Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Ketua PBNU: Pembatasan Umur KPK Tidak Logis

Jakarta, Mujahidin Cyber. Ketua PBNU Robikin Emhas menilai pembatasan umur Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) selama 12 tahun dalam draf revisi UU KPK tengah masih maraknya praktik korupsi tidak mencerminkan kesadaran kolektif antikorupsi masyarakat yang menempatkan tindak pidana itu sebagai kejahatan luar biasa.

“Bahkan boleh dikatakan tidak memiliki basis argumentasi dan rasio logis yang memadai. Oleh karena itu sangat bisa dipahami apabila terjadi penolakan publik terhadap gagasan itu. Berbeda seandainya pembubaran KPK yang memang bersifat ad hoc itu didasarkan pada indeks korupsi? dengan parameter yang akuntabel, misalnya,” tuturnya dalam siaran pers, Kamis (8/10).

Ketua PBNU: Pembatasan Umur KPK Tidak Logis (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PBNU: Pembatasan Umur KPK Tidak Logis (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PBNU: Pembatasan Umur KPK Tidak Logis

Ketua PBNU bidang hukum, perundang-undangan dan hak asasi manusia ini menambahan, Nahdlatul Ulama dalam Muktamar ke-33 di Jombang awal Agustus lalu bahkan merekomendasi agar koruptor dihukum mati. Rekomendasi itu dilakukan setelah melalui kajian mendalam dan sangat hati-hati, termasuk dari sisi hak asasi manusia mengingat menyangkut hak hidup manusia.

Mujahidin Cyber

“Di antara pertimbangan faktual Nahdlatul Ulama merekomendasi hukuman mati terhadap koruptor adalah karena daya rusak korupsi yang langsung menyentuh kehidupan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput,” ujarnya.

Menurut Robikin, dalam keadaan seperti ini, politik pembangunan hukum harus memperkuat institusi penegak hukum di bidang pemberantasan korupsi, baik kepolisian, kejaksaan, ataupun KPK. Selain itu pembentuk undang-undang melalui proses legislasi yang ada perlu terus mendorong tata kelola pemerintahan yang makin akuntabel dan transparan, serta terus mengupayakan tumbuh-berkembangnya budaya antikorupsi di masyarakat.

Mujahidin Cyber

Sebelumnya, pada Selasa (6/10), DPR membahas usulan Rancangan Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (RUU KPK) untuk masuk ke dalam program legislasi nasional (prolegnas) prioritas 2015. Wacana pembatasan tertulis pada Pasal 5 RUU KPK yang menyatakan bahwa KPK dibentuk untuk masa waktu 12 tahun sejak undang-undang itu diundangkan. (Mahbib Khoiron)

Ilustrasi: caesarleo.deviantart.com

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, Habib Mujahidin Cyber

BBPLK Bekasi-PT Berca Kerja Sama Program Pemagangan Bidang Lift dan Eskalator

Bekasi, Mujahidin Cyber

Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi sepakat menjalin kerjasama dengan PT  Berca Schindler Lifts (BSL) untuk menyelenggarakan program pemagangan kerja (Apprentice Program). Kerja sama bertujuan menyiapkan tenaga kerja kompeten di bidang lift dan eskalator melalui pelaksanaan pelatihan kerja dan penempatan tenaga kerja.

BBPLK Bekasi-PT Berca Kerja Sama Program Pemagangan Bidang Lift dan Eskalator (Sumber Gambar : Nu Online)
BBPLK Bekasi-PT Berca Kerja Sama Program Pemagangan Bidang Lift dan Eskalator (Sumber Gambar : Nu Online)

BBPLK Bekasi-PT Berca Kerja Sama Program Pemagangan Bidang Lift dan Eskalator

Penandatanganan kesepakatan kerjasama ini dilakukan Kepala BBPLK Bekasi, Helmiaty Basri dengan Presiden Direktur PT BSL Phua Yin Liang Willis  dan disaksikan oleh Sekretaris  Ditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kemnaker Kunjung Masehat  di kantor BBPLK Bekasi, pada Senin (9/10).

“Penandatanganan nota kesepahaman ini  merupakan langkah nyata antara pemerintah dengan dunia industri untuk menciptakan tenaga kerja terampil serta penyerapan tenaga kerja di dunia industri,” kata Kunjung Masehat.

Kerjasama pelatihan ini akan memberikan program magang mencakup pelatihan berbasis kerja, kurikulum dan sertifikasi dan pengembangan karier. Para peserta magang akan mengikuti pelatihan keterampilan yang relevan dan khusus dibutuhkan di industri lift dan eskalator.

Keterampilan yang dipelajari  meliputi aspek instalasi, pemeliharaan dan perbaikan lift dan eskalator. Peserta juga bisa memperoleh kesempatan kerja di seluruh bisnis Schindler.

Mujahidin Cyber

“Kami berharap kerjasama ini dapat berjalan dengan baik dan berlanjut setiap tahun serta PT. Berca Schindler Lifts dapat melakukan rekrutmen karyawan yang lebih banyak melalui program pelatihan ini,” kata Kunjung.

Kunjung mengatakan melalui program pelatihan antara BBPLK-BSL, para peserta akan dilatih sesuai dengan pengetahuan yang sebenarnya dan dalam metode dunia kerja yang modern. Hal ini dilaksanakan untuk mensinkronkan teknologi antara materi pelatihan dengan dunia kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Kunjung mengatakan, Kemnaker memberikan apresiasi PT BSL dan perusahaan-perusahaan swasta lainnya  yang telah  ikut peran serta dan peduli dalam upaya penyiapan tenaga kerja terampil.

“Untuk  meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang kompeten, maka perlu dilakukan kerjasama, koordinasi dan sinergitas antar pemangku kepentingan terkait pelatihan, sertifikasi dan penempatan tenaga kerja," kata Kunjung.

Mujahidin Cyber

Kunjung mengatakan melalui Schindler-BLK Apprentice Program ini  para peserta dapat menjalani program pelatihan dua tahun yang terdiri dari rangkaian pelatihan yang dilakukan di BLK, pelatihan On The Job Training (OJT) yang   diatur oleh PT. BSL.

“Setelah menyelesaikan program pelatihan magang  ini, para peserta harus mencapai persyaratan akademik yang ditetapkan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) dan persyaratan kerja standar yang ditetapkan PT. BSL untuk memenuhi syarat kontrak kerja dengan masa percobaan satu tahun dengan PT. BSL,” ujar Kunjung.

Sementara itu, Presiden Direktur PT BSL Phua Yin Liang Willis menambahkan program magang gabungan ini bersama BBPLK Bekasi ini diharapkan akan menghasilkan sejumlah karyawan muda berbakat di bidang teknis industri lift.

“Kerjasama ini juga diharapkan akan bisa membantu para pebisnis di industri lift dan escalator untuk meningkatan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sesuai dengan standar industri,” kata Phua. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber RMI NU, Kajian Islam, Pendidikan Mujahidin Cyber

Kamis, 22 Februari 2018

Temu Alumni Madrasah TBS Kudus Angkat Aswaja sebagai Pagar Nusantara

Kudus, Mujahidin Cyber. Dalam rangka menyambut 90 tahun usia madrasah, alumni Madrasah TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyyah) Kudus berencana mengadakan Silaturrahim Nasional (Silatnas) dan Ngaji Bareng Masyayikh TBS yang rencana diselenggarakan pada 23 Juli 2016 atau bertepatan dengan 18 Syawal 1437 H mendatang.?

Temu Alumni Madrasah TBS Kudus Angkat Aswaja sebagai Pagar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Temu Alumni Madrasah TBS Kudus Angkat Aswaja sebagai Pagar Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Temu Alumni Madrasah TBS Kudus Angkat Aswaja sebagai Pagar Nusantara

Kegiatan ini sendiri akan bertempat di Gedung Madrasah TBS Kudus, Jl KH Turaichan Adjhuri No 23 yang Insyaallah akan dihadiri oleh ribuan alumni yang berasal dari berbagai angkatan. Kegiatan ini sendiri mengangkat tema “Aswaja Pagar Nusantara”.

Selain dihadiri oleh alumni dari berbagai generasi, para masyayikh dan guru Madrasah TBS Kudus juga akan menghadiri acara ini. Di antaranya adalah KH Choirozyad TA (putera almarhum KH Turaichan Adjhuri, ahli falak nasional), KH Muhammad Ulil Albab Arwani (putera almarhum KH Arwani Amin, ulama kharismatik Kudus bidang Al-Qur’an), KH Muhammad Arifin Fanani, KH Hasan Fauzi, KH Musthofa Imron SHI dan masih banyak lagi lainnya.

Kegiatan silaturrahim nasional ini tak hanya berupa silaturrahim dan ngaji bareng saja. Kegiatan yang rencanyanya dilaksanakan sejak sore hari hingga malam ini juga akan ada beberapa bahasan yang nantinya akan membahas bagaimana peran alumni kepada madrasah. Nantinya akan dimasukkan dalam Forum Grup Discussion (FGD) yang jumlahnya sebanyak empat buah FGD.?

Mujahidin Cyber

Diantara poin dalam FGD tersebut adalah pembahasan jaringan alumni, upgrade database alumni Madrasah TBS Kudus tiap angkatan, kemandirian ekonomi dan konseling aswaja kepada alumni. "Forum ini diadakan sebelum acara ngaji bareng masyayikh Madrasah TBS pada malam harinya hingga selesai," jelas Arif Mustain, ketua panitia acara ini.?

Pada malam harinya akan dilanjutkan dengan kegiatan ngaji bareng Masyayikh TBS yang juga akan diagendakan pula peluncuran website www.santrimenara.com dan buku bertajuk Madzhab Santri Menara yang berisi sekitar 20 esai yang berasal dari alumni sendiri. “Semua ini pastinya atas restu dari para masyayikh kami,” imbuh Arif.

Bila ada alumni Madrasah TBS Kudus yang bersedia membantu kelancaran acara, panitia menyediakan rekening transfer untuk pendanaan acara tersebut melalui rekening bendahara panitia. Ada dua rekening yang bisa dituju, BRI: 5928-01-002637-52-9 (An. Charis Rohman) atau ke BNI: 0335317112 (An. Charis Rohman). Jika sudah melakukan transfer, silahkan konfirmasi langsung ke 085726826747 (SMS/WA). (Hanan/Fathoni)

Mujahidin Cyber

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, IMNU Mujahidin Cyber

Minggu, 18 Februari 2018

Calon Mahasiswa Diingatkan Penyebaran Ideologi Transnasional di Kampus

Jombang, Mujahidin Cyber. Tantangan yang dihadapi generasi muda kian keras dan mengkhawatirkan. Diperlukan persiapan ekstra sebelum mereka berkiprah di masyarakat atau berbaur dengan komunitas baru.

KH Zaimuddin As’ad Wijaya SU, Sabtu (27/7) kemarin mengingatkan sejumlah siswa Madrasah Aliyah Negeri Darul Ulum (MAN DU) Rejoso Peterongan Jombang bahwa generasi muda menghadapi tantangan yang tidak ringan, khususnya dalam hal akidah.

Calon Mahasiswa Diingatkan Penyebaran Ideologi Transnasional di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Calon Mahasiswa Diingatkan Penyebaran Ideologi Transnasional di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Calon Mahasiswa Diingatkan Penyebaran Ideologi Transnasional di Kampus

Saat memastikan diri untuk melanjutkan studi ke sejumlah kampus di kota-kota terkenal, maka yang akan dihadapi adalah banyaknya ideologi Islam transnasional.?

Mujahidin Cyber

Salah seorang Majlis Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) ini mengingatkan bahwa di sejumlah kampus ternama itu sudah jamak ditemukan aliran yang akan mengenalkan Islam secara puritan.?

“Mereka akan mempersoalkan amaliah yang sebelumnya telah terbiasa dilakukan di lingkungan pesantren dan sekolah,” katanya saat membuka kegiatan Nuzulul Qu’an di Islamic Center PPDU.?

Mujahidin Cyber

Gus Zu’em, sapaan akrabnya juga mengingatkan bahwa tidak sedikit kalangan yang akan “meminang” mahasiswa baru menjadi pengantin dan diajak untuk melakukan tinbdakan terorisme dengan pendekatan agama.

“Karena itulah pemahaman keislaman ala aswaja hendaknya menjadi pengetahuan dasar bagi para siswa khususnya alumnus pesantren Darul Ulum,” ungkapnya pada acara yang dihadiri para guru, karyawan dan siswa-siswi MAN DU ini.

Ustadz Yusuf Suharto sebagai narasumber pertama memberikan gambaran sekilas tentang sejarah Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Aswaja). Alumnus Ma’had Ali ini menandaskan bahwa pilihan untuk berada di barisan Aswaja adalah tepat karena telah sesuai dengan pendapat mayoritas ulama yang bisa dipertanggungjawabkan integritasnya.

“Aswaja lebih menekankan kepada akidah dengan melakukan kritik terhadap aliran qadariyah dan jabariyah yang cenderung berseberangan,” tandas Direktur Aswaja Center PCNU Jombang ini.

Namun ketika Aswaja dibawa ke Indonesia, telah melakukan sejumlah modivikasi dengan memperhatikan dan menghargai kearifan lokal berupa budaya dan hal lain yang telah melekat di bumi Nusantara.?

Narasumber kedua, Ustadz Sholihuddin tidak menampik kalau klaim yang disandarkan kepada amaliyah NU dengan tahayyul bid’ah dan churafat atau TBC. Sehingga tidak sedikit yang mengajak warga NU termasuk para mahasiswa dan kalangan terpelajar untuk “kembali kepada al-Qur’an”.

Terhadap hal ini, Ketua PC Lembaga Ta’lif wan Nashr (LTN) NU Jombang ini justru mengharapkan para siswa MAN DU untuk meladeni tantangan tersebut. Dengan sedikit berseloroh, Gus Sholihuddin mengatakan bahwa “Yang dimaksud dengan kembali kepada al-Qur’an itu adalah kembali kepada terjemahan al-Qur’an,” tandasnya.

Sebenarnya kalau mau melakukan klarifikasi maupun debat dengan kelompok ini sangatlah mudah. “Mereka tidak memiliki kapasitas untuk mendalami al-Qur’an secara benar dan pandangannya tidak dapat dipertanggungjawabkan,” ungkapnya.

Bedah buku “Landasan Amaliah NU” ini merupakan rangkaian peringatan Nuzulul Qur’an yang sebelumnya diisi khatmil Qur’an dan dilanjutkan buka puasa bersama.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Halaqoh, Pendidikan Mujahidin Cyber

Jumat, 09 Februari 2018

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan

Jakarta, Mujahidin Cyber. Sidang lanjutan kasus penggelapan aset tanah milik Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan terdakwa Salim Muhammad (75) diisi dengan kesaksian oleh 2 orang saksi yang diajukan terdakwa. Salim mengajukan saksi yang meringankan dalam sidang yang dipimpin Heru Pramono SH di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu.

Saksi pertama, H. Luwandi, salah seorang guru, menjelaskan, sekolah di bawah Yayasan Waqfiyah yang dimiliki PBNU itu telah dipindah. Ia mengaku telah menerima uang sebesar Rp 2 Milyar untuk pendirian bangunan dan sewa tanah selama 30 tahun.

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Salim Ajukan Saksi yang Meringankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Salim Ajukan Saksi yang Meringankan



Dalam negosiasi awal, ia meminta dana sebesar Rp 9 Milyar untuk merenovasi bangunan dan pembelian tanah. Namun, akhirnya tercapai kesepakatan sebesar Rp 2 Milyar. Sebenarnya ia masih membutuhkan dana untuk membangun tiga kelas, namun permintaan tersebut tidak dipenuhi oleh Salim.

Saksi kedua, Liacun menjelaskan bahwa ia telah menerima uang sebesar Rp 1.25 Milyar dari Salim untuk pembelian tanah yang dimilikinya.

Kesaksian-kesaksian tersebut menguatkan bukti yang memang sudah ada sebelumnya. Namun, perihal penarikan deposito sebesar Rp 10 Milyar, pembelian rumah di Jalan KS Tubun senilai lebih dari Rp 1.2 M, pembelian rumah di Jalan MT Haryono dan Kedoya yang semuanya tidak ada kaitannya dengan kepentingan Yayasan Waqfiyah NU tidak dijelaskan.

Mujahidin Cyber

Kasus ini bermula dari surat dari Pemerintah DKI Jakarta agar Yayasan Waqfiyah NU yang berlokasi di Kuningan Selatan meminta agar lembaga pendidikan ini dipindah karena lokasi tersebut ditetapkan bukan untuk daerah pendidikan. Dalam prosesnya, terdapat dana yang digunakan tidak sesuai dengan ketentuan yang ada, sehingga PBNU, selaku pemilik yayasan mengajukan tuntutan. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Pendidikan, Pemurnian Aqidah, Internasional Mujahidin Cyber

Jumat, 19 Januari 2018

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Rabat, Mujahidin Cyber?

Rais Syuriah PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah melantik kepengurusan Pengurus Cabang Istlimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko periode 2016-2018. Pelantikan berlangsung di gedung serbaguna KBRI di ibu kota Maroko, Rabat pada Rabu 30 November.?

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Maroko Masuk Kepengurusan PCINU

Pelantikan dimulai pukul 09.00 tersebut dihadiri beberapa ulama Maroko, Nahdliyyin, juga ? Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Maurutinia H.E.D Syarief Syamsyuri beserta jajarannya.?

Pelantikan ini dimulai dengan serah terima jabatan dari ketua PCINU Periode 2014-2016 Kusnadi kepada Ketua PCINU periode 2016-2018 Abdullah Aniq Nawawi. Lalu Pengambilan sumpah jabatan dipimpin langsung Masykuri Abdillah.?

Seperti periode sebelumnya, dalam periode ini pun Pengurus PCINU Maroko tidak hanya diisi warga negara Indonesia. Beberapa ulama terkenal Maroko seperti Dr. Ahmad Roisuni, Dr. Yusuf Kallam, Dr. Nadia Syarqoui, dan Syekh Rodi Genun juga berada dalam jajaran kepengurusan.?

Masykuri Abdillah meminta kepada Nahdliyyin di Maroko untuk terus menjaga paham Islam Ahlussunnah wal-Jamaah dan menegaskan pentingnya belajar setinggi-tingginya. Tak cukup hanya bermodal S1 saja.

Mujahidin Cyber

Duta Besar LBBP RI untuk Kerajaan Maroko merangkap Republik Islam Mauritania mengingatkan kepada organisasi PCINU Maroko untuk terus menjaga hubungan baik dengan KBRI ? Rabat yang sudah terjalin sejak lama.?

Pelantikan ini juga diisi dengan penyerahan buku antologi cerpen “Sepenggal Cerita Di Lorong Pesantren”, yang merupakan 20 cerpen terbaik pilihan PCINU Maroko. Buku ini diserahkan Ketua PCINU Maroko Aniq Nawawi kepada KBRI Rabat sebagai cenderamata sekaligus ucapan terimakasih atas bantuan KBRI Rabat selama ini. Acara yang berlangsung sekitar 120 menit ini kemudian ditutup oleh doa dari ulama Maroko Dr. Yusuf Kallam. (Sirojudin Ahmad/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Pendidikan, AlaSantri Mujahidin Cyber

Sabtu, 13 Januari 2018

Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Qiyamah

Pagi dan sore merupakan waktu di mana warga bumi sibuk. Pagi ialah waktu matahari mengintip. Lazimnya orang-orang mengawali aktivitas. Sementara sore kawanan burung bergegas pulang. Dan orang-orang membawa pulang keletihannya seharian.

Namun demikian, dua waktu ini bisa diisi dengan wiridan singkat yang diharapkan memberikan manfaat besar. Tentu pahala penting, tetapi siapa berani menyalahkan Allah bila Dia hendak memberikan anugerah-Nya kepada hamba yang dikehendaki.

Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Qiyamah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Qiyamah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Qiyamah

Bujairimi dalam Hasyiyah alal Iqna’ menceritakan pengalaman Imam Hanafi RA yang melihat Allah SWT dalam mimpi. Ketika sudah 99 kali bermimpi melihat Allah, Imam Hanafi RA berencana menanyakan sebuah amal yang menyelamatkan seorang hamba dari siksa dahsyat hari Qiyamah. Allah kemudian menjawab pertanyaan sang Imam RA di mimpinya yang ke-100.

Mujahidin Cyber

? ? ?: ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ?. ? ? ? ?.

Mujahidin Cyber

Allah berfirman, “Siapa saja yang membaca di pagi dan sore ‘Subhanal abadiyyil abad, subhanal wahidil ahad, subhanal fardis shomad, subhana man rofa’as sama’a bi ghoiri ‘amad, subhana man basathol ardho ‘ala ma’in jamad, subhana man khalaqol khalqo wa ahshohum ‘adad, subhana man qosamar rizqo wa lam yansa ahad, subhanal ladzi lam yattakhidz shohibatan wa la walad, subhanal ladzi lam yalid wa lam yulad wa lam yaqul lahu kufuwan ahad’, maka akan selamat dari siksa-Ku.” Demikian disebutkan oleh penulis Mu’jamul Ahbab.

Sepadat apapun, kita sebaiknya tidak membiarkan pagi dan sore meluncur tanpa mengucapkan pujian tasbih ini. Untuk menambah manis pagi dan sore, perlu juga menebarkan senyum kepada sesama makhluq. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan Mujahidin Cyber

Senin, 08 Januari 2018

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran

Bojonegoro, Mujahidin Cyber



Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Bojonegororo menggelar roadshow Sastra Plataran untuk yang ketujuh kalinya, Kamis, (25/5) di Pendopo Kabupaten Bojonegoro.?

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran

Acara yang mengangkat tema Merajut Kebangsaan Meneguhkan NKRI ini dihadiri ratusan undangan.

Turut hadir dalam acara, Ketua PCNU Bojonegoro, Kholid Ubed, Bupati Bojonegoro, Suyoto, Kapolres Bojonegoro; Ketua FKUB, dan beberapa tamu undangan lainnya. Selain itu tampak juga beberapa seniman Bojonegoro yang tergabung dalam Kelompok Seniman Muda Bojonegoro (KSMB).

Roadshow Sastra Plataran ini diawali dengan tampilan dari Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) Cabang Bojonegoro.?

Dalam sambutannya, Fauzi, selaku Ketua Lesbumi Bojonegoro mengatakan bahwa selama ini sastra plataran telah rutin dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk baca puisi ini menghadirkan puisi-puisi karya sastrawan ternama, seperti Gus Mus, WS Rendra, dan Emha Ainun Najib.

Mujahidin Cyber

Di tempat yang sama, Kang Yoto--sapaan akrab Bupati Bojonegoro--juga sempat membacakan puisi dengan judul Ketika Kata Tak Lagi Menjadi Sakti. Selain itu, Kapolres Bojonegoro, ketua PD Muhammadiyah, Ketua FKUB juga turut serta membacakan puisi. Ketua PCNU Bojonegoro, Kholid Ubed juga tak mau kalah dengan ikut membacakan sebuah puisi berjudul Menjaga Indonesia.

Mujahidin Cyber

Acara yang ditutup dengan lagu Padamu Negeri menjadi pelengkap dalam acara roadshow sastra plataran bulan ini. [Muhajir/Mukafi Niam]

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan Mujahidin Cyber

Selasa, 02 Januari 2018

Pertukaran Pemuda Internasional GP Ansor di Mata Peserta Asal Belanda

Jakarta, Mujahidin Cyber. Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor (PP GP Ansor) kembali menggelar agenda Pertukaran Pemua Antarbudaya. Kali ini, ada delapan puluh lima peserta yang berasal dari dua puluh tiga negara.?

Diantara sekian peserta, ada yang cukup mencuri perhatian karena tinggi badannya yang di atas rata-rata orang Asia dan berambut pirang. Xander Laurence V.C namanya. Seorang peserta dari negeri kincir angin, Belanda.

Pertukaran Pemuda Internasional GP Ansor di Mata Peserta Asal Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertukaran Pemuda Internasional GP Ansor di Mata Peserta Asal Belanda (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertukaran Pemuda Internasional GP Ansor di Mata Peserta Asal Belanda

Awalnya, ia mendapatkan info tentang agenda ini dari temannya yang membagikan info tersebut kepadanya. Lalu kemudian ia mendaftarkan diri dan diterima sebagai peserta. Ia mengaku sudah memiliki persiapan yang matang dalam menjalani setiap acara dalam agenda ini.

“Saya memiliki minggu-minggu yang sibuk untuk mempersiapkan diri mengikuti acara ini,” kata Xander selepas mengikuti Perayaan Pembukaan Global Intercultural Youth Exchange dengan tema Strengthening Global Bond for A Better World di Jakarta, Kamis (19/5).

Dengan mengikuti agendanya itu, mahasiswa Universitas Indonesia itu berharap, ia bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai negara dengan agama dan budaya yang berbeda-beda.?

Mujahidin Cyber

“Saya berharap bisa bertemu banyak orang di sini. Melewati batas-batas negara dan sekat yang ada di antara kita,” ujar laki-laki yang mengaku baru bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit itu.

Selama ini, ia mengaku fokus untuk bertemu dan bergabung dengan orang-orang di luar negaranya untuk menjelaskan batas-batasnya.?

Mujahidin Cyber

Rencananya, ada dua kota yang akan dijelajahi oleh peserta Global Intercultural Youth Exchange, yaitu Kebumen dan Yogyakarta. Di Kebumen, mereka akan mengunjungi Pondok Pesantren Al Kahfi, sementara di Yogyakarta mereka akan mengeksplorasi kota budaya tersebut dan dijadwalkan bertemu dengan Sri Sultan. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, Santri Mujahidin Cyber

Jumat, 29 Desember 2017

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pekalongan, Mujahidin Cyber. Bangunan megah dua lantai di atas lahan seluas 6.728 meter persegi Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan, Ahad kemarin (7/11) diresmikan penggunaannya oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah Drs H Mohammad Adnan, MA.

Gedung yang diberi nama Gedung Aswaja merupakan bangunan tahap pertama dari dua tahap yang direncanakan. Dimana pada tahap pertama ini yang sudah selesai dibangun ruang pengelola, ruang rapat mini dan sedang. Kemudian sarana pendukung berupa kantor unit usaha simpan pinjam syariah BMT SM NU dan kafe santri serta fasilitas area parkir.

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Gedung Aswaja Kota Pekalongan Diresmikan Penggunaannya

Pembangunan tahap kedua berupa gedung pertemuan berkapasitas 2000 kursi yang terletak di belakang bangunan induk saat ini masih dalap tahap proses pengerjaan pondasi.

Mujahidin Cyber

Ketua PWNU Jateng sangat berharap gedung aswaja tidak sekedar untuk tempat rapat maupun pertemuan berskala besar, akan tetapi lebih dari itu gedung aswaja harus menjadi pusat penanaman nilai nilai aswaja, khususnya kepada generasi muda yang saat ini menjadi sasaran empuk kelompok teroris.

"Gedung Aswaja harus bisa menjadi benteng terhadap maraknya kelompok aliran keras yang didengungkan oleh para teroris," ujarnya.

Mujahidin Cyber

Dikatakan, PCNU dan warga Nahdliyyin Kota Pekalongan patut berbangga atas usaha keras pengurus dalam merealisasikan bangunan Gedung Aswaja yang cukup megah ini. Pasalnya, PWNU Jateng saja hanya memiliki bangunan di atas lahan seluas 3000 meter persegi, sedangkan kantor PCNU Kota Pekalongan dua kali lipatnya.

Tentu, yang terpenting adalah bagaimana memikirkan biaya operasionalnya dan mengisi kegiatan gedung aswaja untuk kepentingan dan kemaslahatan ummat, ujar Adnan.

Gedung Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dimiliki Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan harus bisa menjadi sarana pelatihan dan pendidikan akhlak yang saat ini sedang krisis di kalangan generasi muda.

Jika ini bisa dilakukan, maka Kota Pekalongan akan dijadikan barometer dalam pembangunan akhlaq yang berbasis ajaran aswaja, dan PCNU PCNU yang lain harus bisa mencontohnya.

Lebih lanjut dikatakan, ideologi yang dibawa para teroris yang beraliran keras, sangat tidak tepat diterapkan di bumi Indonesia yang cinta damai. Maka sikap toleran, kebersamaan dan keadilan yang menjadi ciri khas ajaran aswaja harus bisa diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Adnan, nama Gedung Aswaja membawa konsekuensi dalam bentuk kegiatan yang kongkrit dalam pembinaan ummat. Karena sikap sikap yang dikembangkan Nahdlatul Ulama secara prinsip beriringan dengan kebijakan pemerintah dalam menata masyarakat agar lebih baik dalam kehidupan sehari hari.

Acara peresmian yang ditandai dengan pengguntingan pita dihadiri oleh utusan Pengurus Ranting NU dan Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU se Kota Pekalongan. Kemudian Pengurus cabang, Badan Otonom, lembaga dan lajnah tingkat cabang serta tamu undangan seperti Damndim 0710, Wakapolres Pekalongan Kota serta puluhan tamu undangan lainnya.

Momentum peresmian gedung aswaja sekaligus dimanfaatkan PCNU untuk menggelar musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) ke - 2 NU Kota Pekalongan tahun 2010. Beberapa agenda yang terkait dengan pengembangan gedung aswaja menjadi bahasan pokok dalam muskercab tersebut. Pasalnya, pembangunan gedung yang menghabiskan dana hingga milyaran rupiah belum termasuk rencana pembangunan gedung pertemuan.

Di samping itu, konsolidasi organisasi juga menjadi materi bahasan terkait adanya beberap ranting yang sampai saat ini belum melakukan reformasi pengurus, meski SK nya telah kedaluwarsa. Ditargetkan akhir 2010 ini masalah konsolidasi dapat tuntas dan rencana pelatihan manajemen pengurus yang dijadwalkan pada awal 2011 nanti bisa segera digelar.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Pekalongan H. Mohammad Bowo Leksono, SH., MM dalam  sambutannya mengatakan, warga nahdlliyin Kota Pekalongan harus jeli menangkap peluang terhadap program program pemerintah yang digulirkan, sehingga peran pembangunan masyarakat tidak saja menjadi kewajiban pemerintah saja, akan tetapi ada peran peran dari masyarakat yang harus dijalankan, sehingga bisa seiring dan sejalan

Bowo mengatakan, DPRD bersama Pemerintah Kota Pekalongan siap membantu berbagai kesulitan yang dialami Nahdlatul Ulama, termasuk terhadap persoalan penyelesaian pembangunan gedung pertemuan yang saat ini baru berupa pondasi.

Meski tidak sebesar tahun lalu, paling tidak bantuan ini dapat meringankan beban panitia pembangunan yang harus merogoh kocek tidak kurang dari 1,9 milyar untuk menyelesaikan pembangunan gedung pertemuan. (iz)

Hadir dalam acara pembukaan selain Ketua PWNU Jawa Tengah, juga Ketua DPRD Kota Pekalongan HM. Bowo Leksono, Anggota DPRD Kota Pekalongan mantan anggota dewan, sesepuh NU dan mantan aktifis NU, Rais dan Ketua PCNU Batang, Kabupaten Pekalongan dan Pemalang serta utusan dari lembaga, lajnah, banom NU Cabang dan utusan dari  WC Ranting NU se Kota Pekalongan. (iz)Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian, Pendidikan Mujahidin Cyber

Selasa, 19 Desember 2017

Mahasiswa Baru NU, dari Ijazahan Wirid hingga Sepakbola Api

Tangerang, Mujahidin Cyber. Di tahun ketiga, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten, akan melaksanakan kegiatan orientasi mahasiswa baru pada Sabtu-Minggu, 24-25 September 2016 di kampus setempat.

Mahasiswa Baru NU, dari Ijazahan Wirid hingga Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Baru NU, dari Ijazahan Wirid hingga Sepakbola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Baru NU, dari Ijazahan Wirid hingga Sepakbola Api

HM. Qustulani, Wakil Ketua Bidang Akademik STISNU Nusantara memaparkan bahwa masa orientasi mahasiswa baru (Momru) akan diisi dengan beberapa kegiatan, di antaranya pengenalan akademik, ijazah awradul basyariyah dari kiai khos, penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan beberapa perusahaan syariah serta notaris, Lailatul Ijtima, sepakbola api, aksi damai NKRI, pengambilan sumpah setia terhadap Nahdlatul Ulama, dan Mapaba PMII.

"Rencananya pagi, pengenalan kampus NU Tangerang, dan MoU dengan PT SBL terkait Manajemen Bisnis Berbasis Syariah, juga dengan notaris Abdul Azis, M.Kn terkait praktium dan pengembangan skill aplikatif mahasiswa," ujarnya, Jumat (23/9).

Mujahidin Cyber

"Malam,? lailatul ijtima. Diisi dengan dzikiran dan tawassulan dipimpin oleh KH. M. Mahrusillah, dilanjutkan dengan nasihat dan ijazah dari murabbi ruh STISNU Nusantara Abah Kiai Aliyuddin Zen Pandawa. Setelah itu, mahasiswa akan praktikum debus Banten dan bermain bola api. Di sepertiga malam, mereka (mahasiswa baru) akan diambil sumpah setiannya terhadap Nahdlatul Ulama. Tujuannya, STISNU istiqamah bersama tradisi shaleh ulama dalam tradisi akademik," kata Qustulani.

Terakhir, minggu pagi, diisi dengan kegiatan aksi damai car free day untuk NKRI dan Pancasila serta Islam Nusantara bersama komunitas pemuda Tionghoa, Nasrani, Hindu dan lain lain. Setelah itu, dilanjutkan kegiatan Mapaba PMII.

Mujahidin Cyber

Mahasiswa STISNU Nusantara diharapkan jadi basis atau laboratorium pengaderan generasi muda NU. “Harapannya ketika lulus mereka tidak hanya menjadi alumni dengan bergelar sarjana, akan tetapi mereka punya beban dan tanggungjawab membumikan Nahdlatul Ulama di daerahnya masing-masing,” tambahnya.

Hasanudin Petoy, ketua panitia Momru 2016 menambahkan bahwa tema kegiatan kali ini adalah Jawara Nahdlatul Ulama. Jawara artinya jujur, adil, berwibawa, agamis, religius dan akuntabel.

Pada acara tersebut diagendakan kegiatan pembuatan Kartanu (kantru tanda anggota NU) massal? khusus mahasiswa NU Tangerang Raya oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Tangerang Raya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Budaya, Pendidikan Mujahidin Cyber

Rabu, 13 Desember 2017

NU Sulsel Ditantang Majukan Pendidikan NU

Makassar, Mujahidin Cyber. Pukul 14.00 (6/6/2013) Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhud tiba di Makassar, dijemput langsung oleh Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel Iskandar Idy dan Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Dr Ir Hj Majdah Agus Arifin Numang. 

NU Sulsel Ditantang Majukan Pendidikan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sulsel Ditantang Majukan Pendidikan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sulsel Ditantang Majukan Pendidikan NU

Setiba di kampus ia langsung diantar memasuki ruangan aula Universitas Islam Makassar yang sudah penuh diisi oleh para Pengurus Wilayah NU Sulawesi Selatan, Pejabat UIM, para Ketua Lembaga, Lajnah, dan Banom PWNU Sulawesi Selatan.

Sebelum prosesi pelantikan pukul 15.00 di UIM, PWNU Sulsel menggelar diskusi dan masukan dari Sekjen untuk PWNU Sulsel, UIM, Lembaga, Lajnah, dan Banom PWNU Sulawesi Selatan. 

Mujahidin Cyber

Dalam arahannya Sekjen PBNU mengatakan, “PWNU Sulsel ditantang untuk berkonsentrasi memajukan pendidikan NU di Sulawesi Selatan dan memberikan masukan untuk setiap cabang NU Sulsel untuk mendirikan sekolah dan pesantren untuk mengembangkan paham Aswaja”.

Menanggapi arahan Sekjen PBNU, dalam sambutan Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel mengatakan dalam kurung waktu 3 hari akan membangun SMK NU dan membangun kantor baru PWNU Sulsel dilahan Kantor NU yang sekarang. 

Mujahidin Cyber

“Hal ini sebagai tanggung jawab amanah dari masyarakat Nahdliyin dan PCNU se-Sulawesi Selatan,” tuturnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Andi Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, Kajian Islam, Sunnah Mujahidin Cyber

Sabtu, 02 Desember 2017

Semangat Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Sejak Dini

Denpasar, Mujahidin Cyber. Alm. KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur secara tegas menyatakan, “Tidak penting apapun agama atau sukumu, karena orang lain tidak akan pernah tanya apa agamamu kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang." Dari ungkapan tersebut dapat diambil sebuah pesan moral akan pentingnya sebuah pengorbanan dan pengabdian untuk  orang lain dan masyarakat.

Semangat Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Membaca dan Mengamalkan Al-Qur’an Sejak Dini

Dengan semangat mengamalkan petuah “sang guru” bangsa tersebut, pada hari Sabtu, 21 November 2015 sejumlah mahasiswa dan dosen penerima beasiswa kursus superintensif bahasa Inggris MoRA scholarship 2015 (Awardee MoRA Scholarship) di Indonesia-Australia Language Foundation (IALF) Denpasar menyelenggarakan kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat di yayasan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Al-Huda Jimbaran Bali. 

Syahdan, Bali merupakan salah satu provinsi di Indonesia dimana Islam merupakan agama minoritas, tercatat jumlah penganut agama Islam adalah 13,37 persen atau setara 520.244 jiwa (Bimas Kemenag RI). Mayoritas penduduk Bali beragama Hindu, sehingga menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi umat Islam selaku kaum minoritas untuk bisa berbaur dengan umat mayoritas lainya dengan nuansa toleransi yang indah.

Mujahidin Cyber

Kegiatan “Bali Mengaji, Dari Santri untuk Negeri” yang digagas oleh para penerima beasiswa kursus bahasa Inggris MoRA Scholarship 2015 diharapkan mampu menjadi salah satu jawaban untuk mewujudkan kehidupan beragama yang toleran. Secara umum, kegiatan yang dilaksanakan pada sore hari hingga menjelang maghrib ini berupa pengajian singkat dan berbagi motivasi dan inspirasi dari awardee MoRA scholarship kepada para peserta  yang mayoritasnya merupakan santri TPQ yang masih berumur dini rentang 4-10 tahun. Hal ini dirasa penting mengingat optimalisasi pendidikan agama dan karakter bagi anak usia dini adalah sebuah keniscayaan guna menyiapkan generasi cerdas dan handal yang akan menopang kemajuan peradaban Islam di masa mendatang.

Mujahidin Cyber

Ahmad Romzi, selaku ketua penyelenggara menegaskan, tujuan utama diselenggarakan acara ini adalah untuk membumikan semangat membaca dan mengamalkan Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak hanya untuk dibaca tetapi juga untuk diamalkan, karena salah satu spirit yang ditanamkan Al-Qur’an adalah rahmatan lil alamin, toleransi dan saling menghargai satu sama lain, dan pesan moral semacam ini sudah harus ditanamkan dalam benak anak sedini mungkin, tegasnya.

Lebih jauh lagi, I’anatul Avifah, awardee MoRA scholarhsip asal UIN Sunan Ampel Surabaya, menyatakan, program positif semacam ini harus terus dilakukan dan dikembangkan. “Saya kira, program ini juga menjadi salah satu indikator ‘keseriusan’ penerima beasiswa pendidikan bahasa asing MoRA Scholarship 2015, yang juga merupakan ‘santri’ di sejumlah pesantren dan perguruan tinggi Islam di tanah air untuk kembali mengabdi pada lembaga pendidikan Islam, baik pesantren maupun perguruan tinggi Islam di kemudian hari,” ucapnya. (Dito Alif Pratama/Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Amalan, Pendidikan Mujahidin Cyber

Sabtu, 25 November 2017

Melawan Narasi ISIS

Oleh Azis Anwar Fachrudin?



Bagaimana melawan ISIS secara kultural agar upaya mencegah berkembangnya bibit-bibit kekerasan dan terorisme atas nama agama bukan hanya agenda pemerintah tapi juga publik secara umum? Jawabannya tak lain adalah dengan mengidentifikasi ideologi dan melawan narasi yang dibangun ISIS. Dalam hal ini, ada dua jenis narasi ISIS yang patut diidentifikasi: narasi ideologis dan narasi politis.

Melawan Narasi ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Melawan Narasi ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Melawan Narasi ISIS

Ideologi penting karena ia punya kontribusi sepertiga, kalau bukan malah setengah, dari faktor yang? berkontribusi terhadap kemunculan ISIS. Dalam studi agama dan kekerasan (religious violence), biasanya dikaji tiga faktor yang ketika terakumulasi akan membuat (pemeluk) agama mengalami “radikalisasi” dan rentan memilih jalan kekerasan: (1) ideologi; (2) sosial-ekonomi-psikologi; dan (3) faktor yang dikembangkan dalam teori gerakan sosial, yaitu “struktur kesempatan politik” (political opportunity structure).

Hanya saja, dalam kasus ISIS faktor kedua tampaknya kurang begitu berpengaruh—meski tak berarti tak ada sama sekali. Banyak pasukan asing ISIS justru berasal dari Eropa, yang jauh lebih banyak jumlahnya jika dibanding Indonesia. Tak sedikit pula dari mereka yang bergabung dengan ISIS justru berasal dari kalangan menengah bahkan kaum muda terdidik. Artinya, mereka yang bergabung ini bukan dari kelas sosial marginal atau ekonomi bawah.

Karena itu, di samping ideologi, faktor lain yang kuat berpengaruh adalah struktur kesempatan politik. Analisis tentang ini bertesis bahwa pilihan untuk mendukung dan/atau melakukan kekerasan sangat bergantung pada gelanggang aksi (“repertoire”) yang dikondisikan oleh konteks politik setempat. ISIS bisa tumbuh subur karena diamplifikasi konteks politik tempat lahirnya: rezim Suriah yang represif (setidaknya bagi kaum pemberontak/oposisi), rezim Irak yang dipandang loyalis Saddam dan beberapa kelompok Sunni sebagai sektarian, dan kondisi politik setempat yang kacau-balau (chaotic) sebagai imbas dari fenomena yang disebut “Musim Semi Arab” (ar-Rabi’ al-‘Arabiy). Tamsilnya kira-kira seperti pegas: semakin suatu rezim politik menekan kuat ke bawah, daya balik ke atas untuk memberontak semakin kuat dan pilihan untuk melakukan kekerasan semakin terjustifikasi.

Hal yang terakhir ini turut menjadi penjelesan mengapa pasokan jihadis ISIS dari Indonesia, sebagai negara (relatif) demokratis dengan penduduk Muslim terbesar sedunia, sebenarnya sangat sedikit bila dibanding negara-negara mayoritas Muslim lainnya. Penjelasan inilah yang belum lama diangkat dan diulas dalam “Why are so few Indonesians joining the Islamic State” (www.theatlantic.com).

Mujahidin Cyber

Mengamini penjelasan ini, semakin suatu rezim represif dan kondisi politik kacau-balau, potensi untuk munculnya ISIS dan gerakan serupa semakin besar. Karen itu, Indonesia selayaknya menjaga alam demokrasi agar aspirasi bisa tersalurkan melalui jalan yang beradab dengan, tentu saja, tetap menjaga kekuatan pengawal keamanan dan keterjaminan kebebasan sipil.



Wahhabisme dan Qutbisme

Terkait perlawanan terhadap narasi ideologis, hal pertama yang jelas teridentifikasi dari ISIS adalah akar teologisnya. Secara teologis, sulit untuk menampik bahwa ISIS merupakan percabangan (ramification) dari Wahhabisme. Ini sangat jelas, terutama bila melihat beberapa selebaran (baik pamflet atau booklet) yang dipublikasikan ISIS sendiri.

Mujahidin Cyber

Salah satu pamflet ISIS yang menjadi semacam manifesto teologisnya, yakni? Hadzihi ‘Aqidatuna wa Hadza Manhajuna (Ini Akidah Kami dan Ini Jalan Kami), menunjukkan indikasi kuat ke arah itu: kebencian terhadap kuburan, patung (yang dianggap berhala), praktik-praktik tradisional (yang dianggap syirik), pemerintahan yang mengadopsi sistem politik sekuler (yang disebut thaghut) dan, tak kalah penting, Syiah (yang diangap kafir). Ini semua karakter tipikal—meski tak seluruhnya—Wahhabisme. Agaknya tak berlebihan kalau dikatakan bahwa ‘DNA’ Wahhabisme memang anti-Syiah, sehingga di mana Wahhabisme tumbuh subur, narasi anti-Syiah akan menguat.

Namun ISIS bukan semata Wahhabisme. Dalam ranah teologi-politik, ISIS adalah racikan antara Wahhabisme dan Qutbisme. Yang terakhir ini terkenal dengan ide tentang “jahiliyah modern” dan dipancangkan dasarnya oleh Sayyid Qutb, figur yang acap disebut meradikalkan satu faksi dalam Jama’ah al-Ikhwan al-Muslimin dan membidani gerakan ‘salafi-jihadi’ seperti al-Qaeda. Qutbisme membagi dunia menjadi dua saja: negara Islam (darul-Islam) dan negara kafir (darul-kufr). Dengan pondasi Qutbisme ini ISIS bercita-cita mendirikan khilafah global, melintasi sekat-sekat negara modern, dan mendeklarasikan perang kepada siapapun selainnya.

Hal yang terakhir ini juga terindikasi kuat dari salah satu booklet ISIS yang berjudul Muqarrar fit-Tauhid (Buku Daras Tauhid). Satu konsep kunci dalam booklet ini adalah ideologi “nawaqidh al-Islam” (hal-hal yang membatalkan keislaman), yang berisi 10 poin, yang jika seorang Muslim menyentuh satu saja dari 10 poin itu maka dia otomatis kafir, auto-murtad, dan karena itu layak diperangi. Satu catatan penting dalam hal ini: Muhammad ibn Abdil Wahhab, pengasas Wahhabisme itu, punya risalah kecil dengan judul yang sama, “Nawaqidh al-Islam”, yang 10 poin isinya diadopsi dengan sedikit modifikasi oleh ISIS—di samping juga risalah kecil berjudul “Masa’il Jahiliyyah”, yang dipublikasikan ISIS dengan subjudul yang mengarahkan makna “jahiliah” di situ kepada “jahiliah kontemporer” (jahiliyyah al-‘ashr), yakni apalagi kalau bukan ide-ide sekuler seperti demokrasi, HAM, dll. Di antara yang bisa masuk dalam 10 poin itu ialah: para penghina Islam dan Nabi Muhammad (ingat kasus Charlie Hebdo di Perancis), para pemimpin yang mengadopsi ideologi sekuler (dan karena itu masuk dalam kategori darul-kufr), dan Syiah-Rafidhah (dengan dakwaan klasik: mencaci para Sahabat Nabi).

Ideologi “pembatal keislaman” inilah yang pada gilirannya membuat ISIS membuat distingsi antara “musuh jauh” (al-‘aduww al-ba’id) dan “musuh dekat” (al-‘aduww al-qarib)—di sinilah signifikansi Qutbisme. Musuh jauh adalah yang sejak awal sudah ‘kafir’ (bagi ISIS semua non-Muslim adalah kafir). Musuh dekat adalah Muslim yang menyentuh salah satu poin “pembatal keislaman” itu. Distingsi ini turut menjelaskan mengapa mayoritas korban ISIS justru adalah Muslim, yakni karena dianggap sebagai musuh dekat.

Kategorisasi “musuh dekat”-“musuh jauh” dapat ditemukan muasalnya, antara lain, dari buku kecil berjudul “Al-Jihad: al-Faridhah al-Ghaibah” (Jihad: Kewajiban yang Hilang) ditulis Muhammad Abdus-Salam Faraj, otak serangan asasinasi Presiden Mesir Anwar Sadat pada 1981. Narasi yang dibangun di buku kecil itu berupa analogi, seraya mengutip fatwa Ibn Taimiyyah, dengan rezim Tartar (Mongol) yang telah menginvasi dan meluluhlantakkan Baghdad dan dianggap menjajah umat Islam pada abad pertengahan lalu. Fatwa Ibn Taimiyah saat itu kurang lebih ialah siapapun yang mengaku Muslim tapi berdamai atau mengungkapkan dukungan (muwalah) terhadap rezim Tartar, maka dia hakikatnya zindiq dan layak diperangi. Dengan analogi ini, Presiden Sadat dianggap kafir karena telah melakukan perjanjian damai Camp David dengan Israel,? yang disamakan belaka dengan mereka yang ber-muwalah pada rezim Tartar di zaman Ibn Taimiyah. Karena inilah lalu Presiden Sadat dibunuh oleh Khalid Islambouli dari kelompok al-Jihad al-Islamiy. Abdus-Salam Faraj, ideolog al-Jihad al-Islamiy, terinsipirasi kuat oleh Sayyid Qutb, dan karena inilah apa yang disebut “salafi-jihadisme” kerap ternisbahkan padanya dan disebut pula Qutbisme.

Demikianlah ringkasan substansi ideologi ISIS—lebih jauh, Anda bisa menelusurinya dengan melacak tokoh-tokoh di atas serta tulisan-tulisannya. Setiap narasi keislaman yang mengacu ke ideologi itu adalah indikator yang potensial menjadi lahan persemaian ISIS.

Sektarianisme

Secara politis, narasi yang dikembangkan ISIS adalah mengeksploitasi kasus Timur Tengah, terutama di Suriah, yang dibingkai sebagai perang Sunni-Syiah. Narasinya: rezim Assad adalah representasi kejahatan Syiah dan ISIS adalah pejuang pembela Sunni. Kekacauan politik di Suriah dinarasikan ISIS dengan bungkus sektarian untuk mendapat simpati massa Muslim dari gerakan-gerakan lain yang memiliki kecenderung politik yang sama dengan ISIS: menjatuhkan rezim Assad. Framing seperti inilah yang diimpor ke mana-mana, tak terkecuali ke Indonesia.

Ideologi “takfiri” dan jihadisme ala ISIS bisa tumbuh subur ketika lahan sektarianisme “permusuhan abadi Sunni-Syiah” sudah disemai terlebih dahulu. Metode semacam ini cukup terkonfirmasi bila kita membaca antara lain buku Idarah al-Tawahhusy (Manajemen Brutalisme), karya orang yang menyebut dirinya Abu Bakar Naji, yang menjadi panduan strategis ISIS untuk masuk ke lahan baru. Tahapannya secara ringkas: kobarkan kekacuan politik (terutama di kawasan yang rezimnya lemah), buat umat Islam merasa terkepung, lalu datang sebagai ‘penyelamat’. Dalam konteks hari ini, salah satu isu yang paling gampang untuk mengobarkan chaos di kawasan mayoritas Muslim tapi rezimnya lemah adalah isu sektarianisme. Di Indonesia, hal ini sudah terjadi, meski eskalasinya belum—dan semoga tidak sampai—separah di Timur Tengah; yakni dengan adanya satu-dua pemerintah lokal yang jatuh ke dalam kubangan politik sektarian.



Begitulah dua narasi utama ISIS, secara ideologis (Wahhabisme dan Qutbisme) dan politis (sektarianisme). Melawan ISIS secara kultural, baik oleh ormas keislaman moderat maupun masyarakat Indonesia secara umum, bisa dimulai dengan mengidentifikasi kemudian melawan narasi itu. Langkah pertama antara lain dengan memperkuat narasi tandingan sebagai antidote-nya, yakni narasi anti sektarianisme, yang bisa dilakukan antara lain dengan memperkuat upaya pendekatan (taqrib) Sunni-Syiah. Kalau terwujud, ini bisa menjadi narasi tandingan dengan pesan kultural yang kuat. Tapi kalau tidak, dan malah memilih memanas-manasi sengketa sektarian yang sudah berusia berabad-abad ini, bibit “ISIS-isme” masih mendapat lahan subur untuk ditanami.?



Mahasiswa S2 Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, News, Kyai Mujahidin Cyber

Sabtu, 11 November 2017

Inilah Gambaran Kondisi Manuskrip Keagamaan Nusantara di ASEAN

Jakarta, Mujahidin Cyber. Studi Preservasi Manuskrip Keagamaan di ASEAN (Preservation Study of Nusantara’s Religious Manuscripts in the ASEAN countries (Malaysia, Thailand, Singapura, dan Brunei) oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan (LKK) Kementerian Agama RI pada 2015 menemukan, manuskrip keagamaan Nusantara masih banyak tersebar di negara-negara Asia Tenggara. Keadaannya sangat bervariasi, sebagian sudah ditangani secara baik dan sebagian yang lain masih dalam kondisi yang tidak terpelihara.?

Selama penelitian tersebut, total manuskrip dari keempat negara yang berhasil diidentifikasi mencapai lebih dari 1500 manuskrip. Pada umumnya empat negara ini memiliki perhatian terhadap penyelamatan manuskrip keagamaan melalui pemerintah serta masyarakat setempat, terutama lembaga-lembaga yang diberikan amanah untuk menjaganya.?

Inilah Gambaran Kondisi Manuskrip Keagamaan Nusantara di ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Gambaran Kondisi Manuskrip Keagamaan Nusantara di ASEAN (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Gambaran Kondisi Manuskrip Keagamaan Nusantara di ASEAN

Di Malaysia dan Brunei, penyelamatan telah dilakukan dengan cara membeli naskah yang ada di sekitarnya, termasuk wilayah Indonesia dengan harga yang tinggi. Banyak sekali manuskrip Indonesia yang ditemukan di negara Malaysia dan Brunei Darussalam. Kedua negara tersebut, melakukan pemeliharan manuskrip dengan “baik”, dengan menggunakan alat-alat teknologi canggih. Demikian juga dengan Singapura, penanganan manuskrip juga sudah dalam bentuk digital. Layar sentuh disajikan kepada pembaca untuk menggali informasi di dalam masnukrip yang disediakan.?

Sementara Thailand (Pattani), sangat disayangkan, naskahnya masih belum cukup dan layak perlakuan terhadapnya sehingga keadaannya memperihatinkan dan mengkhawatirkan. Belum lagi masih banyak naskah yang berada di tangan masyararakat yang disimpan secara pribadi tetapi kurang terpelihara dengan baik. Manuskrip di Pattani belum dikatalogkan, apalagi untuk kajian secara intensif dalam hal menggali pengetahuan yang ada di dalamnya.?

Pada umumnya manuskrip yang menjadi koleksi negara Malaysia dan Brunei adalah sebagian besar berasal dari negara tetangganya, terutama Indonesia. Mereka mendapatkannya dengan cara melacak terlebih dahulu kepada broker-brokernya, setelah itu mereka beli dengan harga yang tinggi.?

Mujahidin Cyber

Hasil penelitian mengungkapkan, banyak manuskrip Indonesia yang dibeli Malaysia yang berasal dari wilayah Aceh. Mereka masih akan datang ke Aceh untuk membeli manuskrip-manuskrip Aceh secara besar-besaran pada naskah yang masih tersebar di masyarakat. Selain itu, manuskrip juga berasal dari wilayah mereka sendiri namun dalam jumlah yang sedikit. Di Brunei, misalnya, ditemukan juga koleksi naskah dari Srilanka dan Borneo. Sementara Pattani, koleksi naskahnya adalah dari leluhur mereka yang berawal dari Syekh Daud al-Pattani. Para ulama dan penulis setelahnya banyak memproduksi manuskrip-manuskrip Nusantara yang isinya tentu sangat berguna bagi generasinya dan generasi sesudahnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, Pemurnian Aqidah Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber

Sabtu, 28 Oktober 2017

Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri

Jakarta, Mujahidin Cyber. Permasalahan tanah, hutan desa dan kawasan transmigrasi sering kali menjadi polemik dari masa ke masa. Salah satunya adalah permasalahan di bidang legalitas tanah seperti sengketa tanah yang selalu menjadi polemik yang belum dapat diselesaikan dengan tuntas.?

Untuk mengatasi masalah tersebut, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Marwan Jafar membangun nota kesepakatan bersama dengan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya dan Menteri Agraria dan Tata Ruang, Ferry Mursyidan Baldan.

Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Problem Lahan Transmigrasi, Mendes Marwan Tekan MoU dengan Dua Menteri

"MoU ini diharapkan bisa menyelesaikan permasalahan sengketa tanah, penyelesaian persetujuan prinsip pelepasan kawasan hutan pada 354 lokasi di 24 provinsi, tumpang tindih peruntukkan pada 40 lokasi di 31 Kabupaten, penyelesaian hak pengelolaan transmigrasi di 260.982,88 Ha serta masih adanya tunggakan penyelesaian penerbitan sertifikat hak milik 340.940 bidang," ujar Menteri Marwan dalam sambutannya sebelum penandatangan MoU tiga Kementerian di Kantor Transmigrasi, Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (7/5).

Mujahidin Cyber

Program penyediaan lahan sembilan juta hektar yang ditargetkan Presiden, menurut Menteri Marwan diharapkan bisa diprioritaskan untuk masyarakat marginal khususnya para petani.?

"Program ini menjadi harapan besar bagi penduduk di daerah padat yang selama ini tidak mendapatkan akses untuk memanfaatkan, mengelola dan atau memiliki lahan," ujar Menteri Marwan.

Mujahidin Cyber

Distribusi lahan yang berkeadilan, imbuh Menteri Marwan, harus diikuti upaya pengelolaan dan pemanfaatan secara optimal untuk tercapainya produktifitas guna mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas.

"Program penempatan transmigrasi yang telah lebih dari enam puluh tahun diselenggarakan pemerintah dan telah berkontribusi membentuk 2 provinsi, 104 Kabupaten/Kota, 385 Kecamatan dan 1.183 Desa, dapat menjadi salah satu solusi untuk terlaksananya distribusi lahan yang berkeadilan sekaligus mendukung ketersediaan pangan nasional," tandasnya.

Dengan adanya reforma agraria 9 Juta Hektar di bidang redistribusi lahan dan legalisasi aset, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi akan membangun dan mengembangkan kawasan transmigrasi dengan model Satuan Permukiman Baru, Satuan Permukiman Tempatan dan Satuan Permukiman Pugar di daerah tertinggal, perbatasan dan pulau-pulau terluar.

"Kawasan transmigrasi bisa menjadi kawasan yang strategis dan cepat tumbuh dengan berbagai pola usaha yang dikembangan seperti pangan, perkebunan, perikanan dan jasa industri. Untuk itu diperlukan dukungan pelepasan kawasan hutan disamping percepatan penerbitan beban sertifikat hak milik," tandasnya.

Dengan adanya kesepakatan bersama dengan tiga kementerian, Menteri Marwan berharap semua permasalahan terkait dengan kawasan hutan, distribusi lahan, dan sinkronisasi tata ruang bisa cepat selesai.

"Saya berharap semua permasalahan dan beban tugas terkait dengan pencadangan dan perubahan peruntukan kawasan hutan, sinkronisasi tata ruang, distribusi lahan, serta sertifikasi tanah dapat lebih cepat diselesaikan dalam rangka mendukung percepatan pembangunan desa, daerah tertinggal dan transmigrasi," tutupnya. Red: mukafi niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, News Mujahidin Cyber

Kamis, 26 Oktober 2017

PBNU: Gerakan Politik Harus Berasaskan Pancasila

Jakarta, Mujahidin Cyber. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta masyarakat Indonesia untuk mewaspadai gerakan yang berideologi trans-nasional (antar-negara) yang marak belakangan ini. Pasalnya, gerakan dari ideologi tersebut tidak bersumber dari akar budaya Indonesia sehingga berbahaya bagi keutuhan bangsa.

“Seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Al-Qaeda, dan lain-lain. Mereka itu bagian dari international political movement (gerakan politik dunia). Mereka menggunakan agama Islam sebagai ideologi politik, bukan sebagai way of life (jalan hidup),” terang Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi kepada wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Senin (23/4)

Karena itu, menurutnya, jika ideologi dari kelompok-kelompok tersebut diterapkan di Indonesia, maka tidak akan cocok karena tidak lahir dari akar budaya, visi kebangsaan, visi keumatan setempat. Jika dipaksakan, maka akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

PBNU: Gerakan Politik Harus Berasaskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Gerakan Politik Harus Berasaskan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Gerakan Politik Harus Berasaskan Pancasila

Hasyim mengatakan, gerakan ideologi trans-nasional itu mulai kuat menggejala di negeri ini. Di antaranya bisa dilihat dari maraknya peraturan-peraturan daerah yang kuat sekali nuansa agamanya, tidak saja Islam, tapi juga agama lain. “Formalisasi seperti ini mestinya dicegah. Seharusnya yang dilakukan bukan formalisasi, tapi substansialisasi agama,” jelasnya.

Untuk mencegah meluas dan berkembangnya ideologi trans-nasional itu, kata Hasyim, solusinya adalah memantapkan penggunaan ideologi yang berasal dari Indonesia sendiri, yakni Pancasila. “Semua gerakan politik harus berasaskan atau berdasarkan Pancasila, tidak boleh ideologi lain,” pungkasnya.

Mujahidin Cyber

“Bukan bermaksud menyeragamkan seperti Orde Baru, tapi mencegah meluasnya ideologi trans-nasional yang bisa mengancam integritas bangsa. Jangan karena Pancasila itu dianggap produk Orde Baru, lantas kita tidak mau berasaskan Pancasila,” tambah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim, itu.

Khusus bagi Islam sendiri, tambah Hasyim, yang harus dilakukan adalah memperkuat gerakan Islam moderat. Islam moderat, seperti NU, merupakan gerakan yang khas, berasal dan berkembang di domestik Indonesia. “Islam moderat seperti NU adalah domestik nasional,” tandasnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Pendidikan, Internasional Mujahidin Cyber

Minggu, 22 Oktober 2017

Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara

Jombang, Mujahidin CyberPengurus Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Jombang terus berupaya mengurangi jumlah warganya yang mengalami buta aksara. Fatayat NU Jombang mengadakan pelatihan keterampilan menulis, membaca, dan menghitung di Desa Mlaras Kecamatan Sumobito, Jombang, Jumat (7/10).

Hal ini menjadi salah satu tujuan utama dalam kegiatan keaksaraan fungsional (KF) yang digelar Fatayat NU Jombang di Desa Mlaras.

Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara (Sumber Gambar : Nu Online)
Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara (Sumber Gambar : Nu Online)

Langkah Fatayat NU Jombang Berantas Warga Buta Aksara

"Adapun yang disampaikan adalah pembelajaran keterampilan menulis, membaca, dan berhitung," kata Ketua Fatayat Jombang Hj Ema Umiyatul Chusna saat membuka kegiatan tersebut.

Mujahidin Cyber

Menurut Ning Ema, pelatihan keaksaraan yang diikuti oleh puluhan warga itu memiliki kelebihan tersendiri jika dibandingkan dengan pelatihan keaksaraan pada umumnya. Nilai lebih itu terletak pada penambahan materi keagamaan di tengah-tengah acara. Selain diajarkan berhitung, mereka juga diajarkan membaca Al-Quran dan memperdalam beberapa ilmu agama.

Mujahidin Cyber

"Keaksaraan fungsional kita punya nilai lebih karena ada mengajinya, pembelajaran ilmu-ilmu agama, terutama ilmu tentang fiqih," ujarnya.

Di waktu yang sama setelah program keaksaraan fungsional selesai, Ning Ema dan warga binaan Fatayat memberangkatkan 100 TPQ Lansia setempat dalam rangka peringati tahun baru Islam, 1 Muharram 1438 H. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Hikmah, Pendidikan, Cerita Mujahidin Cyber

Senin, 25 September 2017

Senator Kit Bond akan Bicara di PBNU

Jakarta, Mujahidin Cyber. PBNU bekerjasama dengan KBRI Washington DC dan PCINU Amerika Utara akan menyelenggarakan acara diskusi dan dialog dengan Senator Kit Bond pada Selasa, 23 April 2013 mendatang.

Senator Kit Bond akan Bicara di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Senator Kit Bond akan Bicara di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Senator Kit Bond akan Bicara di PBNU

Senator Kit Bond dari Missouri merupakan salah satu “Friends of Indonesia” yang selama masa jabatannya sebagai Vice Chairman of Senate Intelligence Committee, aktif mendukung kepentingan Indonesia di Kongres AS dan menyuarakan peran strategis Indonesia di kawasan Asia Tenggara.?

Kit Bond juga aktif menyampaikan gambaran positif tentang Indonesia baru kepada kalangan masyarakat luas di AS, utamanya mengenai peran Islam moderat dalam mendukung proses transisi demokrasi dan dalam menghadapi ancaman terorisme di tanah air.?

Mujahidin Cyber

Bersama dengan pemenang hadiah Pulitzer, Lewis Simons, Sen. Kit Bond menuliskan buku “The Next Front: Southeast Asia and the Road to Global Peace with Islam”. ? Buku ini menyoroti pendekatan baru dalam menyikapi radikalisme Islam dengan penguatan “smart power”. ?

Mujahidin Cyber

Diskusi dengan Kit Bond akan digelar di ruang pertemuan kantor PBNU, Jl. Kramat Raya No. 104, Jakarta Pusat pukul 17.00 - 18.00 WIB.

Dalam kesempatan itu senator Kit Bond juga akan menerima award dari Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Amerika Utara yang akan diserahkan oleh Rais Suriyah PCINU.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan Mujahidin Cyber

Selasa, 08 Agustus 2017

Sekolah 5 Hari, Pengkhianatan Mendikbud kepada Madrasah Diniyah

Pringsewu, Mujahidin Cyber - Berbagai reaksi muncul dari kebijakan baru Menteri Pendidikan tentang 5 hari sekolah. Model baru alokasi waktu belajar pelajar ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 23 Tahun 2017 yang diterbitkan tanggal 12 Juni 2017.

Menurut Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Prof. Muhammad Mukri, pemberlakuan 5 hari sekolah merupakan kebijakan yang seharusnya diwacanakan terlebih dahulu. Sehingga menurutnya kebijakan ini perlu dipertanyakan motifnya.

Sekolah 5 Hari, Pengkhianatan Mendikbud kepada Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah 5 Hari, Pengkhianatan Mendikbud kepada Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah 5 Hari, Pengkhianatan Mendikbud kepada Madrasah Diniyah

"Kebijakan super strategis kok tidak diwacanakan dulu. Patut dipertanyakn motifnya apa?" ujar Mustasyar PWNU Provinsi Lampung ini, Senin (12/6).

Mujahidin Cyber

Hal ini diamini Prof. Aom Karomani yang juga merupakan Wakil Rektor Universitas Lampung. Ia menegaskan, kebijakan itu tidak mempertimbangkan aspek sejarah dan sosiologis masyarakat.

"Itu (kebijakan 5 hari sekolah) akan mematikan ratusan ribu madrasah," tegasnya.

Mujahidin Cyber

Menurut Wakil Ketua PWNU Provinsi Lampung itu, kebijakan tersebut mengabaikan realitas sosiologis bangsa Indonesia yang secara historis bahwa madrasah sudah lama hadir di tengah tengah masyarakat.

Ia mencontohkan bagaimana sudah lama madrasah di daerahnya yang sudah eksis dan mandiri dalam pengelolaan institusi serta memberikan kontribusi besar dan nyata terhadap pendidikan generasi bangsa.

"Di kampung kami hampir satu abad madrasah dan pesantren itu mandiri tanpa ada bantuan dari negara. Jika pendidikan diniyahnya dimatikan dengan kebijakan Mendikbud tersebut maka lengkaplah pengkhianatan pemerintah terhadap institusi pendidikan tersebut," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa dua institusi pendidikan yaitu sekolah dan madrasah, utamanya di desa-desa, sudah sekian lama berdampingan saling melengkapi untuk mendidik anak anak bangsa. Di pagi hari fokus kurikulumnya pada pendidikan umum dan madrasah di sore hari fokus kurikulum pendidikannya pada agama.

"Jadi di masyarakat pedesaan yang ada madrasah-madrasahnya utamanya seperti itu. Makanya saya menyarankan hendaknya kajian lapangannya secara sosiologis dipertajam. Jadi kita tidak berbicara sektoral atau parsial apalagi personal tapi komprehensif untuk kepentingan anak-anak kita ke depan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, Daerah Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock