggi di tingkat wilayah atau provinsi, dengan agenda utama yaitu pemilihan ketua baru untuk masa khidmah empat tahun ke depan (2017-2012).

Mujahidin Cyber

Sejauh ini, lanjut Ikhwan, sudah ada sedikitnya tiga nama calon yang muncul sebagai kandidat. Antara lain Wahidin Said (kader dari Kendal), Sholahuddin Aly (kader dari Jepara) dan Fahsin M Faal (kader dari Demak).

Mujahidin Cyber

"Secara umum persyaratan seseorang untuk dapat berkompetisi adalah yang bersangkutan harus benar-benar kader Ansor dan berprestasi," kata Ikhwan.

Untuk persyaratan administrasi, antara lain kandidat sudah menempuh jenjang kaderisasi tertinggi, yakni Pendidikan Kepemimpinan Nasional (PKN). (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber PonPes, Nusantara, Tokoh Mujahidin Cyber

Jumat, 08 Desember 2017

Kasus Puger, Semoga Jadi Akhir Perseteruan Sunni-Syiah

Jember, Mujahidin Cyber. Berbagai pihak meminta semua pihak untuk tidak terpancing bertindak sendiri-sendiri dalam menyikapi konflik Puger, Jember, yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia.

Wakil Ketua MUI Jember, KH Abdullah Syamsul Arifin, untuk hal-hal yang terkait dengan persoalan hukum, pihaknya mempersilahkan polisi menangani kasus Puger dengan bijak.

Kasus Puger, Semoga Jadi Akhir Perseteruan Sunni-Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasus Puger, Semoga Jadi Akhir Perseteruan Sunni-Syiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasus Puger, Semoga Jadi Akhir Perseteruan Sunni-Syiah

“Soal hukum, kita pasrahkan kepada polisi. Kita bagian rekonsiliasi,” tukasnya di sela-sela halal bihalal di Jember, Jumat (15/9) menanggapi ditetapkannya 9 tersangka kasus Puger oleh polisi, kemarin.

Mujahidin Cyber

Gus A’ab mengaku sudah sekian kali berkomunikasi dengan Kapolda Jawa Timur maupun Kapolres Jember. Intinya, dirinya meminta polisi untuk menegakkan hukum dengan tegas, baik dan benar. “Tegas, belum tentu baik. Karenanya dalam mengambil? keputusan, polisi juga perlu mempertimbangkan kearifan lokal,” ungkapnya.

Mujahidin Cyber

Ia menambahkan, Muspida, ulama dan umara dan pihak terkait terus berusaha untuk menemukan penyelesaian terbaik dari konflik Puger. Mencuatnya konflik Puger, kata Gus A’ab, tidak bisa lepas dari faktor Sunni-Syiah sehingga penyelesaiannya juga harus berangkat dari titik tersebut.

“Semoga kita semua segera menemukan format penyelesaian terbaik, yang sama-sama melegakan kedua belah pihak,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Puger, Agus Mudhofir berharap agar kasus tersebut mengakhiri perseteruan Sunni-Syiah yang sudah lama berlangsung.

“Terus terang korban meninggal adalah pengurus ranting NU Pugerkulon. Tapi marilah kita akhiri semua ini. Sedangkan soal pelaku pembunuhnan kita serahkan kepada polisi,” ucapnya. (Aryudi A. Razaq/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh Mujahidin Cyber

Rabu, 29 November 2017

Muslimat NU Nyatakan Haram Perilaku LGBT

Jakarta, Mujahidin Cyber?

Direktur Kesehatan Jiwa Kementrian Kesehatan RI Vidiansyah pada forum Bahtsul Masail Kongres Muslimat NU di Asrama Haji, Jakarta, Sabtu (26/11) mengatakan, dari sisi kesehatan, kelainan kromosom pada pelaku lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) hanya berkisar 10 persen.?

Sementara, lanjutnya, 90 persen sisanya lebih karena faktor sosiologis dan psikologis. Jadi, kebanyakan pelaku LGBT bukan faktor bilogis, melainkan lingkungan atau pergaulan. ? ?

Muslimat NU Nyatakan Haram Perilaku LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Nyatakan Haram Perilaku LGBT (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Nyatakan Haram Perilaku LGBT

Sehingga, kata dia, peran keluarga sangat penting untuk memastikan anggota keluarganya tidak terbawa arus menjadi seorang pelaku LGBT.?

Narasumber lain dari Asosiasi Psikologi Islam Aliah B. Purwakani Hasan mengatakan, fitrah hubungan seksual manusia adah heteroseksual. Sehingga, jika melawan fitrah tersebut ada dampak dari sisi kesehatan, psikologis dan lain-lain.?

Ia menyebut, dari sisi kesehatan, pelaku LGBT merupakan pihak yang paling rentan terjangkit HIV AIDS. Paling tercepat lagi adalah pelaku lesbian. Dari sisi psikologis, pelaku LGBT mengalami risiko defresi lebih tinggi daripada pelaku heteroseksual. “Namun, berdasarkan penelitannya, LGBT bisa disembuhkan,” katanya. ?

Sementara dari sisi keagamaan, salah seorang pengurus PP Muslimat NU Zahrotun Nihayah mengatakan, Muslimat NU manut kepada keputusan NU, Majelis Ulama Indonesia, serta ulama-ulama lain, yaitu mengharamkan perilaku LGBT.?

Mujahidin Cyber

Sehingga, kata dia, forum Bahtsul Masail pada kongres ini lebih kepada penambahan wawasan peserta untuk mensosialisasikannya di daerah masing-masing.?

“Ini pembahasan lebih detil dari sisi kesehatan, psikologi, hukum, sosial, dan keagamaan. Dari sisi keagamaan, Muslimat NU telah menyatakan haram,” tegasnya.?

Menurut Muslimat, beberapa ayat yang melarang LGBT antara lain surat An-Nisa: 15, Surat Al-A’raf 80-84. Surat Hud 77-82 dan Al-Ankabut 28-35. Di dalam Al-Qur’an Allah telah membinasakan kaum Luth melalui gempa bumi yang sangat dahsyat karena perilaku kaum laki-laki yang menolak menikahi perempuan.?

Indonesia, kata pengurus yang telah demisioner ini, dengan mayoritas penduuduk muslim tidak mungkin melawan Al-Qur’an. Tetapi bukan untuk membencinya, melainkan melakukan pencegahan dan pengobatan sebab hal itu bisa diobati.?

Mujahidin Cyber

Bahtsul Masail tersebut merupakan kerja sama Bidang Dakwah dan Hukum Pimpinan Pusat Muslimat NU 2011-2016 dengan koordinator Ny. Hj. Nurhayati Said Aqil. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh Mujahidin Cyber

Senin, 27 November 2017

Bersama PMII, Kader NU Ini Salurkan Bantuan Gempa di Gampong Terisolir

Pidie Jaya, Mujahidin Cyber - Selama tiga hari, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Banda Aceh bersama Coin Foundation menyebarkan bantuan berupa perlengkapan sekolah dan beberapa kebutuhan logistik pada korban gempa tepatnya di Gampong Lhok Puuk Kecamatan Panteraja yang sampai sejauh ini masih terisolir dan belum mendapat bantuan secara maksimal.

Coin Foundation adalah lembaga sosial milik kader NU asal Mataram yang bergerak dalam bidang kesehatan, pendidikan, keagamaan dan lembaga sosial anak.

Bersama PMII, Kader NU Ini Salurkan Bantuan Gempa di Gampong Terisolir (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama PMII, Kader NU Ini Salurkan Bantuan Gempa di Gampong Terisolir (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama PMII, Kader NU Ini Salurkan Bantuan Gempa di Gampong Terisolir

Melalui arahan Ketua PCNU Pidie Jaya, PMII bersama Coin Foundation bergerak menuju lokasi yang memang belum banyak mendapat bantuan seperti lokasi-lokasi yang dekat dengan posko di jalan raya Banda Aceh Medan. Lokasi yang dimaksud adalah Gampong Lhok Puuk.

Mujahidin Cyber

Ketua PMII Banda Aceh Akmaluddin beserta rombongan menuju ke lokasi bersama Direktur Coin Foundation Abdul Aziz, Senin (19/12). Mereka langsung menuju camp pengungsian yang berpusat di pesantren asuhan Tgk Jamaluddin.

"Setelah kemarin, Ahad (18/12) kami memberikan bantuan berupa 300 paket perlengkapan sekolah untuk anak-anak di Gampong Meunasah Cut, Dayah Teumanah dan Gampong Dayah Pangwa. Kemudian kami mendapat arahan dari PCNU Pidie Jaya untuk meninjau langsung keadaan di Gampong Lhok Puuk yang letaknya sangat jauh dari pusat kota," ujarnya.

Dari hasil wawancara dengan Sekdes setempat, di Gampong Lhok Puuk terdiri atas 133 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 560 jiwa, satu masjid dan 33 rumah warga rusak total (tidak termasuk rusak ringan). Tidak ada korban jiwa namun ada 3 warga patah tulang dan 18 orang luka ringan saat kejadian gempa beberapa waktu lalu.

Mujahidin Cyber

Lokasi gampong yang begitu jauh dan pelosok tidak mematahkan semangat Abdul Aziz untuk menyalurkan bantuan secara langsung kepada masyatakat yang betul-betul membutuhkan. Bahkan ia memutuskan untuk bermalam di tempat pengungsian bersama warga setempat.

"Bantuan ini didedikasikan sebagai pengabdian kami terhadap saudara-saudara yang betul-betul membutuhkan. Dalam konteks masyarakat, tidak hanya pada persoalan hidup yang harus mengais tanpa henti, juga pada persoalan kesejahteraan yang terkadang harus tergadaikan oleh sistem yang tidak diindahkan," kata Aziz yang juga Mabincab PMII Mataram.

Sementara itu, Selasa (20/12) Aziz juga menyempatkan diri datang dan memberikan bantuan logistik pada warga Gampong Muka Blang yang berjarak kurang lebih lima kilometer dari Lhok Puuk.

Bantuan yang dibawa adalah hasil penggalangan dana dari PMII Mataram juga dari persatuan mahasiswa Lombok Barat yang diamanahkan melalui Aziz agar diberikan kepada korban gempa di Pidie Jaya. (Fauzi E/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh, Pahlawan Mujahidin Cyber

Jumat, 17 November 2017

Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar

Pringsewu, Mujahidin Cyber - Dewasa ini banyak orang yang memiliki niatan tidak benar dalam mencari ilmu. Karena kesalahan niat ini akhirnya banyak orang di zaman sekarang hanya mendapatkan kepintaran. Padahal yang lebih penting dari hal kepintaran ini cahaya dan hidayah ilmu.

Demikian disampaikan Mustasyar NU Pringsewu KH Anwar Zuhdi (Abah Anwar) saat mengupas materi tentang pelurusan niat dalam mencari ilmu di depan Jamaah Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang memenuhi aula Gedung NU Pringsewu, Ahad (8/5) pagi.

Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar

Abah Anwar memberikan contoh bentuk orang yang salah niat dalam menuntut ilmu seperti ingin merasa hebat dan mengharap dihormati orang lain. "Jika niatan seseorang dalam mencari ilmu itu biar ia bisa hebat, berharap dihormati orang lain apalagi diniati mencari materi dunia, maka orang tersebut tidak akan mendapatkan hidayah ilmu," jelasnya dengan referensi Kitab Bidayatul Hidayah.

Orang seperti ini tidak hanya akan kehilangan hidayah ilmu, namun dapat menghancurkan dirinya sendiri dan agamanya. "Orang tipe ini sama saja menukar akhirat dengan dunia," tegasnya.

Mujahidin Cyber

Abah Anwar menambahkan, hidayah itu sangat penting dalam proses mencari ilmu. "Jangan berorientasi kepada kepintaran dan gelar dalam mencari ilmu. Carilah hidayah Allah SWT. Kalau Allah sudah memberikan hidayah ilmu kepada kita, ilmu dan hidup kita akan menjadi berkah," imbaunya.

Ia mencontohkan, bagaimana seorang ulama, kiai atau tokoh yang memiliki keilmuan mumpuni dengan pesantrennya yang besar dan terkenal tetap saja menitipkan putra-putrinya kepada ulama lain dalam mencari Ilmu.

Mujahidin Cyber

"Kalau niatan hanya untuk mendapatkan ilmu, bisa saja para kiai mendidik anaknya sendiri bersama santri-santrinya di pesantren masing-masing. Namun yang dicari mereka bukan hanya ilmu, namun hidayah dan barokahnya," tegasnya.

Ia mengajak seluruh umat Islam untuk menata niat dengan benar dalam menuntut ilmu dan dengan giat dalam melakukannya. "Semakin banyak mendalami ilmu maka kita akan merasa bodoh. Jangan merasa puas dengan ilmu yang dimiliki karena orang yang merasa pintar hakikatnya adalah orang bodoh," ujarnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tokoh, PonPes, Makam Mujahidin Cyber

Minggu, 12 November 2017

Budaya Komentar di Era Krisis Membaca

Oleh Robiatul Adawiyah



Suatu hari A membagikan sebuah artikel yang memiliki judul bombastis sembari berkomentar “Terjadinya Hari Kiamat Di 2012” adalah sebuah bukti bahwa yang membuat sebuah artikel merupakan (orang dalam/orang dekat) dari Tuhan, atau ia sempat mengintervensi Tuhan.

Budaya Komentar di Era Krisis Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)
Budaya Komentar di Era Krisis Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)

Budaya Komentar di Era Krisis Membaca

Temannya, B berkata, “Bro, yakin itu berita benar?”

A membalas, “Nggak tau, bro, gw nggak baca, cuma share doang.”

Mujahidin Cyber

B lalu mengambil novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan dan ngegebukin A sampai otak A keluar, lalu B mengambil otak A buat dijual di Tokopedia.

Mujahidin Cyber

Banyak orang seperti ini di media sosial. Orang-orang yang tidak pantas hidup, yang suka membagikan artikel-artikel bernada bombastis tanpa membaca sepatah kata pun yang ditulis. Atau yang lebih bodoh lagi, suka asal berkomentar padahal belum membaca keseluruhan isi berita/artikel.

Peristiwa di atas menandakan bahwa masih banyak keberadaan masyarakat takhayul dan masyarakat ilmiah. Banyak terdapat gejala-gejala tak masuk akal sejak budaya media sosial mulai berkembang.

Orang menjadi semakin mudah mengedarkan segala macam perkataan, mulai dari kabar serius, desas-desus politik, kabar burung, takhayul, cerita gaib, perang ideologi, rasisme dan lain hal sebagainya.

Peristiwa tersebut disebabkan karena memeriksa suatu kabar membutuhkan jerih payah yang lebih dari pada harus menyebarluaskan berita lewat sosial media. Teknologi dengan cepat melahirkan budaya komentar, dan siapapun boleh komentar. Tak peduli komentar itu melukai seseorang atau tidak, yang dapat membuat seseorang saling membenci, mengancam bahkan saling membunuh.

Melihat kenyataan tersebut, haruskah kita melarang seseorang untuk menggunakan teknologi? Atau apakah semua orang harus menjadi seorang ilmuwan yang dapat menggunakan banyak metode? dengan keahlian detailnya. Jawabannya adalah “Tidak”. Setiap orang hanya perlu berpikir dan bertindak dengan masuk akal.

Ilmu pengetahuan adalah salah satu cara untuk mengetahui. Mengapa disebut salah satu, agar hal tersebut tidak dimaknakan untuk mengalahkan segalanya. Sebab ada realitas yang tidak bisa dijangkau hanya sebatas dengan ilmu.

Melihat keadaan tersebut, dapat dipengaruhi oleh tingkat minat baca seseorang. Minat baca Indonesia itu rendah. Studi menunjukkan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei oleh Central Connecticut State University. Indonesia hanya sedikit lebih baik daripada Botswana, tapi jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya.

Kenapa bisa begini? Ini pasti salah Jokowi. Memang mudah menyalahkan pihak eksternal. Namun, kurangnya budaya membaca ini sebuah permasalahan yang kompleks yang tidak bisa ditinjau dari satu sisi saja.

Di satu sisi, kebiasaan membaca tidak ditanamkan secara mendalam saat pendidikan dasar. Budaya membaca hanya berhenti sebatas jargon yang ditempel atau dipasang di banner atau baliho atau papan besi di sekolah. “Budayakan membaca”, begitu slogan yang sering ditemui dulu waktu kecil. Namun dalam praktiknya, hampir tidak ada insentif sama sekali untuk membaca buku di luar buku teks pelajaran. Siswa Indonesia baca buku hanya untuk mengetahui materi yang akan diujikan nanti, lalu membuat rumus-rumus cepat supaya nggak perlu liat buku. Guru juga hanya sebatas menguji daya ingat dengan menggunakan soal pilihan ganda, tanpa memberikan kesempatan siswa untuk mengungkapkan pendapatnya sendiri. Lalu, buat apa repot-repot baca buku banyak-banyak, toh materinya nggak keluar di ujian? Kebiasaan ini membuat siswa menjadi robot yang hanya berpikir dari satu sisi saja.

Keadaan tersebut sayangnya dijumpai pada materi pelajaran Bahasa Indonesia yang didominasi soal pilihan ganda, padahal seharusnya pertanyaan ilmu bahasa itu seharusnya interpretatif. Siswa hanya diberikan sebuah cuplikan atau kutipan teks dan memilih makna teks tersebut dari empat pilihan yang ada. Siswa tidak diberikan kesempatan, atau insentif, untuk membahas teks tersebut sesuai pandangan subjektifnya. Akhirnya, siswa tidak berminat untuk menggali lebih lanjut cuplikan tersebut.

Keadaan tersebut juga sering dijumpai di lingkungan kampus. Mahasiswa juga terkadang malas mencari sumber-sumber referensi yang ‘lebih’, dan terlalu bergantung dengan materi slide-slide PowerPoint dosen. Seakan materi di PowerPoint adalah mutlak dan tidak perlu mengembangkan wawasan lagi.

Terkadang, perpustakaan di sekolah dan kampus hanya sebuah formalitas. Di kampus, sebagian besar area perpustakaan dialihfungsikan menjadi meja buat laptop. Hanya sedikit buku-buku yang tertampung. Itupun mungkin jarang disentuh orang-orang kecuali saat ujian tengah/akhir semester. Di luar itu, buku-buku tersebut menganggur.

Lalu ada juga faktor ekonomi. Tidak dapat dipungkiri, lebih dari 50% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Boro-boro beli buku, beli makan buat besok aja pusing.? Perlu diakui bahwa membaca buku adalah sebuah privilege untuk orang-orang kelas menengah, jadi perlu dikesampingkan dulu orang-orang miskin. Buat kelas menengah, buku belum menjadi prioritas utama. Mungkin nomor sekian setelah gadget, paket data Internet, jatah nongkrong di kafe, dan bensin kendaraan. Buku-buku yang beredar di toko buku Indonesia masih relatif mahal, terutama buku-buku impor yang masih berbahasa Inggris. Di Gramedia, buku-buku terjemahan memang relatif lebih murah, namun tetap dirasakan ‘mahal’ bagi sebagian orang. Yang laku justru buku komik, self-help bernuansa Islami, dan buku-buku teori konspirasi Illuminati penuh bullshit.

Ada juga faktor sosial. Kehidupan sosial Indonesia cenderung condong pada budaya lisan dibanding budaya tulis. Dalam hal ini adalah kehidupan sosial, orang-orang lebih senang ngerumpi dibanding membaca. Orang yang membaca cenderung diolok-olok atau setidaknya disindir. Tekanan sosial membuat mereka terpaksa meletakkan bukunya dan ikut nimbrung. Dengan berkembangnya budaya lisan atau biasa disebut diskusi, akan lebih mudah mendapatkan sumber-sumber pengetahuan hanya sekedar “katanya dan katanya” tanpa peduli untuk meneliti terlebih dahulu mengenai kebenarannya.

Budaya komentar di era krisis membaca dapat mengakibatkan seseorang konservatif dalam berpikir namun radikal dalam tindakan. Persis seperti situasi nasional saat ini sejak beredarnya video di kepulauan seribu hingga datang putaran kedua.

Penulis adalah mahasiswi MPI STAI Az-Ziyadah Jakarta. Manusia yang baru menginjak kepala dua asal Jakarta (Betawi Asli), yang aktif menyandu kopi, berhobi tidur, dan jalan-jalan, dan senang bermain dengan perasaan.



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Humor Islam, Tokoh Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock