Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Februari 2018

Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi

Jakarta, Mujahidin Cyber. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) menilai Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) mengenai Tunjangan Hari Raya (THR) perlu direvisi sehubungan bertentangan dengan amanat undang-undang.

Presiden DPP K- Sarbumusi NU, Syaiful Bahri Anshori di Jakarta, Rabu (7/6) menyatakan, THR merupakan hak bagi semua pekerja/buruh baik pekerja formal di perusahaan maupun pekerja non formal di luar perusahaan.

Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi

Hal tersebut mengacu Pasal 7 ayat 1 PP No.78/2015 ? yang menyatakan "Tunjangan Hari Raya Keagamaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) wajib diberikan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh".

Dan berikutnya Pasal 7 ayat 3 "Ketentuan mengenai tunjangan hari raya keagamaan dan tatacara pembayarannya diatur dengan peraturan menteri".

Namun demikian, kata Syaiful menambahkan, DPP K-Sarbumusi NU dengan seksama telah melakukan pengamatan adanya hal yang tidak sinkron antara ketentuan dari peraturan perundang-undangan ini dengan turunannya dalam Permenaker Nomor 6/2016 Tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi pekerja/buruh diperusahaan. Dan tidak mengatur bagi pekerja/buruh diluar perusahaan.

"Hal tersebut merupakan kesalahan fatal dari ketentuan pasal 1 angka 4 dan angka 6 UU.13/2003," kata dia menjelaskan.

Mujahidin Cyber

Syaiful menguraikan, pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan, “Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.”

Selain itu Pasal 1 angka 6 huruf a UU 13/2003, lebih tegas dinyatakan, “Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.”

Mujahidin Cyber

"Sesuai dengan ketentuan tersebut maka makna pemberi kerja ialah orang yang menjalankan sebuah usaha milik perseorangan, yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah yang dinyatakan dalam bentuk uang," ujarnya.

Oleh karena itu, setiap bentuk usaha yang mempekerjakan tenaga kerja, berkewajiban untuk menjalankan ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku, termasuk diantaranya upah minimum, upah lembur, cuti-cuti dan seluruh hak-hak yang diatur dalam UU 13/2003 atau ketentuan lainnya.

? ?

Berkaitan dengan itu, DPP K-Sarbumusi NU meminta kepada Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia untuk segera merevisi Permenaker No. 6 Tahun 2016 Tentang Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

"Alasannya jelas, karena mereduksi makna pekerja/buruh hanya di perusahaan. Permenaker tersebut harus meng-cover pekerja/buruh di luar perusahaan sebagaimana amanat Peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan," tandas Syaiful Bahri Anshori. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam, Nasional Mujahidin Cyber

Minggu, 04 Februari 2018

Jihad Sekarang Perangi Kemiskinan

Jombang, Mujahidin Cyber. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahudin Wahid (Gus Solah) meminta para ulama untuk bergiat melawan kemiskinan. Hal itu sebagai implementasi dari peringatan 65 tahun resolusi jihad yang pernah digagas oleh ulama NU yang dipimpin (Alm) KH Hasyim Asyari.



Jihad Sekarang Perangi Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Sekarang Perangi Kemiskinan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Sekarang Perangi Kemiskinan

Gus Solah menceritakan, munculnya resolusi jihad yang digagas kakeknya tidak lepas dari kondisi bangsa yang kritis. Saat itu tentara sekutu kembali masuk ke Indonesia dengan membonceng tentara NICA. Ironisnya, pada saat bersamaan, kekuatan BKR (Badan Keamanan Rakyat, sekarang TNI) masih minim.

KH Hasyim Asyari bersama para ulama NU tergerak untuk mempertahankan NKRI. Selanjutnya mereka bermusyawarah dan lahirlah resolusi jihad yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Isi dari resolusi tersebut seluruh umat Islam yang sudah baligh wajib turun ke medan laga mengusir penjajah. Jika mereka meninggal dalam perang maka akan mati syahid.

Mujahidin Cyber

Resolusi jihad itu berimbas cukup besar. Hal itu bisa dilihat dari semangat arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November. Bahkan, lanjut Gus Solah, Bung Tomo salah satu tokoh dalam pertempuran 10 November juga terilhami fatwa resolusi dari para ulama itu.

Bagaimana dengan korelasi resolusi jihad dengan kondisi bangsa Indonesia kekinian? Adik kandung mantan presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini mengatakan, saat ini bangsa Indonesia juga dalam kondisi kritis. Hanya saja, kondisi itu bukan disebabkan oleh penjajahan secara fisik. Namun penjajahan itu lebih halus lagi, yakni penjajahan secara ekonomi.

Mujahidin Cyber

"Ekonomi liberal telah menghisap ekonomi lemah. Sehingga kemiskinan semakin merajalela," kata Gus Solah dalam sambutannya seperti dilansir beritajatim.com.

Nah, kondisi kritis tersebut sudah seharusnya memacu para ulama untuk mengobarkan jihad melawan kemiskinan. "Jadi ada korelasi 65 tahun resolusi jihad dengan kondisi saat ini. Kalau dulu kita jihad melawan penjajahan, kini kita jihad melawan kemiskinan," kata mantan wakil ketua Komnas HAM ini.

Hal senada juga dikatakan Lily Wahid, adik kandung Gus Dur lainnya. Moment yang paling tepat untuk mengilhami reolusi jihad saat ini adalah berjuang membangun kekuatan ekonomi rakyat yang selama ini terpinggirkan.

Acara yang digelar di halaman belakang pondok Tebuireng tersebut dihadiri oleh sejumlah ulama, semisal KH Masduqi Abdurrahman, KH Saiful Halim yang juga ketua PCNU kota Surabaya. Sedangkan budayawan KH Mustofa Bisri dari Rembang, Jawa Tengah, yang sebelumna dijadwalkan hadir, berhalangan. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Syariah, Nasional Mujahidin Cyber

Sabtu, 03 Februari 2018

Pandu sebagai Solusi Kesenjangan Kader Tua dan Muda

Jombang, Mujahidin Cyber. Sistem dan konsep kaderisasi Gerakan Pemuda (GP) masih perlu perbaikan. Fakta riil Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang merupakan organisasi pemuda justru banyak diisi kader berusia di atas 40-an.

Pandu sebagai Solusi Kesenjangan Kader Tua dan Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandu sebagai Solusi Kesenjangan Kader Tua dan Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandu sebagai Solusi Kesenjangan Kader Tua dan Muda

Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Jombang H Zulfikar Damam Ikhwanto hal itu menyebabkan kesenjangan antara kader tua dan yang muda. Dan banyak kader Ansor maupun Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang enggan masuk ke NU.

Ia mengusulkan pada Kongres nanti ada pembahasan dan setrategi khusus dalam menyelesaikan kondisi demikian. Setidaknya dengan menghidupkan Pandu Ansor dapat memberikan solusi dalam menyelesaikan kesenjangan kaderisasi tersebut.

Mujahidin Cyber

“Pandu Ansor dapat menjadi magnet sendiri di kalangan para pemuda untuk tertarik masuk ke dalam Ansor atau NU. Pandu Ansor juga termasuk salah satu organisasi kepanduan di Indonesia yang diakui, bahkan pernah menjadi kontingen dalam Jambore Pandu Dunia,” katanya kepada Mujahidin Cyber, Senin pagi (23/11). ?

Mujahidin Cyber

Menurut pandangan Gus Antok, sapaan akrabnya keberlangsungan organisasi selain ditunjang oleh kekuatan ideologisasi juga ditunjang oleh adanya sistem kaderisasi yang peka zaman dan tertib. Kaderisasi adalah upaya regenerasi secara sempurna, organisai tanpa regenerasi akan mengalami stagnasi dan entropi (pembusukan).

“Maka harus ada upaya untuk membenahi permasalahan-permasalahan kaderisasi itu. Sistem kaderisasi di Ansor yang sudah ada sudah cukup baik, hanya perlu ada penekanan kembali pada kader muda yang baru hadir di Ansor, agar semangatnya tetap menggelora dan Ansor menjadi wadah yang menarik untuk diikuti dan beraktualisasi diri,” ungkapnya.

Sampai saat ini PC GP Ansor Jombang tengah merumuskan beberapa upaya untuk menghidupkan Pandu Ansor dengan intensif, mereka bertekad menyampaikan dan memperjuangkan buah hasil pikirannya mengingat organisasi kepanduan sangat dibutuhkan ke depan.

“Bahwa Pandu Ansor, juga merupakan gerakan yang sadar dan bertanggung jawab atas kelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,” tuturnya.

Upaya menghidupkan Pandu Ansor ini untuk mengembalikan kaderisasi Ansor pada jenjang-jenjang usia tertentu. Hal ini dirasa sangat efektif menjawab permasalahan kaderisasi di tubuh Ansor.

“Pandu Ansor merupakan sebutan bagi kader dan anggota GP Ansor, yang meliputi usia? 18-25 tahun. Pada kelompok kader atau anggota usia di atas 25 tahun dapat tersebar dalam struktural Ansor maupun Banser di semua tingkatan,” terangnya.

Sementara proses pendidikan kepanduan Ansor ini mulai dikenalkan di lingkungan sekolah, kampus dan masyarakat umum sebab Pandu Ansor adalah sistem kaderisasi untuk pemula yang disesuaikan dengan keadaan, kepentingan, dan perkembangan masyarakat.

Terahir Gus Antok menegaskan bahwa Pandu Ansor adalah jawaban atas problematika anak-anak muda kita, mengembalikan pada jati diri keislaman dan keindonesiaan, agar tidak tergerus pengaruh arus idelogi liberal, Wahabi, komunisme dan ideologi yang membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara kesatuan republik Indonesia. (Syamsul/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Budaya, Bahtsul Masail, Nasional Mujahidin Cyber

Selasa, 30 Januari 2018

Sewindu Satu Cinta (Chapter I)

Oleh: Muhammad A Idris



Cinta yang pernah aku pilih adalah keputusan terpenting di setiap episode perjalanan hidupku. Menjadi dewasa atau tidak kadar kelelakianku dipengaruhi oleh seberapa besar perhatian yang kutumpahkan terhadap makhluk yang bernama cinta. Maka kukabarkan pada setiap lelaki serta perempuan bernyawa, jangan pernah engkau sesali apalagi berduka tak berkesudahan lantaran kesedihan bertubi-tubi datang. Lantas memutuskan untuk hidup? sendiri, ngejomblo dengan menunda rahmat Allah yang bernama cinta.

Sewindu Satu Cinta (Chapter I) (Sumber Gambar : Nu Online)
Sewindu Satu Cinta (Chapter I) (Sumber Gambar : Nu Online)

Sewindu Satu Cinta (Chapter I)

Ok, fine…, setiap kalian bolehlah antipati dengan kasmaran apalagi sampai terjatuh di kubangan cinta. Jangan sesekali terbesit untuk menyalahkannya, meski engkau mengenalnya dengan luka. Siapa tahu Allah sedang mengajakmu mengolah rasa, mengenal bahagia dengan jalur patah hati, cinta bertepuk sebelah tangan alias tak berbalas. Aku pun sempat dibuatnya pasrah. Kututup rapat-rapat setiap celah yang berpotensi mengundang kangen akan wanita, macam paspampres mengawal Pak Presiden; ketat dan sadis. Sampai kapan kudzolimi sunnatullah? Inkar bi ni’mah? Semakin menjauh, semakin jelas butuh tempat meneduh. ?

“Mas..bangun dong, sudah siang ini. Jangan biasakan shubuhmu? kesiangan!”

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber

“Mas Dot,… bangun..! anak lelaki tunggal hobinya kesiangan, mau jadi apa kelak nanti?!”

Nada tinggi inilah membuatku semakin sayang terhadapnya. Kulempar selimut, matikan AC, bergegas ke kamar mandi. Kalau tak segera? beranjak, dinginnya AC campur lembut selimut kompaklah sudah. Siapa saja di di dekatnya akan terus berlayar di dunia mimpi alias molor tak berkesudahan. Pantas ibu marah, jam di handphoneku menunjukkan pukul lima tiga puluh. Sambil menahan kantuk subuhan kulaksanakan. Baru salam terakhir, teriakan dari dapur menyambar lagi sekaligus memastikan anaknya benar-benar bangun.

“Bagaimana kabar Marcel?“

“Baik, Bu, kayaknya mau liburan kuliah. Habis ujian semester kayaknya.”

“Kapan kalian terakhir ketemu?“

“Lusa lalu juga ketemu. Bu.. Ayam baru selesai berkokok, anak orang ditanya terus. Aku apa Marcel sih anaknya Ibu?”

“Hush…..jangan cemburu kamu,” tandas ibuku.

“Sini bantu Ibumu menyiapkan sarapan. Hari ini antar bekal buat Marcel apa tidak? Biar sekalian banyak masaknya.”

“Masuk siang dia, kan habis ujian semester. Jadi libur deh jadi penghantar cinta hahahaha.”

“Masih kecil ko cinta-cintaan, nanti sesudah kantongi titel sarjana dan sukses bekerja bolehlah bicara cinta.”

Sambil memegang talenan kurangkul pundak ibu, lalu? kucium pipinya. Itu ritual di pagi hari, memasak bersama adalah momentum quality time. Jelek-jelek aku jago memasak, maklum bakat keturunan dari ayahku. Beliau jam segini biasanya perjalanan pulang dari hotel tempatnya bekerja. Kepala chef di restoran hotel berbintang jadi kebanggaan ayah dan keluarga besarnya. Kedua pamanku juga jadi juru masak yang sama. Jadi wajar jika ponakannya berbakat melanjutkan, setidaknya membantu ibu serta calon ibunya anak-anak kelak.

Hari ini begitu cerah bergairah. Seakan langit-langit Allah mengajak bicara denganku. Apa berkat memasak bareng ibu? atau perasaanku saja, lantaran pagi-pagi sudah membincangkan marcel. Teduh rindang seolah hari ini adalah waktu yang sengaja disediakan Allah untuk menghiburku.

Perjalanan ke sekolah nampak agak berbeda, visioner penuh percaya diri. Entah gejala apa ini, membingungkan. Sarapan nampak biasa saja, tak ada yang istimewa. Tahu tempe goreng beserta sambal kentang menu andalannya.Hampir seminggu mendung merundung. Gerimis sesekali? hujan? bercampur angin kencang cukup intens menemani. Tapi sudahlah, bagiku sama saja. Hujan atau tidak yang terpenting perut kenyang sampai sekolah pun tak terlambat.

***

Kring….Kring…..Kring…, bel sekolah tanda jam ekstrakurikuler selesai.? Sore ini cukup padat kegiatan; Pramuka, PMR, marchingband pokoknya banyak. Kebetulan? aku jadi? senior aktivis keagamaan sekolah. Jabatanku cukup keren, ketua bidang Imtaq OSIS. Lumayan sibuk untuk anak seumuranku.

Kutarik gas motor sekencang-kencangnya, bergegas agar tak terlambat menjemput Marcel. Cara naik motorku Tidak kalah seru dengan pembalap Rossi asal Itali. Rutinitas sakral ini bukti dorongan cinta, tak peduli? nyawa? taruhannya. Serasa sempit jalanan Jakarta, menyelinap di sela –sela mobil, belumlah angkot dan bajai ikut andil. Demi kamu, demi waktu yang menunggu. Demi Allah aku benar-benar dimabuk kepayang oleh gadis rantau campuran Sumatra-Kalimantan. Sepanjang perjalanan, rapalan ini bergumam? ? ? ? ? ? seperti mau setoran vocabulary atau mufrodat dengan santri senior.

Separuh lebih dari seminggu, sore ini kuhabiskan untuknya. Ini bukan soal falling in love, sehingga amat rajin aku nampakkan kebaikanku. Semata-mata harga diri seorang lelaki di hadapan wanita. Berbunga bunga rasa hati ini, ingin segera aku berjumpa dengannya. Sesekali menyusun beberapa kata, agar saat bertemu nanti nampak lebih siap. Ekspresi wajah, tatapan mata, sudah aku latih sedemikian rupa.

Biasanya butuh waktu tiga puluh sampai empat puluh menit sampai? Kampusnya. Kami punya tempat favorit untuk saling menunggu. Ya.., minimarket dekat kampus jadi saksi seserius apa hubungan kami.

Seminggu empat kali aku menjemputnya. Ia termasuk tipe yang asyik jadi teman curhat sekaligus berbagi pandang yang menenangkan. Meski sudah tiga tahun, kami belum resmi berpacaran. Aku belum pernah menyatakan cinta, apalagi i love you. Pada waktu itu memang belum begitu penting ekspresi yang begitu ekspresif, perbedaan usialah yang menjadi kendala hubungan ini. Ingin sekali aku nampak lebih dewasa, tetapi selalu saja gagal lantaran tutur kata lembut serta humble pergaulannya….

Kini aku bergaul dengan mahasiswibroadcasting di salah satu universitas swasta di Jakarta. Maklum sejak satu sekolah hobinya pegang kamera serta menulis cerita drama. Mantan ketua teater sekolah tepatnya. Sejak pertama kali masuk sekolah, ia menjadi mentor di orientasi siswa. Marcel satu tahun lebih tua, kakak kelas sekaligus tetangga? komplek. Seringnya berjumpa saat pergi sekolah, jadi motivasi tersendiri.Terutama saat Ramadhan, bermain dan saling sapa sebelum jama’ah terawih dimulai jadi bagian adegan tak terlupkan sepanjang aku bergaul dengannya.

Ibunya tergolong cuek dan tak terlalu ekspresif mengurus anak. Suaminya pergi tanpa kabar, pamitnya kerja tapi uang bulanan pun tak kunjung datang. Untung saja aku lelaki pertama selain ayah. Tentu tak terlalu sulit menunjukkan sisi ngemong. Dua minggu sekali kukirim bahan pokok kerumahnya. Kubeli dengan uang tabungan, tapi lebih sering dari sisa uang belanja bulanan ibu. Setidaknya rutinitas ini membuat sikapku lebih siap menjadi pemimpin, setidaknya di hadapan Marcel. Meski baru delapan belas tahun, namun fantasi bepikirku seakan siap menjadi lelaki sempurna di matanya.

***

Tak kurang dari seratus meter, aku sudah bisa memandang wajah terhijab. Baru setahun ia memutuskan berhijab, persis di ulang tahunnya yang ke sembilan belas. Meski tergolong baru mengenakan, ia termasuk orang yang cukup bertanggung jawab atas pilihannya. Perlahan gaya berpakainnya menyesuaikan dengan apa artinya berhijab. “Be confident with hijab” itu yang selalu ia katakan pada temen temennya.

“Asssalamu’alaikum, Marcel,” sapaku.

“Wassalamu’alaikum, Dot,” jawabnya.

“Sudah lama menunggu ya..? Maaf jalan macet banget. Lima belas menit lebih awal aku jalan, berharap menunggu ketimbang ditunggu. Ada demo buruh di ujung perempatan depan.”

“Ngak apa-apa, sesekali biarlah aku yang menunggu. Toh selama ini kamu yang selalu menunggu,” tegasnya.

“Iya sih, tapi aku menginginkannya. Dengan menunggumu spiritualku tergarap, sabar dan sabar perkuat harapan. Persis seperti kamu memutuskan untuk berhijab,” jawabku.? ? ? Sesekali harus mendayu, sebab anak sastra lawan bicaranya.

“Ah..bisa aja kamu. Oh ya.., kita mau langsung pulang atau makan? Laper banget, seharian cuma ngemil di kelas. Mendadak ada ujian susulan.”

“Boleh….lapar juga soalnya. Ayo kita ke warung favorit; pecak lele Bang Saleh.”

Sepanjang jalan aku tak banyak bicara, cukup sesekali saja. Bertanya tentang kuliah dan kabar ibunya. Keluarga kami cukup akrab, tak heran jika kedekatanku dengan Marcel sudah terpantau. Marcel anak semata wayang, sedangkan aku lelaki pertama dari tiga saudara.

Allahu Akbar Allahu Akbar

Laa ilaaha illallah….”

Magrib pun tiba, persis setelah kuparkir motor di warung favorit kami. Menunya menggairahkan, pedas dan segar. Mushallanya nyaman untuk shalat sembari? menunggu pesanan. Kami pesan pecak lele dua porsi dan jeruk hangat. Finally, aku belajar mengimaminya. Meski sebatas shalat, cukup bagiku untuk menunjukkan padanya kalau mahfudot layak menjadi imam hidupnya.

Kebetulan warung makan belum begitu ramai pengunjung, jadi mushalla kecil itu bisa? kami gunakan berjamaah. Untung saja sempat ngaji di Jawa Timur tepatnya masuk pesantren saat SMP. Berbekal hafalan ayat-ayat pendek, cukup bagiku untuk jadi imam shalat serta mengajari anak-anakku kelak. Sengaja kupilih surat Al-Ikhlas dan Al-Fil untuk rakaat pertama dan kedua, sembari berharap fadhilah dari ayat ayat yang terucap.

Meja pojokan tepi jalan selalu kami pilih selagi kosong pengunjung. Tak ada maksud lain, hanya untuk mempermudah ingatan serta menumpuk kenangan. Di usia kami terkadang butuh banyak bantuan simbolik untuk saling mengenang.

Pecak lele pun datang, rempah-rempah tak beraturan, nampak kasar dan sedikit kuah jadi ciri khasnya. Marcel nampaknya sudah tak sabar, lahap sekali makannya. Benar-benar lapar, syukurlah segera teratasi. Mahasiswi yang cukup tekun dan selalu berprestasi saat sekolah. Sebagai juara tiga besar selalu ia dapatkan, semacam prestasi langgananlah. Hobi sastra, tak membuatnya memilih jurusan bahasa atau ilmu sosial. Ia adalah anak eksak yang menekuni ilmu fisika. Terlebih soal sistem kerja cahaya, ia jatuh cinta dengan eksistensi matahari. Memancarkan sinar, saling memantul, terpantul pada rembulan. Meski sebagian besar manusia tersihir oleh indahnya rembulan purnama, lantas melupakan sumber cahanya matahari. Lumrah jika broadcasting ditekuninya, fotografi termasuk di dalamnya. Sebab fotografi adalah seni melukis cahaya. Cukup logis kan kalau dia ambil jurusan di kampusnya.

Kebahagiaan terpancar di wajahnya, tak peduli lantaran pecal lele atau karena makan malam denganku ia bahagia. Kegembiraan Marcel adalah kebahagiaanku juga. Cukup sudah aku memandangnya, senyum diwajahku pun tumpah tak terbendung. Hampir gila dibuatnya, tapi apa boleh buat di sinilah kenikmatan yang kutunggu. Tak banyak berbuat tapi berlimpah kesenangan.

Entah jin dari mana yang meracuni pikiranku, tiba-tiba aku terbesit ingin mengungkapkan cinta. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Padahal selama tiga tahun Allah mencukupkan hatiku untuk ikhlas, mengalir, menjalani rutinitas dengannya.

Ataukah ini yang namanya rahmat Allah? Mendadak datang sedikit memaksa. Tatapanku kosong, hati bergetar seakan ingin keluar berbibicara langsung dengan Marcel. Mungkin sudah tak sabar, lantaran terlalu lama bibir ini diam dalam sekam. Terlalu asyik dengan rutinitas, sampai lupa cinta yang berkualitas.

Tak sengaja menyaksikannya berwudlu, berbenah kerudung serta menengadahkan doa? adalah puncak ternikmat. Jadi tak ada alasan? apa pun untuk tidak mempertahankannya, memilihnya sekaligus bersyukur mengenalnya. Kerudung terselempang ke belakang dengan sisa air wudlu menempel di wajahnya seakan melekat dalam pikirku.

“Allah, Allah, Allah, engkau maha membolak balikkan hati. Bukankah aku cukup taat sebagai hamba? Kenapa engkau uji dengan pemandangan yang tak seharusnya aku lihat? Tidak gampang hidup di pinggiran kota besar bisa shalat magrib tepat waktu apalagi berjamaah perlu perjuangan keras.”

“Selama sekolah, berpuluh-puluh kali menyaksikannya tanpa kerudung. Aku pun biasa saja. Lantas apa bedanya? Inikah ujian dari sabarnya mencintai? Jangan-jangan hanya bisikan jin penunggu warung Bang Saleh saja? Atau bonus istiqomah kuantar jemput wanita tholabul ilmi; kuliah.”

Perang batin berkecamuk. Belum kutemukan jawabannya, Marcel menegurku.

“Dot…ko nggak makan? Katanya laper? Ntar kurus loh.”

“Ayo makan dong ? ulang dia.

“Siap….habis ini aku makan kok. Tenang aja pasti habis, kalau memungkinkan nambah nasi nanti.”

Meski tak lagi hangat, perlahan kusantap dengan penuh gundah. Andai saja paranormal di sini, pasti sudah terbaca dialektika tubuhku; akal pikiran, batin serta kesiapan mental berperang melawan waktu. Tak kalah heroik dengan perang Badar saat? itu.

?

“Dot aku ke belakang dulu ya,” pamit Marcel.

Kupercepat santapanku, sambil memandang jauh peristiwa yang menggetarkan tadi. Ya…sisa air wudlu diwajahnya adalah bulir penampungan doa. Ainul yaqin; huruf demi huruf surat Al-Ikhlas dan Al-Fill yang aku baca tadi pasti turut serta mengamininya. Wallahu alam

Ini sungguh bukan malam yang kurencanakan. Seperti lelaki pada umumnya, berminggu-minggu menyiapkan tempat, setting acara? agar nampak dramatis. Menghadirkan konflik atau ngambek beberapa hari sebelumnya agar tampil maksimal, romantis dan berkesan. Sewa grup musik, bunga, lilin atau butuh pertolongan simbolik lainnya jadi kebutuhan dasar menyatakan cinta. Boleh juga sih…, halal dan sah-sah saja. Bagiku.., bukan itu yang terpenting. Peristiwa getaran cinta itu yang kuinginkan; romantis tidaknya bukan disebabkan drama simbolik melainkan mutlak kemauannya Allah. Ini otoritasnya Allah, aku harus mengutarakannya. Perkara dia suka atau tidak kita lihat nanti.

Marcel sudah duduk di depanku sambil berbenah dan minum jeruk hangat. Suasana cukup santai, aku manfaatkan betul untuk menutupi grogi. Maklum sudah tahun ketiga baru mengungkapkan cinta.

“Marcel.., kalaupun aku jatuh di lubang hati yang salah, meskipun tertelungkup di biduk yang keras, itu pun juga bukan kesalahan melainkan ketidakberuntungan saja “we have to know my honey, we must be strong, insyaallah, Allah akan hadir dalam ta’aruf ini.”

“Maksudmu apa, Dot..?” sahutnya.

“Ini perasan sekaligus harapan,” imbuhku.

“Kamu jangan ngaco, ah.., malam ini tak selayaknya kamu rusak dengan obrolan beratmu itu. Aku sangat nyaman menjalani hubungan ini.”

“Aku tak pernah ngaco apalagi ngawur tentang perasan ini, tentang kita, about you. Aku juga tak mengerti kenapa harus berucap demikian. Sepanjang engkau mengunyah, atiku terkoyak lantaran getaran ini hadir. Sudah kutolak berulang kali, kuusir sejauh mungkin, namun semakin bergetar seakan protes kalau tak segera kusampaikan.”

Mendadak datang tanpa kabar. Mulanya aku tak percaya, tapi siapa yang bisa menolak kalau Allah sudah berkehendak.

“Apakah kamu tak merasakannya? Ini cinta…Marcel..! Love..! Mutlak otoritasnya Allah. Kapan dan dimana aku pun tak bisa mengelak. Tugasku adalah mengutarakan, menyampaikan yang Allah titipkan.” Sambil menahan cemas penuh keyakinan? aku menjelaskannya. Tawakal adalah kepastian, meski jantung ikut gemetar.

Ia nampak diam, khusyuk mendengarkan khotbah mahabbahku. Pandangan matanya mulai tak fokus, sesekali ia buang muka. Aku tahu ini adalah gaya standar bagi siapa saja yang sedang dirundung gelisah. Mulai tak nyaman rupanya, sama sepertiku. Tak terasa tisu satu gulungan di depanku habis. Kuusap-usap meja makan yang beralas taplak sponsor salah satu brand minuman, seakan genangan air tumpah ruah.

Belum sempat kami mengheningkan rasa, suara riuh pengamen yang mengecer budayanya sendiri datang. Gesekan rebab tak beraturan, pakaian kumel tak mencerminkan pelaku budaya. Seenaknya saja boneka bambu besar berbalut baju khas Betawi geal-geol seolah menari riang gembira. Aku tak keberatan soal ngamennya, itu hak setiap orang mencari nafkah. Tapi hati kecil ini belum terima saja, budaya yang luhur kini diecer di pinggiran jalan, seolah budaya asing yang baru dikenal warganya. Aku sangat keberatan. Bukan lantaran sedang bercemas muka , tapi sudah lama aku ingin protes. Meski dalam batin, setidaknya kubela kebudayaan itu.

“Dot.., aku rasa kita sudahi dulu perbincangan ini, terima kasih atas segalanya. Usiamu satu tahun lebih muda tetapi aku merasa nyaman. Kedewasaan yang kamu tunjukkan, bagiku cukup. Bukan hanya cinta yang kamu? hidupi, tetapi tentang kita seakan selalu hidup dan terus hidup.”

“Cinta belum menjadi kebutuhan. Perhatian yang aku inginkan,” tegas Marcel.

Bagai disambar petir tapi tak gosong saja bedanya. Di sinilah ujian terberat, emosi berkecamuk, marah, kesal sekaligus plong? rasanya. Ketakutan yang kusimpan selama ini? sudah? ? ? jelas jawabannya. Masih sanggupkah aku memandangnya? Memuja kebaikannya? Bersyukur mengenalnya ? Meski cinta tak ia butuhkan. Atau belum dibutuhkan, hiburku. Aku mencoba jadi pendengar yang baik, meski akal pikirku tak sanggup menerima.

“Keluargaku kamu urus. Dua minggu sekali kebutuhan dasar; gula, beras? sesekali mie instan beberapa bungkus. Namun untuk menjalani hubungan ini,? itu saja tak cukup. Dua tahun terakhir aku merasa ada yang salah komunikasi kita. Setiap pagi kamu bawakan bekal makan untuk kuliah. Jujur aku senang, seakan peran ayahku engkau gantikan. Di sisilain, perempuan macam apa aku? ini, urusan makan saja lelaki yang menyiapkan. Memang semenjak ayah meninggalkan kami lima belas tahun lalu, keteguhan ibuku mulai goyah untuk menghadapi kerasnya Jakarta”.

“Aku malu, Dot, malu…..”.

“Kenapa harus malu? Semua itu kulakukan atas dasar teman, tetangga? yang ujungnya cinta. Apa ada yang salah?” sahutku.

“Mau sampaikapan kau perpanjang budi baikmu? Sehingga aku pun lupa cara menghitungnya.”

Dialog cukup panjang dari Marcel. Tegas tapi tetap terpancar lemah lembut tutur katanya, meski klise berbungkus iba. Aku pun tak sanggup membantahnya. Perasaan campur aduk, shock campur bingung. Tapi harus bagaimana lagi, mau tak mau harus aku lalui. Memang tak gampang menahan perasaan sejauh ini, kupendam dalam-dalam agar tak saling melukai. Cemburu,was-was, saling marah tak beralasan, mendebatkan hal-hal remeh.Ya. … itulah kami. ?

“Begitu rapi, sistematis dan terukur jawabanmu. Tak akan kusesali aku jatuh dan terjatuh di kubangan cintamu, Marcel. Segeralah berkemas, lalu kuantarkan pulang sebagai bentuk belajar ikhlas mengenalmu.”

Tak ada pilihan, selain bersikap bijak. Telak lima kosong, seperti Real Madrid mempecundangi Granada di La Liga semalam. Tapi mencintai bukanlah pertaruhan untung rugi, kalah menang, melainkan siap bertaruh meski tak balik modal.

***

Sesampainya di rumah satu-satunya tempat yang kutuju adalah kamar mandi. Ingin segera kunyalakan kran air kemudian? duduk bersandar? di bawahnya. Maklum tak ada shower, sekejap air tandon hujan menguyur sekujur tubuh. Tarik napas dalam-dalam, keluarkan pelan-pelan. Kuulagi beberapa kali, konon ini meditasi termudah penghilang stres.

Apa yang salah dalam diriku, atau terlalu buru-buru? Andai sabar sedikit apakah Marcel menerimanya? Apa mungkin tubuhku yang gembul, membuatnya tak nyaman. Mungkin ia mulai malu dekat dengan lelaki brondong, sementara ia anak kampus dengan segudang lelaki di sekitarnya.

Tak ku sangka, malam ini adalah kali pertama menjadi lelaki tak bertuan. Tatapan mataku kosong, memucat wajahku, seakan tak menemukan gairah hidup. Jadi ini patah hati? Broken heart? Tercampak dari cinta yang tak lagi nampak? Semakin meracau tak karuan. Badan ini roboh di sofa kamar, memaksa tidur berharap esok segera datang. Mata terpejam, namun hati terhujam, pedih hati ini. Nampak rasional bagi pecundang cinta, jika minum obat nyamuk dianggap solusi mutakhir. Ah....masak sekonyol itu, kutukar nyawa dengan cinta minimarket.

“Bismikallahumma ahya wabismika amuut; kalau Allah saja berkehendak mematikan sekaligus membangkitkan hambanya di kala tertidur, mana mungkin sepenggal cinta tak mampu dihidupkannya.”

Amin...

Masjid Jamek, Kuala Lumpur-Malaysia 17, Desember 2016



Penulis saat ini ngabdi di Yayasan MataAir Jakarta mataair.or.id



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber News, Kajian Islam, Nasional Mujahidin Cyber

Jumat, 26 Januari 2018

Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga

Tuban,Mujahidin Cyber. Banyak generasi muda yang mulai melupakan makanan khas Nusantara. Satu demi satu sejumlah menu andalan daerah akhirnya hilang dari peredaran. Berganti dengan makanan cepat saji yang sebenarnya kurang baik bagi kesehatan.

Kondisi ini mengundang keprihatinan. "Padahal makanan tradisional sebagai makanan khas daerah merupakan salah satu peninggalan dari nenek moyang yang perlu dikenal, dilestarikan serta dikembangkan," kata? Hj Khoiriyah (29/9). Ketua Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU? Widang Tuban Jawa Timur ini bahkan menandaskan bahwa makanan tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan kesehatan, akan tetapi memiliki fungsi sosial budaya yang dapat dijual dan dipromosikan untuk keperluan peningkatan devisa negara dari sektor non migas.

Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Persaingan Kuliner, Fatayat Adakan Pelatihan Tata Boga

Akan tetapi di era globalisasi, makanan tradisional muncul berdampingan dengan makanan modern produk negara lain dan bahkan hampir tergusur. "Berbagai faktor yang dapat menyebabkan lunturnya kecintaan akan makanan tradisional antara lain kurangnya pengenalan dan pengetahuan tentang makanan tradisional, adanya perubahan gaya hidup, perkembangan ekonomi, dan gencarnya promosi," tandas alumnus Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini.

Mujahidin Cyber

Sadar dengan keadaan ini nampaknya perlu dilakukan langkah-langkah sebagai upaya yang tidak sekedar melestarikan, tapi mempromosikan secara lebih gencar dengan harapan agar makanan tradisional nantinya tetap digemari masyarakat. Bahkan bila dikelola dengan baik tidak hanya member kebanggaan bagi masyarakat lokal hingga manca negara.

Apalagi Kabupaten Tuban yang terletak di pesisir pantai utara memiliki potensi besar untuk pengembangan sektor pariwisata. "Sumber daya alam yang tersedia sangat mendukung kewirausahaan bagi masyarakat, khususnya di sektor kuliner" kata alumnus Pasca Sarjana Universitas Islam Lamongan ini. Tuban yang memiliki menu kuliner beragam, dapat dikembangkan dengan baik tentunya apabila didukung kemampuan masyarakat yang memadai, lanjutnya.

Mujahidin Cyber

Sehingga pemberdayaan masyarakat sangat diperlukan, salah satunya dengan memberikan keterampilan sebagai modal membuka sebuah usaha sesuai dengan potensi yang ada. "Hal inilah yang menggerakkan kami menyelenggarakan kegiatan ini," tandasnya.

Karenanya, semenjak Ahad hingga Senin (28-29/9) dilangsungkan pelatihan tata boga. Kegiatan yang berlangsung di kantor PAC Fatayat NU Widang Tuban ini diikuti sejumlah utusan dari pengurus ranting dan pengusaha kuliner setempat.

Kegiatan yang mengambil tema kreasi aneka masakan tradisional Nusantara ini tidak semata memberikan teori bagi peserta, juga langsung melakukan praktik bagaimana mempersiapkan menu hingga penyajian yang sesuai dengan standar layanan.

Diharapkan dengan kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan mengenai berbagai masakan tradisional yang ada di Tuban. Demikian juga yang tidak kalah penting adalah melestarikan budaya tradisional bangsa melalui kuliner.

"Dari pelatihan intensif ini diharapkan akan mampu meningkatkan keterampilan di bidang kuliner dengan sumber daya lokal yang ada," katanya. Yang juga tidak dilupakan selama kegiatan peserta selalu didorong serta dimotivasi untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga melalui keterampilan di sektor kuliner.

Karena para peserta adalah utusan dari sejumlah kepengurusan ranting maupun masyarakat yang memiliki usaha kuliner, maka diharapkan mereka juga bisa menularkan keterampilan yang diperoleh selama pelatihan kepada komunitas setempat. "Agar pengetahuan dan pelatihan ini bisa lebih memberikan manfaat kepada masyarakat secara lebih luas," pungkasnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nasional, Ulama Mujahidin Cyber

Senin, 22 Januari 2018

Mendes Minta Dukungan NU dalam Pembangunan Desa

Jakarta,Mujahidin Cyber. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi yang baru dilantik Presiden Joko Widodo, Eko Putro Sandjojo bersilaturahim ke gedung PBNU, Jakarta, pada Jumat (5/8). Ia diterima Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Katib ‘Aam PBNU KH Yahya C. Staquf di lantai 3. ?

Ia yang ditemani rombongan menyampaikan permintaan agar NU turut mendukung dan berpartisipasi dalam percepatan pembangunan daerah yang tertinggal. Hal itu karena Indonesia memiliki sekitar 70. 700 desa lebih sehingga harus bekerja sama dengan semua pihak.

Mendes Minta Dukungan NU dalam Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes Minta Dukungan NU dalam Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes Minta Dukungan NU dalam Pembangunan Desa

Menurut dia, dari jumlah desa dengan jumlah seperti itu, hanya sekitar 2.000 yang bisa dikatakan desa maju. Sisanya desa berkembang dan desa tertinggal.

Mujahidin Cyber

Salah satu, untuk merangsang desa menjadi maju adalah menciptakan desa “tematik”. Artinya desa di Indonesia tidak seragam dalam menghasilkan produk. Ada desa yang nantinya di desain menghasilkan pertanian, perikanan, dan pariwisata. Misalnya di Karawang unggulannya padi di Lampung sebagian unggulannya jagung. ?

“Masing-masing desa ada ciri khasnya,” kata menteri yang baru saja diangkat Presiden menggantikan Marwan Ja’far belum lama ini.

Mujahidin Cyber

Menurut dia, dana 1 miliar rupiah itu, penggunaannya berbeda antara desa yang maju dan tertinggal. Uang tersebut untuk sebagian desa ada yang diarahkan memperbaiki infrastruktur, sementara yang lain untuk keterampilan penduduknya. Desa yang sudah infrastrukturnya akan didorong punya unit usaha seperti BPR yang bisa bekerja sama dengan BRI, BNI.

Pada kesempatan itu Kiai Said mengamini apa yang akan dijalankan kementerian tersebut. Tapi ia juga mengingatkan untuk memperhatikan desa-desa terluar atau desa perbatasan dengan negara lain. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nasional, Ulama Mujahidin Cyber

Kamis, 18 Januari 2018

Berkorbanlah untuk NU, Jangan Korbankan NU!

Probolinggo, Mujahidin Cyber

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Probolinggo, Ahad (8/5) menggelar peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1437 H di aula Kantor PCNU Kabupaten Probolinggo di Desa Warujinggo Kecamatan Leces. Kegiatan ini diikuti oleh para pengurus NU mulai dari tingkat cabang hingga ranting baik lembaga dan badan otonom (banom).

Berkorbanlah untuk NU, Jangan Korbankan NU! (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkorbanlah untuk NU, Jangan Korbankan NU! (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkorbanlah untuk NU, Jangan Korbankan NU!

Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW ini juga dimeriahkan dengan Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor binaan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Probolinggo. Secara bersama-sama mereka dengan khusyu melantunkan sholawat dan dzikir.

Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Abdul Hadi Saifullah mengajak para pengurus NU agar kembali mengingat pidato yang disampaikan oleh pendiri dan Rais Akbar Hadhratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari pada saat didirikannya NU pada 16 Rajab tahun 1344 H/31 Januari 1926 M di Kota Surabaya.

Mujahidin Cyber

“Dalam kesempatan tersebut beliau menyampaikan bahwa dimana dalam QS. Al-Ahzab ayat 45-46, intinya hendaknya kita bisa menjadi saksi untuk memberikan kabar gembira dan menyeru kepada Allah serta sebagai pelita yang selalu menyinari. Di sinilah peran kita hendaknya berfungsi sesuai maqamnya masing-masing,” katanya.

Kiai Abdul Hadi juga menyampaikan bahwa dirinya pernah sowan kepada KH Hasan Abdul Wafi, pengarang Shalawat An-Nahdliyah dan Rais Syuriyah PCNU Kraksaan pada masanya yang berkata bahwa NU itu sekalipun tidak ada pengurusnya akan tetap hidup hingga akhir zaman, karena NU telah direstui para ulama dan waliyullah.

Mujahidin Cyber

“Jadi, pengurus NU harus bisa membesarkan NU dan bukan mencari besar di NU. Menghidupkan NU dan bukan mencari hidup di NU. Serta berkorban untuk NU dan bukan mengorbankan NU,” jelasnya.

Menurut Kiai Abdul Hadi, pengurus NU harus ikhlas berjuang dengan senantiasa memegang teguh dawuhnya Pendiri dan pejuang NU. “Pengurus NU jangan pernah khawatir akan keberkahan hidupnya, biarlah Allah SWT yang akan memudahkan serta mencukupi kebutuhan hidup kita sehari-hari,” terangnya.

Sementara Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Probolinggo KH. Jamaluddin Al Hariri menyampaikan bahwa para pejuang NU hendaknya memiliki komitmen dan ikhlas, sehingga segala bentuk perjuangannya akan menjadi amal shalih bagi semua. “Keikhlasan akan memberikan bekas yang sesungguhnya serta mampu membangkitkan keimanan kita akan Allah SWT dengan segala Qoda’ dan Qadar-Nya,” katanya.

Menurutnya, peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW ini dilakukan sebagai ungkapan gembira sekaligus syukur atas perjalanan Rasulullah dalam menerima perintah sholat fardlu lima waktu yang diwajibkan bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. “Singkatnya ini adalah hari ulang tahun sholat bagi kita,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nasional, Amalan Mujahidin Cyber

Sabtu, 30 Desember 2017

Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas

Jember, Mujahidin Cyber. Seolah berpacu dengan waktu, solusi penanganan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) terus dicari seiring kian menguatnya rentetan penolakan masyarakat terhadap keberadaan ormas yang ingin mendirikan khilafah islamiyah itu. Itulah sebabnya, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Jember menggelar rapat di ruang Bamus, ? gedung DPRD Jember, Selasa (10/5).?

Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)
Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas (Sumber Gambar : Nu Online)

Terkait HTI, Pemkab Jember Cari Masukan Ormas

Dalam kesempatan tersebut hadir Bupati Jember, Faida, Ketua DPRD Jember, Thoif Zamroni, Wakil Ketua DPRD Jember, Ayub Junaidi dan NNP Martini. Kapolres Jember, Sabilul Alif dan perwakilan Kodim 0824 juga hadir.

Satu-satunya agenda yang dibahas dalam rapat tersebut adalah penyikapan terhadap keberadaan HTI Jember. Namun setelah agak lama berdiskusi, tak ada keputusan yang melegakan.?

Di ujung acara, Ayub Junaidi mengusulkan agar Pemkab Jember mengundang ormas-ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia ? dan sebagainya untuk “mencari” masukan seputar HTI.?

“Kalau Ibu Bupati tidak berkenan, kami punya cara sendiri yang dibenarkan undang-undang, yaitu membentuk pansus (panitia khusus),” ungkap Ketua PC GP Ansor Jember itu.

Mujahidin Cyber

Bak gayung bersambut, usulan itupun diamini oleh Bupati Faida. Menurutnya, usulan tersebut sangat baik dan perlu diakomodasi. Bupati wanita pertama Jember itu juga mengucapkan terima kasih atas peran Banser yang telah ikut menjaga keamanan ? Jember. Tidak hanya itu, Faida juga mempersilahkan pimpinan DPRD Jember untuk membentuk pansus. “Monggo. Silakan. Kita undang semuanya. Dan kalau DPRD masih mau membentuk pansus, ya tidak apa-apa,” jelasnya.

Sambutan hangat juga datang dari Kapolres Jember, Sabilul Alif. Menurutnya, itu adalah ide yang baik sekali. Tidak hanya untuk membicarakan HTI, tapi juga membahas keamanan Jember secara menyeluruh.?

“Konflik yang besar adalah akumulasi konflik kecil yang tak terselesaikan. Jadi ini sangat baik,” jelasnya (Aryudi A. Razaq/Mukafi Niam)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Humor Islam, Nasional Mujahidin Cyber

Rabu, 20 Desember 2017

Cerita Mantan Pelaku Terorisme Mengenal Jihad Ekstrem Sejak SMA

Jakarta, Mujahidin Cyber. Mantan Pelaku Terorisme Kurnia Widodo mengaku mengenal dunia radikalisme dan jihad ekstrem sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) pada awal-awal tahun sembilan puluhan.

Ia menceritakan, awalnya temannya memberikan dia buku-buku tentang jihad ekstremis, tauhid, dan lainnya. Ia juga mengaku pernah bergabung dengan beberapa kelompok Islam radikal seperti Negara Islam Indonesia (NII), HTI, dan ISIS. 

Cerita Mantan Pelaku Terorisme Mengenal Jihad Ekstrem Sejak SMA (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Mantan Pelaku Terorisme Mengenal Jihad Ekstrem Sejak SMA (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Mantan Pelaku Terorisme Mengenal Jihad Ekstrem Sejak SMA

“NII itu masih ada sel-selnya,” kata Kurnia saat menjadi narasumber dalam acara Ngobrol Bareng Merawat Keindonesian dengan tema Tolak Radikalisme, Lawan Terorisme, di Jakarta, Ahad (23/7).

  

Mujahidin Cyber

Lulusan Teknik Kimia Institur Teknologi Bandung (ITB) ini mengaku belajar untuk merakit bom saat ia berada di ITB. Ia merancang bom dan mencari bahan-bahannya dari bacaan yang ada di perpustakaan.

“Membuat bom itu tidak sulit,” ungkapnya.

Mujahidin Cyber

Lebih lanjut, ia menjelaskan ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang tua untuk mendeteksi apakah anaknya terkena paham radikal. Pertama, awasi anak dan jangan abaikan. Kalau orang tua abai dengan anaknya, maka itu adalah peluang yang bagus untuk para radikalis.

“(Kemudian) Ajak dialog anak. Kalau ada indikasi, maka orang tua harus selidiki dari mana anak mendapatknya paham radikal itu,” tuturnya.

Terakhir, kalau seandainya anak sudah terpapar dengan paham radikal, maka ia harus dibawa kepada para tokoh agama yang memiliki pemahaman yang moderat. 

Peran istri

Kurnia menjelaskan, para istri pelaku terorisme dengan pelaku kriminal lainnya itu memiliki sikap yang berbeda saat menjenguk suami mereka yang sedang mendekam di Lembaga Permasyarakatan (Lapas). Ketika menjenguk suami di Lapas, istri pelaku kriminal selain teroris biasanya minta cerai. Namun, hal itu tidak berlaku pada istri-istri pelaku terorisme. 

“Istri kasus terorisme minta cerai itu tidak terjadi (saat mereka menjenguk suaminya di penjara). Mereka setia,” ungkapnya.

Senada dengan Kurnia, Direktur The Asian Muslim Action Network Indonesia (AMAN Indonesia) Ruby Kholifah menyatakan, istri para pelaku teror biasanya mendukung apa yang dilakukan oleh suami mereka.

 

Bahkan mereka memiliki keyakinan bahwa rahim mereka adalah rahim yang akan melahirkan para jihadis-jihadis yang membela dan menegakkan Islam.

“Banyak yang percaya bahwa itu adalah cara untuk mengabdi kepada agama,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nasional, Santri Mujahidin Cyber

Sabtu, 16 Desember 2017

Gerakan Ekstrem Mulai Tampak, PCNU Tasikmalaya Gelorakan Tradisi Aswaja

Tasikmalaya,? Mujahidin Cyber. Pada era banjirnya informasi yang masuk dan gerakan radikal yang mulai kelihatan, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tasikmalaya memberikan perhatian khusus untuk menjaga tradisi agar masyarakat memiliki pegangan. PCNU Tasikmalaya berupaya untuk menyemarakkan tradisi Aswaja dengan melibatkan pemuda dan remaja setempat.

Ketua Panitia Konfercab XVI PCNU Kabupaten Tasikmalaya H Tatang Sunarya mengatakan, gerakan-gerakan ormas yang mencoba menyebarkan paham radikalisme mulai masuk di tengah-tengah warga NU. Mereka sedikit-banyak mengubah segala tradisi dan pemikiran warga. Ini membuat pengurus harian NU Tasikmalaya resah.

Gerakan Ekstrem Mulai Tampak, PCNU Tasikmalaya Gelorakan Tradisi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Ekstrem Mulai Tampak, PCNU Tasikmalaya Gelorakan Tradisi Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Ekstrem Mulai Tampak, PCNU Tasikmalaya Gelorakan Tradisi Aswaja

“Seperti halnya dulu di masjid-masjid kampung itu marhabaan, dibaan, pengajian dan memakmurkan masjid itu gampang dijumpai dan kaum muda menjadi aktornya. Namun susah kita mencari hal-hal seperti itu sekarang,” kata Tatang ketika ditemui Mujahidin Cyber di Kantor PCNU Kabupaten Tasikmlaya, Senin (26/12).

Sekretaris PCNU Kabupaten Tasikmalya ini melanjutkan, di era global ini apapun bisa masuk tanpa ada filter seperti isu-isu yang berseliweran di media sosial. Tak sedikit orang koar-koar tak jelas dan termakan isu sehingga membuatnya tak karuan mencaci sana-sini dan membabi buta. Bahkan paham-paham radikal dan sebagainya sangat deras masuk ke tengah masyarakat.

Hal-hal semacam ini terjadi karena tak kuatnya basis keilmuan dan pemahaman terhadap aqidah Ahlussunnah wal Jamaah dengan mantap. Kelemahan inilah yang membuat mereka mudah terbakar emosi.

Mujahidin Cyber

Karenanya pembinaan-pembinaan itu sangat dibutuhkan. PCNU Tasikmalaya memilih pembinaan itu dalam bentuk syiar terhadap tradisi dan lewat cara yang massif mengikuti cara global sekarang harus dilakukan.

Konfercab yang akan dilaksanakan di Pesantren Cipasung, Kamis (29/12) kali ini menitikberatkan pada hal-hal itu. Panitia mengusung tema Menjaga Tradisi dan Memperkokoh Aqidah Aswaja di Tengah Tantangan Global.?

Mujahidin Cyber

“Tema ini menjadi PR besar buat kami. Dalam persidangan nanti kami berharap ditemukan keputusan-keputusan terbaik untuk menjadikan Tasikmalaya sebagai kota santri lahir dan batin,” kata Tatang. (Husni Mubarok/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Ahlussunnah, Pahlawan, Nasional Mujahidin Cyber

Kamis, 14 Desember 2017

PMII UT Bojonegoro Pacu Mahasiswa Jadi Pengusaha

Bojonegoro, Mujahidin Cyber. Setelah proses pemilihan berlangsung beberapa waktu lalu, Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Terbuka (UT) Bojonegoro resmi dilantik, Kamis (24/12/2015). Pengukuhan di Aula Kampus 2 PBI UT Bojonegoro itu juga dirangkai dengan seminar kewirausahaan.

PMII UT Bojonegoro Pacu Mahasiswa Jadi Pengusaha (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UT Bojonegoro Pacu Mahasiswa Jadi Pengusaha (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UT Bojonegoro Pacu Mahasiswa Jadi Pengusaha

Setidaknya ada sekitar 70 mahasiwa dari UT dan dari kampus lain di Kabupaten Bojonegoro yang terlibat dalam seminar tersebut. Sesuai tema pelantikan, seminar mengangkat tema "Membentuk Mahasiswa yang Aktif Dan Produktif dengan Menumbuhkan Karakter Entrepreneur".

Ketua PK PMII UT Bojonegoro yang baru dilantik, Ika Arlina Safitri mengaku, PMII merupakan Organisasi Ekstra Kampus (Omek) yang mewadahi mahasiswa. Bagi mereka yang menginginkan pembelajaran lebih yang tidak di dapat di kampus.

Mujahidin Cyber

"PMII bisa disebut second campus (kampus kedua), hal ini tidak lepas dari apa yang menjadi tujuan PMII," ujar mahasiswi semester 5 UT Bojonegoro itu.

Sementara itu Ketua PC PMII Bojonegoro Ahmad Dhilli Nasrulloh menjelaskan, PMII memberi wahana tidak hanya akademik namun juga ilmu lain yang tidak didapat di kampus. Hal ini dibuktikan dari seminar yang dilakukan PK PMII UT yang membahas tentang kewirausahaan.

Mujahidin Cyber

Para peserta seminar yang mayoritas dari mahasiswa pendidikan guru diharapkan bisa menjadi pengusaha. "Diharapkan tidak hanya menjadi guru saja, tetapi memunculkan pengusaha baru ke depannya," ungkap lulusan STIE Cendekia Bojonegoro itu.

Hadir pula dalam seminar tersebut, sebagai narasumber yakni Moh. Mustofa dan Samsul Hadi. Banyak hal yang disampai kedua pemateri itu, termasuk kiat-kiat sukses menjadi seorang pengusaha.

"Indonesia sangat butuh pengusaha, karena rata-rata orang kaya itu muncul dari para pengusaha," terangnya kepada seluruh peserta seminar.

Hal senada juga disampaikan Samsul Hadi. Dalam materi yang disampaikan, rata-rata mahasiswa hari ini masih sering mengharapkan jadi pegawai, padahal mereka bisa juga menjadi bos.

"Bahwasanya setiap apa yang ada di dunia ini memiliki nilai jual, tak terkecuali sampah. Barang yang banyak orang menilai tidak ada nilainya, tetapi yang terpenting adalah bagaimana usaha kita membuat suatu itu lebih berharga," pungkas pengusaha sampah dari Bojonegoro itu. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nasional, Bahtsul Masail Mujahidin Cyber

Selasa, 28 November 2017

Universitas NU Direncanakan Berdiri Pula di Pringsewu

Pringsewu, Mujahidin Cyber - Potensi Kabupaten Pringsewu, Lampung, khususnya di bidang pendidikan saat ini dinilai menjanjikan. Lembaga pendidikan di seluruh tingkatan dari taman kanak-kanan sampai dengan perguruan tinggi sudah banyak yang berdiri di kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Tanggamus ini.

Sektor pendidikan dengan peluang sumber daya manusia Nahdliyin yang merupakan mayoritas di Kabupaten Pringsewu, menjadi perhatian Pengurus Cabang NU (PCNU) PCNU Kabupaten Pringsewu untuk mempertimbangkan pendirian universitas di Pringsewu.

Universitas NU Direncanakan Berdiri Pula di Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU Direncanakan Berdiri Pula di Pringsewu (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU Direncanakan Berdiri Pula di Pringsewu

"Kita ingin memiliki perguruan tinggi NU dan ini merupakan cita-cita warga NU Kabupaten Pringsewu sejak lama," kata Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrahim saat mengawali kegiatan Sosialisasi Pendirian Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) di Kabupaten Pringsewu di Gedung NU, Ahad Siang (10/4).

Mujahidin Cyber

Ia berharap, dengan banyaknya warga NU di Kabupaten Pringsewu, cita-cita ini akan menjadi kenyataan dengan modal kebersamaan seluruh warga. "Kita sedang mengaji dan memproses seluruh persyaratan untuk pendirian Universitas NU di Kabupaten Pringsewu," ujarnya.

Mujahidin Cyber

Pada kegiatan sosialisasi tersebut, PCNU Pringsewu menghadirkan Rektor UNU Lampung Dr. Nasir yang memberikan gambaran proses berdirinya UNU Lampung yang berlokasi di Lampung Timur. Sosialisasi disampaikannya di depan seluruh pengurus PCNU, Mejalis Wakil Cabang NU (MWCNU), dan seluruh kepala MA dan SMK yang berada di bawah naungan NU Pringsewu.

Menurut Nasir mengakui banyak kendala internal maupun eksternal yang ia hadapi ketika berjuang mendirikan UNU yang sekarang sudah melakukan kegiatan perkuliahan. "Dengan modal niat yang kuat alhamdulillah dapat kami lewati dan berhasil mendirikan UNU Lampung," tegasnya.

Ia menilai bahwa warga NU Pringsewu sudah sangat pantas memiliki universitas yang akan menjadi tempat bagi para generasi penerus untuk mempertahankan akidah Ahlussunnah wal Jamaah. "Potensi dan dukungan warga NU baik di struktural maupun kultural menjadikan fardlu ‘ain hukumnya bagi Pringsewu untuk mendirikan UNU," tegasnya.

Sementara Rais Syuriyah PCNU Pringsewu KH Ridwan Syuaib yang juga hadir pada acara tersebut berharap Universitas NU di Kabupaten Pringsewu akan segera direalisasikan dengan tahapan-tahapan dan mekanisme yang sudah ditentukan. "Segera laksanakan niat dan ketika nanti berdiri saya yakin akan menjadi favorit di Kabupaten Pringsewu," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nasional, Pemurnian Aqidah, PonPes Mujahidin Cyber

Minggu, 26 November 2017

PBNU Ajak Tiongkok Perangi Terorisme Internasional

Jakarta, Mujahidin Cyber

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Xie Feng untuk memerangi terorisme internasional yang mengganggu kedamaian dan menimbulkan berbagai persoalan kemanusiaan.?

Hal ini disampaikan dalam acara buka bersama dan santunan bagi yatim piatu yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Tiongkok untuk Indonesia di di pesantren Al-Tsaqafah di bilangan Ciganjur Jakarta Selatan, Kamis (16/6).

PBNU Ajak Tiongkok Perangi Terorisme Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Ajak Tiongkok Perangi Terorisme Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Ajak Tiongkok Perangi Terorisme Internasional

Kiai Said juga menuturkan, setelah melihat kehidupa pesantren dan mendapat penjelasan tentang konsep pendidikan yang diajarkan di dalamnya, Dubes Tiongkok itu menyatakan apresiasinya. "Dubes Cina sangat kagum dengan konsep pendidikan pesantren terkait dalam konsernnya untuk membangun karakter bangsa," ujarnya.

Dubes Tiongkok Xie Feng dalam sambutannya menjelaskan setiap tahun Kedutaan Tiongkok setiap tahun menyelenggarakan buka puasa bersama sebagai salah satu bentuk persahabatan antara Tiongkok dengan masyarakat Muslim di Indonesia. Ia juga menegaskan, masyarakat Tiongkok mementingkan memberi pertolongan kepada orang yang tidak mampu.?

Xie Feng menjelaskan, komunikasi antara Muslim Indonesia dan Muslim Tiongkok sudah terjalin sejak 600 tahun yang lalu ketika ekspedisi kerajaan Tiongkok yang dipimpin oleh Cheng Ho datang ke wilayah Nusantara. Untuk itu, ia berharap komunikasi tersebut terus dilanjutkan seperti dalam pemberian sertifikasi makanan halal, peneliti Muslim, pelatihan guru, dan pengiriman mahasiswa.

Mujahidin Cyber

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menjelaskan tentang kabar adanya larangan bagi Muslim di wilayah Xinjiang untuk melaksanakan ibadah. “Pemerintah Tiongkok selalu mementingkan, menghormati, dan melindungi kebebasan beragama. Sebagai hak sipil paling mendasar, kebebasan beragama tercantum dalam UUD Tiongkok,” katanya.

Ia juga menuturkan, rumahnya di Beijing dekat dengan salah satu masjid paling terkenal di Tiongkok yang memiliki sejarah panjang perkembangan Islam di negeri tersebut. Bahkan ia mengaku suka membeli makanan halal di sekitar lokasi tersebut.?

Mujahidin Cyber

? “Cerita tentang pemerintah Tiongkok melarang Muslim untuk beribadah ternyata bukan fakta. Sama dengan di Indonesia, ketika terdengar suara azan dari masjid, para Muslim yang berada di sekitarnya berdatangan ke masjid,” paparnya.?

Ditegaskannya, menjelang Ramadhan, di Xinjian, pemerintah menekankan bahwa perasaan, kepercayaan, dan adat istiadat warga beragama harus dipahami, dihormati, dan diperhatikan sepenuh-penuhnya.

?

Ia mengajak Muslim dan ulama dari Indonesia untuk melihat secara langsung kehidupan Muslim di Tiongkok untuk melihat dengan mata kepala sendiri kondisi di sana. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nasional, Amalan, Ulama Mujahidin Cyber

Jumat, 24 November 2017

Begini Cara Gus Dur Membangun Papua

Jakarta, Mujahidin Cyber. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar menjelaskan, pembangunan yang dilakukan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di tanah Papua bukan saja pada pembangunan fisik dan infrastruktur, tetapi juga menekankan kepada pembangunan manusia atau masyarakat Papua.

Begini Cara Gus Dur Membangun Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Begini Cara Gus Dur Membangun Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Begini Cara Gus Dur Membangun Papua

Pria yang akrab disapa Cak Imin menegaskan, Gus Dur dalam pembangunan Papua juga memperhatikan konteks sejarah Papua.

"Membangun Papua tidak bisa lepas dari sejarah Papua," kata Cak Imin saat memberikan sambutan dalam acara diskusi “Gus Dur, Papua, dan Paradigma Pembangunan di Graha Gus Dur” di Jakarta, Rabu (26/7).

Gus Dur, imbuh Cak Imin, berusaha untuk membangun kembali kepercayaan diri masyarakat Papua. Salah satu upaya yang dilakukan Gus Dur adalah dengan mengganti nama Irian dengan Papua.

Mujahidin Cyber

"Ketika Gus Dur merubah Irian menjadi Papua banyak perdebatan," jelasnya.

Mujahidin Cyber

Selain itu, lanjut dia, Gus Dur juga menekankan dialog dan menampung aspirasi masyarakat Papua seperti memperbolehkan masyarakat Papua untuk mengibarkan Bendera Bintang Kejora.

"Gus Dur membolehkan Bendera Bintang Kejora dikibarkan (di Papua) tetapi tingginya di bawah Bendera Merah Putih," terangnya.

"Ketika ditanya (soal kebolehan mengibarkan Bendera Bintang Kejora, Gus Dur menjawab dengan enteng: persatuan sepak bola saja boleh mengibarkan bendera klub," lanjut Cak Imin.

Cak Imin menilai, Gus Dur meletakkan manusia di atas segala-galanya. Oleh karena itu, Gus Dur membangun Papua dengan membangun manusianya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Quote, Nasional, Aswaja Mujahidin Cyber

Minggu, 12 November 2017

Seribu Santri Ikuti Buka Bersama Bin Nawawi Group

Purworejo, Mujahidin Cyber . Berupaya untuk mempererat jalinan silaturahim, unit lembaga pendidikan dan badan usaha yang berada di bawah naungan Bin Nawawi Group menggelar ngabuburit dan buka bersama, Kamis (17/7). Kegiatan tersebut dimeriahkan dengan atraksi reptil, bazar, pentas musik band religi, serta mauidotul khasanah.

Seribu Santri Ikuti Buka Bersama Bin Nawawi Group (Sumber Gambar : Nu Online)
Seribu Santri Ikuti Buka Bersama Bin Nawawi Group (Sumber Gambar : Nu Online)

Seribu Santri Ikuti Buka Bersama Bin Nawawi Group

Kegiatan yang digelar di halaman Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) serta stasiun radio Shoutuna Fm ini berlangsung cukup meriah. Sekitar seribuan santri putra dan putri PP An-Nawawi Berjan Purworejo, Jawa Tengah, turut diundang dalam acara yang baru pertama kali digelar tersebut.

Ketua Panitia KH R Maulana Alwi mengatakan jika Bin Nawawi Group yang berada dibawah asuhan KH Acmad Cahlwani Nawawi ini membawahi beberapa unit pendidikan formal maupun non formal. "Untuk pendidikan nonformalnya ya Madrasah Diniyah (Madin) yang dikelola oleh Pondok Pesantren An-Nawawi," terangnya.

Mujahidin Cyber

Sementara untuk pendidikan formalnya terdiri dari tingkat tsanawiyah, aliyah hingga perguruan tinggi. Unit-unit pendidikan tersebut tidak hanya di Kabupaten Purworejo saja, namun juga di Kebumen dan Magelang.

Mujahidin Cyber

"Hadir dalam buber kali ini seluruh guru dan karyawan MA dan MTs An-Nawawi 01 Berjan Purworejo, MTs An-Nawawi 04 Kaligesing, MA dan MTs An-Nawawi 02 Salaman Magelang, MA dan MTs An-Nawawi 03 Kebumen serta Dosen dan karyawan STAIAN Purworejo," terangnya.

Ia menambahkan, mengingat letak geografis yang cukup jauh antara unit pendidikan satu dengan yang lainnya sehingga antara pengelola unit satu dengan lainnya kadang tidak saling mengenal. "Sehingga momentum buka bersama ini merupakan agenda yang sangat penting guna agar satu sama lain sesama keluarga besar Bin Nawawi Group saling mengenal dan terjalin tali silaturahim," imbuhnya.

Sementara itu, Ustad Nailiya Helmi Tunjung, finalis dai muda Indonesia MNC group yang juga santri An-Nawawi mengemukakan pentingnya syukur dalam kehidupan ini. "Jamak diketahui siapapun yang mau bersyukur nikmatnya akan ditambah. Namun jika kufur, sesungguhnya adzab Allah sangatlah pedih," terangnya. (Lukman Hakim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Tegal, Nasional Mujahidin Cyber

Selasa, 07 November 2017

Kominfo Minta Youtube Blokir Video Anak Indonesia yang Dilatih ISIS

Batu, Mujahidin Cyber



Kementerian Komunikasi dan Informatika telah meminta Youtube untuk memblokir video anak-anak Indonesia yang dilatih militer oleh kelompok bersenjata ISIS yang telah beredar di aplikasi tersebut dan menyebar secara viral di dunia maya.

Kominfo Minta Youtube Blokir Video Anak Indonesia yang Dilatih ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Kominfo Minta Youtube Blokir Video Anak Indonesia yang Dilatih ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Kominfo Minta Youtube Blokir Video Anak Indonesia yang Dilatih ISIS

Hal itu disampaikan Kepala Pusat dan Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail Cawidu melalui pesan singkat, Kamis.

"Setelah kami memperhatikan konten video tersebut, maka Kominfo telah meminta kepada Youtube untuk memblokir video tersebut. Video yang kominfo minta diblokir ada dua link masing-masing berdurasi 15 menit dan dua menit," katanya.

Sebelumnya beredar sebuah video di media sosial yang berisi tentang pelatihan anak-anak di bawah umur di camp ISIS di Hasakeh, Suriah.

Dalam video tersebut sejumlah anak berlatih menembak di bawah pengawasan para ekstremis. Selain itu mereka juga belajar berkelahi satu sama lain.

Mujahidin Cyber

Mereka diduga merupakan anak-anak yang berasal dari Indonesia, Malaysia dan Filipina.

Dalam video yang berdurasi 15 menit itu, terlihat ada adegan ekstremis ISIS bernama Abu Naser al-Indonisi yang menyerukan kepada segenap anak untuk menegakkan kekhalifahan. Naser juga mengatakan pihaknya akan menumpas para pemimpin thagut di Indonesia dan Malaysia.

Mujahidin Cyber

Video tersebut juga memperlihatkan anak-anak melempar sejumlah paspor dan membakarnya sebagai simbol bahwa mereka tidak lagi melekat sebagai warga negara di negaranya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nasional Mujahidin Cyber

Pemerintah Bisa Jatuh karena Lumpur Lapindo

Jakarta, Mujahidin Cyber. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr KH Hasyim Muzadi menegaskan, jika tidak segera menyelesaikan persoalan sosial terkait semburan lumpur Lapindo, maka tidak tertutup kemungkinan pemerintah bakal turut menjadi korban lumpur panas tersebut.

"Pemerintah bisa jatuh karena lumpur Lapindo. Minimal jatuh namanya. Maksimalnya bisa jatuh beneran," tegas Hasyim menjawab pertanyaan wartawan usai menerima kunjungan Kepala Perwakilan PBB untuk Urusan Kemanusiaan (United Nations Office for Coordinator of Humanitarian Affairs-UNOCHA) untuk Indonesia Fernando Hesse di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (20/3).

Pemerintah Bisa Jatuh karena Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Bisa Jatuh karena Lumpur Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Bisa Jatuh karena Lumpur Lapindo

Karena itu, kata Hasyim, pemerintah sebaiknya lebih berkonsentrasi pada upaya konkret penyelesaian berbagai persoalan yang secara langsung menimbulkan kesengsaraan rakyat, seperti korban lumpur Lapindo misalnya.

Riuh-rendah wacana reshuffle kabinet, baik yang disuarakan kalangan pengamat maupun partai politik, menurut Hasyim, tidak perlu ditanggapi pemerintah dengan menguras energi.

Sebab, kata pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam, Malang, Jawa Timur itu, ada atau tidak ada reshuffle, tidak akan mengubah keadaan. "Pemerintah juga tidak akan jatuh karena ada atau tidak ada reshuffle," kata Presiden Dewan Dunia Agama-agama untuk Perdamaian tersebut.

Mujahidin Cyber

Oleh karena itu, kata Hasyim, PBNU menganggap wacana reshuffle, bahkan reshuffle itu sendiri, dalam kondisi bangsa saat ini sama sekali tidak penting. "Jauh lebih penting ngurus rakyat," tandasnya.

Sementara itu, ketika ditanya soal syarat minimal pendidikan sarjana (S1) bagi calon presiden dan calon wakil presiden, Hasyim menyatakan, hal itu sama tidak pentingnya dengan isu reshuffe saat ini.

"Jangan-jangan nanti kalau disetujui (syarat sarjana tersebut), terus disyaratkan lagi jurusannya harus ini, harus itu. Memangnya kita mau cari pegawai negeri sipil (PNS)?" katanya sembari tersenyum.

Mujahidin Cyber

Menurut Doktor Honoris Causa Bidang Peradaban Islam itu, syarat terpenting seorang capres atau cawapres adalah memiliki kepedulian yang tinggi dan kemauan bekerja keras untuk rakyat. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber RMI NU, AlaSantri, Nasional Mujahidin Cyber

Jumat, 27 Oktober 2017

Gus Sholah Akui Terima Dana DKP untuk Kemanusiaan

Jakarta, Mujahidin Cyber. Mantan calon wakil presiden Sholahuddin Wahid (Gus Solah) mengakui timnya menerima aliran dana nonbudgeter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) sebanyak Rp 200 juta. Namun dana itu tidak digunakan untuk kampanye melainkan bagi pelaksanaan kegiatan kemanusiaan.

"Tim saya menerima dana itu tetapi tentunya yang menerima ditujukan kepada saya. Jadi diakui tim yang menerima tetapi tim ini bukan tim kampanye," kata Gus Sholah, di Jakarta, Rabu (23/5) kemarin usai seminar yang digelar Gerakan Jalan Lurus. Saat pemilu 2004, Gus Sholah berpasangan dengan capres Wiranto.

Gus Sholah Akui Terima Dana DKP untuk Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Akui Terima Dana DKP untuk Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Akui Terima Dana DKP untuk Kemanusiaan

Menurut Gus Solah, dana tersebut diterima oleh tim yang membantunya sejak sebelum menjadi cawapres hingga sekarang dan sesuai dengan catatan yang dimiliki, dana yang diterima Rp 200 juta.

Adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu menyarankan, agar tidak simpang siur, sebaiknya masalah tersebut segera diselesaikan di pengadilan sehingga segera diketahui kejelasannya. Ia juga mengatakan siap untuk mengembalikan dana tersebut jika pengadilan memutuskan demikian.

Sementara itu, untuk dana asing yang digunakan dalam Pemilihan Presiden 2004, Gus Solah mengatakan tidak menerima dana tersebut dan meminta Amien Rais untuk membuktikan ucapannya tentang adanya dana asing tersebut.

Mujahidin Cyber

"Kalau Pak Amien katakan ada, ya Pak Amien harus beri indikasi, dari mana kok tahu kalau ada dana asing. Kalau iya, tolong dibuktikan agar tidak membingungkan masyarakat," ujarnya.

Namun Gus Solah meragukan penerima transfer dana asing tersebut dapat diketahui meskipun dengan membuka data Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Karena si pemilik rekening belum tentu adalah penerima yang sesungguhnya, katanya. (ant/rif)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Sejarah, Nasional, Budaya Mujahidin Cyber

Rabu, 25 Oktober 2017

Hargai Perbedaan, Jangan Paksakan Persamaan

Bandar Lampung, Mujahidin Cyber 



Mustasyar PWNU Provinsi Lampung Prof. Muhammad Mukri mengatakan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT di muka bumi ini memiliki perbedaan masing-masing baik dari segi fisik, pemikiran maupun tingkah laku.

"Manusia itu ditakdirkan untuk berbeda," tegas Rektor UIN Raden Intan Lampung saat memberikan hikmah Halal Bihalal Keluarga Besar Universitas Lampung di Kampus Jl. Brojonegoro, Bandar Lampung, Selasa (11/7).

Hargai Perbedaan, Jangan Paksakan Persamaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Hargai Perbedaan, Jangan Paksakan Persamaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Hargai Perbedaan, Jangan Paksakan Persamaan

Namun, perbedaan yang sudah merupakan sunnatullah ini, jangan sampai dijadikan dasar untuk kemudian terpecah belah dan saling bermusuhan. Perbedaan yang dimiliki masing-masing individu manusia haruslah dimanfaatkan untuk saling dan tolong menolong.

Contoh nyata yang bisa dilihat saat ini adalah bagaimana bangsa Indonesia damai dan tetap eksis sampai dengan saat ini karena lebih mengedepankan untuk menghargai perbedaan dan tidak memaksakan persamaan. 

Mujahidin Cyber

Hal ini berbeda dengan bangsa timur tengah yang selalu bergejolak dan terjadi peperangan dengan sesama saudara karena menginginkan semuanya sama.

"Kita bangsa Indonesia harus banyak bersyukur dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah yang bergejolak karena lebih mengedepankan perbedaan tidak mencari persamaan," katanya di depan rektor, dekan dan para karyawan Unila.

Prof. Mukri mengajak seluruh ummat Islam untuk saling memberikan dan mengedepankan pengertian kepada sesama manusia. Apalagi dimomen Idul Fitri yang merupakan saat tepat untuk saling memaafkan. 

"Melalui halal bihalal ini mari kita saling memaafkan, kita perkuat iman kita setelah digembleng selama satu bulan dalam puasa Ramadhan," imbaunya. “Karena sejatinya manusia akan kembali pada penciptanya," ujarnya pada kegiatan yang bertema “Merajut Kebersamaan dalam Bingkai Keragaman”. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber RMI NU, Nasional Mujahidin Cyber

Minggu, 15 Oktober 2017

Ranting NU di Jatim Mendapatkan Hak Suara di Konfercab

Surabaya, Mujahidin Cyber. Sekitar 122 Ranting dan 12 MWC NU sekabupaten Trenggalek hadir di PWNU Jatim, Selasa (22/12). Mereka datang sebelum Konfercab NU Trenggalek yang akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. Rombongan berjumlah sekitar 200 orang itu mengeluh soal pengurus ranting tidak mendapatkan hak suara di Konfercab NU Trenggalek.

Ranting NU di Jatim Mendapatkan Hak Suara di Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)
Ranting NU di Jatim Mendapatkan Hak Suara di Konfercab (Sumber Gambar : Nu Online)

Ranting NU di Jatim Mendapatkan Hak Suara di Konfercab

"Kami khawatir apabila konfercab tidak mengakomodir suara dari ranting-ranting," jelas ketua rombongan Gus Makki.

Hal itu langsung mendapatkan respon positif ? dari Ketua PWNU Jatim. "Ini merupakan suara dan dukungan terhadap apa yang telah menjadi rekomendasi PWNU kepada PBNU supaya di konfercab ranting mendapatkan hak suara," kata Kiai Mutawakkil saat ditemui di ruangannya.

Mujahidin Cyber

PWNU Jatim mendukung penuh keputusan AD/ART hasil Muktamar Jombang yang mengatakan hak suara di konfercab hanya MWCNU. PWNU Jatim menyadari apa yang menjadi pertimbangan PBNU yaitu kondisi di luar Jawa. Antara cabang, MWCNU hingga ranting jarak tempuhnya jauh dan sulit transportasi. Kalau ranting menjadi syarat quorum, konferensi di luar Jawa akan mengalami kesulitan.

Maka dari itu, "Khusus di Jatim dan mungkin di Jawa-Jawa lain, akan meminta surat keputusan PBNU yang mengatakan ranting mendapatkan hak suara," jelasnya.

Mujahidin Cyber

Bagimana pun ranting ini merupakan garda terdepan dalam mensosialisasikan aswaja dan program-program NU. "Karena mereka yang bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah," ungkap kiai yang juga pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong itu.

Kiai Mutawakkil khawatir kalau ranting tidak dapat memilih Ketua PCNU Trenggalek dalam konfercab akan berdampak pada hubungan batin sehingga akan terjadi kesenjangan. Lebih aneh lagi, di Jatim itu ada PCNU kota madya yang hanya memiliki lima, dua dan tiga MWCNU. "Kalau hanya tiga atau lima itu bukan konferensi tapi jangongan," lanjutnya.

Di Jatim sendiri ada tujuh cabang yang akan menggelar konfrensi di bulan Desember dan Januari. "Kita akan memberikan edaran surat instruksi untuk menunda konfrencab sampai turunnya surat keputusan dari PBNU yang mengatur petunjuk teknis pelaksanaan Ahwa dan konfrensi," pungkasnya.?

Kiai Mutawakkil didampingi Prof Akh Muzakki Sekretaris, H Rasidi Wakil Bendahara dan Hasan Ubaidillah Wakil Sekretaris PWNU Jatim. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nasional, Warta, Nusantara Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock