Selasa, 08 Agustus 2017

Sekolah 5 Hari, Pengkhianatan Mendikbud kepada Madrasah Diniyah

Pringsewu, Mujahidin Cyber - Berbagai reaksi muncul dari kebijakan baru Menteri Pendidikan tentang 5 hari sekolah. Model baru alokasi waktu belajar pelajar ini tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 23 Tahun 2017 yang diterbitkan tanggal 12 Juni 2017.

Menurut Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Prof. Muhammad Mukri, pemberlakuan 5 hari sekolah merupakan kebijakan yang seharusnya diwacanakan terlebih dahulu. Sehingga menurutnya kebijakan ini perlu dipertanyakan motifnya.

Sekolah 5 Hari, Pengkhianatan Mendikbud kepada Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah 5 Hari, Pengkhianatan Mendikbud kepada Madrasah Diniyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah 5 Hari, Pengkhianatan Mendikbud kepada Madrasah Diniyah

"Kebijakan super strategis kok tidak diwacanakan dulu. Patut dipertanyakn motifnya apa?" ujar Mustasyar PWNU Provinsi Lampung ini, Senin (12/6).

Mujahidin Cyber

Hal ini diamini Prof. Aom Karomani yang juga merupakan Wakil Rektor Universitas Lampung. Ia menegaskan, kebijakan itu tidak mempertimbangkan aspek sejarah dan sosiologis masyarakat.

"Itu (kebijakan 5 hari sekolah) akan mematikan ratusan ribu madrasah," tegasnya.

Mujahidin Cyber

Menurut Wakil Ketua PWNU Provinsi Lampung itu, kebijakan tersebut mengabaikan realitas sosiologis bangsa Indonesia yang secara historis bahwa madrasah sudah lama hadir di tengah tengah masyarakat.

Ia mencontohkan bagaimana sudah lama madrasah di daerahnya yang sudah eksis dan mandiri dalam pengelolaan institusi serta memberikan kontribusi besar dan nyata terhadap pendidikan generasi bangsa.

"Di kampung kami hampir satu abad madrasah dan pesantren itu mandiri tanpa ada bantuan dari negara. Jika pendidikan diniyahnya dimatikan dengan kebijakan Mendikbud tersebut maka lengkaplah pengkhianatan pemerintah terhadap institusi pendidikan tersebut," tegasnya.

Ia menambahkan bahwa dua institusi pendidikan yaitu sekolah dan madrasah, utamanya di desa-desa, sudah sekian lama berdampingan saling melengkapi untuk mendidik anak anak bangsa. Di pagi hari fokus kurikulumnya pada pendidikan umum dan madrasah di sore hari fokus kurikulum pendidikannya pada agama.

"Jadi di masyarakat pedesaan yang ada madrasah-madrasahnya utamanya seperti itu. Makanya saya menyarankan hendaknya kajian lapangannya secara sosiologis dipertajam. Jadi kita tidak berbicara sektoral atau parsial apalagi personal tapi komprehensif untuk kepentingan anak-anak kita ke depan," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, Daerah Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber Mujahidin Cyber.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock