Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Mujahidin Cyber

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.

Mujahidin Cyber

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah Mujahidin Cyber

IPPNU Jateng Perjuangkan Peremajaan Usia Anggota

Kudus, Mujahidin Cyber. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Tengah menyatakan akan memperjuangkan gagasan peremajaan usia anggota  menjadi 27 tahun. Selain itu, penegasan target group IPPNU menjadi gagasan utama yang diusung dalam  kongres XV IPPNU di Palembang.

IPPNU Jateng  Perjuangkan Peremajaan Usia Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Jateng Perjuangkan Peremajaan Usia Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Jateng Perjuangkan Peremajaan Usia Anggota

Demikian yang disampaikan ketua PW IPPNU Jateng Nimatul Azizah saat dihubungi Mujahidin Cyber melalui Handpond  terkait kesiapannya mengikuti kongres XV IPPNU di Palembang kemarin.

Ia mengatakan gagasan Jawa tengah ini sebagai upaya untuk mewujudkan amanah kongres IPPNU sebelumnya di Surabaya yang salah satu keputusannya kembali ke khittoh pada peremajaan usia anggota tersebut.

Mujahidin Cyber

"Dalam  Rapimwil bersama Pimpinan Cabang se Jateng beberapa waktu lalu, kita sepakat peremajaan usia  akan diperjuangkan melalui usulan perubahan PD/PRT,"ujar Een sapaan akrabnya.

Een menambahkan IPPNU di lembaga pendidikan seperti sekolah maupun pesantren masih minim sehingga keberadaannya belum mampu menampakkan dirinya sebagai organisasi pelajar. 

Mujahidin Cyber

"Oleh karenanya ke depan, IPPNU harus menunjukkan eksistensinya itu sekaligus mengawal kaderisasi putri NU di kalangan pelajar sekolah negeri maupun swasta dan santri pesantren," tandas Een yang juga salah satu kandidat ketua umum PP IPPNU ini.

Sementara itu  Ketua PC IPPNU Kudus Risda Umami berharap gagasan peremajaan usia ini  bisa tercapai karena sudah menjadi tuntutan yang harus diwujudkan dalam rangka proses kaderisasi. 

"Kongres juga harus melahirkan sosok ketua  yang bisa membawa perubahan positif bagi IPPNU.Termasuk mampu mengemban amanah dan melaksanakan program sesuai kebutuhan kader bukan kebutuhan pengurus,"tandas Risda kepada Mujahidin Cyber.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah Mujahidin Cyber

Senin, 12 Februari 2018

Mahasiswa STAINU Jakarta Gelar Sidang Itsbat Nikah Massal

Bogor, Mujahidin Cyber. Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta bekerja sama dengan Pengadilan Agama Kabupaten Bogor, Jawa Barat menggelar sidang itsbat nikah massal di Kampung Pulo Desa Cibeuteung Udik, Kecamatan Ciseeng Bogor, Jumat (2/9). Sidang itsbat nikah ini diperuntukkan bagi pasangan suami-istri yang telah menikah secara Islam namun belum mempunyai buku nikah.

Peserta sidang itsbat nikah berjumlah 15 pasangan yang rata-rata berusia di atas 40 tahun. Mereka sudah menikah dan tinggal bersama sejak lama serta sudah dikaruniai anak namun belum memperoleh legalitas dari negara.

Mahasiswa STAINU Jakarta Gelar Sidang Itsbat Nikah Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Jakarta Gelar Sidang Itsbat Nikah Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Jakarta Gelar Sidang Itsbat Nikah Massal

Ketua Program Studi Ahwal Syakhsiyah Irfan Hasanuddin mengatakan, kegiatan sidang itsbat nikah itu merupakan bagian dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAINU Jakarta, menjadi bagian dari tugas akademik pengabdian masyarakat.

"Sebenarnya para pasangan yang mengikuti sidang itsbat sudah sah menurut syariat hanya saja menurut hukum negara belum sah. Kami sudah melakukan sosialisasi itsbat nikah sejak 2013. Kalau masyarakat sudah mempunyai akte nikah atau mendapatkan pengakuan nikah dari negara maka negara akan mudah melakukan pelayanan," katanya.

Mujahidin Cyber

Taufik Hidayat, pejabat Desa Cibeteung Udik mengungkapkan, dari sekitar 3000 kepala keluarga (KK) di desa setempat, sekitar 1500 KK belum mempunyai buku nikah. Akibatnya banyak sekali pasangan yang kesulitan mendapatkan pelayanan administratif dari desa mulai dari kartu keluarga, kartu tanda penduduk sampai akses kesehatan. Mereka juga terkendala dalam melakukan aktifitas ekonomi dan perbankan.

Nawawi (40) salah seorang peserta isbat nikah mengatakan, ia tidak menguruskan pernikahannya ke Kantor Urusan Agama (KUA) karena alasan ekonomi. Nawawi yang mengikuti sidang bersama istrinya dan dua orang saksi mengeluhkan biaya nikah yang besar waktu itu, yakni pada saat ia melangsungkan akad nikah.

Hakim Pengadilan Agama Kabupaten Bogor yang memimpin sidang itsbat nikah di Desa Cibeuteung Udik memastikan, proses sidang itsbat nikah sangat mudah dan bisa dilakukan dalam sekali sidang. Proses sidang juga bisa dilakukan secara kolektif yang difasilitasi oleh pihak tertentu seperti STAINU.

Mujahidin Cyber

Ditambahkan, untuk masyarakat miskin, proses sidang bisa bebas biaya sama sekali. Selanjutnya pasangan yang telah diitsbatkan akan memperoleh surat itsbat yang akan digunakan oleh pihak KUA dalam memproses buku nikah. (Deni Hariman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, AlaNu Mujahidin Cyber

Minggu, 11 Februari 2018

Hasyim: Kiai Memang Tak Harus Dipanggil Pak Kiai

Jakarta, Mujahidin Cyber. Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta mengikuti shalat jenazah KH Muhammad Najid Muchtar, Ketua Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama tadi siang, Sabtu (14/4), di Masjid Syahid UIN Jakarta. Jajaran Bengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beserta dosen dan para petinggi UIN turut menyalatkan jenasah mantan Dekan Fakultas Ushuluddin UIN itu.

Salah seorang pembantu rektor UIN Sudarmanto saat memberikan sambutan atas nama UIN Jakarta mengatakan, Najid Muchtar adalah seorang guru sekaligus dai yang bersahaja. "Kesahajaan beliau telah mewariskan amal untuk Islam dan bangsa ini," katanya sembari merinci kiprah almarhum di bidang pendidikan Islam khususnya di lingkup UIN Jakarta.

Hasyim: Kiai Memang Tak Harus Dipanggil Pak Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim: Kiai Memang Tak Harus Dipanggil Pak Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim: Kiai Memang Tak Harus Dipanggil Pak Kiai

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menambahkan, Najid Muchtar adalah seorang yang ihlas dalam mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Almarhum tidak pernah mengejar kemasyhuran dan lebih suka menghindari perdebatan masalah-masalah keagamaan yang tidak penting. Dikatakan, almarhum adalah sosok yang tidak pernah mengeluh, sederhana dan apa adanya, serta tidak pernah memperturutkan keinginan.

"Satu persatu ulama telah dipanggil, dunia terasa berat. Beliau ini memang tidak pernah dipanggil "pak kiai" tapi itu tidak penting. Kiai kan tidak harus dipanggil kiai, hanya gelar saja. Panggilan kiai bukan merupakan standar keilmuan," kata Hasyim.

Jenazah dimakamkan di komplek pemakaman UIN Jakarta yang terletak tidak jauh dari kampus UIN.? Sejumlah mahasiswa, dosen dan petinggi UIN, keluarga almarhum, serta para pengurus NU mengikuti prosesi pemakaman, tabur bunga, dan pembacaan talqin atau upacara menuntun mayyit agar lancar ketika ditanya oleh Malaikat penanya, Mungkar-Nakir. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Sejarah, Budaya, Khutbah Mujahidin Cyber

Selasa, 06 Februari 2018

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel

Banjarmasin, Mujahidin Cyber 

Pimpinan Pusat Muslimat NU mengadakan orientasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) untuk pondok pesantren dan majelis taklim Muslimat NU di Hotel Amaris, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat (17/11).



PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Adakan Orientasi Germas di Kalsel



Pembukaan dihadiri Gubernur Kalimantan Selatan yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan Kalimantan Selatan H. Gusti Burhanuddin. 

Mujahidin Cyber





Mujahidin Cyber

Hadir pula dari Pendamping Promkes Kementrian Kesehatan RI Ismoyowati. Ia menyampaikan 5 Nawacita program Indonesia Sehat Germas.





“Standar SPM sehat diharapkan dari pemerintah kabupaten kota untuk preventif dan sistematis dalam pelaksanaan Germas,” katanya. 





Ia menambahkan, kesehatan tidak bisa dilakukan aendiri- sendiri, tetapi harus bersama-sama seluruh komponen bangsa, harus sadar dan mampu hidup sehat sehingga sejajar dengan bangsa-bangsa lain.





“Maka lini pondok pesantren dan majelis taklim akan mengadakan RTL (Rencana Tindak Lanjut, red.) program yang tidak membumbung tinggi, tapi yang realistis bisa dilaksanakan di pondok pesantren dan majelis taklim,” jelasnya. 





Ketua Tim Germas PP Muslimat NU Hj. Erna Soefihara menyatakan, bidikan peserta orientasi adalah pimpinan pondok pesantren dan pimpinan majelis taklim sangat tepat sekali.





Karena, kata dia, anggota Muslimat NU bisa dipastikan memiliki dan akrab dengan majelis taklim. Selain itu, anggota Muslimat di masyarakat kebanyakan adalah ibu-ibu Muslimat. 





Acara itu diwarnai simulasi senam sehat Germas hingga doorprize. (A-Moez/Abdullah Alawi). Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Tokoh, AlaSantri Mujahidin Cyber

Sabtu, 03 Februari 2018

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Brebes, Mujahidin Cyber. Kendati bukan pilihan utama, namun madrasah masih menjadi pilihan orang tua untuk pendidikan anak-anak Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Madrasah Tsanawiyah Asy Syafi’iyyah Jatibarang, misalnya, masih jadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. Demikian disampaikan Kepala MTs Asy Syafi’iyyah Jatibarang H Akhmad Rosyidi saat berbincang dengan Mujahidin Cyber di ruang kerjanya, Kamis (26/1).

Terbukti, lanjut Rosyidi, di madrasah tersebut mampu menggaet 764 siswa dan siswi pada tahun pelajaran 2016/2017 ini. Bahkan sempat mencapai rekor jumlah 1004 murid tahun 2004. “Kami juga mewajibkan seluruh keluarga besar madrasah maupun yayasan wajib memasukan anak-anaknya ke madrasah ini,” tuturnya.?

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Jatibarang, Madrasah Jadi Pilihan Orang Tua untuk Didik Anak

Madrasah yang terletak di Jalan Raya Timur no 10 Jatibarang, Brebes memiliki 44 guru dan 16 TU. Sebanyak 33 guru sudah bersertifikasi dan 16 guru juga sudah impassing. Dari perjuangan keras para pejuang pendidikan, telah membuktikan prestasi akademik dengan meraih NEM tertinggi tingkat MTs se-Kabupaten Brebes atas nama Syaiful Alami pada ujian nasional 2015/2016 lalu.

Madrasah yang berdiri sejak Juni 1974 tersebut, pada awalnya menempati MI Asy Asyafi’iyyah di Jatibarang Kidul selama tiga tahun. Kemudian pindah lagi ke MI Asy Syafiiyah 2 di Jatibarang Lor. Lima tahun kemudian, baru mampu membeli tanah berikut bangunan kelasnya. “Alhamdulillah, sekarang memiliki tanah seluas 20.000 meter persegi,” ungkapnya.

Sekolah dibawah naungan Yayasan Asy Syafi’iyyah Jatibarang memiliki 23 rombongan belajar (rombel) dengan rincian Kelas 7 sebanyak 6 rombel, kelas 8 sebanyak 9 rombel dan kelas 9 sebanyak 8 rombel.?

Mujahidin Cyber

Madrasah ini juga memiliki keunggulan berupa muatan lokal Baca Tulis Quran (BTQ), life skill tambal ban, membuat telur asin, memasak dan wira usaha lainnya. “Sebelum memulai pelajaran, para siswa membaca Asmaul Husna, dan setiap Jumat ngaji baca Al-Quran bareng,” terangnya.

Menyinggung persiapan Ujian Nasional, Rosyidi menjelaskan, kalau madrasahnya belum bisa mengikuti UNBK karena siswa belum bisa menyesuaikan akibat dihapusnya mata pelajaran TIK. “Anak-anak banyak yang mahir pegang ponsel, tapi untuk mengoperasikan laptop maupun komputer,” ucapnya beralasan.

Mujahidin Cyber

Sekabupaten Brebes, kata Rosyidi baru empat MTs yang ditunjuk untuk UNBK. “Tapi kami menyanggupi baru tahun 2019,” pungkasnya. (Wasdiun)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Aswaja Mujahidin Cyber

Jumat, 12 Januari 2018

Belajar Baca Kitab Kuning Via Facebook

Yogya, Mujahidin Cyber

KH Habib Syakur, pria tambun berpeci hitam kombinasi kuning itu, terlihat sibuk. Tangannya gesit menggerakkan mouse, matanya terus memelototi layar monitor laptopnya. Ia sedang membuka account Facebook ”Belajar Baca Kitab Kuning” yang dirintis sejak empat bulan lalu.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Imdad Kauman Desa Wijirejo Kecamatan Pandak Bantul ini yakin, apa yang dilakukan akan memudahkan masyarakat umum mempelajari Kitab Kuning atau bacaan Arab tanpa harakat.

Meski belum genap setengah tahun membuka account tentang belajar Kitab Kuning, soal anggota tak perlu diragukan. ”Saat ini anggota yang terdaftar mencapai 1.033 orang,” ujar lelaki berputra empat ini, seperti dikutip Kedaulatan Rakyat beberapa hari lalu.

Belajar Baca Kitab Kuning Via Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Baca Kitab Kuning Via Facebook (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Baca Kitab Kuning Via Facebook

Anggotanya secara langsung bisa melihat apa yang ada di account ”Belajar Baca Kitab Kuning”. Dalam account itu, terdapat proses pembelajaran kitab kuning, dari pemula hingga tahap akhir. Dijelaskan juga proses belajar Kitab Kuning via Facebook yang cukup sederhana.

Mujahidin Cyber

Dengan masuk menjadi anggota account ”Belajar Baca Kitab Kuning”, akan dipandu dari awal hingga akhir.

”Tahap awal tentu, saya tampilkan kosa kata bahasa Arab, bila pelajaran pertama dikuasai, naik ke pelajaran kedua dan begitu hingga pelajaran ke-33,” ujar Kiai Habib yang juga Dosen Fakultas Adab dan Ilmu Budaya Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Suka) ini.

Tidak hanya itu, di statusnya juga ditampilkan tulisan Arab tanpa harakat. Bila ada yang membaca langsung dikirim dalam bentuk ejaan Indonesia. Itu akan mendapat tanggapan salah benarnya dari H Syakur.

Mujahidin Cyber

Bila ditekuni, belajar Kitab Kuning via Facebook, dalam waktu setengah bulan, seseorang mulai bisa membaca teks Arab tanpa harakat atau kitab gundul. ”Tetapi saya katakan, itu baru mulai bisa, untuk mahir tentu harus terus belajar,” kata suami Ny Kuni Khumairok ini.

Tujuan membuka kursus membaca Kitab Kuning via Facebook sederhana, yaitu ingin mengkampanyekan, bahwa Kitab Kuning bisa dipelajari, bila dilakukan serius. ”Kitab Kuning ini tidak medeni, asal ada niat, pasti bisa,” jelasnya.

Selain itu, dorongan ikut lainnya ialah, Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, tetapi sangat sedikit yang bisa berbahasa Arab. Bagi lelaki yang memiliki gaya bicara blak-blakan ini niat mulianya bukan tanpa tantangan.

”Banyak juga yang bicara nylekit mengomentari account saya, tetapi saya biarkan saja, niat saya kan baik, apalagi ini Ramadan, tidak baik bila ditanggapi,” jelasnya.

Kini, selain mengasuh santri di pondoknya yang mencapai ratusan juga disibukkan dengan mengajar? Kuning via Facebook.

?

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber? ? : Kedaulatan Rakyat

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, PonPes Mujahidin Cyber

Sabtu, 06 Januari 2018

Masdar Farid: Jangan Mubazirkan Potensi Masjid

Cirebon, Mujahidin Cyber. Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi mengatakan, potensi masjid sebagai tempat strategis perjuangkan umat Islam belum tergarap dengan baik. Ia mengimbau warga NU untuk meningkatkan perhatiannya terhadap tempat ibadah ini.

Menurut dia, masjid memiliki sejumlah keistimewaan, terutama karena kemampuannya menjadi tempat perjumpaan dan kegiatan rutin khalayak. Soal manajemen keuangan, masjid juga termasuk yang paling transparan dibanding organisasi publik lain di lingkungan Islam.

Masdar Farid: Jangan Mubazirkan Potensi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Masdar Farid: Jangan Mubazirkan Potensi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Masdar Farid: Jangan Mubazirkan Potensi Masjid

"Tapi potensi yang begitu besar masih dimubazirkan," kata Masdar saat membuka Rapat Pimpinan Daerah Lembaga Tamir Masjid NU (LTMNU) Kabupaten Cirebon di Pesantren Muallimin-Muallimat Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (5/1).

Mujahidin Cyber

Masjid, sambungnya, sangat dibutuhkan dalam upaya gerakan sosial-keagamaan. Kemakmuran masjid adalah titik tolak bagi usaha memakmurkan masyarakat.

Mujahidin Cyber

"Titik tolak kemakmuran bumi dimulai dari masjid. Ini yang akhir-akhir ini kurang mendapat perhatian dari kita," tuturnya.

Nahdlatul Ulama mempunyai dua basis penting penopang perjuangannya, yaitu pesantren dan masjid. Jika pesantren menjadi basis kulturalnya, masjid merupakan basis pergerakannya, jelasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, AlaNu Mujahidin Cyber

Jumat, 05 Januari 2018

PMII Sidoarjo Minta Pemerintah Basmi Narkoba

Sidoarjo, Mujahidin Cyber. Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) 2015, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sidoarjo meminta dukungan kepada pemerintah dan pihak terkait untuk menghentikan peredaran narkoba. Pihak pimpinan PMII setempat menganggap di beberapa titik di Sidoarjo masih merupakan kawasan rawan narkoba.

Ketua PMII Sidoarjo Gigin Anggi Zuarinsa menegaskan, melalui momentum peringatan HANI yang jatuh setiap 26 Juni, PMII berharap supaya daerah rawan itu mendapatkan penanganan secara serius.

PMII Sidoarjo Minta Pemerintah Basmi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sidoarjo Minta Pemerintah Basmi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sidoarjo Minta Pemerintah Basmi Narkoba

"Bahwasanya Sidoarjo masih sangat rawan akan peredaran gelap narkoba. Seperti di kecamatan Tarik, Taman, dan Krian merupakan daerah rawan yang perlu penanganan secara serius oleh pihak terkait," ungkap Gigin, Jumat (26/6).

Mujahidin Cyber

Selain itu, lanjut Gigin, gerakan bersama untuk melakukan sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), dalam menyadarkan masyarakat, dan harus didukung oleh pemerintah.

Mujahidin Cyber

"Kami berharap, tahun 2015 ini, di Sidoarjo penggunanya semakin berkurang dan yang sudah terlanjur menggunakan narkoba supaya segera direhabilitasi. Pengguna narkoba itu lebih baik direhabilitasi daripada dipenjarakan," tegas Gigin.

Selain meminta dukungan pihak terkait, pimpinan PMII Sidoarjo juga membalut peringatan hari anti narkoba internasional dengan bagi-bagi takjil kepada para pengendara di jalan A Yani, sebelah timur alun-alun Sidoarjo. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Kyai Mujahidin Cyber

Kamis, 04 Januari 2018

Ini Diskusi Menag dengan WNI Jepang tentang Moderasi Islam

Tokyo, Mujahidin Cyber 



Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin didampingi Staf Balitbang-Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud dan Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki melakukan kunjungan kerja di Jepang, Senin (13/11). Salah satu agendanya pertemuan dan dialog dengan warga Indonesia yang difasilitasi Kedubes RI Jepang di Sekolah Republik Indonesia Tokyo.

Ini Diskusi Menag dengan WNI Jepang tentang Moderasi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Diskusi Menag dengan WNI Jepang tentang Moderasi Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Diskusi Menag dengan WNI Jepang tentang Moderasi Islam

Acara yang diawali ramah-tamah dan makan malam bersama ini dihadiri berbagai kalangan diaspora Indonesia yang menetap di Jepang. 

Menteri Agama memulai perbincangan dengan penyampaian kisah menarik jalinan persahabatan dua orang berbeda agama yang mengundang gelak tawa para hadirin. Ia  menegaskan bahwa dirinya adalah menteri semua agama (tidak hanya Islam), yang melayani kehidupan beragama seluruh warga Indonesia. 

Menurut salah satu hasil penelitian, lanjutnya, dampak dari era globalisasi menjadikan kompetisi hidup semakin ketat dan perkembangan media sosial yang amat pesat, ada kecenderungan corak beragama menjadi semakin kaku dan formal. 

Mujahidin Cyber

“Kecenderungan sekarang karena pengaruh kondisi dan berbagai kepentingan pragmatis, agama seringkali dilihat dari sisi luar maka hanya akan menimbulkan gesekan,” katanya. 

Padahal, jika agama dilihat dari segi substansinya tentunya kita tidak akan menemukan perbedaan, tetapi akan bertemu pada esensi kesamaan. Misalnya bagaimana keadilan ditegakkan, HAM tetap terlindungi dan terjaga baik, jangan membunuh, jangan menipu, jangan mencuri, dan sebagainya. 

Mujahidin Cyber

Para pengurus dan anggota PCINU Jepang juga turut hadir dan terlibat aktif dalam diskusi hangat ini. Rais Syuriah Ali Amin mengungkapkan pendapatnya bahwa kesempatan dan tantangan Muslim serta warga beragama Indonesia di Jepang saat ini adalah bagaimana bisa berbaur dan menyatu dengan warga setempat (Jepang). Salah satunya dengan mengedepankan nilai-nilai kesamaan berupa kebajikan. 

Pendapatnya itu disambut dengan hal senada oleh Pak Menteri bahwa saat ini Kementerian Agama sedang melakukan pengembangan moderasi agama. 

Menurut Menag, poinnya adalah agama lebih didekati pada sisi substantif, pada sisi dalamnya, bukan sisi luarnya yang malah berpotensi melibatkan silang sengketa. 

Karena, lanjutnya, tugas setiap manusia adalah menebarkan kebajikan untuk mewujudkan kasih sayang dan dharma. Dan juga pemahaman agama secara inklusif, tidak hanya kepada Tuhan tapi juga kepada sesama manusia itu sendiri. Itulah kenapa bahwa pesan dalam semua agama, sebaik-baik manusia adalah yang paling baik yang kebermanfaatannya kepada sesama manusia lainnya. 

Sementara Ketua PCINU Jepang Miftakhul Huda menanyakan program Kementerian Agama untuk WNI di luar negeri, khususnya di Jepang dalam rangka menyikapi kecenderungan pemahaman beragama ekstrem yang berkembang akhir-akhir ini? 

“Sejauh ini belum ada, namun bisa diupayakan kerja sama dengan organisasi keagamaan yang ada di masa mendatang,” jawab Menag. 

PCINU mengharapkan ada kerjasama mendatangkan dai-dai dari Indonesia untuk mengisi kekosongan dan membina majelis-majelis pengajian dan dzikir yang telah berjalan dan dibentuk di seluruh Jepang, mulai Hokkaido, Fukushima, Niigata, Tokyo, Chiba, Hiroshima dan daerah-daerah lainnya. 

Diskusi itu diakhiri dengan doa bersama yang dipimpin Ali Amin. Kemudian ditutup dengan foto bersama. (Wahyu Purnomo/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Aswaja Mujahidin Cyber

Minggu, 31 Desember 2017

Komitmen Bentengi Moral Santri

Kabupaten Probolinggo termasuk daerah dengan jumlah pondok pesantren (ponpes) yang cukup banyak. Diantara yang banyak itu, ada Pondok Pesantren Al-Firdaus yang konsentrasinya membina anak usia 6-15 tahun. Komitmen pesantren adalah membentengi moral para santri dengan ilmu agama.

Pesantren yang berada di Dusun Randulimo RT 03 RW 01 Desa Randuputih Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo ini tidak pernah menampung santri berusia dewasa. “Pembinaan kepada santri yang usianya muda, lebih mudah jika dibandingkan dengan usia yang sudah dewasa,” ungkap Pengasuh Pesantren Al-Firdaus, Ustadz Sugianto.

Komitmen Bentengi Moral Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Komitmen Bentengi Moral Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Komitmen Bentengi Moral Santri

Kecamatan Dringu secara geografis bisa disebut berada di kawasan perkotaan. Ia berpandangan, kondisi sosial masyarakatnya berbeda dengan perkampungan. “Arus pergaulan lebih berbahaya. Karenanya, sejak kecil anak sekitar sini harus lebih di bentengi ilmu agama,” jelasnya.

Pesantren ini memang didirikan untuk berkhidmat kepada masyarakat sekitar. Sehingga santri yang belajar di pesantren, hanya warga sekitar Desa Randuputih dan desa terdekat. Jumlahnya lumayan banyak, terdiri dari 35 santriwan dan 45 santriwati.

Mujahidin Cyber

Sistem yang diterapkan juga tidak sama dengan kebanyakan pesantren. “Santri kami bisa pulang tiap hari. Mereka hanya mukim tiap Kamis malam Jumat dan Sabtu malam Minggu,” terangnya.

Sistem ini sengaja dipilih karena pesantren ini belum memiliki pendidikan formal. Sehingga santri hanya belajar salaf saja. “Efektif waktu belajar setelah Dhuhur,” jelas ayah empat anak ini.

Mujahidin Cyber

Kegiatan di pesantren ini dimulai usai salat Dhuhur di Madrasah Diniyah (Madin). Ini khusus santri usia 7-15 tahun. Sementara untuk santri yang berumur 5-6 tahun, masuk Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ). “Dibagi sesuai jenjangnya,” katanya.?

Santri yang belum pernah masuk pendidikan TPQ, tidak diperbolehkan masuk di Madin. “Syarat untuk masuk madin, harus lulus TPQ dulu,” imbuhnya.

Di TPQ, santri diajari menulis dan membaca Al Qur’an. Sementara pada jenjang pendidikan Madrasah Diniyah (Madin), materi pendidikan yakni belajar kitab kuning, ilmu Fiqh dan hadits. “Kalau belum bisa baca Al Qur’an, juga belum boleh masuk Madin. Karena materi di Madin jauh lebih sulit,” ungkapnya.

Pengajaran di TPQ dan Madin itu selesai pada pukul 17.00. Para santri kemudian bersiap jamaah Salat Maghrib yang dilanjutkan dengan pengajian Al Qur’an sampai tiba waktu Sholat Isya.

Usai Sholat Isya, masih ada pengajian kitab kuning hingga pukul 20.00. “Setelah itu santri bisa pulang. Tapi kalau mereka mau bermalam, kamar sudah kami sediakan. Tak jarang ada yang menginap. Mereka baru pulang usai Salat Subuh untuk persiapan berangkat sekolah,” katanya.

Sugianto sendiri punya keinginan untuk mendirikan pendidikan formal. Namun, karena pesantren ini baru berdiri pada 2002, dana yang dimiliki masih belum memadai. “Madin hanya punya dua ruang kelas, mushala juga digunakan untuk ruang belajar. Nanti bertahap saja pembangunannya,” terangnya

Pendidikan Gratis, Guru Tak Digaji

Ada 5 guru yang mengajar di pesantren ini. Tak satu pun dari mereka yang digaji atau tidak diberi honor. “Mereka secara sukarela menjadi asatidz (para ustadz) di sini,” kata Pengasuh Pesantren Al Firdaus Ustadz Sugianto.

Di luar itu, sampai saat ini, tiap tahun pesantren selalu mendapatkan bantuan operasional senilai Rp 2 juta dari Pemkab Probolinggo. “Dana itu juga kami gunakan untuk kebutuhan sehari-hari pesantren,” jelasnya.

Para santri yang menempuh ilmu di pesantren ini digratiskan dari biaya pendidikan. Tidak ada iuran sepeser pun kepada santri. Sugianto menerangkan, yang gratis adalah biaya pendidikan dan mukim pesantren. Sementara untuk biaya kebutuhan santri menjadi tanggung jawab masing-masing orang tua. “Santri bisa beli makan di warung sekitar pesantren. Di sini banyak warung,” terangnya.

Alumnus Pesantren Nurul Jadid Kecamatan Paiton ini sengaja menggratiskan biaya karena komitmen keluarga. “Para ustadz di sini semuanya masih berstatus keluarga. Jadi saat awal-awal pembentukan pesantren, kami sepakat menggratiskan biaya mondok dan pendidikan,” ungkap suami dari Siti Hanifah ini.?

Untuk menunjang kebutuhan operasional, para guru menyisihkan penghasilan masing-masing. Setiap guru mengeluarkan uang pribadi sebesar Rp 100-200 ribu per bulan. Dana itu digunakan untuk membayar listrik pesantren, ATK (alat tulis kantor) dan kebutuhan lainnya.

“Alhamdulillah kami (keluarga) sampai saat ini tetap solid menjaga komitmen. Kami akan terus berkhidmat untuk pesantren dan masyarakat,” pungkasnya.

Jamin Santri Bisa Ngaji Kitab

Meski hanya membuka TPQ dan Madrasah Diniyah (Madin), Sugianto menjamin alumnus pesantrennya bisa mengaji kitab kuning. Paling tidak santri sudah bisa membaca kitab Sulam Safinah. “Setidaknya kitab itu bisa menjadi bekal untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi,” katanya.

Saat ini, pihaknya tengah membangun dua lokal bangunan yang dananya berasal dari swadaya masyarakat. Wali murid juga memberikan bantuan secara sukarela. “Ada yang membantu uang dan ada pula yang menyumbang material gedung,” kata Sugianto.

Saat ini pengerjaan masih 75 persen, Sugianto menargetkan pembangunannya bisa selesai akhir tahun ini. “Sekarang masih mengumpulkan dana tambahan. Semoga saja rencana itu bisa direalisasikan. Mohon sambungan doanya,” harapnya. (Syamsul Akbar)

Foto : Musholla Raudlatul Firdaus merupakan pusat kegiatan para santri yang menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Firdaus di Desa Randuputih Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo.

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah Mujahidin Cyber

Jumat, 22 Desember 2017

Nyai Hj Machfudhoh, Usia Tak Halangi Berantas Narkoba

Bekasi, Mujahidin Cyber



Luar biasa semangat ibu-ibu Muslimat NU dalam memerangi bahaya narkoba. Tak berhenti pada deklarasi dan bimtek, mereka juga mengikuti workshop Peningkatan Kapasitas Tokoh Agama dalam Penanggulangan Penyalahgunaan Napza yang digelar Direktorat RSKP (Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan) Napza Kemensos RI di Bekasi, Jawa Barat, 3-6 November.

“Jangan lihat usia kami, tapi lihatlah semangat kami dalam mencegah bahaya narkoba,” kata Ketua I PP Muslimat NU, Nyai Hj Machfudhoh Aly Ubaid saat acara pembukaan, Kamis (3/10) malam.

Nyai Hj Machfudhoh, Usia Tak Halangi Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyai Hj Machfudhoh, Usia Tak Halangi Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyai Hj Machfudhoh, Usia Tak Halangi Berantas Narkoba

Menurut Machfudhoh, memberantas narkoba tak cukup dilakukan aparat atau Kemensos tapi juga butuh dukungan masyarakat, para tokoh agama termasuk Muslimat NU yang punya kepengurusan hingga anak ranting (dusun). “Insyaallah kami semua siap menanggulangi bahaya narkoba,” tegasnya.

Muslimat NU tergerak memberantas narkoba, lanjut Machfudhoh, karena punya tanggung jawab untuk memikirkan masa depan generasi bangsa.

“Kita melakukan ini tiada lain karena cinta pada bangsa dan negara, hubbul wathan minal iman (cinta tanah air bagian dari iman),” tandasnya seperti kutip dari laman resmi Muslimat NU.

Mujahidin Cyber

Karena itu, katanya, tugas ibu-ibu yang pertama harus diselamatkan yakni lingkungan keluarga sendiri, lingkungan masyarakat baru anggota.

Mujahidin Cyber

“Tidak hanya Muslimat NU saja yang kita sasar, tapi masyarakat sekitar adalah tanggung jawab bersama. Tanggung jawab kita pada Allah Swt,” ujarnya.

Tak lupa Machfudhoh berterima kasih pada Kemensos, pengurus wilayah dan cabang Muslimat NU yang telah meluangkan waktu untuk datang, walaupun pada 23-27 November akan kembali berkumpul dalam arena kongres ke-17.

“Inilah yang menjadi kebanggan kami, inilah hebatnya Muslimat NU. Walau hanya diundang lewat SMS mereka bisa datang padahal sebentar lagi kami akan berkongres. Dan saya lihat mulai dari pojok belakang sampai depan, wajah ibu-ibu tegar dan segar,” katanya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Habib, Fragmen, Khutbah Mujahidin Cyber

Minggu, 17 Desember 2017

Kiai Dalhar: Orang Tak Punya Rasa Hakikatnya Bukan Manusia

Pringsewu, Mujahidin Cyber. Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi. Kesempurnaan manusia itu harus terus dijaga dan digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Jangan sampai kesempurnaan tersebut hilang sehingga manusia hanya dalam bentuk jasadnya saja namun hakikatnya bukan manusia.

Demikian dikatakan Pengurus Jamiyyah Al Mutabaroh An Nahdliyyah NU (JATMAN) Pringsewu Lampung, KH Muhammad Dalhar saat memberikan penjelasan materi tasawuf pada Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) di Gedung NU setempat, Ahad (13/02).

Kiai Dalhar mengungkapkan bahwa untuk menjadi manusia sebagai makhluk yang sebenar-benarnya manusia, harus menyadari hakikat diciptakannya manusia. " Dalam diri kita mengalir darah. Dalam darah kita ada ruh dan dalam ruh ada rasa. Sehingga jika orang tak punya rasa, hakikatnya bukan manusia," tegasnya.

Kiai Dalhar: Orang Tak Punya Rasa Hakikatnya Bukan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Dalhar: Orang Tak Punya Rasa Hakikatnya Bukan Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Dalhar: Orang Tak Punya Rasa Hakikatnya Bukan Manusia

Sebagai contoh ia mengatakan bahwa rasa kita sebagai seorang orang tua, anak, kakak, adik dan sebagainya merupakan hal yang membedakan kita dari hewan. "Kalau hewan tidak memiliki rasa itu. Jadi bila kita bertingkah semaunya tanpa memikirkan rasa tersebut berarti kita sama saja seperti hewan," tegasnya.

Lebih lanjut Kiai Dalhar mengingatkan bahwa sebagai mahkluk yang paling sempurna, manusia juga harus menyadari bahwa tugas utamanya adalah beribadah mendekatkan diri kepada yang telah menciptakannya yaitu Allah SWT.?

Mujahidin Cyber

Dalam beribadah ada empat tingkatan yang dapat menghantarkan manusia merasakan nikmatnya beribadah sekaligus menjadikan manusia lebih sempurna lagi. "Empat tingkatan tersebut adalah marifat yakni ilmu dalam beribadah, syariat yakni cara beribadah, thariqat yakni jalan atau arah beribadah, dan yang terakhir adalah tingkatan hakikat yakni tujuan dari ibadah kita," jelasnya.

Kiai Dalhar mengibaratkan perjalanan menuju kenikmatan beribadah tersebut seperti berlayar mengarungi lautan. " Marifat itu ilmunya, syariat itu kapalnya, thariqat itu lautnya, dan hakikat itu adalah mutiara di dalam lautnya," pungkasnya.? (Muhammad Faizin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber

Mujahidin Cyber Khutbah Mujahidin Cyber

Kamis, 07 Desember 2017

Solidaritas Untuk Bencana di Aceh, Pelajar NU Banyuwangi Jual Jenang

Banyuwangi, Mujahidin Cyber - Gempa bumi yang menimpa Aceh mengundang keprihatinan banyak pihak tak terkecuali aktivis Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Banyuwangi. Mereka menggalang dana untuk disalurkan kepada para korban.

"Sebagai sesama anak bangsa, kami terketuk hati untuk ikut membantu meringankan beban mereka," kata koordinator kegiatan Ishaman saat ditemui di lokasi penjualan jenang di seputaran kantor Pemda Banyuwangi, Jumat (9/12).

Solidaritas Untuk Bencana di Aceh, Pelajar NU Banyuwangi Jual Jenang (Sumber Gambar : Nu Online)
Solidaritas Untuk Bencana di Aceh, Pelajar NU Banyuwangi Jual Jenang (Sumber Gambar : Nu Online)

Solidaritas Untuk Bencana di Aceh, Pelajar NU Banyuwangi Jual Jenang

Penggalangan dana ini tak seperti yang biasa dilakukan dengan meminta-minta di jalan. Mereka menggalang dana melalui aksi kewirausahaan dengan berjualan jajanan tradisional seperti jenang, bubur kacang hijau, kolak dan lainnya.

Mujahidin Cyber

"Kalau minta-minta di pinggir jalan sama saja. Kontribusi kita kurang berarti. Kami menggagas penggalangan dana dengan berjualan, jadi bantuannya memang dari keringat kita, bukan cuma mengandalkan belas kasihan dari orang lain," kata Isham.

Jajanan ini dijajakan di berbagai kantor pemerintahan maupun swasta di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Banyuwangi. Mereka cukup memberi harga pokok sebesar Rp. 5.000, tapi para pembeli dapat membayarnya dengan uang lebih sebagai bentuk solidaritasnya.

Mujahidin Cyber

"Kami menjualnya Rp. 5 ribu, tapi bagi yang membeli dengan harga lebih kami terima dengan senang hati," jelas Ishaman.

Mereka mengaatakan, untuk membuat jajanan tersebut dengan modal Rp.500 ribu hasil patungan pengurus. Dengan dibuat jajanan dan dijual mereka berharap mendapat laba lebih guna disumbangkan. "Jika dapat untung dua kali lipat kan lumayan untuk nyumbang," harap Isham.

Rencana mereka uang yang berhasil dikumpulkan akan disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat, Infak dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) yang membuka posko bantuan di Aceh. "Semua hasil penjualan akan kami sumbangkan ke Aceh melalui Lazis NU," pungkasnya. (M Sholeh Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah Mujahidin Cyber

Selasa, 05 Desember 2017

Kodama Yogyakarta Ngaji Sehari Pemikiran Gus Dur

Bantul, Mujahidin Cyber. Korp Dakwah Mahasiswa (Kodama) Yogyakarta mengadakan ngaji sehari pemikiran Gus Dur, Ahad (28/6). Bekerja sama dengan Gusdurian Yogyakarta, Kodama yang terdiri atas para santri Al-Munawir dan Ali Maksum Krapyak ini mengkaji biografi, pemikiran dan warisan pemikiran Gus Dur baik soal pesantren, NU, maupun negara.

"Selama satu hari untuk mengisi kegiatan Ramadhan, Kodama mengisi acara dengan mengkaji pemikiran Gus Dur, dengan diikuti oleh anggota Kodama. Semoga adanya kegiatan ini, kita bisa menggali lebih jauh pemikiran-pemikiran Gus Dur," kata Jamil, aktivis senior Kodama saat memberikan sambutan pembukaan.

Kodama Yogyakarta Ngaji Sehari Pemikiran Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kodama Yogyakarta Ngaji Sehari Pemikiran Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kodama Yogyakarta Ngaji Sehari Pemikiran Gus Dur

Ia juga berharap jaringan Gusdurian Yogyakarta bisa berbagi atas pemikiran-pemikiran Gus Dur. Para peserta yang berjumlah 18 orang ini antusias mengikuti kegiatan yang dinamai Tadarus Gus Dur.

Mujahidin Cyber

Hafidz, salah satu peserta menanggapi atas penjelasan fasilitator saat sesi pengenalan biografi Gus Dur dan perjalanan intelektual Gus Dur. "Terkait visi dan visi, apakah pernah Gus Dur mengungkapkan visi dan misinya atas pemikiran-pemikirannya?" tanya Hafidz.

Mujahidin Cyber

"Secara langsung, Gus Dur belum pernah mengungkapkan visi-misinya atas apa yang diperjuangkan. Yang merangkum atas nilai-nilai perjuangan Gus Dur adalah kerabat, murid, dan keluarganya," kata Ubaidillah Fatawi, fasilitator yang menanggapi pertanyaan peserta.

Rifqi Fairus, koordinator Tadarus Gus Dur juga mengungkapkan, sebagai santri harus sadar atas permasalahan sosial yang ada di masyarakat sekitar di luar pesantren.

"Karena Gus Dur lahir dari pesantren, dia juga santri pesantren. Bahkan pesantren menjadi basis perjuangan Gus Dur di segala bidang, hingga menjadi presiden," tandas Fairuz. (Nur Sholikhin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Sunnah, Khutbah, Nahdlatul Mujahidin Cyber

Minggu, 03 Desember 2017

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu

Batam, Mujahidin Cyber. Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU di Batam akan dimulai pada Selasa (14/3) besok. Rakernas yang dihadiri oleh perwakilan wilayah dan cabang seluruh Indonesia akan membahas beberapa isu strategis.

Rakernas V Lakpesdam NU akan dibuka oleh Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali yang dihadiri oleh Walikota Batam Ahmad Dahlan, Ketua PWNU Kepulauan Riau H Gani Lasya dan perwakilan pengurus cabang NU se-Kepri? dan MWCNU se Kota Batam.

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakernas Lakpesdam di Batam Bahas Sejumlah Isu

Rabu (15/3) para peserta rakernas akan dibekali materi mengenai Garis Besar Perjuangan NU oleh H Abdul Mun’im DZ dari PBNU, kemudian disambung dengan sharing khidmah gerakan NU bersama Bupati Wonisobo H Kholiq Arief , dan Ketua PBNU H Imam Aziz.

Mujahidin Cyber

Hari berikutnya para peserta Rakernas akan membahas mengenai implementasi UU Desa bersama Ketua Pengurus Pusat Lakpesdam NU Yahya Ma’shum dan Erman A. Rahman yang dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Batam oleh para peserta Rakernas.

Mujahidin Cyber

Menurut Ketua Rakernas V Eko Agus Priyono, Rakernas dikuti sekitar 70 perwakilan pengurus cabang Lakpesdam ditambanh pengurus wilayah. Masing-masing cabang atau wilayah mendelegasikan rata-rata 2 orang.

Tiga hari sebelum Rakernas dimulai, sebagian peserta Rakernas telah hadir di Batam untuk mengikuti training of trainer untuk program Kader Damai. Menurut Ketua PP Lakpesdam Yahya Ma’shum, training itu merupakan bagian dari agenda PP Lakpesdam yang sengaja dilaksanakan berdekatan dengan kegiatan Rakernas. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, PonPes Mujahidin Cyber

Sabtu, 02 Desember 2017

Lembaga Pertanian NU Mesti Sering Sapa Petani

Jombang, Mujahidin Cyber. Banyak orang yang tidak mengetahui keberadaan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama atau LPPNU. Termasuk warga dan pengurus NU sendiri. Upaya memperkenalkan kiprah lembaga ini harus terus dilakukan.

Lembaga Pertanian NU Mesti Sering Sapa Petani (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Pertanian NU Mesti Sering Sapa Petani (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Pertanian NU Mesti Sering Sapa Petani

Keluhan akan  hal ini disampaikan Ketua Pengurus Wilayah LPPNU Jawa Timur Wazir Wicaksono saat bertemu sejumlah kelompok tani dan perikanan, serta pegiat UMKM di Jombang, Jawa Timur, Rabu (25/3). Kenyataan ini harus menjadi acuan bagi pengurus untuk kerap menyapa masyarakat, khususnya petani.

“Padahal kalau kita membuka sejarah, peran NU dalam membina dan mendampingi petani telah teruji,” katanya. Saat peristiwa Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) tahun 1965, NU telah mendampingi petani dengan Pertanu atau Persatuan Tani Nahdlatul Ulama, lanjutnya.

Mujahidin Cyber

Dengan kiprah dan rentang sejarah yang demikian panjang ini semestinya warga NU sudah bisa memahami kiprah NU dalam mendamping petani. “Namun kalau kemudian sekarang banyak yang mempertanyakan, mungkin hal tersebut terkait intensitas para pengurus LP2NU dalam mendampingi petani,” tandas pria yang kerap disapa Pak Wazir ini.

Mujahidin Cyber

Seiring dengan perkembangan zaman, ada banyak tugas berat yang diemban oleh LPPNU. “Yang kita urusi di samping pertanian, juga perkebunan dan peternakan,” ungkap Pak Wazir. Demikian juga kelautan dan perikanan, hutan dan tata ruang, energi hayati, pembangunan desa hingga lingkungan hidup, lanjutnya.

“Praktis, dengan tugas yang kian besar itu mengharuskan kami untuk bisa menjadi tempat berdiskusi dan dimintai pertimbangan terkait peraturan yang akan digulirkan,” terangnya.

Kendati demikian, tugas utama dari kepengurusan LPPNU di sejumlah tingkatan adalah melakukan pendidikan kepada petani. “Karena zaman telah berubah maka para petani harus selalu diberikan informasi terkait perkembangan pertanian terbaru,” ungkapnya.

Yang terbaru adalah akan diberlakukannya peringatan dini terkait perubahan cuaca di beberapa daerah. “Ini sangat penting agar petani bisa melakukan persiapan bagi komoditas yang akan ditanam,” terangnya. Karena musin yang ada selama ini kurang bersahabat dan kadang di luar prediksi, lanjutnya.

Dengan pantauan satelit yang bisa diakses di sejumlah desa tersebut, maka para petani dapat dengan tepat menanam tanaman yang sesuai dengan musimnya.  “Karena ilmu yang selama ini digunakan untuk memprediksi musim ternyata tidak sesuai dalam kenyataan,” katanya. Hal ini terbukti, ada yang menanam komoditas tertentu lantaran diperkirakan memasuki musim kemarau, namun ternyata masih terjadi hujan. Akibatnya, tanaman gagal panen dan sejenisnya.

“Tugas berat inilah yang diemban pengurus LPPNU di daerah agar keberadaannya semakin dirasakan masyarakat, khususnya petani,” pungkas Pak Wazir. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah, Pahlawan, Pondok Pesantren Mujahidin Cyber

Senin, 27 November 2017

Kiai Muhyiddin: Kenalkan Suasana Agamis pada Anak

Jember, Mujahidin Cyber. Anak-anak harus dikenalkan pada agama sedini mungkin. Sebab, jika terlambat akan sulit membina dan mengarahkan mereka menuju pribadi yang berakhlaq mulia.

Demikian dikemukakan Pengasuh Pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad saat memberi sambutan dalam Pesta Lomba 2013 yang digelar Madrasah Ibtidaiyah (MI) ? Unggulan Nuris (full day school) di halaman SMP-SMA Nuris Jember, Ahad (12/5) kemarin.

Kiai Muhyiddin: Kenalkan Suasana Agamis pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Muhyiddin: Kenalkan Suasana Agamis pada Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Muhyiddin: Kenalkan Suasana Agamis pada Anak

Menurut Kiai Muhyiddin, penanaman aqidah sedini mungkin dalam diri anak-anak, menjadi kunci atau dasar dari pembinaan selanjutnya. “Karena anak-anak itu apa yang dialami dan diterima itulah yang akanmembekas,” tuturnya.

Mujahidin Cyber

Rais Syuriyah PCNU Jember itu menambahkan, saat ini kondisi pembinaan anak-anak cukup memprihatinkan. Betapa tidak, tidak jarang prilaku nakal anak-anak justru seperti orang dewasa, misalnya merokok, minum-minuman keras dan sebagainya.

“Maka salah satu obatnya adalah ? menggiring mereka pada suasana yang agamis,” jelas Kai Muhyiddin sebelum membuka lomba secara resmi.

Mujahidin Cyber

Pesta Lomba 2013 tersebut diikuti tak kurang dari seratus peserta dari seluruh TK-PAUD se-Kabupaten Jember. Adapun jenis lomba meliputi mewarnai kaligrafi, kolase, ? tahfidzul quran nasyid dan fashion show muslim.

Menurut Ketua Panitia, Sayyidah, kelima jenis lomba itu memang dipilih untuk menanamkan kecintaan anak-anak, khususnya peserta lomba terhadap hal-hal yang bernuansa islami. “Missi lomba ini salah satunya adalah mengenalkan agama pada anak-anak,” ucapnya.

Juara umum dalam lomba tersebut diraih oleh TK BIna Anaprasa Nuris dengan menyabet empat juara, yaitu tahfidzul qur’an, fashion show muslim, mewarnai kaligrafi dan ? kolase. Sedangakn lomba Nasyid diraih anak dari ? PAUD Catleya 62 Antirogo.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Nahdlatul Ulama, IMNU, Khutbah Mujahidin Cyber

Kamis, 23 November 2017

Teacher Zaman Old, Mendidik Kids Zaman Now

Oleh Satriwan Salim

Sebagai seorang guru, saya menginsyafi bahwa pemakaian 4 kata asing (dari 7 kata) dalam kalimat judul tulisan di atas, sangat menyalahi kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Gamang memakai bahasa Indonesia yang benar. Malah terasa seperti orang Malaysia atau Sigapura yang memang mencampurkan bahasa asing dengan Melayunya, dan itulah bahasa nasional mereka.

Tapi apa mau dikata, istilah “kids zaman now” sudah menasional bahkan mendunia. Bahkan sayup-sayup terdengar dari kelas sebelah, guru Bahasa Indonesia pun memakai istilah tersebut ketika mengajar di depan siswanya.

Teacher Zaman Old, Mendidik Kids Zaman Now (Sumber Gambar : Nu Online)
Teacher Zaman Old, Mendidik Kids Zaman Now (Sumber Gambar : Nu Online)

Teacher Zaman Old, Mendidik Kids Zaman Now

Sebagai masyarakat perkotaan kita selalu memandang masyarakat Indonesia dengan perspektif modern yang bias Jakarta. Bahwa modernisasi, industrialisasi, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan keniscayaan sosial, yang saat ini sedang mengalami puncaknya, tidak hanya di kota tetapi sampai ke pelosok-pelosok desa. Fenomena ini pasti akan memengaruhi pola pikir (mindset) anak-anak kita, yang notabene adalah para pelajar. 

Kids zaman now” adalah mereka yang disebut Generasi Z, lahir rentang tahun 1995-2010. Lebih lanjut uraian tentang sosiologi generasi ini, bisa membaca pemikiran Karl Mannheim (1893-1947) yaitu dalam esainya berjudul “The Problem of Generations” (1923). Dia mengatakan bahwa sebuah generasi merupakan suatu kelompok yang terdiri dari individu, yang memiliki kesamaan dalam rentang usia, kemudian berpengalaman mengikuti peristiwa sejarah penting dalam suatu kurun waktu yang sama pula. 

Mujahidin Cyber

Berbeda hal kemudian yang dikenal dengan istilah Generasi Y atau lazim dikenal dengan Generasi Milenial. Generasi ini lahir sekitar 1981-1994. Istilah Generasi Milenial ini mulai berkembang di Amerika Serikat setelah terbitnya buku “Millennials Rising: The Next Great Generation” (2000), ditulis Neil Howe dan Bill Strauss. Masyarakat banyak keliru dengan mengatakan Generasi Z dengan Generasi Milenial itu sama. Padahal jelas perbedaannya.

Jika dihitung kemudian, anak-anak Generasi Z (oleh Bill Gates disebut i-Generation) saat ini memiliki rentang usia antara 7-22 tahun. Secara demografis, merekalah yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah mulai dari SD, SMP, SMA sampai pada perguruan tinggi. 

Data demografis menunjukkan pada tahun 2010, sekitar 19 persen penduduk Indonesia adalah anak yang umurnya di bawah sepuluh tahun, sekitar 37 persen di bawah dua puluh tahun dan sekitar setengah populasi Indonesia berusia di bawah tiga puluh tahun (www.indonesia-investments.com). Jika total penduduk Indonesia adalah 258 juta orang (proyeksi BPS dalam www.databoks.katadata.co.id, 2016), maka jumlah penduduk kategori Generasi Z adalah sekitar 90-100 juta orang. Ini adalah angka yang sangat besar. Ditambah lagi secara demografis, usia Generasi Z ini adalah usia produktif.

Secara statistik demografis, keberadaan “kids zaman now” sangat potensial dalam pengembangan pertumbuhan perekonomian nasional. Jika dipilah lagi usia penduduk Indonesia yang kategorinya pelajar berjumlah sekitar 58 juta siswa; 8 juta siswa SMA/sederajat, 50 juta siswa SD-SMP/sederajat (www.antaranews.com, 2012). Sungguh angka yang fantastik tentunya. Jumlah ini hampir setara dengan jumlah penduduk negara Inggris. 

Mujahidin Cyber

Pertanyaannya sekarang adalah mau diapakan puluhan juta manusia Indonesia, “kids zaman now” itu? Bagaimana cara kita sebagai sebuah negara-bangsa mendidik, menyiapkan dan memberikan peluang-peluang bagi masa depan “kids zaman now”, yang pada 2045 nanti merekalah yang akan memimpin negara ini? Merekalah sesungguhnya jawaban atas proyeksi bonus demografi Indonesia. Usia produktif yang jumlahnya mendominasi struktur penduduk Indonesia. Itulah “kids zaman now”, masa depan bonus demografi Indonesia.

Sekarang mari kita lihat, bagaimana wajah Generasi Z alias “kids zaman now” itu dalam perspektif sosial dan budaya. Karakter sosial mereka yang dibesarkan oleh media internet, aktif berkomunikasi melalui perangkat telepon cerdas (smart phone), ketergantungan sangat tinggi kepada internet, gadget, multitasking, menjunjung tinggi privasi dan suka tantangan. Walaupun kadang disindir dengan sebutan generasi mecin, tapi “kids zaman now” punya percaya diri tinggi.

Lebih mencengangkan lagi, mereka para “kids zaman now” ini memiliki cita-cita memiliki“profesi” yang anti-mainstream; mulai menjadi youtuber, vloger, bloger, gamer, selebgram, influencer, komikus bahkan menjadi hacker, barista dan penambang bitcoin. Bagi kami para “teacher zaman old”, deretan nama dan istilah pekerjaan di atas terdengar asing, bahkan “aneh”. Sudahlah istilahnya terasa “keminggris” alias keinggris-inggrisan, susah pula mengucapkannya.

Aahhh...kacau sudah kemampuan berbahasa kita para “teacher zaman old” ini. Berusaha menyesuaikan istilah-istilah zaman now, tapi lidah ini serasa kaku untuk mengucapkannya. Karena masih sering terngiang-ngiang, guru kami zaman old mengajar di depan kelas dengan ragam pepatah, bahasa kiasan, syair, pantun dan tulisan tegak bersambung.

Mereka para Generasi Z ini sangat cakap menggunakan media berbasis elektronik, seperti laptop, komputer, telepon pintar, iPad, iPhone, bahkan memproduksi dan merekayasa konten beragam jenis varian perangkat media sosial, seperti youtube, facebook, snapchat, instagram, vlog, line, telegramdantwitter. Semua aktivitas pribadi (bahkan sosial) mereka saat ini berbasis elektronik dan jaringan internet (online).

Alhasil, buku, koran dan televisi adalah barang-barang old yang hanya dipakai dan dinikmati oleh generasi old. Buku berganti e-book atau format pdf, koran berganti e-paper dan televisi berganti youtube dan menonton secara streaming. Mereka para Generasi Z ini memiliki ketergantungan akut kepada telepon pintar dan internet. 

Sedangkan di sisi lain, para orang tua (parents) dan guru mereka adalah kelompok masyarakat yang terlahir 2 dan 3 generasi sebelumnya, yakni Generasi Baby Boomers (lahir antara 1946-1960an) dan Generasi X (lahir antara 1960an-1980). Terjadi kemudian gap generasi, yang berdampak terhadap pola asuh dan pendidikan keluarga yang paradigmanya mesti direkonstruksi.

Menjadi “teacher dan parent zaman now” adalah suatu tantangan zaman tersendiri. Perbedaan cara pandang antara orang tua dan guru yang dididik pola asuh lama.Mendidik generasi sekarang yang memiliki cara pandang kekinian sesuai dengan jiwa zamannya (zeitgeist) adalah suatu ikhtiar yang tak mudah. 

Dibutuhkan kemudian perspektif baru yang tak resisten terhadap perubahan, tidak alergi dengan bahasa zaman dan zeigeist tadi. Tetapi tidak juga meminggrikan bahkan mencampakkan nilai-nilai tradisi (lama), yang masih memiliki relevansi dan universalitas nilai keadaban di dalamnya. Demikian adagium klasik Arab, yang sering disampaikan oleh kyai-kyai tradisional kita di pesantren, “al-muhâfadhatu ‘alal qadîmis shâlih wal akhdzu bil jadîdil ashlah.”

Sehingga para guru dan orang tua zaman iGeneration ini tidak merasa teralienasi, terasingkan hidup di tengah-tengah para “kids zaman now”, yang sesungguhnya sedang berlari cepat melesat bagaikan anak panah. Seperti dalam salah satu syair seorang sastrawan cum filsuf berdarah Libanon-Amerika, Kahlil Gibran (1883-1931)bertajuk “Anakmu Bukan Anakmu.”

Seorang perempuan yang di tangannya ada seorang bayi berkata, “Sampaikanlah pada kami mengenai anak.”

Dan ia pun berkata:

Anakmu bukan anakmu

Mereka adalah anak dari kehidupan yang ingin menjadi diri mereka sendiri

Mereka datang melaluimu, tapi bukan darimu

Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu

Berikanlah cintamu, tapi bukan pemikiranmu

Karena mereka memiliki pemikiran mereka sendiri

Berikanlah rumah bagi tubuh mereka, tapi bukan jiwa mereka

Karena jiwa mereka adalah milik rumah masa depan, yang tak bisa kau kunjungi, tak pula dalam impianmu

Kau bisa berusaha menjadi seperti mereka, tapi jangan jadikan mereka sepertimu

Karena hidup tidak berjalan mundur atau tenggelam di masa lalu

Kau adalah busur yang dibutuhkan anak-anakmu sebagai anak panah

untuk melesat kencang ke depan

Sang Pemanah memandang jauh tanpa batas

Dan Ia menarikmu dengan segala kekuatan

agar anak panahNya melesat cepat dan jauh

Merentanglah dalam tangan Sang Pemanah dengan bahagia

Karena seperti Ia mencintai anak panah yang melesat cepat

Ia pun mencintai busur yang kokoh

Penulis adalah guru SMA Labschool Jakarta; Peneliti PUSPOL Indonesia; Pengurus SEGI Jakarta; pernah nyantri di pesantren tradisional Al-Hidayah Pimpinan KHR Syamsudin Hidayat di Cisarua, Bogor.

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah Mujahidin Cyber

Rabu, 22 November 2017

PMII Milik NU, Tak Perlu Membuat Tandingan

Rembang, Mujahidin Cyber. Wacana Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk membuat organisasi kemahasiswaan baru menggantikan PMII jika enggan kembali ke pangkuan NU, dirasa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Lasem bukan merupakan keputusan yang bijaksana.?

PMII Milik NU, Tak Perlu Membuat Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Milik NU, Tak Perlu Membuat Tandingan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Milik NU, Tak Perlu Membuat Tandingan

Hal itu dikemukakan oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Lasem KH Shalahudin Fattawi, Selasa (28/7). Ia berpendapat, tidak seharusnya Nahdlatul Ulama membuat organisasi baru sebagai tandingan untuk menggantikan PMII. Yang sudah semestinya membuat organisasi tandingan dan meninggalkan PMII adalah mereka yang tidak tahu sejarah NU dan PMII.

"NU tidak perlu membuat ormas kemahasiswaan tandingan. Sampai kapan pun PMII itu milik NU dan akan tetap menjadi ‘badan otonom’ NU. Yang seharusnya sedikit tahu diri adalah mereka yang nggak ngerti sejarah NU,” ujarnya.

Mujahidin Cyber

Pria yang akrab disapa Gus Din itu mengingatkan, pada momentum Muktamar Ke-33 NU di Jombang, sudah seharusnya PMII membuka catatan lama dimana PMII dilahirkan. Ia juga menyinggung apakah pengurus PMII yang sekarang bisa menceritakan secara gamblang mengenai sejarah PMII dan NU.

"Kalau para pengurus pusat PMII tahu sejarah dengan benar pasti mereka tahu untuk apa mereka dibentuk dan didirikan,” imbuh Gus Din.

Mujahidin Cyber

Shalahudin berharap, PMII harus tetap di NU dan menjadi bagian NU sampai kapan pun. Kalau ada yang harus mendirikan organisasi kemahasiswaan yang baru, ia berharap itu bukan NU.

Seperti diketahui, PMII yang menyatakan independen pada 1972 pada Muktamar NU di Jombang awal Agustus ini diusulkan kembali menjadi badan otonom NU. Hal itu untuk menjawab kekosongan organisasi kemahasiswaan yang resmi di bawah naungan organisasi NU selama ini. (Ahmad Asmu’i/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Mujahidin Cyber Khutbah Mujahidin Cyber

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Mujahidin Cyber sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Mujahidin Cyber. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Mujahidin Cyber dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock