Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU

Surabaya, Mujahidin Cyber. Tidak banyak yang bisa merawat jenazah. Praktis dalam keseharian, "tugas" ini hanya dibebankan kepada para modin dan tokoh agama setempat. Inilah yang mendorong Kiai Maruf Khozin menulis buku tentang itu agar semua orang mudah melaksanakannya dan tetap sesuai syariat.

Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kini Terbit Buku Fiqih Jenazah ala NU

Ia menerbitkan buku berjudul "Fikih Jenazah An-Nadliyah". Kelebihannya antara lain di samping berbicara teknis pelaksanaan, juga mengulas dalil amaliah, baik sebelum serta sesudah kematian. "Melengkapi dan penyempurnaan dari sejumlah buku serupa yang beredar di pasaran," kata Kiai Maruf Khozin saat dihubungi Mujahidin Cyber, Senin (23/2).

Keterpanggilan menerbitkan buku ini juga berdasarkan masukan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak. "Bahan yang saya peroleh adalah dari sejumlah pengajian ke sejumlah masjid, mushalla maupun pengurus MWCNU serta bahan tambahan dari pertanyaan yang disampaikan jamaah," kata salah seorang fungsionaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim ini.

Mujahidin Cyber

"Buku ini juga secara khusus dijadikan sebagai bantahan terhadap maraknya buku-buku Wahabi tentang masalah kematian," terangnya. Pada saat yang sama, buku yang diterbitkan Muara Progresif Surabaya ini diharapkan kian memantapkan bagi warga NU bahwa apa yang dilakukan selama ini memiliki keabsahan dalil sehingga diamalkan oleh ulama salaf, lanjutnya.

Mujahidin Cyber

Dalam pandangan aktivis PW Aswaja NU Center Jatim tersebut,? "Justru seperti kelompok Wahabi lah yang tidak memiliki catatan historis dengan ulama salaf dan cenderung memutus amaliah dari ulama terdahulu," ungkapnya.

Kiai Maruf Khozin menandaskan bahwa amaliah yang dilakukan Nahdliyin cukup banyak, mulai membacakan Yasin, kesaksian, tahlilan, membaca al-Quran di makam, sedekah atas nama al-marhum dan sebagainya.

"Tujuan utamanya yaitu agar mendapat ampunan karena orang meninggal sangat membutuhkan rahmat dari Allah, terlebih lagi kuburan adalah jalan penentu keselamatan seseorang ke alam barzah," katanya sembari menyitir hadits shaheh dari Turmudzi.

Kiai Maruf Khozin menyadari bahwa sejumlah dalil dan hujjah yang dicantumkan dalam bukunya adalah rangkuman dari beberapa kitab ulama salaf. Tidak berhenti sampai di situ, sebelum buku diterbitkan, naskah yang ada dimintakan tashih kepada sejumlah kiai dan ulama terkemuka.

"Khusus kepada KH Muhyiddin Abdusshomad yang juga menjabat Rais Syuriah PCNU Jember serta KH Asyhar Shafwan selaku Ketua LBM PWNU Jatim saya mengucapkan terima kasih karena berkenan memberi kata sambutan," katanya.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada KH Abdurrahman Navis (Direktur PW Aswaja NU Center Jatim), Ustadz Idrus Ramli, serta sejumlah pihak yang telah mendukung percepatatan bagi terbitnya buku tersebut.

Tirmidzi Munahwan selaku pemilik Penerbit Muara Progresif menandaskan bahwa kehadiran buku dengan muatan fikih praktis sangat ditunggu masyarakat. "Apalagi dengan disertai dalil baik dari al-Quran maupun hadits, serta pendapat ulama tentu sangat bermanfaat bagi umat," katanya.

Bagi Tirmidzi, sapaan akrabnya, warga NU dan juga umat Islam harus selalu diberikan pendampingan dan pengetahuan atas sejumlah amaliyah yang selama ini menjadi kebiasaan sehari-hari. "Agar ada kemantapan dalam menjalankan ibadah, bukan semata ikut-ikutan," pungkas alumnus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini. (Syaifullah/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam Mujahidin Cyber

Selasa, 27 Februari 2018

BBPLK Bekasi-PT Berca Kerja Sama Program Pemagangan Bidang Lift dan Eskalator

Bekasi, Mujahidin Cyber

Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Bekasi sepakat menjalin kerjasama dengan PT  Berca Schindler Lifts (BSL) untuk menyelenggarakan program pemagangan kerja (Apprentice Program). Kerja sama bertujuan menyiapkan tenaga kerja kompeten di bidang lift dan eskalator melalui pelaksanaan pelatihan kerja dan penempatan tenaga kerja.

BBPLK Bekasi-PT Berca Kerja Sama Program Pemagangan Bidang Lift dan Eskalator (Sumber Gambar : Nu Online)
BBPLK Bekasi-PT Berca Kerja Sama Program Pemagangan Bidang Lift dan Eskalator (Sumber Gambar : Nu Online)

BBPLK Bekasi-PT Berca Kerja Sama Program Pemagangan Bidang Lift dan Eskalator

Penandatanganan kesepakatan kerjasama ini dilakukan Kepala BBPLK Bekasi, Helmiaty Basri dengan Presiden Direktur PT BSL Phua Yin Liang Willis  dan disaksikan oleh Sekretaris  Ditjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kemnaker Kunjung Masehat  di kantor BBPLK Bekasi, pada Senin (9/10).

“Penandatanganan nota kesepahaman ini  merupakan langkah nyata antara pemerintah dengan dunia industri untuk menciptakan tenaga kerja terampil serta penyerapan tenaga kerja di dunia industri,” kata Kunjung Masehat.

Kerjasama pelatihan ini akan memberikan program magang mencakup pelatihan berbasis kerja, kurikulum dan sertifikasi dan pengembangan karier. Para peserta magang akan mengikuti pelatihan keterampilan yang relevan dan khusus dibutuhkan di industri lift dan eskalator.

Keterampilan yang dipelajari  meliputi aspek instalasi, pemeliharaan dan perbaikan lift dan eskalator. Peserta juga bisa memperoleh kesempatan kerja di seluruh bisnis Schindler.

Mujahidin Cyber

“Kami berharap kerjasama ini dapat berjalan dengan baik dan berlanjut setiap tahun serta PT. Berca Schindler Lifts dapat melakukan rekrutmen karyawan yang lebih banyak melalui program pelatihan ini,” kata Kunjung.

Kunjung mengatakan melalui program pelatihan antara BBPLK-BSL, para peserta akan dilatih sesuai dengan pengetahuan yang sebenarnya dan dalam metode dunia kerja yang modern. Hal ini dilaksanakan untuk mensinkronkan teknologi antara materi pelatihan dengan dunia kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Kunjung mengatakan, Kemnaker memberikan apresiasi PT BSL dan perusahaan-perusahaan swasta lainnya  yang telah  ikut peran serta dan peduli dalam upaya penyiapan tenaga kerja terampil.

“Untuk  meningkatkan produktivitas tenaga kerja yang kompeten, maka perlu dilakukan kerjasama, koordinasi dan sinergitas antar pemangku kepentingan terkait pelatihan, sertifikasi dan penempatan tenaga kerja," kata Kunjung.

Mujahidin Cyber

Kunjung mengatakan melalui Schindler-BLK Apprentice Program ini  para peserta dapat menjalani program pelatihan dua tahun yang terdiri dari rangkaian pelatihan yang dilakukan di BLK, pelatihan On The Job Training (OJT) yang   diatur oleh PT. BSL.

“Setelah menyelesaikan program pelatihan magang  ini, para peserta harus mencapai persyaratan akademik yang ditetapkan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) dan persyaratan kerja standar yang ditetapkan PT. BSL untuk memenuhi syarat kontrak kerja dengan masa percobaan satu tahun dengan PT. BSL,” ujar Kunjung.

Sementara itu, Presiden Direktur PT BSL Phua Yin Liang Willis menambahkan program magang gabungan ini bersama BBPLK Bekasi ini diharapkan akan menghasilkan sejumlah karyawan muda berbakat di bidang teknis industri lift.

“Kerjasama ini juga diharapkan akan bisa membantu para pebisnis di industri lift dan escalator untuk meningkatan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sesuai dengan standar industri,” kata Phua. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber RMI NU, Kajian Islam, Pendidikan Mujahidin Cyber

Kamis, 08 Februari 2018

Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi

Jakarta, Mujahidin Cyber. Dewan Pimpinan Pusat Konfederasi Sarikat Buruh Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (DPP K-Sarbumusi NU) menilai Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Permenaker) mengenai Tunjangan Hari Raya (THR) perlu direvisi sehubungan bertentangan dengan amanat undang-undang.

Presiden DPP K- Sarbumusi NU, Syaiful Bahri Anshori di Jakarta, Rabu (7/6) menyatakan, THR merupakan hak bagi semua pekerja/buruh baik pekerja formal di perusahaan maupun pekerja non formal di luar perusahaan.

Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi NU: Regulasi THR Perlu Direvisi

Hal tersebut mengacu Pasal 7 ayat 1 PP No.78/2015 ? yang menyatakan "Tunjangan Hari Raya Keagamaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (1) wajib diberikan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh".

Dan berikutnya Pasal 7 ayat 3 "Ketentuan mengenai tunjangan hari raya keagamaan dan tatacara pembayarannya diatur dengan peraturan menteri".

Namun demikian, kata Syaiful menambahkan, DPP K-Sarbumusi NU dengan seksama telah melakukan pengamatan adanya hal yang tidak sinkron antara ketentuan dari peraturan perundang-undangan ini dengan turunannya dalam Permenaker Nomor 6/2016 Tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi pekerja/buruh diperusahaan. Dan tidak mengatur bagi pekerja/buruh diluar perusahaan.

"Hal tersebut merupakan kesalahan fatal dari ketentuan pasal 1 angka 4 dan angka 6 UU.13/2003," kata dia menjelaskan.

Mujahidin Cyber

Syaiful menguraikan, pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan, “Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.”

Selain itu Pasal 1 angka 6 huruf a UU 13/2003, lebih tegas dinyatakan, “Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.”

Mujahidin Cyber

"Sesuai dengan ketentuan tersebut maka makna pemberi kerja ialah orang yang menjalankan sebuah usaha milik perseorangan, yang mempekerjakan tenaga kerja dengan membayar upah yang dinyatakan dalam bentuk uang," ujarnya.

Oleh karena itu, setiap bentuk usaha yang mempekerjakan tenaga kerja, berkewajiban untuk menjalankan ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan yang berlaku, termasuk diantaranya upah minimum, upah lembur, cuti-cuti dan seluruh hak-hak yang diatur dalam UU 13/2003 atau ketentuan lainnya.

? ?

Berkaitan dengan itu, DPP K-Sarbumusi NU meminta kepada Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia untuk segera merevisi Permenaker No. 6 Tahun 2016 Tentang Tunjangan Hari Raya (THR) Keagamaan Bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

"Alasannya jelas, karena mereduksi makna pekerja/buruh hanya di perusahaan. Permenaker tersebut harus meng-cover pekerja/buruh di luar perusahaan sebagaimana amanat Peraturan perundang-undangan ketenagakerjaan," tandas Syaiful Bahri Anshori. (Gatot Arifianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam, Nasional Mujahidin Cyber

Selasa, 06 Februari 2018

Dirjen Pendis Sampaikan Orasi Ilmiah di Wisuda IV STAINU Jakarta

Jakarta, Mujahidin Cyber. Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag RI, Prof Dr Kamaruddin Amin menyampaikan orasi ilmiah dalam acara Wisuda IV Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta, Selasa (29/9) di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta Timur.

Dalam orasinya, Kamaruddin menegaskan kembali kepada wisudawan dan wisudawati, bahwa Indonesia merupakan bangsa dan negara muslim terbesar di dunia. Jumlah lembaga pendidikan Islam pun paling banyak di dunia, dari mulai pesantren, madrasah, dan perguruan tinggi Islam yang mencapai puluhan ribu lembaga serta jutaan santri, peserta didik dan mahasiswa di tiap tingkatan.

Dirjen Pendis Sampaikan Orasi Ilmiah di Wisuda IV STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Dirjen Pendis Sampaikan Orasi Ilmiah di Wisuda IV STAINU Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Dirjen Pendis Sampaikan Orasi Ilmiah di Wisuda IV STAINU Jakarta

“Pendidikan Islam di Indonesia memiliki peran yang sangat fundamental (mendasar) dalam memajukan bangsa,” ujar Kamaruddin.

Mujahidin Cyber

Dengan sumber daya yang sangat besar, lanjutnya, Pendis Kemenag bercita-cita mewujudkan khazanah Islam di Indonesia menjadi destinasi (tujuan) kajian Islam dunia.

“Islam di negara kita sangat bisa menjadi pusat kajian Islam dunia karena Islam di sini mempunyai distingsi atau kekhasan tersendiri yang tidak ditemukan di negara-negara Islam di dunia,” terang Kamaruddin.

Mujahidin Cyber

Indonesia, tambahnya, dinilai oleh bangsa di dunia mampu memadukan Islam dan demokrasi. Islam di Indonesia juga dianggap mampu mengakomodasi perubahan zaman dengan tidak kehilangan identitas keindonesiaan.

Dalam hal inilah, kata dia, STAINU Jakarta dan seluruh lembaga pendidikan Islam di Indonesia harus terus menjaga persatuan dalam keberagaman serta secara berkelanjutan menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada para generasi muda di Indonesia.

Di akhir orasinya, Kamaruddin mengingatkan kepada para wisudawan dan wisudawati agar terus meningkatkan kapasitasnya sebagai seorang sarjana. Dia menegaskan tiga kemampuan yang mutlak dimiliki seseorang di zaman global seperti sekarang, yaitu kemampuan bahasa, kepemimpinan, dan kemampuan dalam dunia teknologi informasi. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Cerita, Kajian Islam Mujahidin Cyber

Selasa, 30 Januari 2018

Sewindu Satu Cinta (Chapter I)

Oleh: Muhammad A Idris



Cinta yang pernah aku pilih adalah keputusan terpenting di setiap episode perjalanan hidupku. Menjadi dewasa atau tidak kadar kelelakianku dipengaruhi oleh seberapa besar perhatian yang kutumpahkan terhadap makhluk yang bernama cinta. Maka kukabarkan pada setiap lelaki serta perempuan bernyawa, jangan pernah engkau sesali apalagi berduka tak berkesudahan lantaran kesedihan bertubi-tubi datang. Lantas memutuskan untuk hidup? sendiri, ngejomblo dengan menunda rahmat Allah yang bernama cinta.

Sewindu Satu Cinta (Chapter I) (Sumber Gambar : Nu Online)
Sewindu Satu Cinta (Chapter I) (Sumber Gambar : Nu Online)

Sewindu Satu Cinta (Chapter I)

Ok, fine…, setiap kalian bolehlah antipati dengan kasmaran apalagi sampai terjatuh di kubangan cinta. Jangan sesekali terbesit untuk menyalahkannya, meski engkau mengenalnya dengan luka. Siapa tahu Allah sedang mengajakmu mengolah rasa, mengenal bahagia dengan jalur patah hati, cinta bertepuk sebelah tangan alias tak berbalas. Aku pun sempat dibuatnya pasrah. Kututup rapat-rapat setiap celah yang berpotensi mengundang kangen akan wanita, macam paspampres mengawal Pak Presiden; ketat dan sadis. Sampai kapan kudzolimi sunnatullah? Inkar bi ni’mah? Semakin menjauh, semakin jelas butuh tempat meneduh. ?

“Mas..bangun dong, sudah siang ini. Jangan biasakan shubuhmu? kesiangan!”

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber

“Mas Dot,… bangun..! anak lelaki tunggal hobinya kesiangan, mau jadi apa kelak nanti?!”

Nada tinggi inilah membuatku semakin sayang terhadapnya. Kulempar selimut, matikan AC, bergegas ke kamar mandi. Kalau tak segera? beranjak, dinginnya AC campur lembut selimut kompaklah sudah. Siapa saja di di dekatnya akan terus berlayar di dunia mimpi alias molor tak berkesudahan. Pantas ibu marah, jam di handphoneku menunjukkan pukul lima tiga puluh. Sambil menahan kantuk subuhan kulaksanakan. Baru salam terakhir, teriakan dari dapur menyambar lagi sekaligus memastikan anaknya benar-benar bangun.

“Bagaimana kabar Marcel?“

“Baik, Bu, kayaknya mau liburan kuliah. Habis ujian semester kayaknya.”

“Kapan kalian terakhir ketemu?“

“Lusa lalu juga ketemu. Bu.. Ayam baru selesai berkokok, anak orang ditanya terus. Aku apa Marcel sih anaknya Ibu?”

“Hush…..jangan cemburu kamu,” tandas ibuku.

“Sini bantu Ibumu menyiapkan sarapan. Hari ini antar bekal buat Marcel apa tidak? Biar sekalian banyak masaknya.”

“Masuk siang dia, kan habis ujian semester. Jadi libur deh jadi penghantar cinta hahahaha.”

“Masih kecil ko cinta-cintaan, nanti sesudah kantongi titel sarjana dan sukses bekerja bolehlah bicara cinta.”

Sambil memegang talenan kurangkul pundak ibu, lalu? kucium pipinya. Itu ritual di pagi hari, memasak bersama adalah momentum quality time. Jelek-jelek aku jago memasak, maklum bakat keturunan dari ayahku. Beliau jam segini biasanya perjalanan pulang dari hotel tempatnya bekerja. Kepala chef di restoran hotel berbintang jadi kebanggaan ayah dan keluarga besarnya. Kedua pamanku juga jadi juru masak yang sama. Jadi wajar jika ponakannya berbakat melanjutkan, setidaknya membantu ibu serta calon ibunya anak-anak kelak.

Hari ini begitu cerah bergairah. Seakan langit-langit Allah mengajak bicara denganku. Apa berkat memasak bareng ibu? atau perasaanku saja, lantaran pagi-pagi sudah membincangkan marcel. Teduh rindang seolah hari ini adalah waktu yang sengaja disediakan Allah untuk menghiburku.

Perjalanan ke sekolah nampak agak berbeda, visioner penuh percaya diri. Entah gejala apa ini, membingungkan. Sarapan nampak biasa saja, tak ada yang istimewa. Tahu tempe goreng beserta sambal kentang menu andalannya.Hampir seminggu mendung merundung. Gerimis sesekali? hujan? bercampur angin kencang cukup intens menemani. Tapi sudahlah, bagiku sama saja. Hujan atau tidak yang terpenting perut kenyang sampai sekolah pun tak terlambat.

***

Kring….Kring…..Kring…, bel sekolah tanda jam ekstrakurikuler selesai.? Sore ini cukup padat kegiatan; Pramuka, PMR, marchingband pokoknya banyak. Kebetulan? aku jadi? senior aktivis keagamaan sekolah. Jabatanku cukup keren, ketua bidang Imtaq OSIS. Lumayan sibuk untuk anak seumuranku.

Kutarik gas motor sekencang-kencangnya, bergegas agar tak terlambat menjemput Marcel. Cara naik motorku Tidak kalah seru dengan pembalap Rossi asal Itali. Rutinitas sakral ini bukti dorongan cinta, tak peduli? nyawa? taruhannya. Serasa sempit jalanan Jakarta, menyelinap di sela –sela mobil, belumlah angkot dan bajai ikut andil. Demi kamu, demi waktu yang menunggu. Demi Allah aku benar-benar dimabuk kepayang oleh gadis rantau campuran Sumatra-Kalimantan. Sepanjang perjalanan, rapalan ini bergumam? ? ? ? ? ? seperti mau setoran vocabulary atau mufrodat dengan santri senior.

Separuh lebih dari seminggu, sore ini kuhabiskan untuknya. Ini bukan soal falling in love, sehingga amat rajin aku nampakkan kebaikanku. Semata-mata harga diri seorang lelaki di hadapan wanita. Berbunga bunga rasa hati ini, ingin segera aku berjumpa dengannya. Sesekali menyusun beberapa kata, agar saat bertemu nanti nampak lebih siap. Ekspresi wajah, tatapan mata, sudah aku latih sedemikian rupa.

Biasanya butuh waktu tiga puluh sampai empat puluh menit sampai? Kampusnya. Kami punya tempat favorit untuk saling menunggu. Ya.., minimarket dekat kampus jadi saksi seserius apa hubungan kami.

Seminggu empat kali aku menjemputnya. Ia termasuk tipe yang asyik jadi teman curhat sekaligus berbagi pandang yang menenangkan. Meski sudah tiga tahun, kami belum resmi berpacaran. Aku belum pernah menyatakan cinta, apalagi i love you. Pada waktu itu memang belum begitu penting ekspresi yang begitu ekspresif, perbedaan usialah yang menjadi kendala hubungan ini. Ingin sekali aku nampak lebih dewasa, tetapi selalu saja gagal lantaran tutur kata lembut serta humble pergaulannya….

Kini aku bergaul dengan mahasiswibroadcasting di salah satu universitas swasta di Jakarta. Maklum sejak satu sekolah hobinya pegang kamera serta menulis cerita drama. Mantan ketua teater sekolah tepatnya. Sejak pertama kali masuk sekolah, ia menjadi mentor di orientasi siswa. Marcel satu tahun lebih tua, kakak kelas sekaligus tetangga? komplek. Seringnya berjumpa saat pergi sekolah, jadi motivasi tersendiri.Terutama saat Ramadhan, bermain dan saling sapa sebelum jama’ah terawih dimulai jadi bagian adegan tak terlupkan sepanjang aku bergaul dengannya.

Ibunya tergolong cuek dan tak terlalu ekspresif mengurus anak. Suaminya pergi tanpa kabar, pamitnya kerja tapi uang bulanan pun tak kunjung datang. Untung saja aku lelaki pertama selain ayah. Tentu tak terlalu sulit menunjukkan sisi ngemong. Dua minggu sekali kukirim bahan pokok kerumahnya. Kubeli dengan uang tabungan, tapi lebih sering dari sisa uang belanja bulanan ibu. Setidaknya rutinitas ini membuat sikapku lebih siap menjadi pemimpin, setidaknya di hadapan Marcel. Meski baru delapan belas tahun, namun fantasi bepikirku seakan siap menjadi lelaki sempurna di matanya.

***

Tak kurang dari seratus meter, aku sudah bisa memandang wajah terhijab. Baru setahun ia memutuskan berhijab, persis di ulang tahunnya yang ke sembilan belas. Meski tergolong baru mengenakan, ia termasuk orang yang cukup bertanggung jawab atas pilihannya. Perlahan gaya berpakainnya menyesuaikan dengan apa artinya berhijab. “Be confident with hijab” itu yang selalu ia katakan pada temen temennya.

“Asssalamu’alaikum, Marcel,” sapaku.

“Wassalamu’alaikum, Dot,” jawabnya.

“Sudah lama menunggu ya..? Maaf jalan macet banget. Lima belas menit lebih awal aku jalan, berharap menunggu ketimbang ditunggu. Ada demo buruh di ujung perempatan depan.”

“Ngak apa-apa, sesekali biarlah aku yang menunggu. Toh selama ini kamu yang selalu menunggu,” tegasnya.

“Iya sih, tapi aku menginginkannya. Dengan menunggumu spiritualku tergarap, sabar dan sabar perkuat harapan. Persis seperti kamu memutuskan untuk berhijab,” jawabku.? ? ? Sesekali harus mendayu, sebab anak sastra lawan bicaranya.

“Ah..bisa aja kamu. Oh ya.., kita mau langsung pulang atau makan? Laper banget, seharian cuma ngemil di kelas. Mendadak ada ujian susulan.”

“Boleh….lapar juga soalnya. Ayo kita ke warung favorit; pecak lele Bang Saleh.”

Sepanjang jalan aku tak banyak bicara, cukup sesekali saja. Bertanya tentang kuliah dan kabar ibunya. Keluarga kami cukup akrab, tak heran jika kedekatanku dengan Marcel sudah terpantau. Marcel anak semata wayang, sedangkan aku lelaki pertama dari tiga saudara.

Allahu Akbar Allahu Akbar

Laa ilaaha illallah….”

Magrib pun tiba, persis setelah kuparkir motor di warung favorit kami. Menunya menggairahkan, pedas dan segar. Mushallanya nyaman untuk shalat sembari? menunggu pesanan. Kami pesan pecak lele dua porsi dan jeruk hangat. Finally, aku belajar mengimaminya. Meski sebatas shalat, cukup bagiku untuk menunjukkan padanya kalau mahfudot layak menjadi imam hidupnya.

Kebetulan warung makan belum begitu ramai pengunjung, jadi mushalla kecil itu bisa? kami gunakan berjamaah. Untung saja sempat ngaji di Jawa Timur tepatnya masuk pesantren saat SMP. Berbekal hafalan ayat-ayat pendek, cukup bagiku untuk jadi imam shalat serta mengajari anak-anakku kelak. Sengaja kupilih surat Al-Ikhlas dan Al-Fil untuk rakaat pertama dan kedua, sembari berharap fadhilah dari ayat ayat yang terucap.

Meja pojokan tepi jalan selalu kami pilih selagi kosong pengunjung. Tak ada maksud lain, hanya untuk mempermudah ingatan serta menumpuk kenangan. Di usia kami terkadang butuh banyak bantuan simbolik untuk saling mengenang.

Pecak lele pun datang, rempah-rempah tak beraturan, nampak kasar dan sedikit kuah jadi ciri khasnya. Marcel nampaknya sudah tak sabar, lahap sekali makannya. Benar-benar lapar, syukurlah segera teratasi. Mahasiswi yang cukup tekun dan selalu berprestasi saat sekolah. Sebagai juara tiga besar selalu ia dapatkan, semacam prestasi langgananlah. Hobi sastra, tak membuatnya memilih jurusan bahasa atau ilmu sosial. Ia adalah anak eksak yang menekuni ilmu fisika. Terlebih soal sistem kerja cahaya, ia jatuh cinta dengan eksistensi matahari. Memancarkan sinar, saling memantul, terpantul pada rembulan. Meski sebagian besar manusia tersihir oleh indahnya rembulan purnama, lantas melupakan sumber cahanya matahari. Lumrah jika broadcasting ditekuninya, fotografi termasuk di dalamnya. Sebab fotografi adalah seni melukis cahaya. Cukup logis kan kalau dia ambil jurusan di kampusnya.

Kebahagiaan terpancar di wajahnya, tak peduli lantaran pecal lele atau karena makan malam denganku ia bahagia. Kegembiraan Marcel adalah kebahagiaanku juga. Cukup sudah aku memandangnya, senyum diwajahku pun tumpah tak terbendung. Hampir gila dibuatnya, tapi apa boleh buat di sinilah kenikmatan yang kutunggu. Tak banyak berbuat tapi berlimpah kesenangan.

Entah jin dari mana yang meracuni pikiranku, tiba-tiba aku terbesit ingin mengungkapkan cinta. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Padahal selama tiga tahun Allah mencukupkan hatiku untuk ikhlas, mengalir, menjalani rutinitas dengannya.

Ataukah ini yang namanya rahmat Allah? Mendadak datang sedikit memaksa. Tatapanku kosong, hati bergetar seakan ingin keluar berbibicara langsung dengan Marcel. Mungkin sudah tak sabar, lantaran terlalu lama bibir ini diam dalam sekam. Terlalu asyik dengan rutinitas, sampai lupa cinta yang berkualitas.

Tak sengaja menyaksikannya berwudlu, berbenah kerudung serta menengadahkan doa? adalah puncak ternikmat. Jadi tak ada alasan? apa pun untuk tidak mempertahankannya, memilihnya sekaligus bersyukur mengenalnya. Kerudung terselempang ke belakang dengan sisa air wudlu menempel di wajahnya seakan melekat dalam pikirku.

“Allah, Allah, Allah, engkau maha membolak balikkan hati. Bukankah aku cukup taat sebagai hamba? Kenapa engkau uji dengan pemandangan yang tak seharusnya aku lihat? Tidak gampang hidup di pinggiran kota besar bisa shalat magrib tepat waktu apalagi berjamaah perlu perjuangan keras.”

“Selama sekolah, berpuluh-puluh kali menyaksikannya tanpa kerudung. Aku pun biasa saja. Lantas apa bedanya? Inikah ujian dari sabarnya mencintai? Jangan-jangan hanya bisikan jin penunggu warung Bang Saleh saja? Atau bonus istiqomah kuantar jemput wanita tholabul ilmi; kuliah.”

Perang batin berkecamuk. Belum kutemukan jawabannya, Marcel menegurku.

“Dot…ko nggak makan? Katanya laper? Ntar kurus loh.”

“Ayo makan dong ? ulang dia.

“Siap….habis ini aku makan kok. Tenang aja pasti habis, kalau memungkinkan nambah nasi nanti.”

Meski tak lagi hangat, perlahan kusantap dengan penuh gundah. Andai saja paranormal di sini, pasti sudah terbaca dialektika tubuhku; akal pikiran, batin serta kesiapan mental berperang melawan waktu. Tak kalah heroik dengan perang Badar saat? itu.

?

“Dot aku ke belakang dulu ya,” pamit Marcel.

Kupercepat santapanku, sambil memandang jauh peristiwa yang menggetarkan tadi. Ya…sisa air wudlu diwajahnya adalah bulir penampungan doa. Ainul yaqin; huruf demi huruf surat Al-Ikhlas dan Al-Fill yang aku baca tadi pasti turut serta mengamininya. Wallahu alam

Ini sungguh bukan malam yang kurencanakan. Seperti lelaki pada umumnya, berminggu-minggu menyiapkan tempat, setting acara? agar nampak dramatis. Menghadirkan konflik atau ngambek beberapa hari sebelumnya agar tampil maksimal, romantis dan berkesan. Sewa grup musik, bunga, lilin atau butuh pertolongan simbolik lainnya jadi kebutuhan dasar menyatakan cinta. Boleh juga sih…, halal dan sah-sah saja. Bagiku.., bukan itu yang terpenting. Peristiwa getaran cinta itu yang kuinginkan; romantis tidaknya bukan disebabkan drama simbolik melainkan mutlak kemauannya Allah. Ini otoritasnya Allah, aku harus mengutarakannya. Perkara dia suka atau tidak kita lihat nanti.

Marcel sudah duduk di depanku sambil berbenah dan minum jeruk hangat. Suasana cukup santai, aku manfaatkan betul untuk menutupi grogi. Maklum sudah tahun ketiga baru mengungkapkan cinta.

“Marcel.., kalaupun aku jatuh di lubang hati yang salah, meskipun tertelungkup di biduk yang keras, itu pun juga bukan kesalahan melainkan ketidakberuntungan saja “we have to know my honey, we must be strong, insyaallah, Allah akan hadir dalam ta’aruf ini.”

“Maksudmu apa, Dot..?” sahutnya.

“Ini perasan sekaligus harapan,” imbuhku.

“Kamu jangan ngaco, ah.., malam ini tak selayaknya kamu rusak dengan obrolan beratmu itu. Aku sangat nyaman menjalani hubungan ini.”

“Aku tak pernah ngaco apalagi ngawur tentang perasan ini, tentang kita, about you. Aku juga tak mengerti kenapa harus berucap demikian. Sepanjang engkau mengunyah, atiku terkoyak lantaran getaran ini hadir. Sudah kutolak berulang kali, kuusir sejauh mungkin, namun semakin bergetar seakan protes kalau tak segera kusampaikan.”

Mendadak datang tanpa kabar. Mulanya aku tak percaya, tapi siapa yang bisa menolak kalau Allah sudah berkehendak.

“Apakah kamu tak merasakannya? Ini cinta…Marcel..! Love..! Mutlak otoritasnya Allah. Kapan dan dimana aku pun tak bisa mengelak. Tugasku adalah mengutarakan, menyampaikan yang Allah titipkan.” Sambil menahan cemas penuh keyakinan? aku menjelaskannya. Tawakal adalah kepastian, meski jantung ikut gemetar.

Ia nampak diam, khusyuk mendengarkan khotbah mahabbahku. Pandangan matanya mulai tak fokus, sesekali ia buang muka. Aku tahu ini adalah gaya standar bagi siapa saja yang sedang dirundung gelisah. Mulai tak nyaman rupanya, sama sepertiku. Tak terasa tisu satu gulungan di depanku habis. Kuusap-usap meja makan yang beralas taplak sponsor salah satu brand minuman, seakan genangan air tumpah ruah.

Belum sempat kami mengheningkan rasa, suara riuh pengamen yang mengecer budayanya sendiri datang. Gesekan rebab tak beraturan, pakaian kumel tak mencerminkan pelaku budaya. Seenaknya saja boneka bambu besar berbalut baju khas Betawi geal-geol seolah menari riang gembira. Aku tak keberatan soal ngamennya, itu hak setiap orang mencari nafkah. Tapi hati kecil ini belum terima saja, budaya yang luhur kini diecer di pinggiran jalan, seolah budaya asing yang baru dikenal warganya. Aku sangat keberatan. Bukan lantaran sedang bercemas muka , tapi sudah lama aku ingin protes. Meski dalam batin, setidaknya kubela kebudayaan itu.

“Dot.., aku rasa kita sudahi dulu perbincangan ini, terima kasih atas segalanya. Usiamu satu tahun lebih muda tetapi aku merasa nyaman. Kedewasaan yang kamu tunjukkan, bagiku cukup. Bukan hanya cinta yang kamu? hidupi, tetapi tentang kita seakan selalu hidup dan terus hidup.”

“Cinta belum menjadi kebutuhan. Perhatian yang aku inginkan,” tegas Marcel.

Bagai disambar petir tapi tak gosong saja bedanya. Di sinilah ujian terberat, emosi berkecamuk, marah, kesal sekaligus plong? rasanya. Ketakutan yang kusimpan selama ini? sudah? ? ? jelas jawabannya. Masih sanggupkah aku memandangnya? Memuja kebaikannya? Bersyukur mengenalnya ? Meski cinta tak ia butuhkan. Atau belum dibutuhkan, hiburku. Aku mencoba jadi pendengar yang baik, meski akal pikirku tak sanggup menerima.

“Keluargaku kamu urus. Dua minggu sekali kebutuhan dasar; gula, beras? sesekali mie instan beberapa bungkus. Namun untuk menjalani hubungan ini,? itu saja tak cukup. Dua tahun terakhir aku merasa ada yang salah komunikasi kita. Setiap pagi kamu bawakan bekal makan untuk kuliah. Jujur aku senang, seakan peran ayahku engkau gantikan. Di sisilain, perempuan macam apa aku? ini, urusan makan saja lelaki yang menyiapkan. Memang semenjak ayah meninggalkan kami lima belas tahun lalu, keteguhan ibuku mulai goyah untuk menghadapi kerasnya Jakarta”.

“Aku malu, Dot, malu…..”.

“Kenapa harus malu? Semua itu kulakukan atas dasar teman, tetangga? yang ujungnya cinta. Apa ada yang salah?” sahutku.

“Mau sampaikapan kau perpanjang budi baikmu? Sehingga aku pun lupa cara menghitungnya.”

Dialog cukup panjang dari Marcel. Tegas tapi tetap terpancar lemah lembut tutur katanya, meski klise berbungkus iba. Aku pun tak sanggup membantahnya. Perasaan campur aduk, shock campur bingung. Tapi harus bagaimana lagi, mau tak mau harus aku lalui. Memang tak gampang menahan perasaan sejauh ini, kupendam dalam-dalam agar tak saling melukai. Cemburu,was-was, saling marah tak beralasan, mendebatkan hal-hal remeh.Ya. … itulah kami. ?

“Begitu rapi, sistematis dan terukur jawabanmu. Tak akan kusesali aku jatuh dan terjatuh di kubangan cintamu, Marcel. Segeralah berkemas, lalu kuantarkan pulang sebagai bentuk belajar ikhlas mengenalmu.”

Tak ada pilihan, selain bersikap bijak. Telak lima kosong, seperti Real Madrid mempecundangi Granada di La Liga semalam. Tapi mencintai bukanlah pertaruhan untung rugi, kalah menang, melainkan siap bertaruh meski tak balik modal.

***

Sesampainya di rumah satu-satunya tempat yang kutuju adalah kamar mandi. Ingin segera kunyalakan kran air kemudian? duduk bersandar? di bawahnya. Maklum tak ada shower, sekejap air tandon hujan menguyur sekujur tubuh. Tarik napas dalam-dalam, keluarkan pelan-pelan. Kuulagi beberapa kali, konon ini meditasi termudah penghilang stres.

Apa yang salah dalam diriku, atau terlalu buru-buru? Andai sabar sedikit apakah Marcel menerimanya? Apa mungkin tubuhku yang gembul, membuatnya tak nyaman. Mungkin ia mulai malu dekat dengan lelaki brondong, sementara ia anak kampus dengan segudang lelaki di sekitarnya.

Tak ku sangka, malam ini adalah kali pertama menjadi lelaki tak bertuan. Tatapan mataku kosong, memucat wajahku, seakan tak menemukan gairah hidup. Jadi ini patah hati? Broken heart? Tercampak dari cinta yang tak lagi nampak? Semakin meracau tak karuan. Badan ini roboh di sofa kamar, memaksa tidur berharap esok segera datang. Mata terpejam, namun hati terhujam, pedih hati ini. Nampak rasional bagi pecundang cinta, jika minum obat nyamuk dianggap solusi mutakhir. Ah....masak sekonyol itu, kutukar nyawa dengan cinta minimarket.

“Bismikallahumma ahya wabismika amuut; kalau Allah saja berkehendak mematikan sekaligus membangkitkan hambanya di kala tertidur, mana mungkin sepenggal cinta tak mampu dihidupkannya.”

Amin...

Masjid Jamek, Kuala Lumpur-Malaysia 17, Desember 2016



Penulis saat ini ngabdi di Yayasan MataAir Jakarta mataair.or.id



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber News, Kajian Islam, Nasional Mujahidin Cyber

Rabu, 24 Januari 2018

Maulidan, Pesantren An-Nawawi Gelar Lomba Blog

Purworejo, Mujahidin Cyber. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi tahun ini, komunitas santri daerah mengikuti lomba blog yang digelar pesantren An-Nawawi, Purworejo, Jawa Tengah. Peserta perlombaan ini merupakan komunitas santri yang mewakili daerah masing-masing.

Seorang pengurus An-Nawawi Ridwan Haris mengatakan, perlombaan blog bukanlah perorangan, tetapi lebih merupakan tim organisasi daerah.

Maulidan, Pesantren An-Nawawi Gelar Lomba Blog (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulidan, Pesantren An-Nawawi Gelar Lomba Blog (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulidan, Pesantren An-Nawawi Gelar Lomba Blog

"Di Pesantren ini seluruh santri terwadahi dalam organisasi berdasarkan asal daerahnya. Di antaranya KESSAP (Purworejo), Ikatrima (Magelang), Iktrimen (Kebumen), Hiswon (Wonosobo, Yogyakarta) Hisban (Banyumas, Cilacap, Jakarta) serta Hisanda (Luar Jawa)," terangnya, Jumat (17/1).

Mujahidin Cyber

Penilaian perlombaan ini, menurut Ridwan, diukur dari desain blog, konten foto serta naskah tulisan berita. Sementara itu panitia lomba membebaskan peserta untuk memilih tema di lingkungan mereka sehari-hari seperti tema kebersihan, mengaji, belajar, pondok pesantren, dan maulid nabi.

Mujahidin Cyber

Ridwan berharap para santri memiliki keterampilan menuangkan ide dan gagasannya di dunia maya. Menurutnya, percepatan arus informasi di dunia maya seperti saat ini harus diimbangi dengan pengisian konten-konten positif.

Meskipun menempuh pendidikan di pesantren, mereka memiliki kesempatan yang sama dengan pelajar sekolah mengingat santri sangat memiliki potensi untuk mengimbangi konten negatif yang marak di dunia maya.

Selain itu, lanjut Ridwan, dunia maya saat ini sangat efektif untuk dijadikan sebagai media dakwah. (Lukman Hakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam, Budaya, Kiai Mujahidin Cyber

Minggu, 21 Januari 2018

Jelang UN, 251 Siswa MAN 1 Brebes Ikuti Istighotsah

Brebes, Mujahidin Cyber. Jelang Ujian Nasional 2015, sebanyak 251 siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Brebes mengikuti istighotsah. Istighotsah digelar sebagai upaya menanamkan kepercayaan diri kepada para siswa ketika menghadapi UN yang bakal digelar 13-15 April mendatang.?

Jelang UN, 251 Siswa MAN 1 Brebes Ikuti Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang UN, 251 Siswa MAN 1 Brebes Ikuti Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang UN, 251 Siswa MAN 1 Brebes Ikuti Istighotsah

“Kami ingin menanamkan kepercayaan diri para siswa agar tenang dan pasti dalam menghadapi Ujian Nasional,” terang Kepala MAN 1 Brebes Drs H Tobari MAg, di sela-sela istighosah di Masjid Nurul Ilmi madrasah setempat, Sabtu (4/4).

Tobari menjelaskan, meskipun UN tahun ini tidak menjadi syarat mutlak kelulusan, tetapi dengan adanya istighotsah para siswa lebih percaya diri dan berbuat jujur. Karena ilmu yang telah ditempuh selama tiga tahun harus diuji dan kebermanfaatannya akan terasa di masyarakat ketika dilalui dengan proses kejujuran. “Orang jujur pasti mujur,” tandasnya.

Mujahidin Cyber

Madrasah Aliyah, lanjutnya, diharapkan menjadi Madrasah yang unggul dalam bidang akademisi, vokasi, agama dan reguler. “MAN 1 Brebes, kami harapkan menjadi MAN yang unggul dalam bidang Agama,” paparnya.

Mujahidin Cyber

Kepada para siswa, Tobari mengingatkan untuk makin giat belajar. “Camkanlah, UN sudah dekat maka tiada hari tanpa belajar,” ajak Tobari ketika menyampaikan sambutan istighotsah.

Wakil Kepala Madrasah bidang Kesiswaan Drs Rokhidin menjelaskan, Istighotsah diikuti 251 siswa dari jurusan IPA, IPS dan Agama. Para siswa datang ke sekolah ba’da Ashar, selanjutnya sholat maghrib berjamaah, dilanjutkan dengan sholat gerhana bulan (khusuf) dengan Imam KH Jaerukhi dan Khotib Muh Rokhidin.

Istighotsah dan dzikir juga dipimpin Pengasuh Majelis Taklim al-Ikhlas Pasarbatang Brebes KH Jaerukhi. “Allah SWT, akan memberikan segala sesuatu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Bila Prasangka hamba-Nya baik maka akan berhasil baik, begitu juga sebaliknya,” tutur KH Jaerukhi sembari menyitir sebuah hadits.

Salah seorang siswa Dea mengaku mendapat kedamaian hati setelah mengikuti istighotsah dan dzikir. Dia mantap betul untuk mengikuti UN, dan berjanji tidak akan mengecewakan orang tuanya, dengan jalan meraih nilai yang tinggi secara jujur. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Olahraga, Pahlawan, Kajian Islam Mujahidin Cyber

Sabtu, 30 Desember 2017

PBNU Prihatin Tenaga Kerja Asing Masuk Indonesia

Jakarta, Mujahidin Cyber?



Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengaku prihatin dengan banyaknya tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. Meskipun belum ada data pasti yang dirilis pemerintah, seharusnya hal tersebut tidak terjadi karena masyarakat Indonesia juga masih banyak yang menganggur. Hal ini meresahkan masyarakat. ?

Sekretaris Jenderal PBNU, Helmy Faisal Zaini mengatakan, menurut data yang dimiliki PBNU, tenaga kerja asing telah tersebar di Indonesia. Padahal di tengah masyarakat masih banyak terdapat pengangguran terbuka.?

PBNU Prihatin Tenaga Kerja Asing Masuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Prihatin Tenaga Kerja Asing Masuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Prihatin Tenaga Kerja Asing Masuk Indonesia

“Ini meresahkan,” katanya pada jumpa pers di gedung PBNU Jakarta Selasa (20/12).

Ia mengemukakan, tahun ini terjadi kasus, polisi menangkap 70 tenaga kerja asal Tiongkok di sebuah pabrik semen. Pabrik tersebut mempekerjakan 30 persen tenaga kerja lokal dan 70 persen tenaga kerja asing. Bayaran yang mereka terima pun sangat besar dibanding buruh lokal. Buruh asing mendapat 15 juta per bulan sementara buruh lokal 2 juta.?

Mujahidin Cyber

“Rata-rata tenaga kerja lokal menadapat bayaran 200 ribu. Sementara tenaga kerja asing sekitar 500 ribu. Sementara penggangguran cukup tinggi. Perekonomian Indonesia juga merosot jauh. Kegiatan ekspor berkurang, pendapatan dan daya beli masyarakat menurun, sementara harga-hara masih tinggi,” jelasnya.?

Atas dasar itu, Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siroj menyampaikan, PBNU mendesak kepada pemerintah agar mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana yang tercantum pada sila kelima.

Kedua, kata dia, mengingatkan kepada pemerintah dan pengusaha untuk memperhatikan kembali hal-hal yang mendasar sebelum mempekerjakan tenga asing di Inonesia.

Mujahidin Cyber

“Pemerintah harus sensitif menjaga perasaan rakyat dan mengkaji ulang kebijakan pembangunannya bila dalam prakteknya tidak menjadikan rakyat sebagai partnernya. Serta ? mendorong pemerintah aktif membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia dan memperkuat negosiasi kesepakatan dalam kerja sama investasi," ujar pengasuh pesantren Al Tsaqafah ini.?





Pada jumpa pers tersebut, PBNU juga mengemukakan pandangan-pandangannya terakait Suriah dan etnis Rohingya di di Myanmar. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam, Pondok Pesantren, Bahtsul Masail Mujahidin Cyber

Selasa, 26 Desember 2017

LP Maarif NU Brebes Seleksi Calon Peserta Perwimanas II

Brebes, Mujahidin Cyber?



Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU Kabupaten Brebes tengah menggelar seleksi calon peserta ? Perkemahan Wirakarya Ma’arif Nasional (Perwimanas II). Seleksi calon peserta dilakukan dengan cara tes terulis, wawancara dan keterampilan lainnya dalam bentuk perkemahan di SMK Maarif NU 3 Larangan Brebes, Ahad-Senin (20/4-1/5).

Pemimpin Sako Satuan Komunitas (Pinsako) Kwarcab Brebes Sayidin menjelaskan, seleksi dilakukan kepada 120 anggota Pramuka. Mereka berasal dari 12 Gugus Depan (gudep) yang berpangkalan di SMA/MA/SMK di bawah naungan LP Maarif.?

LP Maarif NU Brebes Seleksi Calon Peserta Perwimanas II (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU Brebes Seleksi Calon Peserta Perwimanas II (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU Brebes Seleksi Calon Peserta Perwimanas II

Dari 120 Pramuka tersebut akan diambil 64 anggota Pramuka Penegak yang selanjutnya dibagi dalam 4 sangga putra dan 4 sangga putri yang nantinya menjadi duta dari Brebes.?

Pada seleksi tersebut, kata Sayidin, selain diberi berbagai materi terkait Perwimanas juga akan diuji tentang problem solving, tekpram, pionering, survival, processing, motivation game, interview dan lain-lain. “Pelatih dan penilai, semua dari jajaran Kwarcab XI.29 Brebes,” ujarnya.?

Wakil ketua Mabicab Sako Pramuka Ma’arif NU Cabang Brebes H Ali Nurdin menjelaskan, Perkemahan Wirakarya Pramuka Maarif NU Nasional (Perwimanas) mengusung tema “Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, Kokohkan Karakter Generasi Bangsa”.

Mujahidin Cyber

Kegiatan Perwimanas II akan dihelat pada 18-23 September 2017, di Lapangan Tembak AKMIL Salaman dan Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Peserta dari Brebes akan bertemu dengan sekitar 5000 orang putra-putri utusan dari SAKO Pramuka Ma’arif NU Koordinator Daerah se-Indonesia, dan peserta peninjau dari luar negeri.?

Perwimanas II diadakan bersamaan dengan Peringatan Hari Lahir LP Ma’arif NU, dijadwalkan dibuka oleh Presiden RI, Joko Widodo. Pada kesempatan tersebut juga akan digelar Apel Siaga NKRI yang diikuti 15 ribu orang terdiri dari 10 ribu murid Maarif NU se-Jawa Tengah dan 5 ribu peserta Perwimanas se-Indonesia.

Mujahidin Cyber

Selanjutnya selama lima hari pelaksanaan Perwimanas, akan diisi berbagai kegiatan, di antaranya Olimpiade Aswaja An-Nahdliyah, Halaqah Pendidikan dan Kebangsaan, Seminar HIV dan Kesehatan Reproduksi, Jurnalistik dan ICT.

Selain itu akan diadakan Pameran Pendidikan dan Karya Sekolah/Madrasah, bimbingan ibadah rohani dan kultum, karnaval budaya, lokakarya kepramukaan, wisata religi dan pendiri NU, pentas seni dan tari, aksi Baktimu Padamu Negeri, Olahraga dan Senam Islam Nusantara. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam Mujahidin Cyber

Rabu, 20 Desember 2017

Pesan Kemerdekaan Ketua Umum PBNU

Jakarta, Mujahidin Cyber. Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Republik Indonesia (RI) diperingati dengan meriah dan suka cita di seluruh penjuru tanah air. Bangsa Indonesia mengekspresikan rasa syukur hari kemerdekaan dengan berbagai bentuk.

Rasa syukur ini yang ditekankan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj dalam memperingati HUT RI. Kiai Said memberi pesan bahwa sudah sepatutnya hari kemerdekaan disambut dengan penuh rasa syukur dan gembira.

Pesan Kemerdekaan Ketua Umum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Kemerdekaan Ketua Umum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Kemerdekaan Ketua Umum PBNU

“Mari menyambut hari kemerdekaan dengan penuh rasa syukur dan gembira dengan tetap menyongsong masa depan yang lebih sukses dan bermartabat,” ujar Kiai Said, Kamis (17/8) di Jakarta.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini menilai, arti kemerdekaan tidak hanya merdeka secara politik dan geografis, tetapi rakyat Indonesia juga harus merdeka dari sisi ekonomi, budaya, pendidikan, pertahanan, dan lain-lain dengan tetap berupaya mewujudkan keadilan sosial.

Kiai kelahiran Kempek, Cirebon, Jawa Barat ini juga mengajak kepada seluruh bangsa Indonesia agar merawat kemerdekaan dengan penuh semangat dan komitmen tinggi untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan jaya.

Mujahidin Cyber

Tidak lupa Kiai Said juga mengingatkan tantangan Indonesia yang menurutnya tidak mudah di era keterbukaan informasi saat ini.

“Upaya menjaga keutuhan bangsa dan negara mendapat tantangan yang tidak mudah karena tidak jarang tujuan-tujuan mulia dalam merawat negara kerap dibenturkan oleh kelompok-kelompok tertentu untuk memecah belah bangsa,” tandas Guru Besar Ilmu Tasawuf ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Kajian Islam, Makam, Bahtsul Masail Mujahidin Cyber

Rabu, 13 Desember 2017

NU Sulsel Ditantang Majukan Pendidikan NU

Makassar, Mujahidin Cyber. Pukul 14.00 (6/6/2013) Sekretaris Jenderal PBNU H Marsudi Syuhud tiba di Makassar, dijemput langsung oleh Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel Iskandar Idy dan Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Dr Ir Hj Majdah Agus Arifin Numang. 

NU Sulsel Ditantang Majukan Pendidikan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sulsel Ditantang Majukan Pendidikan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sulsel Ditantang Majukan Pendidikan NU

Setiba di kampus ia langsung diantar memasuki ruangan aula Universitas Islam Makassar yang sudah penuh diisi oleh para Pengurus Wilayah NU Sulawesi Selatan, Pejabat UIM, para Ketua Lembaga, Lajnah, dan Banom PWNU Sulawesi Selatan.

Sebelum prosesi pelantikan pukul 15.00 di UIM, PWNU Sulsel menggelar diskusi dan masukan dari Sekjen untuk PWNU Sulsel, UIM, Lembaga, Lajnah, dan Banom PWNU Sulawesi Selatan. 

Mujahidin Cyber

Dalam arahannya Sekjen PBNU mengatakan, “PWNU Sulsel ditantang untuk berkonsentrasi memajukan pendidikan NU di Sulawesi Selatan dan memberikan masukan untuk setiap cabang NU Sulsel untuk mendirikan sekolah dan pesantren untuk mengembangkan paham Aswaja”.

Menanggapi arahan Sekjen PBNU, dalam sambutan Ketua Tanfidziyah PWNU Sulsel mengatakan dalam kurung waktu 3 hari akan membangun SMK NU dan membangun kantor baru PWNU Sulsel dilahan Kantor NU yang sekarang. 

Mujahidin Cyber

“Hal ini sebagai tanggung jawab amanah dari masyarakat Nahdliyin dan PCNU se-Sulawesi Selatan,” tuturnya.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Andi Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Pendidikan, Kajian Islam, Sunnah Mujahidin Cyber

Minggu, 10 Desember 2017

Angka Kawin Sirri Tinggi, Ketua PA Brebes Inisiasi Sidang Itsbat Nikah

Brebes, Mujahidin Cyber - Ribuan pasangan nikah sirri yang tersebar di wilayah Kabupaten Brebes menjadi keprihatinan tersendiri bagi Ketua Pengadilan Agama (PA) Brebes H Abdul Basyir. Ia mengusulkan solusi untuk mengangkat derajat mereka dengan menggelar sidang itsbat nikah agar statusnya menjadi jelas.

“Kita perlu mengangkat status mereka dengan menggelar sidang itsbat nikah, di sini negara harus hadir,” kata H Abdul Basyir saat mengisi Tarawih dan Silaturahmi di Masjid Baitussajidin, Senin (12/6).

Angka Kawin Sirri Tinggi, Ketua PA Brebes Inisiasi Sidang Itsbat Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)
Angka Kawin Sirri Tinggi, Ketua PA Brebes Inisiasi Sidang Itsbat Nikah (Sumber Gambar : Nu Online)

Angka Kawin Sirri Tinggi, Ketua PA Brebes Inisiasi Sidang Itsbat Nikah

Sidang itsbat nikah harus dilakukan karena banyak masyarakat yang nikah sirri, juga karena berbelit hukum. Maka sesuai Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 tahun 2015 harus digelar sidang itsbat nikah terpadu dan di luar Pengadilan Agama. Sidang digelar di tempat yang lebih dekat dengan masyarakat.

Mujahidin Cyber

Keterpaduan, kata Basyir, ditopang bersama PA, Kementerian Agama (Kemenag), Pemkab dalam hal ini Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dindukcapil). Kemenag sebelumnya harus memverifikasi persyaratan apakah yang bersangkutan sudah tercatat dalam pernikahan di KUA atau belum.

Pemkab, lanjutnya, harus membiayai sidang tersebut karena masyarakat tidak boleh dipungut biaya sidang.

Mujahidin Cyber

“Beberapa daerah sudah melaksanakan sidang Itsbat nikah seperti Kajen, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Kuningan. Sementara di Brebes belum pernah diselenggarakan, direncanakan pada tahun 2018,” ujarnya.

Sidang itsbat nikah boleh sidang tunggal dan karena terpadu maka hari itu juga sudah berkekuatan hukum tetap, tidak perlu menunggu waktu 14 hari kemudian sebagaimana sidang-sidang lainnya.

Dengan sidang Itsbat, peserta sidang saat itu juga akan mendapatkan akta nikah, akta kelahiran bagi keluarga mereka dan juga kartu keluarga. Maka jauh hari sebelum sidang itsbat nikah digelar, Kemenag dan Dindukcapil harus menyiapkan segala administrasi sehingga selesai sidang langsung dibagi berkas administrasi kependudukan dan status pernikahannya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam, Ulama Mujahidin Cyber

Selasa, 05 Desember 2017

Tarik-tarikan Agama

Oleh Aswab Mahasin

Orang hidup di dunia kalau tidak bijaksana, kurang bijaksana. Anehnya, ketidakbijaksaan itu terjadi di elemen lingkungan yang seharusnya bijaksana. Seperti agama, kitatahu sendiri, agama selalu menyerukan agar pemeluknya berprilaku bijaksana, tapi tidak sedikit yang berlaku tidak bijaksana, bukan begitu? Selain itu juga, di Al-Qur’an menyiratkan, agar dakwah para ustadz bijaksana dan berseru dengan bijaksana. Berarti, tidak ada paksaan dalam hal ini. Kalau ada yang maksa, berarti tidak bijaksana.

Tarik-tarikan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarik-tarikan Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarik-tarikan Agama

Itulah bedanya hidup “di masa kini” dengan “demi masa kini”. Hidup di masa kini seharusnya saya, Andadan kamibisa menerima perbedaan, karena tidak mungkin, orang seantero dunia itu harus sama dengan kitasemua. Andatahu bukan, dunia ini cuma satu, masa orangnya mau jadi satu juga, padahal setiap orang pasti berbeda suku, budaya, ras, agama, dan pola pemikiran. Sepertinya kita “ngigau” kalau semuanya harus diseragamkan.?

Kata kiai saya, Tuhan juga merestui perbedaan, Tuhan tidak menghendaki umat yang satu, seperti di Al-Qur’an sudah jelas, “Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka berselisih pendapat.” (Lihat: QS. Hud [11]: 118)Sudah jelas bukan? Apalagi yang diributkan.?

Ayoo lah, kita memikirkan hidup yang lebih damai lagi, jangan hanya berpandangan pada hidup “demi masa kini” semata. Memang kita semua punya kepentingan pada hidup ini, entah itu kepentingan kelompok kita sebagai anak ideologis dari sebuah organisasi atau aliran, atau mungkin kepentingan diri kita sendiri. Tidak ada yang salah memperjuangkan itu semua. Namun, penyampainnya harus dilenturkan.?

Mujahidin Cyber

Susahnya lagi, saya kemaren dapat informasi, sekarang ini fenomena “otoritas baru” sedang merebak di masyarakat, berkaitan dengan sikap keagamaan seseorang dalam menanggapi fatwa-fatwa/seruan-seruan yang disampaikan oleh ustadz/ustadzah (di Televisi, Medsos, dan Youtube)—seperti Mamah Dedeh, pernah menyampaikan/menyerukan seorang muslim tidak diperbolehkan menjadi dokter hewan.

Seruan Mamah Dedeh tersebut sempat menjadi sorotan ramai di kalangan umat Islam Indonesia, termasuk dokter hewan yang beragama Islam. Karena sama sekali tidak dilandasi dengan dasar yang kuat. Walaupun akhirnya diklarifikasi oleh yang bersangkutan.

Ada lagi, dalam siaran Youtube, seorang Ustadz mengatakan, “membunuh adalah bagian dari rahmatan lil ‘alamin, jika pembunuhan itu didasari karena orang tersebut sudah mengganggu”, ada juga yang mengatakan, “nafsu bermaksiat lebih baik daripada nafsu dalam beragama, karena nafsu maksiat hanya merusak secara personal, sedangkannafsu beragama mempunyai potensi merusak agama, seperti sholawatan/menyanjung Nabi Muhammad, berdzikir yang berlebihan (tahlilan).”?

Melihat dari unsur kultural dan sosial serta kemanusiaan, jelas keliru.Membunuh dan berlaku asusila jelas bertentangan dengan martabat manusia yang hidup sebagai makhluk spiritual, makhluk sosial, makhluk politik, dan makhluk-makhluk lainnya. Dari hukum Islam sendiri silakan para pakar menilainya, saya tidak mau terjebak menjadi new otoritas. Pandangan dalam tulisan ini lebih pada agama yang bersanding dengan budaya dan masyarakat.

Mujahidin Cyber

?

Pertanyaanya, apakah otoritas seruan keagamaan menjadi milik pribadi seorang pendakwah, atau menjadi milik ideologi golongan tertentu? Apakah bijak ungkapan-ungkapan tersebut bagian dari “otoritas baru” yang dianut di masyarakat, dengan ujaran yang memojokkan, yang pada ujungnya merontokkan sendi-sendi kebudayaan kita? Tidak lain dan tidak bukan, fatwa-fatwa yang tidak menyejukkan akan mengakibatkan “ketegangan”. Secara sosial dan kultural, jelas bertentangan, bukan sikap yang bijak.

Model-model dakwah tersebut kadangkala menjadi penyampaian “tidak ramah lingkungan”. Apalagi kalau hal tersebut diterima oleh basis masyarakat awam (seperti saya), dengan pemahaman agama masih terbatas. Ingat, hirarki rasionalitas itu masih terjadi dikalangan kita. Dengan itu, bisa menyebabkan kebingungan dari masyarakat luas, mana yang benar.?

Beranjak dari itu semua, saya selalu kaget, setiap berselancar di dunia maya, kebiasaan saling menjatuhkan lumrah sekali, walaupun sekarang sudah terungkap salah satu dari kegiatan itu dilakukan oleh “saracen”. Tapi, itu masih salah satu. Mungkin, salah dua, salah tiga, dan salah empat didalangi oleh golongan tertentu. Kebanyakan orang menyebutnya sebagai gerakan radikalisme.?

Tahu kan radikalisme? Kalau bahasa sederhananya, seperti saya yang tidak anti tahlilan, radikalisme diidentikan dengan kelompok yang suka membid’ahkandan mengkafirkan. Enteng rasanya itu bibir ngomong kafir dan bid’ah. Masa segala-galanya disalahkan, aneh bukan? Tahlilan, salah—sholawatan, salah—wayang, salah—kenduren, salah—sedekah alam, salah, dan salah-salah yang lainnya.?

Apalagi kelompok yang baru dibubarkan kemaren (HTI). Sayadulu pernah masuk group Facebookmereka, tapi saya keluar lagi. Kenapa? Aneh rasanya. Masa NKRI disingkatnya Negara Kafir Repulik Indonesia, kalau memang demikian—katanya umat Islam mayoritas di Indonesia, hoakssemata, ternyata Islam di Indonesia cuma 0,1% hanya kelompok mereka saja, yang lainnya kafir. Hebat sekali mereka. Mengambil alih daerah kekuasaan Tuhan. Kalau kata Gus Mus, “dianggapnya Tuhan itu sama seperti mereka, ketika mereka marah, Tuhan pun akan marah, ketika mereka bilang kafir, Tuhan pun akan merestui kalau itu kafir.” Masya Allah.?

Saya coba korek-korek sejarah, ternyata pertentangan golongan kaku dan golongan elastis dimulai sudah lama, khususnya setelah perang Jawa berakhir tahun 1830, banyak golongan-golongan bermunculan dengan agenda memurnikan Islam. Dianggapnya Islam di Indonesia, atau yang kita kenal sekarang dengan Islam Nusantara itu keliru dan salah total, meminjam bahasanya Mark Woodward, Islam Jawa: Kesalehan Normatif dan Kebatinan. Menurutnya, kedua komponen model Islam itu susah untuk disenyawakan. Bertolak belakang.

Namun, karakter budaya Indonesia lebih merestui Islam Nusantara yang hadir dan berkembang, karena sesuai dengan norma, etika, karakter, dan kebiasaan masyarakat Indonesia itu sendiri. Senada dengan apa yang dikatakan Arnold Toynbee dengan teori radiasi budaya, “Aspek budaya yang di tanah asalnya tidak berbahaya akan menjadi berbahaya di tempat yang baru didatangi.”

Kalau kita lihat sekarang, bagi saya, sungguh miris. Seakan-akan terjadi klasifikasi kelas ketaatan, “kelas surga” dan “kelas neraka”. Kasihan sekali orang-orang seperti saya ini yang katanya menternak bid’ah dan akidahnya tidak murni, lantas vonisnya adalah neraka. Gimana jadinya ini. Kalau sayaterserah Tuhan saja, surga dan neraka sama-sama ciptaan Tuhan, masuk disalah satunya adalah restu Tuhan. Tapi mendingsepertiAbu Nawas saja, “Tuhan, aku tidak pantas masuk surga, tapi kalau mau dimasukin neraka, please, jangan dong.”

Gara-gara perbedaan pendapat yang meruncing, tidak sedikit pertentangan dan konflik yang terjadi di dunia ini, dan itu mengatasnamakan agama. Mungkin ini yang dinamakan “tarik-tarikan agama”. Dan hal tersebut tidak hanya terjadi di Islam saja, mengutip catatan dari Karen Armstrong, yang menyatakan, fundamentalisme/radikalisme itu terjadi di semua agama, seperti; Hindu radikal mempertahankan sistem kasta dan menentang Muslim India; kaum fundamentalisme Yahudi melakukan penghunian ilegal di Tepi Barat dan Jalur Gaza serta bersumpah untuk mengusir semua orang Arab di Tanah Suci mereka; Moral Majority yang di pimpin Jerry Falwell dan Christian Right, yang menganggap Uni Soviet sebagai Kerajaan Setan, mencapai kekuatan yang hebat di Amerika Serikat selama tahun 1980-an, dan masih banyak lagi.

Itu lah permasalahannya, api konflik dengan basis radikalisme mudah punya potensi. Karena sering sekali tidak terima kalau tidak sama seperti dirinya. Maunya mereka, kita semua manut sama mereka, tapi bagaimana mau manut orang kita semua ini punya latar belakang ide dan ideologi masing-masing, boleh saja sesumbar dalil sampai meteran, tapi tolong, jangan tuduh dan paksa kami, kafirkah kami?

Allah memberikan bingkisan kepada setiap golongan dan manusia berupa agama, sekaligus ruang dakwahnya. Dan ruang dakwah itu yang seharusnya dimanfaatkan dengan baik oleh kita semua, dengan cara santun dan bijaksana. Kondisi sosial dan psikologi sosial dari zaman ke zaman berbeda.?

Menanggapi persoalan tersebut, kita harus berpikir dialektis, umat Islam berkembang variatif, jargon-jargon dan simbol-simbol keIslaman tidak hanya dimiliki oleh satu golongan, melainkan semua golongan yang beragama Islam dengan pandangan tertentu, madzhab tertentu, dan diskursus tertentu. Sehingga tidak sedikit dari kita terjebak pada kebingungan, mana yang Islam di antara kita. Ini menjadikan kita berpikir satu pihak, sehingga timbul sikap menyempit, Islam cenderung meluas.?

Sebab itu, dalam dinamika sosial ada kecenderungan kelompok yang menutup diri, sebagai cara untuk menjadikan kelompoknya pada kemurnian ideologi serta menuduh kelompok lain telah menyeleweng. Hal ini seleras seperti yang disampaikan Gunawan Muhammad dalam dialognya, “Efek dari penyempitan itu salah satunya adalah hilangnya toleransi. Namun, di sisi lain hilangnya toleransi bukan hanya masalah teologi lokal semata, juga menyangkut krisis sosial budaya.

Sistem berketuhanan kita yang harus dibenahi, karena selama ini sistem berketuhanan kita belum mampu menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan. Kita hanya sibuk dengan kebenaran kita masing-masing. Sistem berketuhanan yang sehat, akan melahirkan cerminan spiritual yang sehat pula, seperti agama yang mempunyai misi; cinta kasih, perdamaian, persahabatan, dan saling menghormati.?

Selain itu, pada wilayah desa, kecamatan, kota, dan negara, menjaga kuat manusia-manusianya supaya tidak tersusupi paham-paham aneh, yang bisa memecah belah (apalagi hoaks-hoaks murahan berharga mahal itu). Dan ini tanggung jawab kita semua, bukan hanya tokoh masyarakat, ulama, presiden/pemerintah, melainkan bersama untuk mencapai pada persatuan Indonesia. Jangan menunggu datangnya “keajaiban” untuk hidup berdampingan rukun, minimal belajar rukun secara fisik saja, tidak pukul-pukulan dan tidak jotos-jotosan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an, “Wa’ tashimu bi habli allaihi jami’an wa la tafarraqu” (Dan bepeganglah kalian kepada tali Allah (secara) keseluruhan dan janganlah bercerai-berai/terpisah belah) (QS. Ali Imran [3]: 103). Menurut Gus Dur, ayat ini menunjukan kepada kita, yang dilarang bukannya perbedaan pandangan melainkan bersikap terpecah-belah satu dari yang lainnya. Hal ini diperkuat sebuah ayat lain (QS. Al-Maidah [5]: 3), “ta’wanu ‘ala al-birri wa al-taqwa”.

Ada sebuah adagium menarik yang dipopulerkan Gus Dur, dan ini akan menjadi akhir dari tulisan ini, “tak ada agama tanpa kelompok, tak ada kelompok tanpa kepemimpinan, dan tak ada kepimpinan tanpa sang pemimpin” (la dina illa bi jama’atin wa la jamata illa bi imamatin wala imamata illa bi imamin).?

Adagiumnya memang benar, walaupun sekelompok kecil pernah mengajukan klaim kepemimpinan itu dan minta diterima sebagai pemimpin. Namun sikap mereka yang memandang rendah kelompok lain, justru menggagalkan niatan tersebut, sedangkan kelompok-kelompok lain tidaklah memiliki kepemimpinan kohensif seperti itu.?

Herankah kita, jika wajah berbagai gerakan Islam di Tanah Air kita saat ini tampak tidak memiliki kepemimpinan yang jelas? Di sinilah kita perlu membangun kembali “kesatuan” umat (ummatan wahidatan). Mudah diucapkan, tapi sulit diwujudkan bukan? (Abdurrahman Wahid: 2011). Apalagi tarik-tarikan agama terus mendominasi untuk saling berebut kebenaran bukan?

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Jadwal Kajian, Amalan, Kajian Islam Mujahidin Cyber

Sabtu, 02 Desember 2017

Inilah Sejumlah Fakta Terkait Serangan pada Perayaan Hari Nasional Perancis

Jakarta, Mujahidin Cyber. Serangan teror truk besar menggilas dan menembaki kerumunan warga yang tengah merayakan Hari Nasional Perancis, Bastille Day merenggut 80 korban jiwa, Kamis malam waktu setempat.

Berikut hal-hal yang perlu diketahui terkait serangan tersebut dikuti dari The Guardian:

Inilah Sejumlah Fakta Terkait Serangan pada Perayaan Hari Nasional Perancis (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Sejumlah Fakta Terkait Serangan pada Perayaan Hari Nasional Perancis (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Sejumlah Fakta Terkait Serangan pada Perayaan Hari Nasional Perancis

1. Sebuah truk besar melindas kerumunan orang yang merayakan Hari Bastille di kota sebelah Selatan Perancis, Nice

2. Truk yang sengaja menabrak kerumunan itu menewaskan 80 orang, termasuk beberapa anak-anak dan 18 orang lain terluka parah, serangan itu dikategorikan sebagai sebuah serangan teroris

3. Pengemudi truk ditembak mati oleh polisi. Mereka tengah mencoba memastikan apakah dia memiliki kaki-tangan

Mujahidin Cyber

4. Otoritas mengatakan pengemudi menembaki kerumunan sambil menyetir truk yang berisi penuh dengan senjata dan granat

5. Para saksi mengatakan pengemudi menyetir secara zig-zag sehingga dia bisa menabrak sebanyak mungkin orang. Dilaporkan dia mengemudi ke arah kerumunan sepanjang 2 kilometer dengan kecepatan 50 kilometer per jam.

6. Laporan-laporan yang tak terkonfirmasi di media Perancis mengatakan sebuah kartu tanda pengenal milik seorang penduduk berusia 31 tahun di Nice yang memiliki kebangsaan ganda Perancis-Tunisia ditemukan di dalam truk

Mujahidin Cyber

7. Tak ada kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan

8. Presiden Perancis, François Hollande mendeskripsikan serangan sebagai sebuah "kejadian ganjil" dan mengatakan tentara akan dikerahkan untuk mendukung polisi, utamanya di perbatasan negara tersebut. Dia mengatakan serangan itu bercirikan "serangan teroris" dan bersumpah Perancis akan senantiasa lebih kuat dari pada para fanatik yang hendak menyerangnya

9. Keadaan darurat negara tersebut yang awalnya akan berakhir pada 26 Juli, kini diperpanjang hingga tiga bulan

10. Menteri Dalam Negeri Perancis Bernard Cazeneuve, mengatakan: "Kita sedang berperang dengan teroris yang ingin menyerang kita dengan risiko apapun dan yang sangat bengis"

11. Hollande tengah dalam perjalanan ke Paris dari Avignon untuk memimpin sebuah pertemuan terkait keamanan dan pertahanan darurat jam 09.00 pada Jumat. Setelah itu dia dijadwalkan menuju Nice. Cazeneuve sudah berada di Nice.

12. Para pemimpin dunia, termasuk Barack Obama dan Hillary Clinton mengutuk serangan tersebut. Donald Trump menunda pengumuman bakal calon wakil presiden yang akan mendampinginya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Ubudiyah, Kajian Islam Mujahidin Cyber

Jumat, 26 Mei 2017

Pelajar NU Klaten Awali Kembali Kajian Kitab Mbah Hasyim

Klaten, Mujahidin Cyber. Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Klaten kembali menggelar kajian rutin kitab Irsyadus Sari karya KH M Hasyim Asy’ari, Ahad (19/10). Kajian yang biasanya digelar setiap Ahad Pahing ini,  mundur dua pekan karena salah satu Ahad Pahing yang dijadwalkan bertepatan dengan hari raya Idul Adha.

“Kami sangat bersyukur kajian rutin ini tetap istiqamah, meskipun mundur dari jadwal,” kata Ketua IPNU Klaten Ahmad Saifuddin.

Pelajar NU Klaten Awali Kembali Kajian Kitab Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Klaten Awali Kembali Kajian Kitab Mbah Hasyim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Klaten Awali Kembali Kajian Kitab Mbah Hasyim

Kajian kali ini memasuki putaran kelima. Kajian yang dipandu Wakil Rais Syuriyah PCNU Klaten KH Muhammad Nawawi Syafi’i, mendorong para hadirin untuk menghormati orang alim.

Mujahidin Cyber

“Penghormatan ini bukan pengkultusan, namun lebih pada pemuliaan ilmu Allah SWT yang ada dalam diri orang ‘alim tersebut’,” ujar pengasuh pesantren Roudlotush Sholihin dan Roudlotush Sholihat Batur Ceper Klaten.

Melalui karyanya, Mbah Hasyim mengatakan, “Dekat dengan ulama itu perhiasan. Bercampur dengan mereka adalah keuntungan. Ulama termasuk dari tiga golongan selain para Nabi dan syuhada yang diijinkan memberi syafa’at di hari Kiamat kelak.”

Mujahidin Cyber

“Maka dari itu, jangan sampai kita jauh dari ulama,” imbau Kiai Nawawi.

Kiai Nawawi juga mengajak pelajar NU untuk selalu mencari ilmu. Karena, orang berilmu itu seolah abadi. Meskipun sudah wafat, mereka akan tetap dikenang dan diingat lantaran kemuliaan ilmu yang dimilikinya. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nusantara, Kajian Islam Mujahidin Cyber

Rabu, 03 Mei 2017

Fatayat NU DKI Jakarta Gelar Festival Ramadhan

Jakarta, Mujahidin Cyber. Pengurus Wilayah Fatayat NU DKI Jakarta menggelar Festival Ramadhan akhir pekan lalu di lantai 2 pusat perbelanjaan Season City Jakarta Barat. Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan produk-produk home made atau industri rumah tangga yang digeluti oleh kader-kader Fatayat NU Jakarta.

Fatayat NU DKI Jakarta Gelar Festival Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU DKI Jakarta Gelar Festival Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU DKI Jakarta Gelar Festival Ramadhan

“Kegiatan ini untuk mempromosikan produk home made yang diproduksi langsung oleh anggota-anggota Fatayat NU DKI dalam rangka menambah kecintaan kita pada produk dalam negeri,” ujar Ketua Fatayat NU DKI Jakarta, Rahayu Sri Rahmawati akhir pekan lalu.

Dengan kegiatan yang berkelanjutan seperti ini, lanjut Rahayu, Fatayat diharapkan bisa lebih mandiri dalam bidang ekonomi sembari terus berdakwah Islam Aswaja ala NU kepada anak-anak, perempuan, dan seluruh lapisan masyarakat.

Mujahidin Cyber

Sementara itu, Ketua PWNU DKI Jakarta, H Tubagus Robby Budiansyah yang hadir dalam kesempatan tersebut mengatakan, bahwa sinergitas antara pelaku usaha, khususnya warga NU dengan dunia perbankan bisa menjadi sarana untuk menciptakan UKM yang maju dan mandiri. 

“Juga akan menumbuhkan ekonomi menjadi lebih berkembang. Oleh karena itu, industri rumahan Fatayat bisa memanfaatkan fasilitas perbankan,” ujar Robby. 

Mujahidin Cyber

Selain produk-produk industri rumah tangga seperti makanan/kue lebaran, tas, sandal, bros, dan jilbab, Festival ini juga menampilkan berbagai lomba, yaitu Fashion Show ibu dan anak, bazar, lomba hadroh dan marawis yang diikuti oleh total 15 grup, serta lomba mewarnai yang diikuti oleh 150 siswa tingkat TK dan SD. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Jadwal Kajian, Kajian Islam Mujahidin Cyber

Minggu, 30 April 2017

Gus Dur : NU Tulang Punggung PKB

Jakarta, NU.Online
Ketua Dewan Syuro DPP PKB, KH Abdurrahman Wahid mengakui meskipun tidak secara jelas Nahdlatul Ulama (NU)  merupakan tulang punggung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), oleh karena itu pada Pemilu 2004 mendatang dirinya tetap yakin pada "Inul" (Insya Allah NU Lagi).

"Saya sangat yakin dan optimis, Pemilu 2004 NU tetap akan berjaya dan akan memimpin bangsa ini seperti tahun 1999 lalu. Oleh karena itu setiap ada kesempatan dan setiap ada waktu saya akan mengkampanyekan ’Inul’," katanya sebelum memberikan ceramah pengajian di Ponpes Putri Al Ishlahiyah Singosari, Minggu.

Menurut mantan Ketua PBNU itu, antara PKB dengan PBNU tidak  ada persoalan apapun, kalaupun ada perbedaan antara NU dan PKB itu  merupakan hal yang wajar. "Yang jelas NU tidak akan ke mana-mana, karena NU sendiri merupakan tulang punggung dari PKB," ujarnya.

Sementara itu sesepuh NU, KH Cholil Bisri yang juga Wakil  Ketua MPR RI itu juga menegaskan, antara NU dan PKB tidak ada persoalan  mendasar, kalaupun selama ini ada perbedaan merupakan hal yang lumrah  dan wajar. "Jadi, saya kira tidak ada perubahan apa-apa antara NU dengan PKB, seperti yang disampaikan tausyiyah oleh NU, itu kan menunjukkan ’kelamin’ dari NU," katanya.

Yang dimaksud NU menunjukkan ’kelamin’ menurut kiai kharismatik itu tidak lain bahwa  NU memang konsisten dengan sikap politis yang diambil selama ini, sebab, NU itu  bukan lembaga politik. "Jadi, NU tidak mungkin terjun ke politik praktis," tandasnya.

Namun demikian, Kholil Bisri juga mengakui bahwa dalam tubuh PKB memang sempat terjadi konflik yang memanas terutama berkaitan dengan perseteruan antara Gus Dur dengan Sekjen PKB Syaifullah Yusuf.

Menurut dia, konflik itu hal biasa, karena dalam suatu kelompok  yang terdiri dari banyak orang terjadi perbedaan merupakan hal  biasa. "Jadi, tidak ada masalah, kendati saya sendiri juga sempat bingung dengan adanya konflik tersebut," katanya.    

Pada kesempatan itu kiai asal Rembang itu menghimbau agar  masyarakat nahdliyin untuk tenang, tidak terpengaruh dengan konflik-konflik yang terjadi di tingkat atas sehingga persiapan Pemilu 2004 mendatang bisa berhasil sesuai dengan yang diharapkan. "Dan kita sudah siap untuk menghadapi Pemilu 2004 nanti  dan kita juga optimis lebih kalau nanti kita akan lebih baik dibanding Pemilu sebelumnya,"ujarnya.(Cih)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam Mujahidin Cyber

Gus Dur : NU Tulang Punggung PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur : NU Tulang Punggung PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur : NU Tulang Punggung PKB

Sabtu, 25 Februari 2017

Teks Deklarasi Hubungan Islam-Pancasila pada Munas NU 1983

Banyak di antara ulama NU seperti KH Wahid Hasyim, KH Masykur dan lain sebagainya menjadi anggota BPUKPI yang bertugas merumuskan dasar negara dan undang-undang dasar. Dengan sendirinya mereka ikut dalam merumuskan Pancasila dan UUD 1945. Karena itu NU membela hasil kesepakatannya sendiri saat Indonesia dihadang oleh berbagai pemberontakan yang hendak mengganti NKRI. Tetapi celakanya di tangan Orde Baru Pancasila telah menjadi alat politik yang menentukan, sebagai sarana untuk mendiskiminasi dan menstigma kelompok lain. NU setia pada Pancasila karena itu menolak segala penyimpangan penafsiran dan pengamalan Pancasila serta penerapan di luar batas seperti itu.

Sebagai salah satu perumus Pancasila, NU menolak penafsiran tunggal Pancasila yang dimonopoli Orde Baru melalui P4 dan sebagainya. Pancasila harus diletakkan sebagai dasar negara menjadi milik bersama sebagai falsafah bangsa. Ketika Orde Baru mendesak semua organisasi tidak hanya organisasi politik, tetapi juga organisasi kemasyarakatan untuk menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas, maka banyak organisasi yang curiga, enggan dan menolak, terutama ormas keagamaan, tidak hanya Islam tetapi juga agama yang lain. Melalui pembicaraan yang intensif antara KH. As’ad Syamsul Arifin dan juga KH Ahmad Siddiq dengan Presiden Soeharto bahwa Pancasila tidak akan menggeser agama dan agama tidak akan dipancasilakan, maka NU mau menerima Pancasila sebagai asas organisai, tanpa harus meninggalkan Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai dasar akidahnya.

Kemudian penerimaan itu dirumuskan dalam sebuah piagam yang sangat komprehensif dan konklusif dalam sebuah Deklarasi Tentang Hubungan Pancasila dengan Islam. Deklarasi penting itu dirumuskan dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo pada tahun 1983. Pernyataan NU dianggap kontroversial dan menggemparkan saat itu. Bagi yang tidak tahu argumennya akan menentang, tetapi yang mengerti argumennya yang begitu rasional dan sistematis serta proporsional itu banyak yang tertegun dan simpati.

Teks Deklarasi Hubungan Islam-Pancasila pada Munas NU 1983 (Sumber Gambar : Nu Online)
Teks Deklarasi Hubungan Islam-Pancasila pada Munas NU 1983 (Sumber Gambar : Nu Online)

Teks Deklarasi Hubungan Islam-Pancasila pada Munas NU 1983

Tidak sedikit kalangan ormas Islam yang lain berterima kasih pada NU yang mampu berpikir cerdik dan strategis dalam memecahkan persoalan sangat pelik yakni hubungan agama dengan Pancasila, tetapi dengan kecemerlangannya NU mampu meletakkan hubungan yang proporsional antara agama dan Pancasila, sehingga mereka bisa menerima Pancasila secara proporsional pula. Bahkan agama-agama lain merasa sangat berterimakasih pada NU atau kemampuannya merumuskan hubungan Agama dengan Pancasila melalui argumen yang rasional dan mendasar baik secara syar’i maupun secara siyasi.

Ketika undang-undang mengenai penerapan asas tunggal diberlakukan pada tahun 1985, maka jalan yang dirintis NU telah mulus, sehingga hampir semua ormas besar dan agama-agama remi menerimanya. Hanya beberapa ormas Islam sempalan yang masih menentang Pancasila. Itulah jasa besar NU dalam menegakkan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara Republik Indonesia serta dasar bagi ormas yang ada. Berikut bunyi lengkap deklarasi fenomenal tersebut:

?

Mujahidin Cyber

Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam?

Bismillahirrahmanirrahim

Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesi bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antarmanusia. Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak. ?

Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdhatul Ulama

Mujahidin Cyber

Sukorejo, Situbondo 16 Rabi’ul Awwal 1404 H

(21 Desember 1983)

?



Sumber: Abdul Mun’im DZ (Editor), Piagam Perjuangan Kebangsaan, 2011 (Jakarta: Setjen PBNU-Mujahidin Cyber)



Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Anti Hoax, RMI NU, Kajian Islam Mujahidin Cyber

Rabu, 21 Desember 2016

Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM

Makasar, Mujahidin Cyber - Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Numang melepas gerak jalan santai Universitas Islam Makassar dalam rangka Harlah Ke-50 di Halaman Taman Makam Pahlawan Panaikang, Jumat (3/6). Gerak jalan santai ini dimulai dari Taman Makam Pahlawan dan berakhir di Universitas Islam Makassar.

Gerak jalan ini diikuti seluruh civitas akademika UIM, lembaga, sejumlah badan otonom NU, IKA PMII, dan beberapa sekolah di bawah naungan Maarif NU.

Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub Sulsel Lepas Gerak Jalan Santai Harlah UIM

Agus Arifin Numang mengapresiasi keberadaan lembaga pendidikan Islam di bawah naungan NU yang telah menginjak usia 50 tahun. UIM telah banyak memberikan kontribusi besar bagi kecerdasan masyarakat Sulawesi Selatan.

"Tak hanya itu, UIM sebagai perguruan tinggi swasta milik NU, ke depannya harus menjadi pilar utama perubahan akhlakul karimah bagi masyarakat Sulsel. Apalagi dengan konsep kampus Qurani yang dikembangkan UIM saat ini," kata Agus yang juga Mustasyar NU Sulsel ini.

Mujahidin Cyber

Rektor UIM Dr Majdah M Zain Agus AN mengatakan, "Selaku rektor, kami mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh pendiri, pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Al-Gazali Makassar, pengurus NU Sulsel, dan seluruh civitas akademika UIM yang telah banyak mengabdikan sebagian umurnya untuk memajukan UIM. Semoga UIM ke depan lebih baik," ujarnya.

Mujahidin Cyber

Majdah mengajak seluruh peserta gerak jalan santai untuk membacakan Al-Fatihah dan meniatkan pahalanya untuk almarhum Prof Dr H Abd Rahman Idrus yang telah berpulang ke rahmatullah pada 31 Mei 2016. “Semoga jasa-jasanya menjadi amal jariyah," ujar Majdah.

Tampak hadir Mantan Rektor UIM Prof Zainuddin Thaha, Wakil Rektor I Prof Arfin Hamid, Wakil Rektor II Dr Saripuddin Muddin, Wakil Rektor III Dr Abd Rahim Mas P Sanjata, Wakil Rektor IV Dr Muammar Bakry, Kepala Biro Drs H Muhammad Said, Ketua IKA PMII Dr Abd Kadir Ahmad, dan pengurus FKCA Sulsel. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam, Pemurnian Aqidah, News Mujahidin Cyber

Kamis, 15 Desember 2016

Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono

Pekalongan, Mujahidin Cyber. Sepekan setelah Lebaran warga Pekalongan dan sekitarnya biasanya merayakan Syawalan atau ‘Lebaran’ kedua, setelah sebagian warga yang berpuasa sunah selama enam hari, mulai pada tanggal 2 Syawal. Syawalan inilah yang menjadi pertanda puasa mereka berakhir. Di daerah lain Syawalan ini disebut pula dengan nama Lebaran Ketupat.

Syawalan di Pekalongan, beberapa tahun belakangan ini terpusat di dua tempat, di Krapyak dan Linggoasri. Meskipun esensinya sama, yakni merayakan Syawalan, akan tetapi keduanya dikemas dengan cara berbeda.

Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono (Sumber Gambar : Nu Online)
Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono (Sumber Gambar : Nu Online)

Syawalan, Lopis Raksasa dan Gunungan Megono

Di Krapyak Lor Kecamatan Pekalongan Utara Kota Pekalongan, tradisi Syawalan yang digelar pada hari Kamis (15/8) dimeriahkan dengan dua lopis raksasa. Dua lopis raksasa dengan berat masing-masing 1,3 ton dan 900 kilogram itu mulai dimasak oleh warga Gang VIII dan warga di Gang III Kelurahan Krapyak Lor tiga hari sebelum hari-H.

Mujahidin Cyber

"Lopis diangkat dengan bantuan mobil derek. Lopis ini dimasak selama empat hari tiga malam," terang Syaiful, Sekretaris Panitia Syawalan dan Lopis Ageng.

Mujahidin Cyber

Simbol perekat silaturahmi

Pada hari-H, dua lopis sudah ditempatkan di tempat pemotongan. Walikota Pekalongan, HM Basyir Ahmad, secara simbolis memotong kedua lopis kemudian membagikan kepada warga. Selang kemudian, para pengunjung yang datang dari berbagai daerah berebut lopis raksasa tersebut.

Para pengunjung memperebutkan Lopis tersebut yang maksudnya untuk mendapat berkah. Pembuatan Lopis dimaksudkan untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat Krapyak dan dengan masyarakat daerah sekitarnya, hal ini diidentikkan dengan sifat lopis yang lengket.

Warga sekitar biasanya menyediakan makanan ringan dan minuman secara gratis kepada para pengunjung. Setelah pembagian lopis selesai, biasanya para pengunjung berbondong-bondong ke obyek wisata Pantai Slamaran Indah untuk menikmati pantai atau menikmati meriahnya hiburan gratis. Sebelumnya acara juga dimeriahkan dengan acara kirab budaya yang menampilkan berbagai macam kebudayaan.

Gunungan Megono

Berbeda dengan warga Krapyak yang menampilkan lupis raksasa, masyarakat Kabupaten Pekalongan memeriahkan Syawalan dengan membuat gunungan nasi megono. Megono adalah nama kuliner khas Pekalongan, yang bahannya dari buah nangka.

Objek Wisata Linggo Asri Kecamatan Kajen menjadi lokasi rebutan gunungan warga. Ribuan warga yang hadir rela berdesak-desakan memperebutkan makanan khas berasal dari Kabupaten Pekalongan itu.

Seorang warga, Tuti, mengaku ikut senang berebut gunungan nasi megono sebagai upaya mendapatkan berkah dalam hidupnya. 

"Gunungan nasi megono ini dipercaya masyarakat mempunyai kelebihan jika orang itu mampu makan nasi itu sehingga saya ikut berebut supaya dapat berkah dan tambah rejeki," ungkapnya.

Acara ini juga dimeriahkan kirab dan pertunjukan tari "Kuda Lumping" dan "Jatilan Satriyo Budoyo" dari Karanggondang, Kecamatan Karanganyar. Sedangkan kirab diikuti peserta yang terdiri atas "cucuk lampah" sebagai pimpinan rombongan yang diikuti rombongan silat temanten, grup rebana, kesenian "ngarak pengatin sunat", kuda kepang, egrang, dan sepasang gajah membawa gunungan nasi megono dan hasil bumi dari Balai Desa Linggoasri menuju lapangan parkir Wana Wisata.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Kajian Islam, Kajian Sunnah, AlaSantri Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock